"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Perjalanan pulang menuju rumah keluarga Zelbarra terasa sangat mencekam. Azel mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Runa yang masih dingin. Tidak ada musik, tidak ada suara, hanya deru mesin yang seolah mewakili kemarahan Azel yang belum sepenuhnya padam.
Begitu sampai di kamar, Azel langsung mengunci pintu. Ia melepaskan kancing kemejanya dengan kasar, lalu berbalik menatap Runa yang berdiri mematung di dekat ranjang.
"Zel... maaf," bisik Runa, suaranya serak.
Azel berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa intimidatif. Ia berhenti tepat di depan Runa, membuat wanita itu harus mendongak. "Kamu tahu apa yang paling membuatku marah, Runa? Bukan Arlan. Tapi fakta bahwa kamu membiarkan dirimu dihina seperti itu hanya karena kamu merasa 'minder' dengan status kita."
"Aku nggak mau kehilangan pekerjaanku sebagai guru biasa, Zel. Aku nggak mau mereka melihatku sebagai orang yang 'panjat sosial' karena menikah denganmu," Runa membela diri, air matanya kembali luruh.
Azel tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar menyakitkan. "Panjat sosial? Aku yang memohon padamu untuk menikah, aku yang menjebakmu dengan kontrak itu supaya aku punya alasan menjagamu. Siapa yang panjat sosial di sini?"
Azel tiba-tiba menarik Runa ke dalam pelukan yang sangat posesif. Ia membenamkan wajahnya di leher Runa, menghirup aroma sabun bayi yang mulai bercampur dengan aroma stres istrinya.
"Dengar, Runa. Mulai detik ini, tidak ada lagi rahasia di sekolah itu. Pak Haris sudah tahu, dan jika guru-guru lain bertanya, katakan saja yang sebenarnya. Kalau mereka menjauhimu, biarkan saja. Kamu punya aku, kamu punya Mama, kamu punya rumah ini."
"Tapi Zel—"
"Nggak ada tapi-tapian," potong Azel tegas. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir Runa yang bergetar. "Sekarang, minum obatmu. Aku tahu lambungmu pasti sedang mengamuk."
Azel mengambilkan obat lambung cair dan segelas air hangat. Ia menunggu dengan sabar sampai Runa menghabiskannya. Setelah itu, ia menuntun Runa untuk berbaring di kasur.
"Zel, kamu mau ke mana?" tanya Runa panik saat melihat Azel meraih ponselnya.
"Menghancurkan Arlan. Secara total," jawab Azel dingin. "Dia sudah menyentuh milikku di depan umum. Dia harus tahu konsekuensinya."
Azel duduk di sofa balkon, jari-jarinya menari dengan cepat di atas layar ponsel. Di grup internal direksi, ia mengirimkan satu instruksi singkat: "Tarik semua investasi dari vendor yang berafiliasi dengan Dirgantara Group. Sekarang."
Runa menatap punggung Azel dari atas ranjang. Ia menyadari bahwa di balik sikap otoriter dan pemarah itu, Azel sedang berperang melawan rasa takutnya sendiri—takut kehilangan Runa untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba, ponsel Runa bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp guru-guru sekolahnya.
Bu Ratna: Runa, tadi itu Pak Azel beneran wali kamu? Ya ampun, ganteng banget dan berwibawa sekali! Maafin kami ya tadi sempat percaya sama pria yang ngaku-ngaku itu. Tapi Run... kok Pak Azel perhatian banget ya sama kamu? Sampai digendong gitu...
Runa tersenyum kecut. Ia bingung harus menjawab apa. Namun, sebuah pesan lain muncul, kali ini dari nomor pribadi Pak Haris (Kepala Sekolah).
Pak Haris: Ibu Runa, silakan istirahat sampai kondisi membaik. Mengenai kejadian tadi, saya sudah menjelaskan pada staf bahwa Pak Azel adalah pelindung utama sekolah dan Ibu adalah bagian dari keluarganya. Tidak akan ada yang berani bergunjing.
Runa menghela napas lega. Ternyata, Azel sudah membereskan semuanya dengan caranya sendiri yang "bersih".
"Sudah baca pesannya?" suara Azel mengagetkan Runa. Pria itu sudah kembali berdiri di samping ranjang.
"Sudah. Makasih ya, Zel. Dan... maaf aku udah bikin kamu cemas."
Azel tidak menjawab. Ia justru ikut naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping Runa dan menarik kepala istrinya itu untuk bersandar di dadanya.
"Mulai besok, kamu berangkat sekolah dengan supir pribadi dan pengawal rahasia. Jangan protes," gumam Azel sambil memejamkan mata. "Dan kalau Arlan muncul lagi... langsung telepon aku. Jangan pernah berurusan dengan lintah itu sendirian lagi."
"Iya, Azel sayang," goda Runa pelan, mencoba mencairkan suasana.
Azel terdiam sejenak. Kata "sayang" itu membuat jantungnya berdegup kencang, tapi ia tetap menjaga wajah datarnya. "Jangan panggil begitu kalau kamu nggak mau aku perpanjang cuti sekolahmu selamanya."
Runa tertawa kecil, memeluk pinggang Azel erat. Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini Runa tidak takut. Karena ia tahu, pelukan pria tsundere di sampingnya ini jauh lebih kuat daripada dentuman petir manapun.
Azel meraih ponselnya satu kali lagi, membuka aplikasi catatan kesayangannya:
'Catatan: Dia memanggilku "sayang". Maag-nya sepertinya sudah baikan. Arlan resmi bangkrut per jam 9 pagi besok. Dan Runa... dia harus tahu kalau dia adalah satu-satunya alasan aku masih ingin pulang ke rumah ini.'
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣