NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang di tetapkan

Hujan semalam meninggalkan jejak.

Jalanan masih basah, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tetesan air masih jatuh dari ujung-ujung atap seng bengkel milik Ryan.

Namun suasana di dalam bengkel itu…

tidak sedingin yang ia rasakan di dalam hati.

Ryan bekerja seperti biasa.

Atau setidaknya… berusaha terlihat biasa.

Tangannya sibuk memperbaiki mesin, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana.

Sudah dua hari.

Arini tidak datang.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada tanda apa pun.

Dan untuk pertama kalinya—

Ryan mulai merasakan kehilangan yang jelas.

Namun ia tidak berhenti bekerja.

Tidak boleh.

Karena hidupnya tidak bisa berhenti hanya karena seseorang.

“Fokus,” gumamnya pelan.

Namun tepat saat itu—

suara mobil berhenti di depan bengkel.

Ryan tidak langsung menoleh.

Ia tidak ingin berharap.

Namun suara langkah yang turun dari mobil itu… terasa berbeda.

Bukan Arini.

Langkahnya lebih tegas.

Lebih berat.

Ryan akhirnya menoleh.

Seorang pria paruh baya berdiri di depan bengkelnya.

Berpakaian rapi.

Wibawa.

Dan jelas… bukan orang sembarangan.

Tatapannya langsung tertuju pada Ryan.

Tanpa basa-basi.

“Kamu Ryan?”

Ryan mengangguk pelan.

“Iya.”

Pria itu melangkah masuk.

Melihat sekeliling dengan ekspresi datar.

Namun dari sorot matanya… jelas ia sedang menilai.

“Tempatmu… sederhana,” katanya.

Ryan tidak menanggapi.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pria itu berhenti tepat di depannya.

“Namaku Prasetyo.”

Ryan tidak menjawab.

Namun ia tahu—

ini bukan kunjungan biasa.

“Aku ayahnya Arini.”

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah.

Hening.

Berat.

Ryan berdiri lebih tegak.

Namun tetap tenang.

“Lalu?” tanyanya singkat.

Prasetyo menatapnya lebih dalam.

Seolah mencoba membaca siapa pria di hadapannya.

“Kamu tahu siapa anakku, kan?”

Ryan mengangguk.

“Iya.”

“Dan kamu juga tahu… kamu tidak seharusnya dekat dengannya.”

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Tanpa penjelasan panjang.

Ryan tidak terkejut.

Ia sudah menduga ini akan terjadi.

“Dia hanya datang ke sini,” jawab Ryan.

Prasetyo tersenyum tipis.

“Dan kamu pikir itu cukup untuk membuat semuanya terlihat biasa?”

Ryan tidak menjawab.

Prasetyo melanjutkan,

“Dunia kamu… dan dunia kami… tidak sama.”

Kalimat itu kembali.

Lebih dingin.

Lebih tegas.

Ryan menghela napas pelan.

“Kemarin sudah ada yang bilang itu.”

“Bagus,” jawab Prasetyo. “Berarti kamu sudah mengerti.”

Ryan menatapnya.

“Kamu datang ke sini hanya untuk itu?”

Prasetyo tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah amplop.

Lalu meletakkannya di meja kerja Ryan.

“Ini untukmu.”

Ryan tidak menyentuhnya.

“Apa itu?”

“Anggap saja… bentuk terima kasih.”

Ryan mengerti.

Dan itu justru membuatnya tersenyum tipis.

“Terima kasih untuk apa?”

Prasetyo menatapnya tajam.

“Untuk menjauh dari anakku.”

Suasana kembali hening.

Namun kali ini…

lebih menekan.

Ryan melihat amplop itu.

Lalu menatap kembali ke Prasetyo.

“Aku tidak pernah meminta apa-apa dari dia.”

“Dan aku tidak mau kamu mulai sekarang,” balas Prasetyo cepat.

Ryan mengangguk pelan.

Lalu mendorong amplop itu kembali.

“Aku tidak butuh ini.”

Prasetyo sedikit terkejut.

Namun ekspresinya tetap tenang.

“Jangan keras kepala.”

Ryan menatapnya lurus.

“Aku cuma tidak mau dibeli.”

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Untuk pertama kalinya—

Prasetyo terlihat sedikit tidak senang.

“Kamu pikir ini soal membeli?”

Ryan tidak menjawab.

Namun tatapannya cukup menjelaskan.

Prasetyo menghela napas.

Lalu berkata dengan nada lebih dingin,

“Baik. Kalau begitu aku bicara lebih jelas.”

Ia sedikit mendekat.

“Mulai hari ini… kamu tidak akan melihat Arini lagi.”

Ryan terdiam.

Namun tidak kaget.

“Aku akan memastikan itu.”

Kalimat itu terdengar seperti keputusan mutlak.

Bukan ancaman.

Tapi kepastian.

Prasetyo berbalik.

Namun sebelum pergi, ia berkata,

“Kadang… tahu tempat itu lebih baik daripada memaksakan diri.”

Lalu ia berjalan keluar.

Mobilnya pergi.

Meninggalkan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ryan berdiri diam.

Beberapa detik.

Beberapa menit.

Tidak bergerak.

Lalu perlahan…

ia menarik napas panjang.

Matanya kembali ke meja.

Ke amplop yang tadi ia tolak.

Ke bengkel kecilnya.

Dan ke kenyataan yang tidak bisa ia hindari.

“Memang… beda dunia,” gumamnya pelan.

Namun kali ini—

bukan sebagai bantahan.

Melainkan sebagai kenyataan yang mulai ia terima.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!