"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Menggembala kambing
"Kita gembala kambing jangan terlalu malam nanti pulang nya ya." Abdul menatap Iwan yang ada di sebelah dia.
"Ya kalau memang tidak ada masalah maka kita pulang seperti biasa lah, cuma kadang kambing ini menghilang jadi Kita terpaksa harus masuk hutan mencari kambing." jawab Iwan sambil memakan tebu.
"Aku jujur saja takut setelah kematian Mbak Laila itu, siapa tahu memang kalau malam ada arwah gentayangan." Abdul berkata serius.
"Heh kau ini masih saja percaya hal seperti itu, mana mungkin ada hantu yang bisa membunuh!" Iwan menatap Abdul tidak percaya.
"Tapi mungkin saja itu benar karena kematian Mirasih itu kan sangat tragis." Abdul juga percaya dengan omongan orang yang ada di kampung ini.
Iwan yang sedang asyik makan tebu jadi tidak berselera karena dia malas mendengar ocehan Abdul tentang kematian Mirasih, malah sekarang dia percaya bahwa Mirasih telah menjadi arwah gentayangan dan bisa membunuh semua orang yang ada di desa mereka tinggal.
Mereka emang masih bisa di katakan sebagai anak-anak karena itu jadi mudah terperdaya dengan omongan orang lain, terlebih lagi Abdul ini memiliki mental yang lemah dan dia mudah takut sehingga wajar saja bila mendengar tentang arwah gentayangan maka dia akan merasa takut yang begitu besar di dalam hati ini.
Ini saja malah timbul rasa takut di dalam hati ketika nanti mereka menggembala kambing ini pulang terlalu malam, padahal biasanya mereka juga pulang agak malam bila ada kambing yang tersesat dan tidak bisa pulang sendiri sehingga mau tidak mau kadang mereka harus mencari masuk ke dalam hutan sana agar kambing itu bisa pulang.
Tapi ini malah muncul berita seperti itu sehingga Abdul sudah pasti tidak akan pernah berani untuk masuk hutan lagi sendirian, beda dengan Iwan yang memang pemberani sehingga dia tidak peduli dengan omongan orang tentang arwah Mirasih yang gentayangan lalu membunuh Laila walau hal itu belum jelas namun setidaknya seluruh warga sudah percaya.
Abdul juga salah satu orang yang percaya dengan kejadian itu sehingga dia memutuskan untuk pulang sore saja tanpa harus menunggu malam, sementara Iwan masih oke karena dia merasa bila kambing hilang maka dia harus bertanggung jawab dan mencari kambing itu sampai dapat agar tidak di makan oleh hewan buas.
Mereka mengembala kambing ini bukan karena milik sendiri tapi bekerja pada juragan Sarbeni, udah sampai ada yang hilang maka dapat dipastikan mereka akan harus ganti dulu sehingga mau tidak mau Iwan harus bertanggung jawabmu untuk mengurus para kambing yang sudah menjadi pekerjaan dia sekarang ini.
"Kau itu takut pada hal yang tidak jelas dan justru itu nanti akan membuat kita merasa rugi." menatap Abdul dengan serius.
"Rugi bagaimana? justru kalau kita tetap menggembala sampai malam kita yang akan rugi karena mati ketemu dengan arwah Mirasih." Abdul berkata dengan penuh rasa takut.
"Ah itu juga belum jelas loh, Kenapa kau takut seperti itu." Iwan mulai kesal kepada Abdul.
"Ya terserah kau saja kalau mau pulang malam karena aku tetap ada pendirian dan tidak akan pernah pulang malam lagi, aku takut!" tegas Abdul.
"Lah terus gimana kalau kambing kita ada yang hilang dan masuk ke dalam hutan itu? apa kau mau mengganti kepada juragan Sarbeni." Iwan bertanya dengan nada serius.
Abdul terdiam tidak bisa menjawab ucapan sang sahabat karena dia juga anak orang tidak punya dan mana mungkin bisa memiliki uang untuk mengganti kambing itu, sedangkan harga kambing bila yang sudah besar mencapai jutaan sehingga sudah pasti membutuhkan uang yang sangat besar.
Sedangkan kerja menjadi penggembala kambing ini saja hanya sekitar ratusan ribu dan itu gaji perbulan, mau sampai berapa bulan Abdul mampu mengganti harga kambing tersebut bila sampai ada salah satu kambing menghilang dari kawasan mereka, tentu itu semua harus dipertimbangkan lagi walau ada rasa takut di dalam hati.
...****************...
"Aduh Abdul memang sudah pulang sejak sore tadi ini ya." Iwan menatap kesana kemari ketika dia menyadari Abdul sudah tidak ada.
"Kambing dia apa sudah lengkap atau ada yang hilang namun dia tidak mencari?" Iwan berjalan menggunakan tongkat kayu karena dia harus masuk ke dalam hutan untuk mencari kambing.
Salah satu kambing peliharaan dia menghilang dari pandangan mata sehingga mau tidak mau Iwan harus masuk hutan dan mencari keberadaan kambing itu, jelas Iwan memiliki nyali lebih besar karena dia merasa untuk mengganti kambing itu dia tidak memiliki uang sehingga lebih baik untuk masuk ke dalam hutan saja mencari keberadaan sang kambing.
"Mau pakai apa aku mengganti kambing itu kalau tidak mencari ke dalam hutan ini." rutuk Iwan.
Suara azan maghrib sudah mulai terdengar sehingga Iwan mengusap tubuh yang terasa mulai dingin, suasana hutan juga mulai gelap dan dia harus menggunakan senter sebenarnya untuk mencari kambing itu namun apa daya Iwan tidak membawa senter saat ini.
"Mbeeeeek kau di mana?!" Iwan berteriak keras agar kambing itu bisa mendengar suara dia.
"Ayo pulang, Mbeeeeeek." teriak Iwan sambil menatap ke sana kemari.
"Kemana kambing bandot ini pergi kok dia sama sekali tidak ada jejak ya?" Iwan sambil terus berjalan menyusuri hutan.
Namun entah kenapa perasaan Iwan begitu aneh Karena Dia seolah sedang diamati oleh seseorang, namun hati Iwan berusaha menepis itu semua dan mengatakan bahwa itu hanya rasa takut ketika tadi mendengar Abdul bercerita tentang arwah Mirasih yang gentayangan ke sana kemari, jadi dia tetap berusaha bertahan agar rasa takut itu menghilang dari dalam hati ini.
"Sialan, aku memang takut sekarang." keluh Iwan sambil menatap ke belakang untuk memastikan siapa yang ada di belakang dia.
Tapi sama sekali tidak ada orang atau sosok lain karena hutan ini memang sepi bila sudah malam seperti ini, terlebih lagi sekarang para warga juga mulai takut dengan arwah Mirasih yang katanya bergentayangan, biasa dia masih ada Abdul yang menemani bila sedang mencari kambing di dalam hutan ini.
Wuusssssh.
"Apa itu?" batin Iwan menatap angin yang menyambar barusan.
"Allahu akbar!" Iwan berteriak keras ketika dia menatap dahan pohon yang cukup tinggi.
"Hihihiiiii.....
"Se...setan, ini memang setan!" Iwan tergagap ketika melihat sosok hitam yang tertawa di atas pohon itu.
Rambut yang sangat panjang menutupi wajah serta bau amis mencuat dari tubuh setan gentayangan tersebut, namun Iwan tidak bisa memastikan apa itu arwah Mirasih atau orang lain karena seluruh wajah tertutup dengan rambut dan tubuh dia juga berwarna hitam pekat.
Selamat pagi, up satu ya guys karena ada urusan othor nya.
anak nya slah masih ja di bela
kasihan bgt
nanti pas setan datang mau di ajak nya masak kali ya