Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6.
Vera tersenyum melihat kartu kompensasi, yang diberikan Nick padanya.
Hanya tidur satu malam, Esther sudah mendapatkan lebih dari seratus juta lebih, membuat ia merasa sangat cemburu pada Esther.
Ia sudah satu tahun tinggal di ibukota sebagai pekerja magang, tidak pernah mendapat menghasilkan uang seperti yang di dapat Esther.
"Aku harus merebut cincin itu darinya, lalu menghasut kepala desa untuk mengusirnya dari desa!" gumam Vera tersenyum licik.
Memikirkan akan rencananya, Vera menjadi bersemangat ingin segera pulang ke desa.
Sementara itu, Esther yang kembali ke desa, bertemu dengan Bibinya, kakak Ibunya.
"Bibi?" Esther terheran melihat Bibinya mencegatnya di jalan menuju rumahnya.
"Dari mana saja kamu? dari kemarin aku mencarimu!!" nada Bibinya terdengar begitu ketus.
"Untuk apa Bibi mencari ku?!" tanya Esther mengerutkan keningnya.
"Untuk apa katamu? kalau bukan karena pesan Sylvia, aku tidak akan mencarimu! Ayo!!"
Carmen, kakak Ibu Esther, menarik tangannya dengan kasar, dan membawanya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tidak mau! lepaskan!!" Esther berontak di tarik paksa Carmen.
Esther tahu Bibinya bukanlah kakak yang baik terhadap Ibunya.
Bibinya mengambil hampir semua warisan kakeknya, dan hanya meninggalkan rumah sederhana peninggalan Kakeknya untuk Ibunya.
Bibinya menjual warisan peninggalan Kakeknya, lalu pindah ke pinggiran ibukota bersama suami dan putranya.
Uang penjualan warisan, digunakan Carmen untuk membuka sebuah usaha restoran, dan hampir sepuluh tahun ia tidak pernah berkunjung lagi, hanya sekedar melihat keadaan Ibu Esther ke desa kelahirannya.
"Tidak! aku tidak mau! aku mau tinggal di desa saja!!"
Esther berontak dari pegangan tangan Carmen, dan mendorong Carmen dengan kuat, hingga Carmen terjatuh ke tanah.
"Dasar keponakan tidak punya sopan santun! aku sudah menjual rumah itu! kamu tidak memiliki tempat tinggal lagi!!!"
"Apa?! kenapa Bibi menjualnya! itu satu-satunya harta peninggalan orang tuaku!!!" jerit Esther.
Carmen tersenyum ketus, "Kenapa memangnya? itu tadinya rumah peninggalan Ayahku, jadi aku berhak mengambilnya, karena kamu tidak punya hak untuk tinggal dirumah itu!!"
"Bukankah Bibi sudah mendapatkan hak Bibi, kenapa mengambil yang menjadi milik Ibuku?!!"
"Kamu itu hanya anak perempuan, bukan anak lelaki! jadi kamu tidak perlu mendapatkan harta warisan!!" jawab Carmen tersenyum ketus.
"Bibi keterlaluan! sungguh kejam! aku akan menuntut!!!"
Plak!!
Carmen menampar Esther dengan geram, "Diam! cepat ikut! jangan banyak bicara lagi! Edwin! bantu aku!!!"
Ia harus segera membawa Esther ke kediaman mereka, untuk ia pekerjakan sebagai pelayan tanpa perlu digaji.
Usaha restoran mereka sedang sepi, dan ia mulai tidak dapat untuk membayar hutang mereka.
Dengan mempekerjakan Esther di restorannya, ia tidak perlu mengeluarkan uang menggajinya, karena Esther keponakannya.
Edwin, suami Carmen keluar dari dalam mobil, dan bergegas membantu Carmen menarik Esther masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak mau! lepaskan aku!!!" teriak Esther sembari berontak melepaskan diri.
Ia akhirnya kalah, karena tenaganya tidak dapat mengalahkan tenaga Bibi dan Pamannya itu.
Setelah ia berada di dalam mobil, ke dua tangannya diikat Carmen.
"Kamu itu seharusnya bersyukur, aku mau menampungmu di rumahku!!"
"Aku tidak mau tinggal dengan Bibi! kembalikan rumah Ibuku!!!"
Plak!!
"Masih saja melawan!!"
Carmen merogoh saku celana dan baju Esther, dan ia pun menemukan uang Esther yang tidak seberapa.
"Sekarang kamu sudah tidak memiliki uang lagi! kamu tidak bisa pergi kemana pun! lebih baik kamu itu patuh saja, kalau kamu ingin hidup yang nyaman!!"
Sesampainya Esther di kediaman Carmen, ia di masukkan ke dalam sebuah kamar kumuh dan kecil.
"Mulai sekarang ini kamarmu! besok pagi kamu harus sudah bangun pagi-pagi sekali, untuk bekerja di restoran! jangan pernah membantah perintah ku!!!" kata Carmen dengan ketus mengingatkan Esther.
Brak!!
Carmen melemparkan tas pakaian Esther ke dalam kamar, lalu kemudian menutup pintu, dan menguncinya dari luar.
Carmen dan suaminya tersenyum puas dengan apa yang mereka lakukan pada Esther.
Akhirnya mereka memiliki seorang pelayan, tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk menggajinya.
Di dalam kamar Esther yang terduduk di lantai, hanya bisa diam menatap pintu kamar yang tertutup.
Pertama sahabatnya, yang sangat ia percaya memiliki niat tulus padanya, untuk menawarkan pekerjaan padanya, ternyata hanya modus saja.
Sekarang, Bibi yang ia pikir menjadi satu-satunya keluarganya, yang akan menjaganya dengan baik, ternyata menginginkan tenaganya untuk mencari nafkah keluarga Bibinya itu.
Apa salahku, kenapa hidupku jadi seperti ini, setelah Mama meninggal! bisik hati Esther dengan perasaan sedih.
Ia menatap pergelangan tangannya, bekas diikat Bibinya tadi terlihat memerah, dan terasa begitu sakit.
Perlahan Esther mengelus pergelangan tangannya, untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasa.
Dua jam berlalu.
Perutnya mulai terasa lapar, apakah aku dikurung di dalam kamar ini tanpa diberi makan? bisik hati Esther.
Ia semakin merasa, hidupnya benar-benar sangat malang sekali.
Klek!!
Terdengar kunci pintu dibuka dari luar, setelah ia merasakan perutnya semakin sakit, karena sangat begitu kelaparan.
Tampak wajah ketus Bibinya di ambang pintu kamar, setelah pintu terbuka.
Brak!
Carmen meletakkan wadah makanan dengan kasar, ke atas meja kecil dalam kamar tersebut.
"Ini makanan mu! kalau kamu bersikap baik, aku tidak akan mengunci pintu kamar lagi, agar kamu bisa keluar kamar dengan leluasa! tapi, kalau kamu mencoba melarikan diri! aku akan mengikatmu di dalam kamar ini!!!" katanya memberi peringatan, dan ancaman pada Esther dengan nada yang tajam.
Setelah selesai bicara, Carmen keluar dan menutup pintu kamar dengan kencang.
Brak!!!
Esther sampai terperanjat kaget mendengar suara bantingan pintu kamar yang tertutup.
Perlahan ia pun melangkah mendekati meja, untuk melihat makanan apa yang diberikan Bibinya tersebut.
Nasi putih dengan telur dadar saja, tanpa sayur.
Esther yang kelaparan melahap sampai habis nasi, bersama telur dadar tersebut.
Setelah ia selesai makan, ia mencoba untuk membuka pintu, apakah pintu tidak dikunci Bibinya lagi.
Saat tangannya membuka pintu, ternyata memang tidak di kunci lagi, dan ia dapat keluar dari dalam kamar.
Begitu ia keluar, ternyata Bibinya bersama suami dan putra Bibinya, duduk di sofa ruangan tengah rumah memandang ke arahnya.
"Aku mau mencuci wadah bekas nasiku!" kata Esther begitu melihat pandangan tajam Bibinya kepadanya.
Saat ia melangkah menuju dapur, Bibinya tidak mengatakan apa pun, tapi matanya terus memandang ia melangkah.
Esther mencuci wadah yang kotor, sembari berpikir untuk dapat pergi suatu saat, melarikan diri tanpa disadari Bibinya.
"Kalau sudah, masuk kembali ke dalam kamarmu!!"
Terdengar suara Carmen di belakang Esther, dan nyaris saja membuat Esther terperanjat kaget.
Setelah mencuci tangannya, Esther tanpa menjawab Carmen melangkah menuju kamarnya.
Mata Carmen terus mengawasinya, sampai ia masuk ke dalam kamar.
Bersambung........
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭