NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Kyai Mansyur

Kaf. Fa. Ro.

ك ف ر

Tulisan hitam pekat di tengah dahinya, seperti terbakar, seperti diukir dengan besi panas. Huruf-huruf itu tidak lagi samar seperti dulu. Kini jelas, tebal, menyala dengan cahaya merah samar di tepi-tepinya, berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya.

Wajah Rafiq berubah. Tidak lagi seperti pria yang dulu menjadi imam masjid. Jenggotnya tumbuh lebat, tidak terawat, membuatnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Pipinya tirus, matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya. Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Mata itu kosong.

Kosong seperti lubang sumur yang tak berdasar. Tapi di dalam kekosongan itu, ada sesuatu yang menyala—bukan api, tapi dingin. Dingin yang membekukan. Dingin yang membuat siapa pun yang menatapnya merasakan bulu kuduknya berdiri.

Rafiq tersenyum.

Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang dingin. Senyum yang sudah menjadi milik kegelapan sepenuhnya.

"Kyai Mansur," sapanya. Suaranya datar, tenang, tanpa emosi. Seperti ia sudah tahu siapa yang akan datang, kapan akan datang, dan untuk apa.

"Saya sudah dengar tentang Kyai. Guru dari Ustad Salim. Kyai yang ilmunya sangat dalam. Kyai yang tidak mudah gentar."

Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia berdiri di tengah ruangan, di seberang lingkaran abu, berhadapan langsung dengan Kyai Mansur yang masih berdiri di dekat meja.

"Tapi Kyai datang ke sini sendirian. Hanya dengan dua santri. Apakah Kyai tidak takut?"

Kyai Mansur menatap Rafiq dengan mata yang tidak berkedip. Tangannya yang memegang tasbih berhenti bergerak. Ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya—dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun.

Bukan dingin biasa. Dingin yang menusuk tulang. Dingin yang seperti ada di dalam darahnya sendiri.

"Rafiq Al Farisi," kata Kyai Mansur. Suaranya masih tenang, masih mantap, meskipun di dalam dadanya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. "Aku datang bukan untuk melawanmu. Aku datang untuk membawamu kembali."

Rafiq tertawa. Tertawa pendek, pahit, tanpa kebahagiaan.

"Kembali? Kembali ke mana, Kyai? Kembali ke Tuhan yang membiarkan anakku mati? Kembali ke agama yang tidak melindungiku dari pengkhianatan? Kembali ke masjid yang memfitnahku sebagai koruptor?"

Ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia berdiri hanya tiga meter dari Kyai Mansur. Badrun dan Lukman mundur selangkah, tubuh mereka tegang, tangan mereka bersiap.

"Kembali itu bukan pilihan, Kyai. Aku sudah memilih jalanku."

Kyai Mansur menatap tiga huruf di dahi Rafiq. Huruf-huruf itu berdenyut. Berdenyut seperti jantung. Berdenyut seperti ada kehidupan di dalamnya—kehidupan yang bukan dari Rafiq, tapi dari sesuatu yang lain.

"Kau telah menjual jiwamu, Nak."

Rafiq tersenyum lagi. Senyum yang lebih lebar. Senyum yang menunjukkan bahwa kata-kata Kyai Mansur tidak menyentuhnya sama sekali.

"Jiwaku sudah tidak berharga, Kyai. Sudah lama. Sejak anakku meninggal, sejak aku melihat istriku di atas tempat tidur bersama sahabatku, sejak aku tahu perusahaanku dicuri, sejak aku difitnah oleh orang-orang yang dulu kuhormati... jiwaku sudah tidak ada harganya."

Ia mengepalkan tangannya. Tiga huruf di dahinya menyala lebih terang.

"Tapi balas dendamku, Kyai... balas dendamku tidak ternilai. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Bukan kau. Bukan ustad-ustadmu. Bukan Tuhanmu."

Kyai Mansur merasakan getaran di udara. Getaran yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri. Ia belum pernah merasakan ini. Belum pernah. Bahkan ketika menghadapi gangguan jin paling kuat sekalipun, ia masih bisa merasakan bahwa Allah lebih besar.

Tapi kali ini... kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat doa-doa yang ia baca terasa hambar di lidahnya.

Bukan karena ia tidak lagi merasakan Kebesaran Allah, tapi karena hatinya yang mulai gentar.

"Rafiq," katanya, berusaha tetap tenang. "Aku tidak bisa memaksamu. Tapi aku ingin kau tahu: pintu taubat masih terbuka. Selama kau masih hidup, selama kau masih bisa bernapas, selama kau masih bisa mengucap La ilaha illallah... pintu itu tidak akan pernah tertutup."

Rafiq menatap Kyai Mansur lama. Matanya yang kosong itu tiba-tiba berubah. Ada sesuatu di sana. Bukan penyesalan. Bukan keraguan. Tapi kelelahan. Kelelahan yang begitu dalam, begitu pekat, seperti orang yang sudah terlalu lama berjalan di padang pasir tanpa pernah menemukan air.

"La ilaha illallah," ulang Rafiq pelan. Bibirnya bergerak membentuk kata-kata itu. Tapi ketika kalimat itu keluar, tiga huruf di dahinya menyala terang, panas, seperti membakar kulitnya dari dalam. Ia merasakan sakit yang menusuk kepalanya. Sakit yang membuatnya hampir jatuh berlutut.

Ia menahan. Ia menggigit bibirnya. Dan ketika rasa sakit itu mereda, ia menatap Kyai Mansur dengan mata yang lebih gelap dari sebelumnya.

"Lihat, Kyai? Bahkan kalimat itu tidak bisa aku ucapkan lagi. Mulutku masih bisa bergerak. Lidahku masih bisa berbicara. Tapi kalimat itu... kalimat itu tidak bisa keluar. Ada yang menahannya. Ada yang tidak mengizinkannya."

Ia melangkah mundur, mendekati pintu.

"Kau bisa memilih, Kyai. Kau bisa melawanku. Tapi kau sudah lihat apa yang terjadi pada muridmu. Ustad Salim. Beliau orang baik. Beliau ikhlas. Tapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatanku bukan dari jin atau setan. Kekuatanku dari sesuatu yang lebih tua. Lebih gelap. Dan kekuatan itu tidak bisa dilawan dengan ayat-ayat kursi."

Ia berhenti di ambang pintu. Cahaya sore yang mulai berwarna ungu kemerahan menyinari wajahnya dari belakang, membuatnya terlihat seperti siluet hitam dengan tiga titik bercahaya di dahi.

"Atau kau bisa pergi. Pergi dan jangan ikut campur lagi. Biarkan aku menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Biarkan mereka yang bersalah merasakan apa yang pantas mereka rasakan."

Kyai Mansur terdiam. Di belakangnya, Badrun dan Lukman menahan napas. Mereka menunggu. Menunggu apa yang akan dilakukan Kyai Mansur. Menunggu apakah akan terjadi pertempuran di tempat ini. Menunggu apakah mereka akan selamat keluar dari rumah ini.

Kyai Mansur menatap Rafiq lama. Matanya yang tajam mencoba menembus kegelapan di dalam diri pria muda itu, mencoba mencari-cari sisa-sisa Rafiq Al Farisi yang dulu. Pria yang agamis. Pria yang suka dengan ketenangan. Pria yang setiap malam membaca Al-Qur'an sebelum tidur.

Yang ia temukan hanya kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat, begitu dalam, seperti jurang yang tidak berdasar.

Akhirnya, Kyai Mansur menghela napas panjang. Ia menundukkan kepalanya sejenak. Ketika mengangkat kembali, ada sesuatu di matanya—bukan kekalahan, tapi kesadaran. Kesadaran bahwa ini bukan pertempuran yang bisa ia menangkan hari ini.

"Aku akan pergi," katanya pelan. "Tapi bukan karena aku takut padamu atau pada apa yang ada di dalam dirimu. Aku pergi karena aku tahu, saat ini, kau belum siap mendengar apa pun. Hatimu terlalu penuh dengan dendam. Pikiranmu terlalu gelap untuk cahaya."

Ia melangkah maju, mendekati Rafiq. Badrun hendak menariknya, tapi Kyai Mansur mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tidak ikut.

"Aku akan pergi," ulangnya. "Tapi aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, aku tidak akan datang sendirian."

Ia berhenti di hadapan Rafiq. Jarak mereka hanya satu meter. Kyai Mansur bisa melihat tiga huruf di dahi Rafiq dengan jelas—hitam pekat, berdenyut, seperti luka yang tidak pernah sembuh.

"Satu pesan, Nak. Balas dendam tidak akan mengembalikan anakmu. Tidak akan mengobati lukamu. Yang akan kau dapatkan hanyalah kekosongan yang lebih dalam dari yang kau rasakan sekarang."

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dingin. Senyum yang mengatakan bahwa kata-kata

Kyai Mansur tidak berarti apa-apa baginya.

Kyai Mansur menghela napas panjang. Ia berbalik, melangkah keluar rumah, diikuti oleh Badrun dan Lukman yang masih gemetar. Di teras, ia berhenti sejenak, menatap langit yang mulai gelap. Bulan sabit tipis muncul di ufuk timur.

"Ya Allah," bisiknya. "Lindungi hamba-Mu yang tersesat. Bimbing dia kembali ke jalan-Mu. Dan ampunilah kami semua yang telah lalai dalam menjaga amanah."

Ia melangkah turun dari teras, berjalan di jalan setapak menuju mobil yang menunggu di ujung kampung. Di belakangnya, rumah kecil itu semakin gelap. Dan di ambang pintu, sesosok pria berkemeja hitam berdiri, menatap kepergian mereka dengan tiga huruf di dahinya yang menyala di tengah kegelapan.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!