NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Kunjungan Pertama ke Klinik

Keesokan harinya, Clarissa benar-benar datang ke klinik. Tapi bukan mencari Alvian, tapi mencari Mbak Sari.

Alvian duduk di meja resepsionis merangkap dokter merangkap CS. Batik coklat, lengan digulung, pakai celemek karena baru saja buat makan siang. Di meja ada toples jajanan, buku ekspedisi, juga kantong plastik isi apel dan jeruk.

Cklek. Pintu terbuka.

Clarissa Amartya masuk menggunakan blazer krem, celana hitam, heels 3 cm, tas kerja. Penampilannya bukan seperti orang mau besuk, tapi petugas pusat yang dayang mau audit laporan.

"Sudah datang," sapa Alvian, menyambut dengan senyuman lebar.

Namun Clarissa hanya mengedarkan mata ke sekitar, mencari keberadaan Mbak Sari yang tak tampak ujung kakinya.

"Mbak Sari di mana? Katanya sudah kerja."

Sambil bicara Clarissa menaruh buah bawaannya di meja resepsionis.

"..."

Alvian belum bicara sampai tirai yang misahkan ruang pemeriksaan terbuka dan Mbak Sari muncul dari dalam.

"Dok Clara sudah datang. Duduk dulu, Dok. Mau minum teh atau kopi? Air putih? Coklat panas? Sate, nggak ada."

"Jangan repot-repot. Saya sudah bawa minum sendiri," ucap Clarissa sambil menaruh botol mineral di meja.

"Duduk, Mbak. Ada yang mau saya tanyakan."

Mbak Sari bingung suasana menjadi agak serius. Dia sempat melirik ke Alvian sebelum mengikuti ucapan Clarissa duduk di kursi plastik.

Sementara Alvian bergeser ke samping dispenser. Mengambil segelas air, meminumnya sambil menyimak pembicaraan dua wanita itu.

"Mbak Sari kemarin katanya sakit. Diare, pusing, tubuh lemas?"

"Benar, Dok. Tapi Dok Alvian sudah periksa saya, dan setelah minum resep obat yang dibuatnya, saya sudah baikan," jawab Mbak Sari.

Clarissa mengabaikan jawaban itu dan kembali bertanya, "Ngomong-ngomong, jika boleh tahu, apa Mbak Sari sebelum tanda-tanda keluhan itu muncul pernah minum obat yang tidak jelas? Seperti tidak ada merk-nya? Tidak ada kode? Tidak ada keterangan?"

Mbak Sari menyipitkan mata sejenak sebelum mulai bicara dengan ragu, "I-iya Dok. Saya minum obat seperti itu. Saya dapat obatnya dari RS Harapan. Saya sudah cerita tentang hal ini ke Dok Alvian."

Mendengar kalimat terakhir membuat Clarissa sontak menatap Alvian dengan tajam. Seperti berkata, "Kamu sudah tahu, kenapa tidak bilang?"

Alvian ditatap seperti itu langsung panik.

"Ah! Mbak Sari, kamu kemarin sudah cerita ya. Kenapa saya tidak ingat ...." Alvian pura-pura bodoh. Dia meletakkan gelas air di tangannya, lalu berjalan ke samping Mbak Sari.

"Mbak, kebetulan kasus seperti ini juga ada di RS Sentral Nusantara. Istri saya sedang mendalami dan mengumpulkan bukti tentang obat ini. Mbak Sari membawa obatnya, kan?"

Mbak Sari bingung.

"Lho, Dok. Bukannya kemarin obatnya sudah saya kasihkan? Saya sudah tidak memilikinya."

Keringat dingin langsung membasahi punggung Alvian. Seperti maling yang tertangkap basah, dia berusaha menghindari tatapan Clarissa.

"Sini, kasihkan obatnya."

Tanpa dialog panjang, hanya menyodorkan tangan, suaranya terdengar menusuk sampai ke tulang.

Alvian langsung tepuk jidat, dan berlari ke lemari di belakang, mengambil sampel obat yang dimaksud.

"Ah-ha-ha-ha-ha ... Saya lupa. Ternyata obatnya ada di sini."

"..."

Clarissa diam, memasang wajah datar. Dia menerima obatnya yang masih dalam strip.

"Ini bukti penting. Bagaimana bisa kamu sangat teledor?!" omel Clarissa.

Alvian memalingkan wajahnya seperti anak kecil, sementara Clarissa sibuk mengamati strip obat itu.

"Tidak ada nomor bets, tidak ada expired. Juga tidak ada merk."

"Iya. Sangat mencurigakan," celetuk Alvian di pojokan.

Dia mau membuka mulutnya lagi tetapi Clarissa langsung menyuruhnya diam.

"Kamu diam. Jangan bicara."

"..."

Alvian mengatupkan bibirnya rapat. Menunduk, sementara Mbak Sari yang melihat pemandangan ini tak bisa menahan untuk tertawa.

"Tidak disangka, istri dokter benar-benar sangat mendominasi. Dokter seperti anak kecil di hadapannya, tidak berani melakukan apapun."

Kembali ke Clarissa. Dia masih mengamati strip obat itu sebelum memasukkannya ke dalam kantong plastik steril.

"Aku bawa ya. Sekalian mau mengeceknya ke BPOM."

"Boleh. Lagipula tidak akan ada yang meminumnya," kata Mbak Sari.

Clarissa masukkan plastik itu ke tas. Menarik resleting, lalu mengeluarkan HP dan buka kamera.

"Boleh mengambil foto?"

"Foto? Aku?" Alvian langsung mengangkat jempol untuk berpose.

"Siapa yang mau foto kamu. Foto klinik, buat dokumentasi."

"Oh. Tapi yang punya klinik ikut juga tidak apa, kan? Jarang-jarang bisa difoto istri."

Mbak Sari cekikikan, sementara Clarissa segera mengambil foto meski sosok Alvian membuat hasilnya agak buram.

"Oh ya. Mbak Sari, boleh lihat resep obatnya?"

"Itu cuma Ciprofloxacin. Dosis ringan. Kenapa?"

Alvian yang menjawabnya. Clarissa geleng kepala acuh tak acuh dan bangkit dari kursi. "Tidak ada. Cuma tanya," ucapnya.

Setelah itu Clarissa keluar dari klinik, tapi tak langsung pergi. Dia duduk di mobil cukup lama, mencatat sesuatu.

Baru setelah Alvian datang menghampirinya, kaca turun sedikit, bilang, "Aku balik ke rumah sakit." Langsung pergi.

Alvian berdiri di depan klinik memandang bagian belakang mobil yang terus menjauh. Mbak Sari mendekat, "Galak ya, Dok?"

"Galak, tapi cantik." Alvian tertawa.

___

RS Sentral Nusantara. Jam 16.30 WIB.

Di ruang SpJP, Clarissa duduk di mejanya. Strip biru-putih di atas kertas HVS, dia mengambil foto lagi, lebih jelas sebelum mengirimnya ke nomor Prof. Dimas - BPOM.

"Prof, mohon cek. Ada pasien saya yang dapat ini dari UGD RS Harapan Kita. Polos. Diklaim probiotik oleh dokter sana. Saya khawatir ini beredar di faskes lain. Terima kasih."

Balasannya cukup cepat. "Oke. Terima kasih laporannya. Kebetulan RS Harapan Kita memang masuk radar kami 2 bulan terakhir. Saya akan cek database. Kabari saya kalau ada kasus lain."

Clarissa keluar dari halaman obrolan. Dia buka galeri, menatap foto klinik, lebih tepatnya Alvian yang nyempil di dalamnya.

"Dasar usil!"

__

Rumah. Jam 21.00 WIB.

Makan malam. Tumis kangkung + ayam goreng. Kali ini Alvian yang masak karena klinik tutup lebih awal.

"Bagaimana? Enak?"

Clarissa diam sejenak sebelum mengambil segelas air. "Lumayan. Bisa dimakan."

Harus diakui jika kemampuan masakan Alvian di atas rata-rata, bahkan bisa disandingkan dengan koki bintang 3-4. Masakan rumahan yang dibuatnya tudak pernah mengecewakan. Itulah yang membuat Clarissa perlahan menerima makanannya.

"Hehe... Bisa dimakan ya, tidak buruk," ucap Alvian sebelum ikut mengambil nasi dan makan.

Untuk beberapa menit ruangan menjadi hening dan hanya terdengar suara sendok. Clarissa sudah menghabiskan suapan terakhir, dia mendorong piring menjauh dan berkata, "Tadi sudah lapor ke BPOM. Kata Prof. Dimas, kapsul itu tidak terdaftar dan 90% palsu."

Alvian berhenti mengunyah. Senyum di wajahnya agak dipaksakan. "Wah, bahaya dong. Untung Mbak Sari sudah stop obatnya."

"Ya, dan untuk menindaklanjuti kasus ini, RS Harapan Hati dalam waktu dekat akan disidak." Clarissa menatap Alvian. "Kamu kok tidak terkejut?"

"Sudah kuduga dari awal. Makanya kusuruh Mbak Sari jangan minum obatnya." Nyengir, tampak bangga. Membuat Clarissa langsung memutar mata.

Habis makan, Alvian cuci piring, Clarissa pergi ke ruang tamu, menyalakan TV. Tepat saat itu laporan berita ekslusif, pembawa acara wanita, mengenal jas hitam melaporkan dengan cermat. Tagline-nya, "BPOM Temukan Peredaran Obat Palsu Berkedok Suplemen di Faskes Jakarta. Motif: Kartel Farma."

Clarissa besarkan volume sedikit. Di layar, perwakilan BPOM bicara, "Kami duga ini jaringan lama. Pernah hilang 3 tahun lalu setelah kasus H.D. Sekarang muncul lagi."

Kata "H.D." buat ruang tamu dingin 2 derajat.

Alvian keluar dapur, lap tangannya dan duduk di sofa samping. "H.D. lagi, H.D. lagi. Terkenal banget sepertinya. Padahal kan cuma hoax."

Clarissa matikan TV. "Hoax? Kamu tidak percaya H.D.?"

"Ya... 50:50 lah. Soalnya tidak ada bukti. Nama tidak ada, muka juga tidak ada. Kayak tuyul," ucapnya, sambil ketawa.

Clarissa diam menatap Alvian cukup lama, kemudian berdiri meninggalkan kursi. "Aku mau tidur."

Alvian lihat pintu tertutup senyumnya langsung hilang. Dia mengambil HP, membuka email. Ada balasan dari alamat angka acak. Isinya, "Biru-Putih. Konfirm. Mereka mulai lagi. Hati-hati. H.D."

Alvian hapus email. Menghapusnya dari sampah.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!