Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Rizal dan Arum telah duduk disalah satu ruangan, didepan mereka seorang pria yang terlihat begitu emosi
"Berani banget lo jala___" Ujarnya seraya melihat wajah wanita itu dengan penuh amarah "Lo mau gue masuk penjara gitu?"
Arum terlihat pias, tersirat ketakutan yang begitu besar dari wajahnya "Kamu memang sudah kasar pada Arum, jadi sudah seharusnya kamu berada disini!"
Pria bernama Daru itu menatap kearah Rizal lalu tersenyum miring "Lo suka sama bini gue?"
"Bukan urusan anda!"
"Lo selingkuh sama wanita mura___ ini? Lo bakal nyesel. Percaya Ama gue" Suami Arum itu sudah tertawa
"Mas aku gak mau disini! Aku mau pulang saja" Arum menggenggam tangan Rizal dengan tubuh yang bergetar
Rizal menyadari perubahan pada kekasih gelapnya itu "Kita pergi sekarang!"
"Semoga lo sadar sebelum terlambat!" Teriak Daru sebelum Rizal dan Arum keluar dari ruangan tersebut
Arum diam saja selama perjalanan, entah kenapa ia merasa gelisah mendengar ucapan mantan suaminya itu
"Ada apa?" Rizal menggenggam tangan Arum yang menyadarkan wanita itu "Kamu pasti trauma banget kan?"
"Aku cuma kepikiran aja" Ucapnya lirih
"Ingin bersenang-senang?" Arum membawa pandangannya pada pria disampingnya
"Bersenang-senang?"
"Gimana kalau kita melewati hari ini dihotel? Masih ada beberapa jam dan kita bisa melakukan beberapa ronde sebelum sore"
Rizal tersenyum dan Arum membalasnya sambil menganggukkan kepalanya. Mobil melaju menuju hotel terdekat
Rizal memesan kamar untuk mereka menghabiskan waktu. Ia akan memberi alasan pada Hanna karena pulang terlambat
Sesampainya dikamar, Rizal langsung menyerang Arum dengan tidak sabaran. Tubuh Arum sudah bersandar pada dinding dengan Rizal yang melumat habis bibirnya
"Sebentar mas!"
"Tidak bisa sayang! Aku sudah tidak bisa menahan diri!" Rizal kembali menikmati bibir lembut itu, lalu membawa tubuh Arum ke tempat tidur
Teriaknya matahari di luar kamar hotel tidak bisa mengalahkan panasnya kegiatan sepasang kekasih gelap itu
Arum tengah bergerak liar diatas tubuh kekasihnya dan Rizal terlihat begitu menikmatinya
Kegiatan itu berlangsung hingga berjam-jam dan kini keduanya telah sama-sama lelah setelah beberapa kali mencapai puncaknya
***
Hanna kembali kerumah saat hari sudah sore, wanita cantik itu masih belum melihat mobil milik suaminya disana
Hanna sudah panik saat dirinya pulang terlambat, namun ternyata suaminya belum sampai rumah
"Bi, apa bapak belum pulang?" Tanya Hanna pada seorang asisten rumah tangga
"Belum Bu"
"Ya sudah, saya kekamar dulu mau bersih-bersih!" Ujar Hanna
"Ibu mau disiapkan sesuatu?" Tanya wanita paruh baya itu
"Tolong buatin saya jus ya bi! Saya capek banget soalnya, lagi pengen minum yang segar-segar"
"Ya sudah, bibi buatkan"
Hanna menuju kamarnya, ia membersihkan diri lalu menemui putranya yang sepertinya tengah belajar
"Mama boleh masuk?"
"Mama" Fathan bersorak "Ayo sini Mah! Fathan lagi belajar sama Hafiz, dia ternyata pinter banget loh"
Hanna mendekat dengan senyum hangatnya, wanita hamil itu sedikit kesulitan untuk duduk karena perut yang semakin besar
"Coba! Mama mau lihat!" Dengan penuh semangat bocah tujuh tahun itu memperlihatkan bukunya "Waah Fathan memang pintar!"
"Ini dibantuin sama Hafiz"
"Bilang apa sama Hafiz?"
"Terima kasih ya Hafiz"
Putra Arum itu tersenyum "Sama-sama Fathan"
Hafiz membawa pandangannya pada perut buncit Hanna "Apa disini ada adiknya Fathan"
"Iya, sebentar lagi Fathan akan punya adik perempuan yang lucu" Hanna tertawa mendengar jawaban putranya
"Hafiz juga mau punya adik, tapi ibu gak mau kasih" Hanna terlihat prihatin pada anak laki-laki berusia delapan tahun itu
"Begini saja, Hafiz juga bisa menganggap adiknya Fathan sebagai adiknya Hafiz" Ujar Hanna dengan lembut
"Beneran Tante?"
"Bener dong"
"Waah terima kasih Tante, Tante Hanna baik sekali. Coba saja ibunya Hafiz itu Tante Hanna" Hanna mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan ucapan putra Arum ini
"Loh, kok gitu?"
"Iya, Hafiz kadang dimarahin sama ibu kalau ibu lagi ada tamu dirumah" Bocah laki-laki itu menunduk
"Kan emang Hafiz gak boleh bandel kalau ibu lagi ada tamu"
"Tapi kalau ibu ada tamu, Hafiz suka dikunciin di kamar sama ibu! Kalau ibu udah selesai sama om nya baru deh pintu kamar Hafiz dibuka"
Hanna bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Hafiz, tamu seperti apa yang diterima Arum hingga dia harus mengurung putranya sendiri
"Memangnya siapa tamu ibunya Hafiz?"
"Om yang banyak uang" Jawabnya polos
Saat Hanna hendak bertanya lagi, pintu kamar anak-anak terbuka menampilkan Arum yang tersenyum
"Mbak Hanna disini?" Tanyanya sembari melangkah mendekat
"Iya, kalian kok lama sampainya?" Arum sudah duduk bersama ketiganya
"Oh itu, tadi polisinya nanya macem-macem. Mas Rizal juga bawa aku ketemu sama pengacara dulu"
Hanna mengangguk "Syukurlah, semoga masalahnya cepet selesai yaa Rum, biar kalian bisa hidup tenang"
"Iya mbak, ini semua berkat mbak Hanna dan mas Rizal juga"
Hanna kembali kekamar karena suaminya telah kembali, namun ia masih bertanya-tanya tentang apa yang Hafiz katakan
Apa maksud dari tamu yang banyak uang? Hafiz hanya anak kecil, tidak mungkin anak sekecil itu berbohong
"Sayang" Rizal menegur istrinya yang terlihat melamun "Ada apa?"
"Gimana tadi dikantor polisi? Semuanya aman kan?" Tanya Hanna
Rizal mendekat, duduk disamping istrinya yang tengah duduk disisi tempat tidur "Semuanya baik-baik saja, suami Arum pasti dihukum berat. Aku juga bawa dia ketemu sama pengacara"
"Syukurlah, aku berharap masalah ini cepat selesai. Biar Arum bisa segera meninggalkan rumah kita dan hidup mandiri"
Rizal terlihat keberatan dengan ucapan istrinya. Ini akan semakin sulit jika dirinya tinggal terpisah dari Arum, ia mulai terbiasa dengan wanita itu
"Kenapa dia tidak tetap tinggal disini saja?" Hanna mengernyit mendengar ucapan suaminya
"Jangan mikir yang bukan-bukan, maksud aku dia bisa bantu-bantu dirumah ini, kalau kamu mau kamu bisa kasih dia gaji. Biar ada yang bantuin kamu, terlebih nanti setelah anak kita lahir"
"Aku bisa kok urus diri aku sendiri, lagi pula mbok War kan ada. Aku hanya tidak ingin Arum bekerja sebagai pembantu disini mas"
Hanna berpikir dua kali untuk membiarkan Arum tetap dirumahnya, terlebih ia mendengar apa yang Hafiz ucapkan
"Memangnya kamu sudah mendapatkan pekerjaan untuk Arum? Bagaimanapun dia butuh pekerjaan kan?"
Hanna mengangguk "Hanin ngasih saran supaya Arum kerja di toko, didekat toko juga ada kontrakan jadi Arum bisa tinggal disana, jaraknya lebih deket"
Rizal diam, jika dirinya terus mempertahankan Arum, jelas Hanna akan curiga
"Hanin juga bilang, kalau ibu akan bantu bicara sama pemilik kontrakan supaya Arum bisa dapat setengah harga"
Rizal memaksakan senyumnya, sekarang dia benar-benar tidak memiliki alasan apapun untuk mempertahankan agar Arum tetap berada disini
"Itu bagus"
semoga byk yg baca