Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
Kamar utama itu masih diselimuti aroma mawar dan sisa-sisa kemesraan yang intens. Arga sedang berbaring dengan kepala di pangkuan Aneska, membiarkan jemari istrinya itu mengelus rambutnya dengan malas. Sisi manja Arga sedang berada di puncaknya, ia memejamkan mata, menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan.
"Mas, kalau lo manja begini terus, gue bisa lupa kalau lo itu bos besar yang ditakutin orang," ledek Aneska sambil menarik pelan ujung rambut Arga.
Arga menangkap tangan Aneska, mencium telapak tangannya lama. "Gue cuma butuh jadi bos di kantor, Nes. Di depan lo, gue cuma laki-laki yang haus perhatian istrinya sendiri."
Baru saja Aneska hendak membalas dengan cibiran bar-barnya, ponsel kerja Arga yang diletakkan di nakas bergetar hebat. Arga menggeram kesal. Ia sempat ingin mengabaikannya, namun nama 'Reno - Head of Security' yang muncul di layar membuatnya mengernyit. Reno tidak akan menelpon di hari Minggu jika dunia tidak sedang kiamat.
"Ya, Ren. Ada apa?" suara Arga langsung berubah dingin dan profesional begitu mengangkat telepon.
Aneska memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. Dari yang tadinya lembut, kini rahang Arga mengeras, dan matanya memancarkan kilat amarah yang sangat pekat.
"Apa?! Tasya gila?!" bentak Arga. Ia langsung bangkit duduk, membuat Aneska tersentak. "Pantau terus. Jangan biarkan dia keluar rumah. Gue akan ke sana sekarang."
Arga mematikan telepon dengan kasar. Ia langsung menyambar kemejanya di lantai.
"Mas, ada apa? Tasya kenapa?" tanya Aneska panik.
"Adik gue beneran kehilangan otaknya, Nes," ucap Arga sambil mengancingkan kemeja dengan terburu-buru. "Reno lapor kalau Tasya pacaran sama pria nggak jelas. Si parasit itu minta Tasya buat ngerayu Papa Wirawan supaya dia dikasih jabatan manajer di kantor cabang gue. Dan yang lebih gila, Tasya mengancam bakal kabur dan kawin lari kalau kemauan pacarnya nggak dituruti!"
Aneska melongo. Tasya yang manis dan sedikit manja itu ternyata bisa senekat itu demi cinta. "Mokondo? Serius? Tasya kan pinter, kok bisa kena tipu cowok begitu?"
"Cinta itu buta, tapi Tasya itu bego," geram Arga. "Reno sempet ambil foto diem-diem pas mereka lagi ketemu di kafe tadi siang. Dia baru aja kirim fotonya ke WhatsApp gue."
Wajah di Balik Layar
Karena penasaran, Aneska ikut mendekat saat Arga membuka pesan dari Reno. Arga menggeser layar ponselnya, memperlihatkan sebuah foto candid dari jarak jauh. Di sana terlihat Tasya sedang bergelayut manja di lengan seorang pria berjaket kulit yang tampak sok keren.
Begitu layar ponsel itu memperlihatkan wajah sang pria dengan jelas, Aneska merasa jantungnya berhenti berdetak. Seluruh badannya mendadak dingin. Gelas air putih yang tadi ia pegang hampir saja terlepas.
"Nes? Lo kenapa? Muka lo pucat banget," Arga menyadari perubahan istrinya.
Aneska merampas ponsel Arga, menatap foto itu dengan mata yang membelalak lebar. Ia melakukan zoom pada wajah pria itu berulang kali, berharap ia salah lihat. Tapi tahi lalat di bawah mata kiri pria itu tidak bisa membohonginya.
"Edo..." bisik Aneska lirih.
Arga membeku. Ia menatap Aneska dengan tatapan menyelidik. "Edo? Siapa Edo?"
Aneska menoleh ke arah Arga dengan bibir bergetar. "Mas... ini Edo. Mantan gue waktu kuliah. Bajingan yang nyelingkuhin gue dan bikin gue trauma sama laki-laki sebelum ketemu lo."
Hening seketika.
Suhu di dalam kamar itu mendadak jatuh ke titik beku. Aura Arga berubah menjadi sangat mengerikan. Ia mengambil kembali ponselnya, menatap foto pria bernama Edo itu dengan pandangan predator yang telah menemukan mangsanya.
"Jadi... dia orangnya?" suara Arga terdengar sangat tenang, namun Aneska tahu itu adalah ketenangan sebelum badai besar menghancurkan segalanya. "Pria yang udah bikin istri gue nangis dan menderita dulu, sekarang mau ngerusak adik gue dan masuk ke keluarga gue?"
Aneska langsung memeluk lengan Arga. "Mas, jangan emosi dulu. Edo itu licik. Dia pinter banget manis-manis di depan cewek. Tasya pasti dicuci otaknya! Dia itu cuma mau harta keluarga lo, Mas! Dulu aja dia morotin gue diem-diem!"
Arga menyeringai gelap, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Aneska berdiri. "Morotin lo? Nyakitin lo? Dan sekarang dia mau minta jabatan di perusahaan gue?"
Arga meraih ponselnya lagi, menekan tombol panggil ke Reno.
"Reno, ubah rencana. Jangan cuma pantau. Jemput paksa pria itu sekarang juga. Bawa ke gudang belakang kantor pusat. Jangan ada yang tahu, termasuk Tasya," perintah Arga dengan nada yang mutlak. "Dan satu lagi... siapkan alat 'interogasi'. Gue mau kenalan sama mantan pacar istri gue."
"Mas Arga! Jangan main hakim sendiri!" seru Aneska panik.
Arga berbalik, memegang kedua pipi Aneska dan mencium keningnya dengan sangat dalam. "Nes, dengerin gue. Ini bukan cuma soal Tasya lagi. Ini soal dia yang berani muncul lagi di depan mata gue setelah apa yang dia lakuin ke lo. Gue nggak akan biarin sampah kayak dia napas dengan tenang setelah berani nyentuh wilayah gue."
"Gue ikut!" tegas Aneska. Sisi bar-barnya bangkit. "Gue mau liat mukanya pas tahu kalau cewek yang dulu dia injak-injak sekarang adalah istri dari bos yang mau dia palakin!"
Arga menatap Aneska sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Ikut gue. Kita kasih lihat ke dia, gimana rasanya berurusan sama keluarga Sebasta."
Malam itu, kemesraan yang tadi menyelimuti mereka berganti menjadi misi balas dendam yang dingin. Aneska menggenggam tangan Arga erat di dalam mobil. Ia merasa geli sekaligus geram. Edo beneran mokondo tingkat dewa,dulu mendekati Aneska karena tahu Aneska anak orang kaya, dan sekarang menyasar Tasya yang jauh lebih kaya.
"Mas... nanti jangan sampe dibunuh ya, gue nggak mau lo masuk penjara gara-gara sampah," bisik Aneska.
Arga hanya diam, namun genggamannya pada kemudi mobil memperlihatkan otot-otot lengannya yang menegang. Arga si 'Iblis Posesif' telah bangun sepenuhnya, dan kali ini, targetnya adalah seseorang dari masa lalu yang berani mengusik ketenangannya.
"Dia nggak akan mati, Nes," jawab Arga tanpa menoleh. "Tapi dia bakal berharap kalau dia nggak pernah lahir ke dunia ini."
Aneska bergidik. Ternyata, melihat Arga marah karena cemburu mabar ML tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat Arga yang sedang menjaga kehormatan istri dan adiknya. Malam ini, Edo akan tahu bahwa ia salah memilih lawan.