Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Beberapa bulan berlalu, suasana di kediaman keluarga Xin terasa begitu damai dan hangat. Setelah memastikan Xin Yi benar-benar sembuh total dan ceria kembali, Kakek serta Nenek Xin pun kembali ke vila mereka di pegunungan dengan hati yang tenang.
Kini, rutinitas Xin Yi berubah. Ia tidak lagi hanya bersantai di rumah, melainkan sering pergi ke kantor pusat perusahaan untuk membantu Ayah dan Kakaknya mempelajari seluk-beluk bisnis.
Gadis itu tumbuh semakin dewasa, cantik, dan cerdas.
Seperti malam ini, keempat anggota keluarga itu sedang menikmati makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Suasana meja makan penuh dengan tawa dan kehangatan.
Waktu berjalan begitu cepat; baru kemarin ia terbaring lemah, kini Xin Yi sudah genap menginjak usia sembilan belas tahun yang jatuh pada hari 25 Desember yang lalu.
Perayaan ulang tahunnya sederhana namun sangat bermakna. Ia mendapatkan banyak sekali hadiah mewah dari keluarga.
Teman-teman kakaknya seperti Zhao Yun dan Rong Yuan juga mengirimkan pesan ucapan selamat yang hangat meski tak bisa hadir karena kesibukan masing-masing.
Begitu pula dengan Quan Yubin. Pria itu saat ini sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis penting. Ia sempat mengirim pesan panjang berisi ucapan selamat dan mengatakan bahwa ia akan segera kembali.
Namun Xin Yi hanya membalas singkat: "Terima kasih."
Sejak saat itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Hubungan mereka kembali membeku, seperti dua orang asing yang saling menjaga jarak.
"Nah, ini sup nya. Mau tambah lagi?" tanya Xin Yuning sambil mengambilkan sup ke mangkuk adiknya dengan penuh perhatian.
Xin Yi menggeleng pelan sambil tersenyum. "Sudah cukup. Aku mau hemat tempat di perut... soalnya nanti mau makan kue stroberi buatan Bibi Ming saat sampai rumah nanti."
Mendengar itu, Huo Feilin hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tak berdaya. "Dasar anak stroberi. Makan apa saja selalu ada stroberi. Nanti kalau kulitmu jadi merah semua gara-gara kebanyakan makan itu bagaimana?"
"Ibu itu tidak mungkin..." jawab Xin Yi dengan agak tak berdaya.
Namun kecintaan Xin Yi pada buah itu justru membuat Xin Fuyang bertindak di luar dugaan.
Sebagai hadiah ulang tahun, pria itu tidak main-main. Ia benar-benar membelikan sebidang tanah luas dan menanamnya dengan berbagai jenis stroberi terbaik dari seluruh dunia hanya untuk putrinya!
Saat mengetahui hal itu, Xin Yi begitu terharu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, gadis yang biasanya dingin dan cuek itu langsung memeluk erat leher ayahnya dengan penuh kasih sayang.
Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan.
Hingga membuat Xin Fuyang tak kuasa menahan air mata haru.
Air mata itu menetes membasahi pipinya, merasa bahagia karena akhirnya bisa membuat putrinya tersenyum dan merasa diterima sepenuhnya.
"Berarti pelukan Yi Yi nilainya cuma setara sama kebun buah stroberi?" celetuk Xin Yuning yang melihat pemandangan itu, mencoba mencairkan suasana haru menjadi lucu.
Xin Fuyang langsung mengusap air matanya cepat dan menatap putranya dengan tatapan jengkel namun manja.
"Urusanmu! Pokoknya Ayah senang! Selama Yi Yi bahagia dan mau memeluk Ayah, beli satu pulau pun Ayah akan lakukan!" serunya dengan puas, sama sekali tidak peduli dengan ejekan anak laki-lakinya.
Baginya, kebahagiaan putri kecilnya adalah segalanya.
Setelah selesai makan malam dan membayar tagihan, Xin Yuning dan Xin Fuyang berjalan menuju area parkir.
Mereka berdua mengambil mobil masing-masing, karena Xin Fuyang harus menyusul ibunya di perusahaan keluarga Huo sehingga harus menggunakan mobil berbeda.
Sementara itu, di lobi restoran yang megah dan mewah itu, hanya tersisa Huo Feilin dan Xin Yi.
Mereka berdiri berdampingan menunggu dengan wajah tenang dan anggun, menarik perhatian siapa saja yang lewat.
Keduanya tampil sangat serasi dengan busana formal.
Xin Yi mengenakan setelan jas berwarna merah marun yang memberikan kesan dewasa namun tetap memancarkan pesona muda, sedangkan Huo Feilin tampil memukau dengan setelan putih susu yang melambangkan keanggunan dan kekuasaan.
Rambut panjang mereka yang hitam legam diikat rapi ke belakang, menampakkan garis leher dan wajah yang sempurna.
Yang paling membuat orang terkagum-kagum adalah postur tubuh mereka.
Xin Yi yang kini beranjak dua puluh tahun ternyata memiliki tinggi yang sama persis dengan ibunya, mencapai 170 cm. Saat berdiri bersebelahan, mereka terlihat begitu seimbang dan serasi.
Jika tidak ada yang tahu, siapa pun pasti akan mengira mereka adalah ibu dan anak kandung sejati.
Kemiripan mereka semakin hari semakin terlihat jelas, seolah-olah ikatan batin yang kuat telah membuat penampilan mereka menyatu.
Wajah mereka memiliki perbedaan yang cantik namun saling melengkapi.
Huo Feilin memiliki sepasang mata berbentuk mata rubah yang tajam, memancarkan aura dingin, tegas, dan sedikit mengintimidasi—ciri khas wanita karir yang tangguh.
Berbeda dengan Xin Yi, matanya bulat besar dengan ujung mata yang sedikit terangkat ke atas. Saat ia tersenyum, matanya itu berubah menjadi sangat manis, persis seperti mata kucing yang jenaka dan menggemaskan.
Dan satu hal lagi yang menjadi ciri khas mereka...
Keduanya memiliki tahi lalat cantik tepat di bawah mata.
Huo Feilin memilikinya di bawah mata kiri, menambah kesan misterius dan seksi.
Sedangkan Xin Yi memilikinya di bawah mata kanan. Tahi lalat itu ukurannya sedikit lebih kecil dan berwarna kemerahan samar, membuat wajah gadis itu terlihat semakin lembut dan cantik alami.
Mereka benar-benar terlihat seperti dua sisi dari satu koin yang sama—cantik, kuat, dan mempesona.
Di dalam kamar yang luas dengan jendela besar yang terbuka lebar, tirai-tirai tipis berwarna putih melambai lembut ditiup angin musim semi yang sejuk.
Namun di tengah ruangan yang tenang itu, suasana terasa sangat berbeda.
Xin Yi berdiri dengan kedua telapak tangan menapak kuat di atas karpet tebal, tubuhnya lurus kaku menahan posisi plank dengan sempurna.
Tetesan keringat membasahi pelipisnya, mengalir turun membasahi pipi hingga akhirnya jatuh menimpa permadani di lantai.
Napasnya teratur namun berat, otot-otot tubuhnya menegang menahan beban, menunjukkan betapa disiplin dan kuatnya gadis itu menjaga fisiknya meski sedang di rumah.
Ia bertahan dalam posisi itu, seolah tak merasakan lelah.
Sementara itu di lantai bawah, kedatangan tamu-tamu penting mengubah suasana rumah menjadi lebih hidup.
Quan Yubin, Zhao Yun, dan Rong Yuan hadir bersama. Mereka datang untuk merayakan acara tahun baru yang sempat terlewat karena kesibukan masing-masing.
Para pelayan menyambut mereka dengan sangat sopan dan ramah, mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu utama.
Tepat saat mereka baru saja duduk, Xin Yuning keluar dari arah dapur dengan segelas besar susu hangat di tangannya—tentu saja itu untuk adiknya.
Langkahnya terhenti saat melihat ketiga sahabatnya sudah duduk rapi di sofa.
"Wah, tumben kumpul begini? Baru sadar kalian punya teman?" sapa Xin Yuning dengan nada bercanda khasnya sambil berjalan mendekat.
"Kalian tunggu di sini sebentar. Aku mau antar susu untuk si 'Ratu Istana' dulu di atas. Dia lagi sibuk."
Mendengar ucapan Xin Yuning, rasa penasaran ketiga pria itu langsung memuncak. Mereka serentak berdiri dari sofa.
"Wah, serius? Ayo kita lihat! Penasaran apa yang sedang dilakukan 'Ratu Istana'!" seru Zhao Yun tidak sabar.
Xin Yuning hanya tersenyum misterius sambil mengangguk. "Silakan... tapi jangan terkejut dan jangan berisik. Nanti kalau marah, aku tidak tanggung jawab."
"Setuju!" Mereka mengangguk kompak. Ia terkekeh pelan sebelum memimpin jalan menuju lantai atas.
Di dalam kamar yang kini difungsikan sebagai ruang latihan pribadi, suasana sangat tenang namun penuh energi.
Xin Yi sedang fokus total.
Gadis itu kini tidak lagi melakukan plank, melainkan sedang melakukan push-up dengan satu tangan!
Telinganya tertutup headset besar yang memutar musik keras, membuatnya sama sekali tidak sadar akan dunia luar. Gerakannya cepat, kuat, dan teratur. Turun... naik... lalu berganti tangan dengan mulus tanpa kehilangan keseimbangan sedikitpun.
Ruangan itu sangat luas dan tinggi, didesain khusus persis seperti studio tari atau gimnasium pribadi.
Jendela-jendelanya dibuat sangat lebar memanjang dari atas ke bawah, membiarkan cahaya matahari sore dan angin sepoi-sepoi masuk dengan bebas, menerangi setiap sudut ruangan.
Saat pintu perlahan terbuka...
"......"
Quan Yubin, Zhao Yun, dan Rong Yuan terpaku diam di ambang pintu.
Mata mereka terbelalak tak percaya.
Di sana, di tengah ruangan yang luas itu, Xin Yi tampak sangat berbeda. Ia mengenakan setelan training olahraga berwarna hitam ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh yang atletis dan kuat.
Keringat membasahi pelipis dan lehernya, menambah kesan liar dan mempesona.
Yang paling membuat mereka terdiam adalah gerakannya. Gadis itu melakukan push-up dengan kecepatan tinggi, bergantian menumpu berat tubuhnya hanya pada satu tangan kiri lalu satu tangan kanan dengan sangat lincah dan kuat.
Bagi mereka yang biasa melihat Xin Yi yang tenang, dingin, atau manja... pemandangan ini benar-benar sebuah kejutan besar!
Xin Yuning berjalan santai masuk ke dalam ruangan, seolah tidak melihat keterkejutan di wajah ketiga temannya. Ia langsung menuju meja kecil di pojok ruangan dan meletakkan gelas susu hangat itu di sana dengan hati-hati.
Saat itulah, Xin Yi yang baru saja menyelesaikan satu set gerakan, mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah kakaknya.
Matanya yang tadi fokus penuh kini berkedip beberapa kali.
Pandangannya beralih dari wajah Xin Yuning ke arah pintu... dan melihat sosok-sosok lain yang berdiri mematung di sana.
"......"
Alis halus Xin Yi langsung mengerut dalam. Tatapannya berubah menjadi bingung sekaligus tajam, seolah sedang menanyakan apa yang terjadi.
Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung menarik headset dari telinganya dan bangkit berdiri dengan gerakan lincah.
Napasnya sedikit memburu namun teratur, keringat masih membasahi dahinya membuat penampilannya terlihat segar dan penuh energi.
Ia menatap Xin Yuning dengan wajah datar.
"Kakak... apa yang kalian lakukan di sini?"
Suaranya terdengar sedikit serak karena habis berolahraga, namun nadanya jelas menyiratkan pertanyaan:
Kenapa kalian mengintip?!