Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Baiklah, kalian semua sudah berlatih dengan sangat rajin beberapa hari ini. Untuk sesi terakhir, kita tidak akan lagi melakukan baris-berbaris," ujar Cahyo sambil tersenyum menatap para mahasiswa.
"Lalu apa yang akan diajarkan hari ini, Pak? Apa kita akan menembak lagi?" tanya seorang mahasiswi imut berwajah bulat dengan antusias.
Sepertinya, anak-anak ini sudah mulai kecanduan bermain dengan senjata api.
Instruktur Cahyo menatap mahasiswi itu, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. "Latihan menembak di ospek ini sebenarnya hanya supaya kalian tahu rasanya jadi prajurit, tapi jujur saja, tidak terlalu praktis untuk sehari-hari. Memangnya kalian bisa menenteng senapan di jalanan umum? Materi terakhir yang akan saya ajarkan hari ini adalah bela diri praktis, terutama untuk para mahasiswi. Saya rasa kalian harus belajar ini dengan serius. Kalian semua gadis-gadis cantik, ilmu ini akan sangat berguna jika kalian bertemu orang jahat di jalan!"
"Jadi instruktur benar-benar menganggap kami imut? Tapi kenapa kemarin-kemarin galak sekali? Lihat, kulit kami sampai gosong begini, sudah tidak cantik lagi!" tanya seorang mahasiswi dengan nada polos yang kekanak-kanakan.
Cahyo benar-benar dibuat mati kutu dan tidak tahu harus menjawab apa.
Teknik bela diri yang diajarkan para instruktur ternyata sangat mirip dengan teknik melumpuhkan penjahat kelamin—terutama gerakan-gerakan yang berfokus mengincar area vital pria. Yudha yang menonton dari pinggir lapangan berkali-kali menyeka keringat dingin. Ia merasa tatapan gadis-gadis itu, entah sengaja atau tidak, terus tertuju ke arah selangkangannya. Bulu kuduknya meremang, ngeri membayangkan jika salah satu dari mereka salah sasaran, masa depannya bisa hancur seketika.
Akhirnya, Cahyo menatap para mahasiswi, tersenyum tipis, dan berseru, "Sekarang, saya minta satu-satunya pria di kelas kalian untuk maju ke depan dan menjadi rekan sparring saya guna memberikan demonstrasi!" Setelah berkata demikian, ia memberi isyarat agar Yudha maju.
"Kamu boleh melawan sebisamu, jangan khawatir saya tidak akan menyakitimu. Saya akan menahan diri!" Meskipun Cahyo berkata demikian, ia tampak sangat santai, seolah menganggap Yudha bukanlah ancaman yang berarti baginya.
Awalnya Yudha merasa sedikit malas, namun mendengar tantangan itu, tangannya mulai terasa gatal untuk mencoba teknik tempur militer yang sebenarnya.
"Siap, Instruktur!" jawab Yudha dengan senyum tipis, rasa antusias mulai membakar semangatnya.
Cahyo menatap Yudha yang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia mengangguk bangga, berucap "Hati-hati," lalu melangkah lebar ke depan sambil melayangkan pukulan kanan ke arah dada Yudha. Meski pukulan itu tidak bertenaga penuh, namun kecepatannya luar biasa.
Yudha bersorak dalam hati. Tangan kirinya mengepal untuk menangkis, sementara ia memutar pinggangnya ke kanan dan tangan kanannya dengan gesit menebas ke arah siku lawan. Cahyo membatin terkejut, "Cepat sekali!" Ia segera menarik kepalannya dan meluncurkan tendangan samping ke arah pinggang Yudha.
Meski Yudha tidak menggunakan kemampuan Angin Cepat miliknya, panca indera yang telah diperkuat oleh teknik Naga Tersembunyi membuat instingnya terhadap situasi sekitar menjadi sangat tajam. Ia menangkis kaki instruktur dengan lututnya dan membalas dengan pukulan hook. Instruktur bersorak kagum dalam hati; tubuhnya sangat lincah dan ia berhasil menghindar dengan sebuah putaran.
Keduanya bertarung semakin cepat, hingga orang-orang di luar lingkaran tidak bisa lagi melihat gerakan mereka dengan jelas. Yudha tidak menggunakan kemampuan spesialnya kali ini, ia murni mengandalkan gerakan yang pernah ia tonton di video-video bela diri daring. Walaupun tanpa kekuatan supranatural, ia memiliki keunggulan mutlak: indera dan kecepatannya jauh di atas manusia biasa berkat penguatan teknik Naga Tersembunyi.
Pertarungan sengit itu tidak hanya membuat para gadis di kelasnya berteriak histeris, tapi juga menarik perhatian mahasiswa dan instruktur dari kelas lain yang sedang istirahat untuk datang berkerumun menonton.
"Wah! Anak itu luar biasa. Kemampuan bela diri Bos Cahyo itu sudah tersohor di daerah militer kita! Hebat sekali anak ini bisa mengimbanginya selama itu!" ujar seorang instruktur dari kelas lain yang ikut menonton.
"Benar! Mahasiswa ini punya potensi besar," sahut yang lain dengan nada kagum.
Menjelang akhir, gerakan keduanya mulai melambat, masing-masing mencari celah untuk mendaratkan serangan penentu. Sebuah pukulan lurus yang kuat diluncurkan. Kali ini, Yudha tidak menahan diri; ia membalas dengan pukulan yang telah dilapisi sedikit energi murni karena ia tidak ingin tangannya cedera beradu dengan tulang baja sang instruktur!
Bugh! Yudha terdorong mundur dua langkah, sementara instruktur Cahyo terhuyung mundur tiga langkah. Yudha tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyusul dengan tendangan berputar ke belakang.
Namun, kali ini serangan Yudha meleset. Ia menyadari ada yang salah. Tangan instruktur sudah menyentuh kaki Yudha lebih dulu. Yudha merasakan sebuah kekuatan besar yang mengungkit tumpuannya sebelum akhirnya tubuhnya terlempar ke udara.
Namun, mana mungkin Yudha jatuh terjerembap begitu saja? Ia sedikit mengerahkan kemampuan Angin Cepat miliknya. Setelah sempat tertahan sejenak di udara, ia melakukan putaran udara yang sangat estetis sebelum mendarat dengan satu lutut. Tangan kanannya menumpu tanah untuk meredam sisa gaya dorong, terdiam sejenak, lalu berdiri dengan tegak.
Meskipun Yudha kalah dalam gerakan pembuka tadi, ia belum menggunakan seluruh kekuatannya, jadi ia sama sekali tidak merasa berkecil hati. Lagipula, ia bertarung melawan instruktur berpengalaman hampir murni dengan kemampuan fisiknya sendiri, jadi performanya sudah bisa dibilang luar biasa.
Cahyo hanya memperhatikan sambil tersenyum. Bahkan instruktur yang biasanya berdarah dingin ini menunjukkan sisi manusiawinya di hari terakhir latihan. Ia menghampiri Yudha, menepuk bahunya, dan berkata dengan ramah, "Kemampuanmu bagus, tapi beberapa gerakanmu masih terasa kaku. Kamu pasti belajar sendiri tanpa ada yang membimbing, ya?"
Yudha terkejut karena tebakan itu sangat akurat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan agak malu dan menyahut sambil nyengir, "Iya, Pak! Saya belajar sendiri otodidak, tidak ada yang mengajari. Maaf kalau teknik saya berantakan."
Cahyo menggelengkan kepala dan tersenyum. "Saya mengajukan diri jadi instruktur kali ini, dan tidak menyangka akan bertemu pemuda menarik sepertimu. Benar-benar perjalanan yang tidak sia-sia. Awalnya saya ingin mengajarimu sebuah jurus rutin, tapi setelah dipikir-pikir, meski gerakanmu murni insting, bela diri terbaik adalah yang sudah menyatu dengan insting. Gerakan standar justru terkadang malah membatasi. Masalah kekakuan itu cuma soal jam terbang, latihan terus pasti akan sempurna. Kalau ada waktu, mampirlah ke markas komando daerah militer di kota ini. Bilang saja namaku, mereka akan menghubungiku!"
"Terima kasih, Pak. Kalau saya menemui kesulitan, saya pasti akan mencari Bapak, nanti kita bisa sekalian minum-minum!" ujar Yudha dengan senang.