Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Satu bulan telah berlalu sejak badai darah menghantam apartemen Elowen Valerio. Waktu seolah berjalan lambat di dalam Mansion keluarga Valerio yang megah, tempat di mana setiap sudutnya kini dijaga lebih ketat daripada brankas bank nasional. Aroma mawar putih yang segar selalu memenuhi kamar utama Elowen, mencoba mengaburkan sisa-sisa trauma yang mungkin masih menghantui udara.
Elowen sudah kembali ke rumah sejak dua minggu yang lalu. Namun, istilah "kembali" bagi keluarga Valerio—dan terutama bagi seorang Ezzra Velasquez—berarti isolasi total dalam kemewahan.
Elowen hampir tidak pernah diizinkan untuk memijakkan kakinya di lantai tanpa pengawasan. Ia dilarang keras bangkit dari ranjangnya kecuali untuk ke kamar mandi, itu pun sering kali berakhir dengan Ezzra yang menggendongnya seolah ia terbuat dari kaca yang paling rapuh di dunia.
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden sutra, menerangi wajah Elowen yang mulai kembali merona. Ia sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal bulu angsa, menatap bosan ke arah jendela. Di sampingnya, Ezzra sedang sibuk mengupas buah apel dengan ketelitian seorang ahli bedah.
"Ezzra, kau sudah melewatkan seluruh mata kuliah bulan ini," ucap Elowen memecah keheningan. "Kau bisa tidak lulus jika terus begini. Pergilah ke kampus, aku sudah tidak apa-apa."
Ezzra tidak mendongak. Ia mengiris apel itu menjadi potongan kecil yang sempurna. "Pelajaran tidak terlalu penting, Sayang. Aku sudah pintar sejak dalam kandungan. IPK-ku tidak akan menyelamatkan jiwaku, tapi memastikanmu memakan apel ini adalah prioritas hidupku sekarang."
Elowen mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum geli. "Kau sombong sekali. Bagaimana kalau kau didepak dari fakultas bisnis?"
Ezzra akhirnya mendongak, menyodorkan sepotong apel ke bibir Elowen dengan tatapan yang sarat akan proteksi. "Biarkan saja. Aku bisa membeli universitas itu kalau mereka berani mengeluarkan pewaris Velasquez. Lagipula, duniaku ada di sini, di kamar ini. Untuk apa aku keluar?"
Elowen menerima potongan apel itu, mengunyahnya perlahan sambil menatap pria di depannya. Ezzra benar-benar berubah. Keberingasan pria itu seolah diredam oleh rasa takut akan kehilangan. Ia tidak lagi terlihat seperti serigala liar, melainkan seperti penjaga setia yang tidak akan membiarkan angin sekalipun menyentuh kulit Elowen dengan kasar.
Bicara soal dunia luar, kabar tentang Jeff Feel-Lizzie telah menjadi legenda urban di kalangan mahasiswa. Sejak malam pembersihan oleh Isabella Velasquez sebulan yang lalu, tidak ada satu pun jejak Jeff yang tersisa. Polisi telah menutup kasus pencarian secara aktif karena tidak adanya temuan mayat, tanda-tanda transaksi perbankan, ataupun rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaannya.
Secara resmi, pihak kepolisian menyatakan bahwa Jeff kemungkinan besar telah melarikan diri ke luar negeri melalui jalur ilegal untuk menghindari jeratan hukum atas kasus kekerasan dan fitnah narkoba. Orang tua Jeff pun sudah menyerah; mereka pindah ke kota lain karena tidak tahan dengan rasa malu yang ditinggalkan putra mereka.
Namun, di balik pintu-pintu tertutup Mansion Valerio, kecurigaan tetap ada.
Logan enver-Valerio pernah mendatangi Ezzra secara pribadi. Logan, dengan segala wibawanya, menatap Ezzra dan memohon dengan suara rendah. "Ezzra, jika kau yang menahannya... serahkan dia pada polisi. Biarkan dia membusuk di penjara sesuai hukum. Jangan biarkan tanganmu lebih kotor dari ini. Aku tidak ingin menantuku menjadi seorang pembunuh."
Logan mengira Ezzra-lah yang menculik Jeff. Namun, Ezzra hanya membalas tatapan itu dengan kejujuran yang pahit. "Paman, demi nyawa Elowen, saya bersumpah saya tidak tahu di mana dia. Jika saya yang memegangnya, saya tidak akan menyembunyikannya. Saya akan menyeretnya ke depan Paman dalam keadaan hancur."
Ezzra tidak berbohong. Ia memang tidak tahu di mana Jeff berada secara spesifik. Ia hanya tahu satu hal: ibunya telah melakukan "pembersihan" yang sangat rapi. Dan seperti yang dikatakan Isabella dalam pesannya, dunia memang menjadi tempat yang lebih bersih tanpa Jeff. Tidak ada mayat, tidak ada bukti. Jeff menghilang seperti asap yang ditiup angin, meninggalkan tanda tanya besar yang tidak akan pernah terjawab.
.
.
Kembali ke ranjang Elowen, rasa bosan mulai membuat gadis itu memberontak kecil. Ia menarik selimutnya ke samping dan mencoba menurunkan kakinya ke lantai.
"Aku tidak lumpuh, Ezzra!" seru Elowen saat tangan Ezzra dengan cepat menahan bahunya. "Lihat, aku sudah sembuh. Luka memarku sudah hilang, perutku sudah tidak sakit lagi. Bahkan untuk diajak berperang pun aku sudah kuat."
Elowen menatap Ezzra dengan binar menantang yang sudah lama tidak terlihat. Ia adalah putri keluarga Valerio; ia punya darah pejuang yang mengalir di nadinya. Dikurung selama sebulan di atas ranjang adalah siksaan yang lebih berat daripada luka fisiknya.
Ezzra terkekeh, suara tawa rendah yang membuat bulu kuduk Elowen sedikit meremang. Pria itu mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Elowen dengan lengannya yang kokoh. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma rambut Elowen yang harum sebelum mendaratkan ciuman lembut namun posesif di keningnya.
"Jangan berperang sekarang, Sayang. Tenagamu harus disimpan untuk hal yang lebih penting," bisik Ezzra tepat di depan bibirnya.
"Apa yang lebih penting dari kebebasanku?" tanya Elowen dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Pernikahan kita," jawab Ezzra tegas. "Setelah kita menikah dan kau resmi menjadi Nyonya Velasquez, kau boleh berperang sesukamu. Kau boleh menghancurkan siapa pun yang berani menatapmu dengan salah. Tapi untuk sekarang... tugasmu hanya satu."
"Apa?"
"Menjadi milikku sepenuhnya tanpa ada satu pun goresan baru di kulitmu."
Elowen memutar bola matanya. "Dasar posesif! Kau pikir aku ini porselen?"
"Bukan porselen," Ezzra mencium sudut bibir Elowen dengan penuh damba. "Kau adalah duniaku. Dan aku tidak akan membiarkan duniaku hancur untuk kedua kalinya."
Elowen akhirnya menyerah, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ezzra. Meski rasa ingin tahunya tentang keberadaan Jeff masih tersisa, ia memilih untuk menguburnya dalam-dalam.
Baginya, Jeff sudah mati sejak malam itu. Sekarang, hanya ada Ezzra—pria yang rela melakukan apa saja, demi melindunginya.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara Mommy Vivian yang sedang berbicara dengan Kimberly di koridor, merencanakan pesta pernikahan yang akan menjadi acara paling megah di dekade ini. Hidup terus berjalan, dan di dalam Mansion Valerio, kebahagiaan baru mulai tumbuh di atas abu pengkhianatan yang telah lama mendingin.
"Ezzra?"
"Ya, El?"
"Jangan pernah lepaskan aku lagi."
"Tidak akan pernah, Sayang. Sampai napas terakhirku."
Satu bulan yang penuh air mata kini ditutup dengan sebuah janji yang tak terucapkan namun terukir kuat di antara kedua detak jantung yang kini selaras.
Jeff telah hilang, masa lalu telah terkubur, dan perang yang sesungguhnya mungkin baru saja akan dimulai—perang untuk mempertahankan kebahagiaan yang mereka rebut dari tangan maut.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...