NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: RAHASIA DI BALIK GARIS DARAH VALENTI

​Penerbangan kembali ke Jakarta seharusnya menjadi perjalanan yang tenang bagi sepasang pengantin baru. Namun, di dalam kabin jet pribadi yang sunyi, Adrian Diningrat tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya tertahan pada satu detail kecil yang ia lewatkan saat berada di Castello Valenti. Ia mengeluarkan sebuah foto lama yang terselip di dalam dokumen riset medis pemberian Lorenzo—sebuah foto yang tidak sengaja ia temukan di sela-sela berkas teknologi laboratorium.

​Foto itu menampilkan seorang wanita muda yang sangat mirip dengan ibu Cansu, berdiri di samping Lorenzo muda di depan sebuah villa di Danau Como. Di belakang foto itu tertulis sebuah catatan kecil dalam bahasa Italia: “Per la mia cara sorella, Alessandra. Il sangue non mente.” (Untuk saudaraku tersayang, Alessandra. Darah tidak pernah berbohong.)

​Rahang Ian mengeras. Detak jantungnya seolah berpacu dengan mesin jet.

​"Ian? Kamu belum tidur?" Rhea muncul dari kabin belakang, mengenakan piyama sutra dan membawa dua cangkir teh kamomil. Ia melihat ekspresi suaminya yang tegang.

​"Rhea, lihat ini," Ian menyodorkan foto itu.

​Rhea mengamati foto tersebut dengan saksama. Sebagai dokter, ia memiliki mata yang jeli terhadap detail anatomi wajah. "Wanita ini... dia sangat mirip dengan Cansu. Struktur tulangnya, bentuk matanya... Ian, apakah ini ibu Cansu?"

​Ian mengangguk pelan. "Namanya Alessandra Valenti. Ternyata Lorenzo bukan sekadar rekan bisnis atau mentor politik kakekku di masa lalu. Lorenzo adalah adik kandung Alessandra. Dia adalah paman kandung Cansu."

​Rhea terduduk lemas di kursi samping Ian. "Jadi... pertemuan di Milan kemarin bukan cuma soal hadiah pernikahan atau bisnis medis?"

​"Tidak," Ian menghela napas panjang. "Lorenzo memanggilku ke Milan untuk memberi kode. Dia ingin aku tahu bahwa Cansu berada di bawah perlindungannya. Dia ingin menunjukkan bahwa meskipun kekuasaan keluarga Kusuma di Jakarta sudah runtuh, Cansu masih memiliki 'darah Valenti' yang melindunginya dengan cara yang jauh lebih mematikan daripada politik."

​Misteri Sang Mawar di Balik Kabut

​Ian menyadari sekarang mengapa Lorenzo memberikan hadiah berupa pusat riset medis atas nama Rhea. Itu adalah pesan diplomatik yang sangat halus namun kuat: Aku memberikanmu masa depan untuk istrimu, sebagai imbalan karena kamu telah melepaskan keponakanku.

​Namun, keberadaan Cansu tetap menjadi misteri yang pekat. Meskipun Ian melihatnya sekilas di dalam mobil hitam di area Brera, ia sadar itu bisa saja sebuah ilusi yang diatur Lorenzo. Di mana Cansu tinggal? Seperti apa hidupnya sekarang? Apakah dia bahagia atau sedang menjalani hukuman isolasi mandiri atas dosa-dosa ayahnya?

​"Dia seperti hantu, Ian," bisik Rhea. "Paman yang begitu berkuasa, namun keponakannya seolah disembunyikan dari dunia. Apakah dia sengaja diprivasi agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya, atau agar dia tidak bisa kembali lagi ke hidupmu?"

​Ian menatap ke luar jendela pesawat yang gelap. "Mungkin keduanya. Lorenzo tahu persis sejarah kami. Dia tahu bahwa selama Cansu ada di dekatku, drama ini tidak akan pernah berakhir. Dengan menyembunyikannya, Lorenzo memberikan kami berdua kesempatan untuk hidup—meskipun dalam dunia yang berbeda."

​Jakarta: Sambutan "Panas" di Bandara

​Begitu jet mendarat di Jakarta, suasana melankolis tentang Cansu langsung pecah berkeping-keping oleh kenyataan konyol yang menunggu di ruang VIP bandara.

​Yusuf berdiri di sana dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam waktu satu minggu. Di sampingnya, Mbok Yem dan Pak Totok duduk dengan koper-koper besar yang sudah ditempeli stiker "DITAHAN IMIGRASI".

​"TUAN MUDA! NONA RHEA!" Mbok Yem langsung berlari memeluk mereka berdua, mengabaikan protokol keamanan bandara. "Duh Gusti, Mbok kangen! Maaf ya Mbok nggak jadi ke Italia, itu petugasnya galak banget! Jamu beras kencur Mbok dibilang cairan mencurigakan!"

​Pak Totok ikut mendekat sambil menenteng satu karung kecil yang tersisa. "Tuan Muda, pupuk organik saya disita setengah. Katanya baunya menyengat sampai bikin anjing pelacaknya pingsan. Padahal itu murni kotoran kambing pilihan dari lereng gunung!"

​Ian hanya bisa memijat keningnya, sementara Rhea tertawa terpingkal-pingkal sampai air mata keluar.

​"Yusuf, laporkan padaku di mobil. Berapa total biaya denda yang harus aku bayar untuk menebus kotoran kambing Pak Totok?" tanya Ian datar.

​"Totalnya cukup untuk membeli satu sepeda motor baru, Tuan Muda," jawab Yusuf dengan nada tanpa emosi yang khas.

​Pertemuan di Mansion: Strategi dan Sup Ceker

​Malam harinya di mansion, suasana kembali hangat. Mbok Yem memasak sup ceker kesukaan Ian untuk merayakan kepulangan mereka. Namun, di meja makan, Ian tidak bisa sepenuhnya santai. Ia memanggil Yusuf ke ruang kerja tak lama setelah makan malam selesai.

​"Yusuf, apa kamu tahu tentang hubungan Lorenzo Valenti dengan ibu Cansu sebelumnya?"

​Yusuf terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah map biru dari laci meja Ian. "Sebenarnya, saya baru saja mendapatkan konfirmasinya dari jaringan intelijen di Italia saat Anda dalam perjalanan pulang, Tuan Muda. Alessandra Valenti melarikan diri dari keluarganya di Italia karena jatuh cinta pada Pradikta Kusuma saat pria itu sedang dinas di Eropa."

​"Lorenzo tidak pernah memaafkan Pradikta karena telah 'mencuri' kakaknya, tapi dia sangat menyayangi Cansu. Selama ini, Lorenzo membiarkan Cansu berada di Jakarta karena Cansu adalah kartu as untuk menjaga hubungan bisnis dengan keluarga kita. Namun, setelah Pradikta jatuh, Lorenzo langsung mengambil kembali keponakannya."

​Ian menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Jadi, Cansu sekarang adalah 'Putri Valenti'. Dia tidak akan pernah kembali ke Jakarta."

​"Benar, Tuan Muda. Dan menurut informasi terakhir, Cansu sedang menjalani rehabilitasi psikologis di sebuah villa rahasia di pegunungan Swiss, bukan di Milan. Yang Anda lihat di Milan kemungkinan besar adalah umpan atau sekadar cara Lorenzo untuk mengetes reaksi Anda."

​Misteri tentang Cansu semakin dalam. Dia ada, namun tak tersentuh. Dia hidup, namun identitasnya telah dihapus dari peta dunia politik.

​Komedi Tengah Malam: Pak Totok dan Teknologi Italia

​Di luar ruang kerja, suara gaduh kembali terdengar. Rhea keluar dari kamar dan menemukan Pak Totok sedang mencoba memasang sebuah alat aneh di taman dalam rumah.

​"Pak Totok, itu apa?" tanya Rhea heran.

​"Ini Nona, hadiah dari Tuan Lorenzo yang dikirim lewat kargo terpisah. Katanya ini 'Sistem Irigasi Pintar'. Tapi kok bentuknya kayak meriam kecil ya?" Pak Totok kebingungan memutar-mutar pipa besi tersebut.

​Tiba-tiba, alat itu mengeluarkan semprotan air bertekanan tinggi yang langsung mengenai wajah Yusuf yang baru saja keluar dari ruang kerja Ian.

​Pruuuussssh!

​Yusuf berdiri kaku, air menetes dari ujung hidung dan jas mahalnya. "Pak Totok... itu sensor gerak. Dan Anda baru saja menyalakannya dalam mode 'Pertahanan Pangkalan'."

​"Aduh! Mas Yusuf basah kuyup! Maaf, Mas! Saya kira ini buat nyiram anggrek!" Pak Totok panik mencoba menutup lubang air dengan jempolnya, yang malah membuat air muncrat ke segala arah, termasuk ke arah Mbok Yem yang baru mau mengantarkan teh.

​"TOTOK! KAMU MAU JADIIN RUMAH INI KOLAM LELE?!" teriak Mbok Yem.

​Rhea dan Ian yang menyaksikan kejadian itu dari balkon atas hanya bisa saling pandang.

​"Dunia luar mungkin penuh misteri soal Lorenzo dan Cansu," bisik Ian sambil merangkul pundak Rhea. "Tapi di dalam sini, sepertinya kita akan selalu punya drama yang lebih nyata."

​Rhea tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Ian. "Biarlah Cansu dengan misterinya di Eropa, Ian. Biarlah Lorenzo dengan rahasia Valenti-nya. Di sini, kita punya keluarga yang berisik, basah kuyup, dan penuh kasih sayang. Itu sudah lebih dari cukup."

​Malam itu ditutup dengan tawa yang menggema di seluruh mansion. Meskipun bayang-bayang paman Cansu memberikan kode peringatan tentang kekuatan besar di Italia, sang Macan Diningrat tahu bahwa benteng terkuatnya bukan lagi senjata atau intelijen, melainkan kehangatan sebuah rumah yang akhirnya terasa seperti surga yang nyata.

​Namun, jauh di lubuk hatinya, Ian tahu... suatu saat nanti, benang merah antara Diningrat dan Valenti akan kembali bersinggungan. Tapi untuk sekarang, biarlah mawar misterius itu tetap tersembunyi di balik kabut Eropa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!