Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Garis Garam dan Luka yang Berbicara
Mesin kapal nelayan ini tidak menderu; ia terbatuk-batuk, mengeluarkan irama yang tidak konsisten seolah-olah mesin tua itu sewaktu-waktu bisa menyerah pada arus Selat Malaka yang pekat. Udara di sini berat, lengket oleh uap solar dan garam yang seakan ingin menguliti pori-pori. Aku duduk di atas tumpukan jaring nilon yang kasar, memeluk lutut di sudut dek yang gelap. Di atas kami, langit tidak berbintang. Hanya ada kepekatan yang menyatu dengan permukaan laut, membuatku merasa seolah kami sedang berlayar di dalam perut paus raksasa yang sedang bermigrasi menuju kehancuran yang tak terelakkan.
Aku menoleh ke arah Devan. Ia berdiri di dekat haluan, memunggungi cahaya redup dari lampu navigasi yang bergoyang liar tertiup angin laut. Sosoknya tampak seperti siluet yang dipahat dari batu karang—keras, tajam, dan seolah tak tergoyahkan oleh guncangan ombak. Namun, aku tahu ada yang retak di dalam sana. Aku bisa merasakannya dari cara bahunya turun sedikit lebih rendah dari biasanya, atau bagaimana ia sesekali menyugar rambutnya yang basah oleh embun laut dengan gerakan yang terlampau letih.
Selama ini, aku adalah pusat dari semesta penderitaan ini. Setidaknya, begitulah caraku memandang duniaku sendiri. Aku adalah si "kaset rusak", si korban amnesia, si gadis yang hidupnya dicuri. Tapi malam ini, di tengah lautan yang tak berujung, aku menyadari satu kebenaran pahit: penderitaanku terasa begitu "steril". Aku menderita di bawah pengawasan dokter, di atas sprei putih yang bersih, di dalam ruangan yang beraroma lavender. Penderitaanku adalah produk laboratorium yang dirancang agar tetap rapi.
Sedangkan Devan? Penderitaannya adalah karat. Ia adalah darah yang mengering di atas semen. Ia adalah sisa-sisa kehormatan yang dipaksa bertahan hidup di tempat-tempat yang bahkan sinar matahari pun enggan mampir.
"Van," panggilku. Suaraku hampir hilang ditelan deru angin, tapi ia mendengarnya. Ia selalu mendengarnya, seolah-olah telinganya telah terlatih untuk menangkap setiap getaran halus dari suaraku, bahkan di tengah badai sekalipun.
Ia berbalik, perlahan melangkah mendekat. Kapal bergoyang cukup keras saat ia duduk di sampingku, membuat bahu kami bersentuhan. Kali ini, tidak ada kain flanel atau jaket kulit yang menghalangi. Ia hanya mengenakan kaus oblong hitam yang sudah lusuh dan menipis di bagian jahitan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di tiang kapal, aku bisa melihatnya dengan lebih jelas daripada saat kami berada di bawah lampu neon apartemen.
Aku melihat garis-garis kelelahan di sudut matanya. Aku melihat bagaimana rahangnya tetap terkatup rapat, seolah-olah ia sedang menahan beban ribuan kata yang menolak untuk keluar. Mataku tertuju pada tangan kanannya yang sedang mengusap pelan pangkal lengannya. Tapi bukan perban itu yang menarik perhatianku. Melainkan buku-buku jarinya. Mereka tidak mulus. Ada jaringan parut permanen yang menebal di sana, tanda bahwa tangan itu sudah menghantam benda-benda keras berkali-kali melampaui batas kewajaran seorang manusia biasa.
"Kau melihatnya lagi," gumam Devan tanpa menoleh. Ia tidak menarik tangannya. Ia justru membukanya, membiarkan telapak tangannya yang kapalan dan penuh guratan kasar menghadap ke atas. "Dunia yang kutinggali selama kau 'tidur' tidak memberikan ruang untuk tangan yang lembut, Anya. Di sana, jika tanganmu lembut, kau akan dimakan hidup-hidup oleh keadaan."
Aku meraih tangannya. Jemariku yang pucat terasa begitu rapuh saat bersentuhan dengan kulitnya yang panas dan kasar. Aku menelusuri garis-garis parut di buku jarinya, merasakan setiap tonjolan tulang yang seolah menceritakan kisah yang tak pernah ingin ia bagi.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan padamu, Van? Selama tiga tahun aku hidup di rumah itu... selama aku makan malam dengan tenang bersama orang-orang yang menghapusmu dari kepalaku... apa yang kau lakukan untuk bisa tetap bertahan?"
Pertanyaanku menggantung di udara, bersaing dengan bau solar yang menyesakkan dan suara kayu kapal yang berderit. Devan menatap ke arah laut lepas, di mana garis horizon tidak terlihat karena saking gelapnya. Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia akhirnya melepaskan napas panjang yang terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.
"Aku mati, Anya. Setidaknya jiwaku," ia memulai, suaranya parau dan rendah, menyatu dengan bunyi mesin yang terseok-seok. "Setelah kecelakaan itu, saat aku sadar di sebuah puskesmas kecil di pinggiran kota dengan dua polisi yang menungguku di depan pintu, aku tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi. Keluargamu bekerja sangat cepat. Mereka memastikan namaku kotor. Mereka mencapku sebagai penculik, pengedar, pecundang—apa pun yang bisa membuatku membusuk di penjara selamanya. Mereka ingin aku dilupakan oleh dunia, persis seperti caramu melupakanku."
Ia terhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun.
"Tapi aku tidak bisa tetap di sana. Aku melarikan diri dari tahanan sementara saat mereka memindahkanku ke polres. Sejak saat itu, namaku hilang. Devan Mahendra berhenti ada secara administratif. Aku masuk ke Sektor Bawah Tanah di Jakarta. Kau tahu tempat itu? Bukan tempat yang kau lihat di brosur atau berita kriminal biasa. Itu adalah labirin beton di bawah jembatan layang dan di balik gudang-gudang pelabuhan. Tempat di mana orang-orang tanpa identitas berkerumun seperti rayap."
Aku mengeratkan peganganku pada tangannya. "Dan untuk makan? Untuk tetap hidup?"
Devan terkekeh, tapi tawa itu terasa seperti gesekan amplas di hatiku. "Untuk bertahan hidup, dan untuk membayar informan yang bisa memberitahuku di mana kau disembunyikan... aku harus menjual satu-satunya hal yang kumiliki saat itu: kemampuanku untuk menerima rasa sakit."
Ia menatapku, matanya yang kelam kini memantulkan cahaya lampu minyak yang kuning redup. "Aku bertarung di arena judi manusia. Underground fight. Mereka menyebutku 'Hantu' karena aku tidak pernah bicara, aku tidak pernah mengeluh, dan aku tidak pernah jatuh sebelum lawanku mati rasa. Setiap pukulan yang kuhantamkan, dan setiap tendangan yang kuhadapi... aku menganggapnya sebagai penebusan dosa. Aku merasa aku pantas dipukuli karena aku gagal menjagamu malam itu. Rasa sakit fisik adalah satu-satunya hal yang cukup keras untuk mengalihkan rasa sakit di kepalaku setiap kali aku melewati gerbang kampusmu dan melihatmu berjalan tertawa dengan teman-temanmu, tanpa menyadari bahwa aku ada di sana, hanya berjarak lima meter darimu."
Aku merasa seperti pengkhianat. Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang kini meluap-luap. Air mata jatuh tanpa izin, membasahi punggung tangannya. "Maafkan aku, Devan... maaf karena aku membiarkan mereka memberiku 'kenyamanan' itu sementara kau berdarah-darah."
"Jangan minta maaf," Devan memutar tangannya, kini ia yang menggenggam jemariku dengan protektif. "Melihatmu tetap hidup, meskipun kau menatapku seolah aku adalah sampah di trotoar, adalah alasanku untuk tetap bangun setiap pagi. Jika aku membencimu, aku tidak akan punya sisa kekuatan untuk menang di arena itu. Kau adalah alasan aku hidup, sekaligus alasan aku ingin mati setiap kali kau membuang muka."
Ia kemudian perlahan melepaskan pegangannya dan mengangkat bagian belakang kausnya. Di bawah cahaya yang bergetar, aku melihat pemandangan yang membuat jiwaku serasa tercabik. Di punggungnya yang tegap, terdapat sebuah parut panjang yang melintang, menonjol, dan tampak begitu menyakitkan. Itu bukan luka dari arena tarung biasa. Itu adalah luka dari sebuah kekejaman yang disengaja.
"Kado dari Bima Dirgantara, setahun yang lalu," suara Devan berubah menjadi sedingin es. "Saat aku mencoba menyelinap ke rumah sakit tempat kau melakukan pemeriksaan rutin. Aku ingin memastikan dosis obatmu tidak membahayakanmu. Orang-orangnya menemukanku di basement. Mereka tidak membunuhku karena Bima ingin aku menderita. Ia ingin aku tetap hidup agar aku bisa menyaksikan bagaimana ia perlahan-lahan memilikimu. Luka di punggungku ini adalah tanda bahwa aku tidak boleh mendekat. Tapi dia salah satu hal: rasa sakit tidak membuatku takut. Rasa sakit justru membuatku tetap fokus."
Aku menyentuh pinggiran parut itu dengan ujung jari, sebuah gerakan yang sangat pelan. Aku bisa merasakan tubuh Devan menegang sejenak sebelum ia rileks di bawah sentuhanku.
"Kita akan meruntuhkan mereka, Van," ujarku, suaraku kini tidak lagi gemetar. Ada sebuah kekuatan baru yang muncul dari dalam diriku—kekuatan yang bukan berasal dari memori, tapi dari cinta yang telah diuji oleh darah. "Bukan cuma untuk menghapus Project Elegia, tapi untuk setiap tetes darah yang kau tumpahkan di tanah kotor itu. Aku akan memastikan Bima Dirgantara merangkak di kaki kita sebelum semuanya berakhir."
Devan berbalik sepenuhnya, menatapku dengan tatapan yang seolah-olah ingin meminum seluruh keberanian yang baru saja kutunjukkan. Ia menarikku masuk ke dalam dekapan lengannya yang kuat. Di tengah Selat Malaka yang dingin, di atas kapal yang hampir karatan, aku merasa jauh lebih aman daripada saat aku berada di dalam mansion Kusuma yang megah. Kami adalah dua pecahan kaset yang berbeda, namun malam ini, pita kami menyatu kembali.
[KILAS BALIK SINEMATIK - SUDUT PANDANG DEVAN]
FADE IN:
INT. GUDANG TUA SEKTOR BAWAH TANAH - MALAM HARI (2 TAHUN LALU)
Suara sorak-sorai liar yang berbau alkohol murahan dan asap rokok memenuhi ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung tunggal yang berayun. DEVAN (18 tahun) berdiri di tengah lingkaran orang-orang yang berteriak haus darah. Wajahnya bersimbah darah, mata kirinya sudah membengkak hingga hampir tertutup, dan napasnya terdengar seperti suara gergaji yang memotong besi.
Di depannya, seorang petarung raksasa dengan tato di seluruh lehernya sedang tertawa, bersiap melayangkan pukulan terakhir untuk mengakhiri pertandingan.
BANDAR JUDI
"Ayo, Hantu! Jatuhlah! Kau sudah menerima sepuluh pukulan telak! Jangan paksa aku membayar uang asuransi kematianmu malam ini!"
Devan tidak jatuh. Ia justru meludah darah ke lantai beton yang kotor, lalu meraba saku celananya yang robek. Di sana, ia memegang sebuah benda kecil: gantungan kunci kucing oranye milik Anya yang patah. Ia menekannya kuat-kuat hingga plastiknya menusuk telapak tangannya.
DEVAN (V.O)
(Suaranya terdengar sangat letih, namun memiliki ritme yang sangat keras)
"Pukulan ini tidak ada apa-apanya dibanding saat aku melihatnya di perpustakaan kampus sore tadi. Saat dia menatapku selama dua detik, lalu membuang muka seolah aku hanyalah debu yang tidak sengaja masuk ke matanya. Jika aku bisa menahan rasa perih di hatiku saat ia melupakanku, aku bisa menahan setiap tulang yang patah di tubuhku ini."
Devan menerjang maju dengan sisa tenaganya. Ia tidak bertarung dengan teknik, ia bertarung dengan keputusasaan. Dengan satu hantaman presisi ke arah rahang lawannya, ia memenangkan pertandingan.
Saat ia berjalan keluar dari gudang menuju hujan deras Jakarta, ia tidak membeli obat untuk lukanya. Ia pergi ke sebuah warnet kumuh, membayar seorang peretas kecil untuk mendapatkan jadwal kuliah Anya di Universitas Bina Harapan untuk minggu depan. Baginya, itu adalah satu-satunya obat yang ia butuhkan.
FADE OUT.
Kapal tiba-tiba berguncang hebat, lebih keras dari sebelumnya. Suara deburan ombak menghantam haluan dengan sangat keras hingga air laut masuk ke dek tempat kami duduk. Vincent, yang sejak tadi diam di balik kemudi kecil di kokpit, tiba-tiba berteriak dengan nada yang sangat panik.
"Devan! Anya! Kita punya masalah besar!"
Aku dan Devan berdiri seketika. Aku mencengkeram lengan Devan agar tidak jatuh.
"Ada apa, V?" teriak Devan.
"Radar pasifku mendeteksi sebuah objek mendekat dari arah belakang kita. Cepat sekali. Ini bukan kapal nelayan... dan bukan patroli resmi Malaysia atau Indonesia. Sinyalnya terenkripsi... ini unit swasta!"
Devan segera menarik pistolnya, matanya yang tadi sempat melunak kini kembali berubah menjadi tatapan 'Hantu' yang dingin dan berbahaya. Ia menarikku ke belakang tubuhnya.
"Mereka tidak menunggu kita sampai di Jakarta," desis Devan. "Mereka tahu kita membawa data aslinya di kapal ini. Mereka ingin menenggelamkan kita di tengah laut agar rahasia mereka ikut terkubur."
Sebuah lampu sorot raksasa tiba-tiba menyala dari arah cakrawala belakang kami. Cahayanya yang putih tajam membelah kegelapan laut, menyapu permukaan air dan akhirnya berhenti tepat di kapal nelayan kami. Suara raungan mesin kapal cepat yang sangat kuat mulai terdengar mendekat.
"Vincent, matikan semua lampu! Putar ke arah gugusan karang dangkal di sebelah kiri! Kita harus memancing mereka ke tempat di mana kapal besar tidak bisa masuk!" perintah Devan.
Kapal kami berbelok tajam, membuatku terlempar ke arah tumpukan jaring. Di tengah kegelapan Selat Malaka, di bawah buruan lampu sorot musuh, elegi kami baru saja berganti menjadi babak pertempuran hidup dan mati. Aku memegang lencana perak di leherku erat-erat. Aku tidak akan membiarkan Devan berdarah sendirian lagi.
[BERSAMBUNG KE BAB 34]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??