Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pulang dengan Kemenangan
Perjalanan pulang dari Pegunungan Kabut terasa berbeda. Kabut yang tadinya tebal dan mencekik kini menipis, seolah lembah itu sendiri mengakui bahwa tugasnya telah selesai. Tiga sungai yang bertemu di kaki menara mengalir lebih tenang, airnya yang berkilau keperakan memantulkan cahaya matahari pagi yang akhirnya berhasil menembus langit kelabu.
Arga berjalan di depan, langkahnya ringan meski tubuhnya menyimpan luka-luka dari pertarungan di dalam menara. Mandala cahaya di dadanya telah memudar sepenuhnya, tapi ia masih bisa merasakannya—jejak energi para Penjaga yang kini menyatu dengan Benang Emas di Dantian-nya. Liontin tiga bentuk itu telah melebur menjadi satu, membentuk sebuah liontin baru: lingkaran dengan bulan sabit di dalamnya, dan bintang di tengahnya. Ia menggenggamnya erat di balik baju.
Di belakangnya, Darmaji dan Sinta berjalan mengapit Tetua Abu. Pria berjubah abu-abu itu kini berjalan gontai, tangannya terikat dengan tali energi yang diciptakan Arga menggunakan Teknik Segel Langit. Matanya kosong, kultivasinya yang dulu mencapai ranah Pondasi puncak kini terasa seperti sumur kering—masih ada airnya, tapi tidak bisa diambil.
"Aku tidak percaya kita membawanya hidup-hidup," gumam Sinta, melirik Tetua Abu dengan ekspresi jijik. "Lebih mudah membunuhnya di menara tadi."
"Informasi," jawab Darmaji singkat. "Dia tahu banyak tentang Lingkaran Naga Hitam. Tentang makam Penjaga yang mereka rampok. Tentang rencana mereka selanjutnya. Dia lebih berguna hidup."
"Lagi pula," Arga menambahkan tanpa menoleh, "aku ingin dia melihat sendiri bahwa rencananya gagal. Bahwa semua yang ia kejar selama ini—intinya, kekuasaannya—hanyalah ilusi."
Tetua Abu mendengus, suara pertamanya sejak mereka meninggalkan menara. "Kau bodoh, keturunan Penjaga. Kau pikir dengan menyegelku, semuanya selesai? Lingkaran Naga Hitam lebih besar dari yang kau kira. Dewan Tetua akan mengirim yang lain. Lebih kuat. Lebih kejam. Mereka tidak akan berhenti sampai gerbang itu terbuka."
Arga berhenti dan berbalik. "Biarkan mereka datang." Matanya tenang, tapi ada api kecil di kedalamannya. "Aku akan siap."
Mereka melanjutkan perjalanan. Melewati gerbang batu raksasa yang kini hanya menjadi bingkai kosong—formasinya telah mati seiring dengan menyatunya ketiga liontin. Melewati hutan cemara yang sunyi. Melewati sisa-sisa monster yang tersesat dan mati dalam kabut.
---
Malam pertama perjalanan pulang, mereka berkemah di sebuah gua kecil di kaki pegunungan. Api unggun kecil menerangi wajah-wajah lelah mereka. Tetua Abu diikat di sudut gua, matanya terpejam, entah tidur atau pura-pura.
Sinta membersihkan pedangnya dengan gerakan mekanis. Darmaji menatap api, jarinya sesekali mengetuk-ngetuk tongkatnya—kebiasaan lamanya saat berpikir. Arga duduk bersila, matanya terpejam, memeriksa kondisi internalnya.
Benang Emas di Dantian-nya telah berubah. Panjangnya tetap sembilan ruas jari, tapi warnanya kini bukan lagi emas murni—melainkan emas dengan kilatan-kilatan perak dan ungu, seperti galaksi mini yang berputar perlahan. Kepadatannya meningkat berkali-kali lipat. Jika sebelumnya ia hanya bisa mengaktifkan Perisai Langit Kesepuluh selama dua belas detik, kini ia yakin bisa melakukannya selama satu menit penuh.
Dan teknik baru—Teknik Segel Langit—adalah anugerah terbesar. Teknik itu memungkinkannya untuk menyegel kultivasi lawan untuk sementara waktu. Bukan menghancurkannya, hanya menguncinya. Seperti yang ia lakukan pada Tetua Abu.
"Teknik ini adalah warisan para Penjaga pertama," sebuah suara bergema di benaknya saat ia menerima pengetahuan itu. "Mereka menggunakannya untuk menyegel Pemangsa. Kini, kau mewarisinya. Gunakan dengan bijak."
"Arga."
Suara Darmaji membuyarkan meditasinya. Ia membuka mata. Pemimpin Ordo Pemburu Bayangan itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kita belum sempat bicara. Tentang apa yang terjadi di menara."
Arga mengangguk. "Aku tahu kau punya banyak pertanyaan."
"Terlalu banyak." Darmaji mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tapi aku akan mulai dengan yang paling penting: apa yang sebenarnya terjadi padamu di altar itu? Kau menyatu dengan ketiga liontin. Gerbang itu terbuka, lalu kau menutupnya. Dan kau mendapatkan kekuatan baru." Matanya menatap tajam. "Kau bukan sekadar keturunan Penjaga biasa, kan?"
Arga menimbang sejenak. Sejauh mana ia bisa percaya pada Darmaji? Pria itu telah membantunya, melindunginya, bahkan mempertaruhkan nyawanya di menara. Tapi rahasia reinkarnasinya—kehidupannya sebagai Kaisar Langit—adalah sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami implikasinya.
"Aku tidak tahu apa yang membuatku berbeda," jawabnya akhirnya. "Tapi altar itu... ia memilihku. Ia memberiku warisan para Penjaga pertama. Teknik mereka. Ingatan mereka. Aku melihat apa yang mereka lihat. Pemangsa. Kurungannya. Dan..." ia berhenti sejenak, "...aku melihat bahwa kurungan itu melemah."
Darmaji menegang. "Maksudmu?"
"Para Penjaga pertama mengorbankan diri mereka untuk menyegel Pemangsa. Tapi segel itu tidak abadi. Ia dirancang untuk diperbarui oleh generasi Penjaga berikutnya. Tapi setelah tiga Penjaga pertama mati, tidak ada yang tahu caranya. Segel itu dibiarkan melemah selama ribuan tahun." Arga menatap api unggun. "Itu sebabnya Lingkaran Naga Hitam bisa merasakan keberadaan gerbang. Itu sebabnya Pemangsa bisa memanggil-manggil dari balik kurungannya. Ia menunggu. Dan suatu hari nanti, jika tidak ada yang memperbarui segelnya, ia akan bebas."
Keheningan panjang.
Sinta menghentikan gerakan membersihkan pedangnya. "Jadi... kau harus memperbarui segel itu?"
"Ya. Tapi tidak sekarang. Aku belum cukup kuat." Arga mengepalkan tangannya. "Warisan para Penjaga memberiku teknik untuk melakukannya. Tapi aku harus mencapai tingkat kultivasi tertentu dulu. Setidaknya ranah Inti Emas."
"Inti Emas?" Sinta mengangkat alis. "Itu masih jauh."
"Aku tahu. Tapi aku akan mencapainya." Arga menatap mereka bergantian. "Dan aku butuh bantuan kalian. Informasi tentang Lingkaran Naga Hitam. Sumber daya untuk berkultivasi. Perlindungan sampai aku cukup kuat."
Darmaji tersenyum tipis. "Kau minta banyak."
"Aku tahu."
"Tapi kebetulan," Darmaji bangkit dan meraih tongkatnya, "aku suka proyek ambisius." Ia menatap Arga lurus-lurus. "Baiklah. Ordo Pemburu Bayangan akan mendukungmu. Tapi dengan syarat."
"Apa?"
"Kau tidak menyembunyikan apa pun lagi dariku. Jika ada perkembangan—sekecil apa pun—kau beritahu aku. Aku tidak bisa melindungimu jika aku tidak tahu apa yang sedang kita hadapi."
Arga menatapnya lama. Lalu ia mengangguk. "Setuju. Tapi ada hal-hal yang... belum bisa kuceritakan. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Tapi karena aku sendiri belum mengerti sepenuhnya."
Darmaji menimbang, lalu mengangguk. "Itu cukup. Untuk sekarang."
Mereka beristirahat. Giliran jaga dibagi—Sinta mengambil jaga pertama, Darmaji kedua, Arga ketiga. Saat Arga berjaga, matanya menatap kegelapan hutan di luar gua. Liontin di dadanya berdenyut tenang.
Ibu, pikirnya. Aku sudah selangkah lebih dekat. Aku akan memperbarui segel itu. Aku akan menghentikan Pemangsa. Dan aku akan mencari tahu siapa yang membunuhmu dan Ayah.
Di kejauhan, lolongan serigala hutan memecah malam. Tapi Arga tidak takut. Ia telah menghadapi yang jauh lebih mengerikan.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga