NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Dan Kecurigaan Penguji

Debu pasir di arena perlahan lahan mulai mengendap kembali ke bumi, namun ketegangan yang ditinggalkan oleh pertarungan Arlan seolah olah menggantung di udara dengan sangat berat. Para petugas medis kerajaan bergegas masuk ke tengah lingkaran untuk mengevakuasi sembilan peserta yang tergeletak tidak berdaya. Beberapa dari mereka mengalami patah tulang, namun sebagian besar menderita syok saraf yang membuat tubuh mereka terus gemetar meskipun sudah tidak sadarkan diri. Arlan berdiri di pinggir arena, membiarkan petugas medis melewatinya tanpa ekspresi. Dia bisa merasakan tatapan mata ribuan orang tertuju pada punggungnya, namun fokus Arlan sepenuhnya tertuju pada pengaturan energi di dalam dadanya.

Membuka Gerbang Keempat: Gerbang Rasa Sakit dalam durasi yang cukup lama mulai memberikan tekanan pada pembuluh darahnya. Arlan bisa merasakan denyut nadi di pelipisnya berdetak dengan ritme yang sangat cepat. Dia menarik napas panjang, menggunakan teknik pernapasan internal untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang sempat meningkat drastis. Di kehidupan sebelumnya, Adit sering mengalami serangan panik setelah melakukan negosiasi yang sangat melelahkan, dan dia belajar bahwa cara terbaik untuk tetap bertahan adalah dengan mengendalikan detak jantung sendiri.

Di panggung utama, Penyihir Agung yang bernama Master Eldrian tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Dia berdiri dari kursi kehormatannya dan melangkah menuju tepi panggung, tepat di atas arena di mana Arlan berada. Eldrian adalah seorang pria yang telah menghabiskan lima puluh tahun hidupnya untuk mempelajari aliran mana di seluruh benua Aetheria. Baginya, apa yang baru saja dilakukan Arlan adalah sebuah anomali yang menyinggung semua hukum sihir yang dia ketahui.

"Arlan Vandermir, berhenti di sana sejenak," suara Master Eldrian menggema dengan wibawa yang membuat suasana alun alun kembali sunyi senyap.

Arlan menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan. Dia mendongak, menatap mata Penyihir Agung itu dengan pandangan yang tenang namun tidak merendahkan diri. Arlan tahu bahwa saat ini dia sedang berada di bawah mikroskop kekuasaan kerajaan. Satu langkah salah dalam menjawab bisa berujung pada tuduhan bidah atau penggunaan ilmu hitam.

"Ada apa, Tuan Penguji?" tanya Arlan dengan suara yang datar dan sopan.

Master Eldrian melompat turun dari panggung dengan gerakan yang sangat ringan, mendarat hanya dua meter di depan Arlan. Dia mengeluarkan sebuah tongkat kayu kecil yang di ujungnya terdapat kristal pemindai mana yang sangat langka. "Aku telah mengawasi ribuan ujian masuk akademi, namun aku belum pernah melihat teknik bertarung seperti yang kamu tunjukkan tadi. Kamu memiliki potensi mana nol, yang berarti tubuhmu seharusnya tidak memiliki energi untuk melakukan serangan fisik dengan daya ledak sebesar itu. Jelaskan padaku, teknik apa yang sebenarnya kamu gunakan?"

Gort, yang masih duduk di panggung, berteriak dengan nada penuh kebencian. "Tuan Eldrian, sudah jelas dia menggunakan artefak terlarang! Saya melihat dia menyembunyikan sesuatu di balik pakaiannya! Dia adalah keturunan jenderal pengkhianat, tidak heran jika dia memiliki benda benda terkutuk dari masa lalu!"

Arlan melirik Gort sejenak dengan tatapan yang sangat dingin, membuat kepala desa itu segera menutup mulutnya karena teringat ancaman Arlan tempo hari. Arlan kemudian kembali menatap Master Eldrian. Di dalam otaknya, Arlan sedang menyusun strategi jawaban yang paling aman namun tetap masuk akal.

"Tuan Penguji yang terhormat," Arlan memulai bicaranya dengan nada yang sangat teratur. "Dunia ini selalu memuja Berkah Dewa sebagai satu satunya sumber kekuatan. Namun, apakah Anda pernah berpikir bahwa tubuh manusia sendiri adalah sebuah wadah energi? Ayah saya, sebelum dia dieksekusi, pernah mengajarkan bahwa jika seseorang tidak memiliki mana, maka dia harus mengubah rasa sakit menjadi kekuatan. Saya tidak menggunakan artefak. Saya hanya menggunakan setiap serat otot dan tulang saya yang telah saya latih di hutan selama tujuh tahun ini tanpa henti."

Master Eldrian mengerutkan keningnya. Dia mengarahkan tongkat pemindainya ke arah Arlan. Kristal di ujung tongkat itu bersinar hijau redup, menandakan tidak ada aktivitas mana eksternal atau artefak sihir yang sedang aktif di tubuh Arlan. Pria tua itu tampak semakin bingung.

"Pelatihan fisik biasa tidak mungkin menghasilkan getaran yang bisa menghancurkan perisai mana gabungan," bantah Master Eldrian. "Aku merasakan ada aliran energi yang sangat panas di dalam tubuhmu saat kamu menyerang tadi. Energi itu bukan mana, tapi itu sangat padat."

"Itu adalah energi kehidupan, Tuan," jawab Arlan dengan tenang. "Saya menyebutnya sebagai teknik pernapasan batin. Dengan mengatur napas secara ekstrem, saya bisa memompa darah lebih cepat dan menciptakan tekanan pada saraf. Itu bukan sihir, itu adalah ilmu biologi tubuh yang dipaksa melampaui batas. Bukankah akademi kerajaan selalu mengajarkan untuk melampaui batas?"

Mendengar jawaban Arlan yang sangat logis dan berani, Master Eldrian terdiam. Dia menyadari bahwa anak di depannya memiliki kecerdasan yang jauh melampaui usianya. Jawaban Arlan tentang energi kehidupan sebenarnya adalah sebuah konsep kuno yang sudah lama ditinggalkan oleh para penyihir karena dianggap terlalu berbahaya dan menyakitkan.

Ksatria zirah emas, Sir Alistair, melompat turun menyusul Master Eldrian. Dia memeriksa bekas retakan di tanah arena tempat Arlan berpijak tadi. "Tekanan ini berasal dari otot kaki yang sangat kuat. Master Eldrian, saya rasa anak ini jujur. Tidak ada jejak mana di sini. Yang ada hanyalah jejak kekuatan fisik murni yang sangat terkontrol. Ini bukan sihir hitam, ini adalah hasil dari latihan neraka yang mungkin tidak sanggup dilakukan oleh anak anak bangsawan kita."

Sir Alistair menatap Arlan dengan rasa hormat yang muncul di matanya. Sebagai seorang ksatria, dia sangat menghargai kerja keras daripada sekadar bakat alami. "Arlan Vandermir, kamu memiliki semangat ksatria yang sejati. Teruskan perjuanganmu di babak final nanti."

Julian, yang masih berada di barisan peserta, meremas gelas anggurnya hingga pecah berantakan. Cairan merah anggur mengalir di tangannya, namun dia tidak peduli. Dia merasa sangat terhina karena dua penguji tinggi kerajaan justru memberikan pujian kepada sampah yang sangat dia benci. Julian berdiri dan berteriak ke arah arena.

"Cukup dengan semua omong kosong ini! Jika dia memang sekuat itu, biarkan dia menghadapi ku di babak final sekarang juga! Aku akan membuktikan bahwa teknik fisiknya hanyalah sebuah trik murah di hadapan pedang dewaku!"

Master Eldrian menoleh ke arah Julian, lalu kembali ke arah Arlan. "Ujian tetap akan mengikuti jadwal. Babak final akan diadakan besok pagi untuk memberikan waktu istirahat bagi peserta yang lulus. Arlan, kamu telah membuktikan bahwa kamu layak masuk ke akademi, namun untuk menjadi yang terbaik, kamu harus mengalahkan Julian."

Arlan membungkuk dengan sangat hormat kepada para penguji. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menunggu hari esok."

Arlan berjalan meninggalkan arena menuju barisan penonton tempat ibunya berada. Elena segera memeluk Arlan dengan sangat erat, tangannya masih gemetar karena rasa takut yang belum sepenuhnya hilang. Arlan bisa merasakan air mata ibunya membasahi bahunya.

"Ibu, ayo kita pulang. Aku butuh istirahat untuk besok," ucap Arlan lembut.

Saat mereka berjalan menuju pintu keluar alun alun, penduduk desa yang mereka lewati memberikan jalan dengan sangat cepat. Tidak ada lagi ejekan, tidak ada lagi makian. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam. Orang orang desa mulai menyadari bahwa Arlan bukan lagi mangsa yang bisa mereka bully. Dia telah berubah menjadi predator yang sangat berbahaya.

Di sebuah sudut yang gelap, kakek tua itu sedang duduk di atas sebuah gerobak kosong. Dia tersenyum lebar sambil melihat kepergian Arlan. "Langkah yang cerdas dalam menjawab pertanyaan si penyihir tua itu, Arlan. Kamu memberikan mereka sedikit kebenaran untuk menutupi rahasia yang lebih besar. Energi kehidupan, ya? Hahaha, mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa itu adalah kekuatan gerbang surgawi."

Malam itu, Desa Oakhaven terasa sangat sunyi. Arlan duduk di dalam kamarnya, tidak lagi berlatih fisik. Dia hanya melakukan meditasi untuk menenangkan saraf sarafnya yang tegang. Dia menggunakan sisa ramuan pemulih untuk membasuh tubuhnya. Arlan tahu bahwa besok adalah pertarungan yang akan menentukan masa depannya di dunia ini. Julian pasti akan menggunakan segala cara, termasuk cara kotor, untuk menang.

Di kehidupan sebelumnya, Adit selalu menyiapkan rencana cadangan untuk setiap risiko. Malam ini, Arlan mulai memvisualisasikan gerakan gerakan pedang Julian yang dia amati tadi sore. Dia mencari celah sekecil apa pun di dalam ritme pernapasan Julian. Arlan menyadari bahwa Julian memiliki kecenderungan untuk menyerang dengan kekuatan penuh di awal pertarungan untuk mengintimidasi lawan.

"Jika dia ingin menyerang dengan kekuatan penuh, aku akan membiarkannya melakukannya sampai dia kehabisan mana," gumam Arlan dalam hati. "Dan saat dia merasa sudah menang, itulah saatnya aku akan membuka Gerbang Kelima."

Gerbang Kelima: Gerbang Batas. Ini adalah kartu as yang Arlan simpan rapat rapat. Membuka gerbang ini akan memberikan Arlan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia, namun risikonya adalah kerusakan pada otot otot kakinya sendiri. Namun bagi Arlan, kerusakan fisik adalah harga yang kecil untuk sebuah kemenangan yang mutlak.

Di kediaman kepala desa, Julian sedang duduk di dalam bak mandi air hangat yang dipenuhi dengan tanaman obat mahal. Gort berdiri di sampingnya dengan wajah yang cemas. "Tuan Muda, apakah Anda yakin bisa mengalahkan anak itu besok? Kekuatannya benar benar aneh."

Julian menatap Gort dengan pandangan yang sangat tajam. "Jangan samakan aku dengan pecundang seperti Kael. Besok, aku akan menggunakan pedang warisan keluargaku yang mampu memotong energi kehidupan sekalipun. Aku tidak akan membiarkan sampah itu bertahan hidup lebih dari satu menit di arena."

Kegelapan malam di Desa Oakhaven seolah menjadi saksi dari dua kekuatan yang sedang bersiap untuk saling menghancurkan. Besok bukan lagi sekadar ujian masuk akademi, melainkan sebuah pertarungan hidup dan mati antara kasta bangsawan yang angkuh dan kasta pengkhianat yang telah bangkit dari kematian. Arlan Vandermir memejamkan matanya, memasuki tidur yang dalam dan stabil. Dia sudah siap untuk mengakhiri drama di desa ini dan melangkah menuju panggung dunia yang lebih besar.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!