NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:53.5k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

"Permisi Bu Vania, pimpinan meminta anda ke ruangannya sekarang!." Salah seorang pegawai menghampiri ruangan Vania guna menyampaikan pesan dari Sandi.

"Baik, saya ke sana sekarang." Vania beranjak dari duduknya dan berlalu menuju ruangan Sandi.

Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dan mendapat seruan dari dalam barulah Vania memutar handle pintu.

"Permisi tuan, apa anda memanggil saya?."

"Duduklah!."

Selama memasuki ruangan pimpinan baru kali ini Sandi mempersilahkannya duduk, hingga Vania mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah ia telah melakukan kesalahan yang tidak disadarinya sehingga Sandi ingin mengadilinya? Vania berpikir sejauh itu.

Vania tak sabar menunggu bosnya tersebut kembali bersuara.

Sandi menutup berkas dihadapannya kemudian mengangkat pandangannya, menatap pada Vania yang kini duduk di seberangnya.

"Tidak perlu tegang Nona Vania, saya tidak makan orang!." Kata Sandi menyadari ketegangan Vania.

"Maaf, tuan." Hanya itu yang terucap dari mulut Vania, sebelum berusaha bersikap sedikit santai.

"Maksud dan tujuan saya memanggil anda ke sini hendak meminta anda mengemban tugas dalam pengecekan fasilitas hotel baru milik Admodjo Group yang berada di kota Semarang. Menurut informasi, andalah yang selama ini melakukan tugas serupa di hotel ini, sehingga saya merasa anda adalah orang yang tepat untuk berangkat ke kota Semarang besok."

"Maaf tuan, bukannya ingin menolak tapi bukankah tugas tersebut seharusnya dilakukan oleh manager hotel." Sebenarnya bukan hanya karena tidak ingin sampai berselisih paham dengan pak manager akibat dianggap telah melakukan sabotase, namun Vania juga berat hati meninggalkan putrinya jika ia harus berangkat ke kota Semarang, mengingat untuk urusan pekerjaan seperti ini tidak diperbolehkan mengajak serta anggota keluarga.

"Di sini saya yang berwenang dan siapapun pegawai yang menjadi pilihan saya, itu artinya pegawai tersebut harus mematuhinya. Untuk pak manager, biar beliau menjadi urusan saya!." Tegas Sandi.

"Baik tuan." Pada akhirnya seorang pegawai seperti Vania hanya bisa mengiyakan perintah dari bos tanpa boleh protes lagi.

Pembangunan hotel milik Admodjo Group yang berada di kota Semarang sudah selesai dan sudah waktunya untuk melakukan pengecekan fasilitas hotel, sebelum peresmian gedung diadakan. Seharusnya pekerjaan ini merupakan tugas dan tanggung jawab manajer hotel akan tetapi menurut informasi yang didapatkan Sandi, pekerjaan tersebut justru sering dilimpahkan oleh manager hotel kepada Vania selaku sekretaris manager, sehingga Sandi memutuskan untuk memberikan tugas tersebut kepada Vania yang dianggap lebih berkompeten, bukannya kepada pak Manager hotel.

"Anda akan berangkat ke kota Semarang bersama dengan Nona Cika." Bukan secara kebetulan, tapi Sandi mengetahui tentang persahabatan yang terjalin antara Vania dan Cika dari asisten pribadinya sehingga Sandi pun memutuskan Cika yang ikut pergi ke Semarang bersama Vania.

Awalnya Vania hendak meminta tolong pada Cika untuk menemani Sesil dan mbak Atun selama ia dalam perjalanan kerja ke kota Semarang nanti, tapi kini harapan itu pupus mengingat Cika pun akan ikut bersamanya. Vania jadi kepikiran, bagaimana dengan putrinya dan juga mbak Atun selama ia berada di kota Semarang nanti.

"Untuk keberangkatan kalian besok, dijadwalkan pada pukul sembilan pagi. Sekarang kembalilah ke ruangan anda, nona Vania!."

"Baik, tuan."

Setelah keluar dari ruangan Sandi, barulah Vania merasa bisa bernapas dengan lega. Ya, setiap kali berada satu ruangan dengan pria itu, Vania merasa seperti kesulitan bernapas.

*

"Mamah mau pergi kemana?." Tanya bocah menggemaskan tersebut ketika melihat ibunya sedang sibuk mengemas pakaian ke dalam koper.

"Sayang, untuk beberapa hari ke depan mamah harus pergi ke luar kota buat urusan pekerjaan. Sesil nggak papa kan mamah tinggal sebentar bersama mbak Atun?." Sebagai ibu sekaligus ayah bagi Sesil, Vania harus tegar. Ia tidak ingin terlihat bersedih dihadapan putrinya.

"Iya mah, Sesil nggak papa kok. Nanti kalau mamah pulang, jangan lupa beliin oleh-oleh buat Sesil ya!." Mungkin karena sudah terbiasa atau memang mengerti dengan keadaan mereka, Sesil pun terlihat tegar seperti ibunya.

"Makasih sayang, makasih atas pengertian kamu. Nanti kalau pulang, mamah pasti akan membawa oleh-oleh yang banyak buat anak cantiknya mamah." Vania mengusap lembut puncak kepala Sesil.

Sesil nampak tersenyum manis pada ibunya. Senyuman manis yang selalu mampu menguatkan Vania di saat ia sedang rapuh.

"Tok.....tok....tok.... Assalamualaikum." Rumah yang ditempati Vania hanya berukuran sepuluh kali dua belas persegi dan itu sudah terdiri dari ruang tamu, ruang TV, dua kamar tidur dan juga dapur, sehingga memudahkan penghuninya mendengar suara seruan tamu yang datang.

"Sepertinya diluar ada tamu, mbak."

"Sebentar Bu, biar mbak cek dulu siapa tamu yang datang."

"Iya mbak."

Mbak Atun yang ditemani oleh Sesil beranjak ke depan untuk membukakan pintu.

"Assalamualaikum cantik..."

Begitu pintu terbuka, terlihat wajah cantik nan menggemaskan Sesil berdiri di ambang pintu.

"Waalaikumsalam...Oma." balas Sesil seraya mengulas senyum manis dibibir mungilnya.

"Ini buat Sesil." Bu Dinda menyerahkan sebuah paper bag pada Sesil. Tadinya Bu Dinda sedang shoping di mall dan ketika melihat keberadaan pakaian anak perempuan, Bu Dinda teringat pada Sesil hingga membeli beberapa potong untuk bocah itu.

"Makasih ya Oma. Tapi lain kali, Oma tidak perlu repot-repot membelikan sesuatu buat Sesil. Oma berkunjung ke sini saja, Sesil sudah senang banget." Jawaban Sesil membuat hati Bu Dinda terenyuh mendengarnya.

"Tidak repot-repot kok sayang. Tadi kebetulan Oma sedang berbelanja di mall dan Oma lihat pakaian ini sangat cocok buat Sesil, makanya Oma membelinya buat Sesil." Balas Oma dengan posisi sedikit menunduk di hadapan bocah perempuan itu, mengusap pipi Sesil dengan punggung tangannya.

"Silahkan masuk, nyonya!." Mbak Atun yang sedari tadi hanya diam, memberikan waktu pada Bu Dinda dan Sesil mengobrol, kini mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.

"Terima kasih, mbak Atun. Ohiya, Vania mana, mbak?."

Belum sempat mbak Atun menjawab Vania sudah muncul dari dalam.

"Bu Dinda."

"Iya, Vania. Maaf ya malam-malam begini ibu mengganggu waktu istirahat kalian."

"Enggak mengganggu kok Bu."

"Iya Oma, nggak mengganggu kok. Lagian mamah belum beristirahat, masih sibuk mengemas pakaiannya ke dalam koper." Si bocah menggemaskan yang menjawab.

"Memangnya kalian mau pergi kemana? Kenapa harus mengemas pakaian segala?." Bu Dinda mulai berpikir berlebihan.

"Bukan kami, hanya mamah saja Oma. Soalnya kalau untuk urusan pekerjaan, Sesil dan mbak Atun nggak pernah ikut." Lagi-lagi, Sesil yang menjawab.

Bu Dinda memandang pada Vania. Ikut prihatin dengan perjuangan Vania dalam berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Sebagai sesama perempuan dan juga sesama ibu, Bu Dinda dapat merasakan kekhawatiran Vania saat hendak meninggalkan buah hatinya di rumah. Apalagi hanya berdua saja dengan mbak Atun, tanpa fasilitas petugas penjaga keamanan.

"Kalau kamu tidak keberatan, apa ibu boleh mengajak Sesil dan mbak Atun buat menginap di rumah ibu selama kamu pergi?."

"Apa nantinya tidak merepotkan Bu Dinda?." Vania merasa sungkan padahal jika bersama Bu Dinda mungkin Sesil dan mbak Atun akan lebih aman, begitu pikir Vania.

"Tentu saja tidak merepotkan, ibu justru senang, Vania."

"Terima kasih banyak sebelumnya, Bu." Vania akhirnya setuju Sesil dan mbak Atun ikut bersama Bu Dinda selama ia berada di kota Semarang nanti.

Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku biar aku makin semangat updatenya...! 🙏🙏🙏😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰 Love you all....

1
Rita Susanti
kasihan banget Vania punya ibu yg jahat banet
Lia siti marlia
akhirnya kebenaran pun terungkap untuk vania 👍👍👍bagus sandi kamu harus ambil sikap tegas👍👍👍👍👍👍👍
secret
gilaakkk gilaakkk gilaakkk, tdk bisa berword2 dgn kelakuan nenek lampir.. para napi di penjara nnti titip ni anomali y
Ariany Sudjana
begitu dengar kata pengadilan, langsung panik, minta tolong Vania. kenapa kamu ga minta tolong sama pelacur murahan kesayangan kamu itu? dasar ibu durhaka kamu juga, sudahlah bunuh saja ibu yang tidak berguna itu
sri hastuti: ibu spt buang aja, biar tau rasa, jd miskin, vania gak usah berhubungan lg sm orang tua spt itu,waktunya km bahagia
total 1 replies
partini
moga kena stroke tuh mulut biar mencongggg ibu lacknat
sri hastuti
ibu spt itu buang aja thor, bikin jengkel aja, jd orang tua jahat banget, biar dpt balasan setimpal, biar kapok huuhhh😡😡😡😡
Yallend Mungil
bisa ngk thor updatetan nya banyakin jgn cuma 1 aja 3 bgtu perhari dong
Ayila Ella
kira kira siapa ya yg dulu bucin bara apa Cika,,,next thor
secret
nahh jd salah paham kan bpk securitynya😂 hayoloo bujuk bar yg lg cemburu tp ketutup gengsii🤭 hmm lg dan lg sandi hrs menghadapi si nnek lmpir
secret
syukur deh feeling readers salah, ga ktmu 2 nenek lampirr
alahaayyy mereka tu smsm mauu tp msih bingung ajaa mengungkapkannya🤭🤭
Felycia R. Fernandez
kan kemarin udah minta 2M agar Vania lepas dari ibunya...
Felycia R. Fernandez
Bara kk Thor
Ariany Sudjana
ga Natalie ga ibunya sama saja, sama-sama pelacur murahan 🤣🤣😂😂 heh waras kamu yah? menyebut diri sebagai ibu kandung Vania? ibu macam apa yang menjual putri kandungnya dan lebih percaya sama omongan pelacur murahan seperti Natalie?
Lia siti marlia
cie cie yang kw gep security cika bara 🤣🤣🤣🤣
lah lah bagus sandi kamu bilang gitu sama siapa sih mamahnya vania namanya pokonya dia we ...biar dia sadar kalu dia telah menukar vania dengsn uang 20 miliar 👍 amnesia kali tih orang masih menyebut dirinya ibu mertua 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
cie cie cika cemburu 🤭🤭
cie cie bara ke gep jadi kelimpungan kan buat jelasin 🤭🤭
cie cie vania yang melongo karna tingkah kedua nya 🤣🤣🤣
partini
bara bere minheeeee ,, terlalu banyak wanita sih jadi susah sendiri
Ariany Sudjana
kapan sih kena batunya orang tua Vania? sudah jahat, menjual Vania, dan masih juga percaya sama omongan si pelacur murahan Natalie itu
Yallend Mungil: jgn cuma org tua nya tp natalie jg hrs kena batunya🤭
total 1 replies
Lia siti marlia
sahabat rasa saudara ini mah bahagia selalu yah kalian vania cika semoga kalian di ratukan suami kalian😍😍😍
secret
good bahagiaaa2 ajaa van, nikmati hidup😁 ehh tapii feeling bkl ketemu si 2 nenek lampir, bkl hilang deh mood bahagia
❥␠⃝ ͭ🍁ᴍɪᴍɪ💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳 : saatnya bahagia bersama suami anak dan mertua juga sahabat jangan pikirin orang-orang gila yang menyakiti mu Vania🥳semoga semua terungkap setelah paman Vania ditemukan dan tentang Ibunya Vania yang sesungguhnya
total 1 replies
secret
udah van air matamu terlalu berharga untuk org gatau diri gitu, mending bahagia2 ajaaa sm paksuu.. kehancuran otw untuk org2 gada otak ituu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!