Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Amarah yang Terungkap
Suasana di dalam kedai tiba-tiba berubah.
Tidak ada angin yang masuk. Tidak ada pintu yang terbuka. Namun entah mengapa, keenam bandit itu merasakan sesuatu yang aneh.
Dingin.
Dingin yang merayap perlahan dari tulang belakang mereka.
Salah satu bandit menggosok lengannya.
“Ugh… kenapa tiba-tiba aku merasa kedinginan?”
Bandit lain mengangguk.
“Benar… padahal cuaca di luar panas.”
Bandit gemuk yang duduk di kursi kayu juga mengerutkan kening. Tubuhnya yang besar menggigil ringan.
Dia menatap sekeliling dengan curiga.
“Hei bos…” katanya sambil menyeringai kasar, “kau memasang pendingin di kedai ini atau apa?”
Beberapa bandit tertawa kecil.
Namun tawa mereka terdengar canggung.
Sebab pemilik kedai itu… masih belum menjawab.
Zhao tetap berdiri di tempatnya.
Diam.
Senyuman ramah yang tadi masih menghiasi wajahnya kini perlahan memudar. Tatapannya tenang… terlalu tenang.
Seolah-olah sesuatu di balik ketenangan itu sedang bangkit.
Yueling yang berdiri di dekat Shen Ning langsung memahami.
Tatapan matanya melembut sesaat.
Dia mengenal suaminya lebih baik dari siapa pun.
Dan dia tahu…
Saat Zhao berhenti tersenyum seperti itu…
seseorang pasti akan celaka.
Yueling perlahan menarik tangan Shen Ning.
“Ayo.”
Shen Ning terkejut.
“Eh—Bibi? Apa yang terjadi?”
Yueling menuntunnya menuju dapur di belakang.
“Masuk ke dalam dulu.”
Shen Ning menoleh ke arah Zhao yang masih berdiri sendirian menghadapi para bandit.
“Tapi… paman akan sendirian!”
Yueling berhenti sebentar.
Lalu dia menunduk sedikit hingga sejajar dengan wajah Shen Ning.
Suaranya lembut, namun tenang.
“Jangan khawatir, Ning’er. Pamanmu… akan segera menyelesaikan ini.”
Shen Ning berkedip bingung.
“Lalu kenapa kita harus pergi?”
Yueling tersenyum tipis.
“Kita pergi karena… apa yang akan terjadi setelah ini tidak cocok dilihat anak kecil seperti kamu.”
Shen Ning semakin kebingungan.
Namun dia tetap mengikuti Yueling masuk ke dapur.
Di ruang depan, bandit gemuk memperhatikan kepergian Yueling.
Matanya langsung menyipit.
“Eh?”
Dia berdiri dari kursinya.
“Hei nyonya!”, Suaranya menggema kasar.
“Mau ke mana kau?”
Dia menunjuk dengan pedang.
“Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Bandit itu mulai melangkah.
“Jangan berpikir bisa kabur dar—”
Plak!
Kalimatnya tidak pernah selesai.
Sebuah telapak tangan tiba-tiba mencengkeram wajahnya.
Begitu cepat hingga tak satu pun dari mereka sempat bereaksi.
Detik berikutnya—
BRUAAK!!!
Tubuh besar bandit gemuk itu dibanting ke lantai.
Bukan sekadar jatuh. Dia dihantam.
Begitu keras hingga papan lantai kayu pecah berkeping-keping.
Debu dan serpihan kayu meledak ke udara.
Bahkan tanah di bawah lantai retak.
Suara benturan itu menggema seperti petir.
Bandit lain membeku. Mata mereka melebar.
Bandit gemuk itu bahkan tidak sempat berteriak.
Wajahnya… sudah hancur.
Darah mengalir dari celah-celah kayu yang pecah.
Sunyi.
Sunyi yang menyesakkan.
Lalu salah satu bandit akhirnya bereaksi.
“APA YANG KAU LAKUKAN BAJINGAN?!”
Seketika semua bandit mencabut senjata.
Pedang.
Golok.
Belati.
Namun tangan mereka gemetar.
Di tengah debu yang perlahan jatuh…
Zhao berdiri di sana.
Dia perlahan bangkit.
Gerakannya santai.
Seolah baru saja menyingkirkan sampah kecil.
Dia mengibaskan tangannya pelan. Seperti membersihkan sesuatu yang kotor. Darah segar terciprat dari jari-jarinya.
Semua bandit menatap ke lubang di lantai.
Melihat wajah pemimpin mereka…
atau lebih tepatnya sisa wajahnya.
Keringat dingin langsung membasahi punggung mereka.
Zhao akhirnya berbicara.
Suaranya rendah.
Dingin.
“Kalian boleh menghinaku.”
Matanya perlahan terangkat.
Tatapan itu…
membuat jantung mereka berhenti berdetak sesaat.
“Sesuka kalian.”
Salah satu bandit menelan ludah. Tangannya gemetar memegang pedang.
Namun Zhao melanjutkan.
“Namun…”
Senyuman tipis muncul di bibirnya.
Bukan senyum ramah.
Senyum yang membuat darah membeku.
“Jika kalian menghina istriku.”
Sunyi sekejap.
Lalu—
Zhao menghilang.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada bayangan.
Bandit-bandit itu membeku.
“Hah—?!”
Salah satu dari mereka bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika—
BOOOM!
Sebuah pukulan menghantam dadanya.
Bandit itu terlempar.
Tubuhnya terbang seperti anak panah.
Pintu kedai meledak!
Dia meluncur keluar dan menghantam jalanan batu di luar.
KRAAAK!
Suara tulangnya patah terdengar jelas.
Bandit lain masih terpaku.
Lalu Zhao muncul lagi.
Di depan bandit berikutnya.
“Tung—”
Bandit itu bahkan belum sempat mengangkat pedangnya.
DUUK!
Pukulan ke perut.
Udara di paru-parunya keluar sekaligus. Tubuhnya terlipat seperti kain.
Detik berikutnya Zhao memutar tubuhnya.
Tendangan menyapu.
BRAK!
Bandit ketiga terpental menghantam dinding kedai hingga retak.
Jeritan kesakitan menggema.
Di dapur belakang…
Shen Ning gemetar.
“Bibi… itu…”
Suara benturan.
Jeritan.
Kayu pecah.
Semua terdengar jelas. Tubuh kecilnya bergetar.
Yueling menariknya ke pelukan.
Tangannya menutup telinga Shen Ning dengan lembut.
“Tidak apa-apa.”
Suaranya tenang.
“Semua akan segera selesai.”
Di luar kedai…
seorang bandit kurus penuh tato tergeletak di tanah.
Dia memuntahkan darah.
“Kuagh…!”
Dadanya terasa seperti dihancurkan palu raksasa.
Dia mencoba bangun.
Namun rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
“Sial…”
Tangannya meraba tulang rusuknya.
Dia bahkan tidak perlu memeriksa.
“Kurasa… semuanya hancur…”
Dia mengangkat kepalanya.
Dari pintu kedai…
asap debu perlahan keluar.
Langkah kaki terdengar.
Tenang.
Berat.
Zhao berjalan keluar.
Wajahnya dingin.
Bandit kurus itu membeku.
Rasa takut merambat di dadanya.
Siapa…
siapa sebenarnya orang ini?
Perasaan aneh muncul di pikirannya.
Dia menggertakkan giginya.
“Aku… tidak merasakan Qi darinya…”
Seharusnya jika seseorang sekuat ini…
energi Qi mereka akan terasa seperti badai.
Namun pria ini…
kosong. Seperti manusia biasa.
Bandit itu menatap sekeliling.
Rekan-rekannya…
tergeletak.
Sebagian tidak bergerak sama sekali.
Sebagian lagi pingsan dengan beberapa anggota tubuh patah.
Zhao berhenti di depannya.
Bayangannya menutupi bandit itu.
Bandit kurus itu langsung panik.
Dia berlutut.
“T-Tuan!”
“Maafkan aku!”
“Aku bodoh! Aku tidak tahu bahwa tuan adalah sosok agung!”
Dia membenturkan kepalanya ke tanah.
Berulang kali.
“Tolong ampuni aku!”
Namun Zhao tidak menjawab.
Dia hanya berjalan mendekat.
Langkah demi langkah.
Bandit itu semakin panik.
Akhirnya ketakutan mengubah wajahnya menjadi gila.
“Baik!”
Dia berteriak.
“Kalau kau membunuhku—”
“Walikota tidak akan diam!”
Zhao berhenti.
Bandit itu tertawa gugup.
“Dan… dan Bos kami! Bos One Eye!”
“Dia akan membuatmu menderita!”
“Kau pikir kau kuat?!”
“Di depan Bos Lu kau hanya se—”
Zhao sudah berdiri di hadapannya.
Bandit itu membeku.
Jarak mereka hanya satu langkah.
Zhao memiringkan kepala sedikit.
“Oh?”
Suaranya pelan.
“Barusan kau memohon dengan sangat menyedihkan.”
Dia menunduk sedikit.
Matanya bertemu dengan bandit itu.
“Sekarang berubah menjadi ancaman putus asa?”
Bandit itu gemetar.
“T-Tuan… aku…”
Zhao mengangkat tangannya.
Tiga jari terulur.
Perlahan.
Lalu—
CRAACK!
Jeritan memekakkan telinga.
“AARRRRGHHHH!!!”
Zhao mencungkil satu mata bandit itu.
Darah menyembur.
Bandit itu menggeliat di tanah sambil menjerit histeris.
Zhao mengibaskan darah dari jarinya.
Suaranya kembali datar.
“Bersihkan kekacauan ini, dan enyahlah.”
Bandit itu gemetar hebat.
“B-Ba… baik…!”
Dia merangkak menuju rekan-rekannya.
Dengan satu mata yang tersisa dan lubang berdarah di wajahnya, dia berusaha membangunkan bandit lain yang masih hidup.
“Bangun… cepat…”
Mereka mengangkat tubuh yang tidak bernyawa.
Lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.
Orang-orang di jalan menatap ngeri.
Tidak ada yang berani mendekat.
Zhao menghela napas panjang.
“Ah…”
“Akhirnya selesai juga.”
Dia menatap langit. Matahari mulai tenggelam. Langit berubah jingga. Angin sore bertiup pelan.
“Seperti yang kuduga…”
Senyum pahit muncul di wajahnya.
“Tidak ada yang namanya kedamaian abadi.”
“Tapi kita bisa memilih…”
“di mana kita ingin mencarinya.”
Sebuah suara lembut terdengar dari belakang.
“Sayang?”
Zhao menoleh.
Yueling berdiri di pintu kedai.
Shen Ning di sampingnya.
Zhao tersenyum lagi.
Senyum yang hangat seperti sebelumnya.
“Kalian baik-baik saja?”
Yueling mengangguk.
“Ya.”
Shen Ning juga mengangguk pelan.
Namun matanya menatap sekeliling.
Meja rusak.
Lantai pecah.
Darah berceceran.
Lalu dia menatap Zhao.
Panik.
Bingung.
Takut.
“P-Paman…”
Suaranya bergetar.
“Siapa… sebenarnya paman ini?”
Sementara itu…
Di jalanan kota Pingxi.
Sekelompok bandit berjalan tertatih. Warga menyingkir ketika mereka lewat.
Salah satu bandit berkata dengan suara lemah.
“Kakak ketiga…”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Saudara pertama, kedua… dan kelima sudah mati…”
Dia menatap pria di depan mereka.
Bandit bermata satu yang wajahnya berlumuran darah.
“Dan kau juga terluka parah…”
Bandit itu menggertakkan giginya.
Kebencian memenuhi matanya yang tersisa.
“Kita…”
Dia meludah darah.
“Tidak akan membiarkan ini begitu saja.”
Tangannya mengepal.
“Pemilik kedai kecil itu…”
“Akan membayar semuanya.”
Dia menatap ke arah utara kota.
Di sana markas mereka berdiri.
Tempat seorang pria yang bahkan lebih menakutkan menunggu.
Bandit itu berbisik penuh kebencian.
“Dia mungkin sedikit kuat…”
“Tapi di hadapan Bos Lu…”
Senyumnya berubah menyeramkan.
“Dia hanya… semut.”