"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kidung Luka dalam Mimpi
Malam itu, hujan turun membasahi Jakarta, menciptakan irama monoton yang seharusnya menenangkan. Namun, di dalam kamar utama yang temaram, Baskara tampak gelisah dalam tidurnya. Peluh dingin membasahi keningnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek.
Baskara merasa dirinya terseret ke dalam sebuah lubang hitam yang membawanya ke tempat yang sangat asing. Ia tidak lagi berada di kamarnya yang modern, melainkan berdiri di sebuah taman yang dipenuhi pohon tanjung dengan aroma melati yang menusuk indra penciumannya.
"Arini?" panggil Baskara, suaranya bergema aneh.
Di kejauhan, di bawah remang cahaya lampu minyak kuno, ia melihat sosok wanita. Wanita itu mengenakan kebaya kutubaru putih dengan kain jarik cokelat tua. Wajahnya... itu adalah wajah Arini. Wajah yang setiap malam ia kecup sebelum tidur.
"Arini! Sedang apa kamu di sana dengan pakaian itu?" Baskara mencoba berlari mendekat, namun kakinya terasa berat, seolah tertahan oleh lumpur gaib.
Wanita itu tidak menoleh. Ia justru tersenyum manis ke arah seorang pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu sangat rupawan, mengenakan seragam pejuang berwarna hijau kusam dengan tatapan mata yang begitu memuja. Pria itu adalah Satria.
Baskara membeku saat melihat Satria menarik pinggang wanita itu dengan posesif—posisi yang biasanya hanya milik Baskara.
"Aku merindukanmu, Mas," bisik wanita itu. Suaranya identik dengan Arini, namun nada bicaranya jauh lebih lembut dan santun.
"Aku juga, Sekar," sahut Satria dengan suara bariton yang dalam.
Baskara berteriak sekencang mungkin, "DIA BUKAN SEKAR! DIA ARINI! ISTRIKU!"
Namun, kedua insan di depannya seolah berada di dimensi lain. Satria menangkup wajah wanita itu, lalu mencium bibirnya dengan penuh gairah. Baskara dipaksa menyaksikan adegan intim itu—sebuah ciuman yang dalam dan panjang. Di sela-sela desahan napas mereka yang menderu, Satria terus berbisik dengan nada mematikan, "Hanya milikku... milikku selamanya, Sekar..."
Melihat wajah Arini berada dalam dekapan pria lain, apalagi saat wanita itu tampak begitu menikmati sentuhan Satria, membuat dada Baskara serasa dihantam palu godam. Rasa cemburu yang primitif dan ketakutan akan kehilangan meledak di dalam dadanya.
"ARINIIII!"
Baskara tersentak bangun dengan teriakan yang memenuhi seluruh penjuru kamar. Matanya terbelalak liar, napasnya memburu seperti orang yang baru saja lolos dari maut.
Arini, yang terkejut karena teriakan itu, langsung terbangun dan menyalakan lampu nakas. "Bas? Ada apa?! Kamu mimpi buruk?"
Tanpa sepatah kata pun, Baskara langsung menyambar tubuh Arini dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat—begitu erat hingga Arini sulit bernapas. Tubuh Baskara gemetar hebat, tangannya mencengkeram punggung Arini seolah takut jika ia melepaskan sedetik saja, Arini akan menghilang kembali ke dalam taman melati tadi.
"Bas... kamu kenapa?" Arini mengusap punggung suaminya dengan cemas.
"Jangan pergi..." suara Baskara terdengar parau dan hancur, sangat jauh dari citra jaksa yang tak terkalahkan. "Jangan pernah pergi ke tempat itu lagi, Arini. Jangan biarkan dia menyentuhmu."
Arini terdiam, hatinya mencelos. Ia melirik ke sudut kamar. Di sana, Satria berdiri dalam kegelapan dengan senyum kemenangan yang tipis, sementara Mika tampak ketakutan sambil memeluk botol parfumnya di pojok ruangan.
"Bas, aku di sini. Aku tidak ke mana-mana," bisik Arini, mencoba menenangkan suaminya meski ia tahu Satria baru saja memulai perang psikologis yang sangat licik.
Baskara melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Arini dan menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa takut sekaligus posesif yang sangat kuat. "Tadi ada pria lain... dia memanggilmu Sekar. Kamu menciumnya, Arini. Wajahmu... tapi kamu tidak melihatku."
Arini membeku. Satria benar-benar telah melampaui batas dengan masuk ke dalam mimpi Baskara. Ia sadar, ia tidak bisa lagi menyembunyikan identitas Satria jika suaminya sudah mulai terancam secara mental seperti ini.
Mika melayang mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Rin, kasih tahu dia! Mas Jaksa bisa gila kalau nggak dikasih penjelasan. Satria itu curang banget mainnya!"
Baskara kembali memeluk Arini, kali ini lebih tenang namun tetap sangat protektif. "Aku tidak peduli siapa dia di masa lalumu, atau siapa Sekar itu. Tapi jika dia berani muncul lagi di mimpiku, aku akan mencari cara untuk menghancurkannya, meskipun dia sudah mati."
Arini hanya bisa terdiam dalam pelukan suaminya, menyadari bahwa ketenangan bulan madu mereka di Yogyakarta kini telah digantikan oleh badai kecemburuan dari dua dunia yang berbeda.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣