NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Simfoni di Balik Debu dan Labirin Ingatan

​Dunia terasa berputar dalam gerakan lambat saat aku melangkah keluar dari Gedung Kejaksaan Agung melalui pintu belakang yang biasanya digunakan untuk pembuangan limbah. Udara di luar gedung terasa dingin, namun napasku terasa panas di dalam kerongkongan. Aku telah melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya: aku membohongi Devan. Aku memintanya untuk menunggu di ruang tunggu VIP dengan alasan ingin mengambil obat penenang dari tim medis, sementara aku menyelinap keluar, menukar jaketku dengan mantel pelayan kantin yang kutemukan di ruang ganti.

​Di tanganku, kunci berkarat itu terasa dingin, seolah-olah ia menyerap seluruh panas tubuhku. Kartu dari Bima masih terngiang-ngiang di kepalaku seperti kutukan. Datanglah sendirian, atau Devan tidak akan pernah sampai ke pengadilan besok.

​Aku tahu Bima tidak menggertak. Jika dia mampu meracuni Ayah di dalam sel yang dijaga ketat, maka menghabisi Devan di dalam gedung ini bukanlah hal yang mustahil baginya. Aku tidak bisa membiarkan Devan bertaruh nyawa lagi untukku. Kali ini, biarlah aku yang menjadi tameng.

​Aku menghentikan taksi di pinggir jalan raya yang sibuk. "Ke perumahan Kusuma Garden, Jalan Anggrek Lama," ujarku dengan suara yang kupaksa agar tetap stabil.

​Sopir taksi melirikku melalui spion, mungkin bingung melihat seorang wanita dengan wajah pucat dan mata yang tampak habis menangis mengenakan mantel yang terlalu besar. Namun, dia tidak bertanya. Mobil pun melaju, membelah kemacetan Jakarta yang terasa seperti penjara yang bergerak.

​Kusuma Garden. Nama itu dulu adalah simbol kejayaan keluargaku. Sebuah kompleks perumahan elit di mana rumah-rumah berdiri angkuh seperti benteng. Namun, saat kami sampai di gerbang Jalan Anggrek Lama, aku melihat pemandangan yang berbeda. Garis polisi masih melintang di beberapa titik, dan rumah besar di ujung jalan—rumah masa kecilku—tampak seperti hantu yang terlupakan. Taman yang dulu dirawat rapi oleh tujuh tukang kebun kini dipenuhi ilalang yang menjulang tinggi, dan cat tembok putihnya mulai mengelupas, menyingkap batu bata merah di bawahnya seperti luka yang menganga.

​Aku turun dari taksi dan berdiri di depan gerbang besi yang sudah mulai berkarat. Suara jangkrik di antara ilalang terdengar menyakitkan di telingaku. Aku melompati pagar samping yang kuncinya sudah rusak—celah yang dulu sering kugunakan bersama Devan untuk menyelinap keluar malam-malam.

​Langkahnku terhenti di depan gudang lama yang terletak di bagian paling belakang tanah luas itu. Gudang ini adalah bangunan terpisah dari rumah utama, sebuah bangunan batu yang kokoh yang dulunya digunakan Ayah untuk menyimpan furnitur antik dan barang-barang yang tidak ingin ia lihat lagi.

​Termasuk barang-barang Ibuku.

​Aku memasukkan kunci kuno itu ke dalam lubang pintu kayu yang besar. Bunyi klik yang dihasilkan terasa seperti ledakan di tengah kesunyian. Pintu itu berderit terbuka, mengeluarkan bau debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang lebih tajam—aroma mawar kering yang sudah membusuk.

​Aku menyalakan lampu senter dari ponselku. Cahayanya menyapu ruangan yang dipenuhi oleh perabotan yang ditutupi kain putih. Dalam kegelapan, mereka terlihat seperti barisan hantu yang sedang menungguku. Debu menari-nari di udara, membuatku sesak napas.

​Aku berjalan menuju pojok ruangan, tempat di mana rak buku Sastra Klasik milik Ibu disimpan. Di sana, di antara tumpukan buku yang sudah dimakan rayap, ada sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga lily di atasnya.

​Kotak musik Ibu.

​Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di tulang rusuk. Aku memasukkan kunci kuno itu ke sisi kotak. Aku memutarnya pelan.

​Ting... ting... ting...

​Melodi itu mulai mengalun. Sebuah melodi yang jernih, sedih, dan menghantui. Ini adalah melodi yang sama dengan yang sering kudengar di kepalaku saat aku mengalami serangan panik. Ini bukan melodi Elegia gubahan Devan; ini adalah melodi asli yang mendasarinya. Melodi yang Ibu mainkan setiap malam sebelum ia 'tidur' selamanya.

​Saat kotak itu terbuka, bukan hanya musik yang keluar. Sebuah mekanisme rahasia di bagian bawah kotak terlepas, menyingkap sebuah kompartemen tersembunyi. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian kecil bersampul beludru merah dan sebuah botol kecil berisi cairan keunguan yang sudah mengering.

​"Jadi kau benar-benar datang, Anya."

​Suara itu datang dari kegelapan di balik pintu. Aku tersentak, menjatuhkan kotak musik itu ke lantai. Melodinya berhenti seketika dengan suara sumbang yang tajam.

​Bima Dirgantara keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, terlihat sangat santai seolah-olah kami sedang bertemu di kafe biasa. Namun, matanya berkilat dengan kegilaan yang absolut. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang menampilkan rekaman CCTV langsung dari ruang tunggu Kejaksaan.

​Aku bisa melihat Devan di layar itu. Ia sedang berdiri panik, berbicara dengan Satria, mencariku.

​"Jangan sentuh dia, Bima!" teriakku, suaraku bergema di dinding gudang yang dingin.

​"Aku tidak perlu menyentuhnya, Sayang," Bima melangkah mendekat, mengabaikan debu di sepatunya. "Orang-orangku hanya butuh satu perintah untuk melepaskan gas saraf lewat sistem ventilasi di ruangan itu. Semua tergantung padamu sekarang."

​Ia menunjuk ke arah buku harian merah di lantai. "Kau sudah menemukannya, kan? Rahasia terbesar ibumu. Rahasia yang membuat ayahmu setuju untuk membuangnya."

​"Apa maksudmu?" aku mengambil buku harian itu dengan tangan gemetar.

​"Ibumu bukan hanya seorang pianis, Anya," Bima tertawa, sebuah tawa yang merusak kesunyian gudang. "Dia adalah ahli kimia yang bekerja untuk ayahku. Dia yang pertama kali menemukan rumus dasar 'Elegia'. Dia ingin menggunakannya untuk membantu para tentara yang menderita PTSD. Tapi saat dia menyadari bahwa ayahmu dan ayahku ingin menjualnya sebagai senjata pemusnah identitas... dia mencoba menghancurkannya."

​Aku membuka halaman pertama buku harian itu. Tulisan tangan Ibu yang rapi memenuhi halamannya.

​12 Maret. Hendra mulai berubah. Dia tidak lagi melihat musikku sebagai seni, tapi sebagai variabel frekuensi. Dia dan Wijaya sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan. Mereka ingin menggunakan putriku sebagai subjek uji coba pertama jika rumus ini berhasil disempurnakan. Aku harus melarikan diri bersama Anya.

​"Ayah... Ayah tahu Ibu ingin membawaku pergi?" bisikku, air mata mulai mengabur pandanganku.

​"Tentu saja," Bima kini berdiri tepat di depanku. Ia mengambil botol kecil berisi cairan ungu di lantai. "Ini adalah dosis pertama yang seharusnya diberikan padamu sepuluh tahun lalu. Ibumu meminumnya sendiri agar ayahmu tidak bisa menggunakannya padamu. Dia mengorbankan kewarasannya, ingatannya, dan akhirnya hidupnya... hanya untuk memastikan kau tetap menjadi Anya yang murni."

​Bima mencengkeram rahangku, memaksaku menatapnya. "Tapi ibumu gagal, Anya. Kau tetap menjadi subjek eksperimen Frans. Dan sekarang, kau adalah satu-satunya orang yang memiliki struktur DNA yang sudah beradaptasi dengan zat itu. Kau adalah 'Kunci Hidup'. Aku tidak butuh perusahaan ayahmu. Aku butuh darahmu."

​Rasa mual yang hebat menghantamku. Aku bukan hanya aset bisnis. Aku adalah pabrik biologis bagi ambisi mereka.

​"Aku lebih baik mati daripada memberikan apa pun padamu," desisku, mencoba meludahi wajahnya.

​Bima tidak marah. Ia justru tersenyum miring. Ia melepaskan rahangku dan mengeluarkan sebuah jarum suntik dari sakunya. "Aku tahu kau akan bilang begitu. Itulah sebabnya aku membawamu ke sini. Di tempat di mana ibumu meninggal, kau akan 'terlahir kembali' sebagai pengantinku yang patuh. Tanpa Devan. Tanpa ingatan. Hanya ada aku dan frekuensi yang akan kubuat untukmu."

​Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah pintu depan gudang.

​"JANGAN SENTUH DIA, BAJINGAN!"

​Devan menerjang masuk melalui jendela samping yang ia pecahkan dengan bahunya. Ia mendarat di atas tumpukan furnitur, debu beterbangan seperti asap perang. Ia tidak menunggu satu detik pun; ia langsung menerjang Bima dengan kemarahan seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak ingin kehilangan satu-satunya cahayanya.

​"Devan! Jangan!" teriakku saat melihat Bima menekan tombol di ponselnya.

​Namun, sebelum Bima bisa mengirim perintah itu, Jaksa Satria dan tim taktisnya muncul dari pintu depan. "JATUHKAN PONSELNYA! SEKARANG!"

​Ternyata, Satria telah memasang pelacak di mantel pelayan yang kupakai. Devan tidak menungguku; ia mengikuti sinyal itu dengan kegilaan yang menakutkan.

​Bima terkepung. Ia menatap ke sekeliling dengan mata yang liar. Ia menyadari bahwa permainannya telah berakhir. Namun, bukannya menyerah, ia justru tertawa histeris. Ia mengangkat botol kecil berisi cairan ungu dari masa lalu itu.

​"Jika aku tidak bisa memilikimu, Anya... maka tidak ada yang bisa!"

​Bima melemparkan botol itu ke arahku. Devan melompat untuk menangkapnya, namun botol itu pecah di lantai, mengeluarkan uap ungu yang berbau tajam dan memabukkan.

​"Semuanya keluar! Gas beracun!" teriak Satria.

​Devan menyambar tubuhku, menutup hidungku dengan jaketnya, dan menyeretku keluar dari gudang tepat sebelum api yang entah dari mana muncul—mungkin dari kabel listrik yang sengaja dirusak Bima—melalap seluruh isi gudang tersebut.

​Kami jatuh tersungkur di atas ilalang yang basah. Di belakang kami, gudang itu terbakar hebat, menghanguskan semua sisa barang Ibu, buku harian itu, dan mungkin Bima yang menolak untuk keluar dari sana.

​Aku terisak di pelukan Devan. "Semuanya hilang, Van... buku harian Ibu... semuanya terbakar..."

​Devan memegang wajahku, ia tidak peduli pada jelaga yang menutupi wajahnya atau luka di bahunya. "Tidak, Anya. Bukunya boleh hilang, tapi kebenarannya sudah ada di sini," ia menyentuh keningku. "Dan kau masih bernapas. Itu sudah cukup bagiku."

​Di tengah kobaran api yang menerangi langit malam Kusuma Garden, aku menyadari satu hal. Kaset rusak di kepalaku kini benar-benar telah hancur, namun bukan digantikan oleh kekosongan. Ia digantikan oleh keheningan yang damai. Aku tidak lagi butuh rekaman masa lalu untuk tahu siapa aku.

​Aku adalah Anya. Dan aku dicintai oleh pria yang menolak untuk membiarkanku menjadi elegi orang lain.

​Namun, saat aku menatap reruntuhan yang terbakar, sebuah bayangan memori terakhir muncul—memori tentang saat Ibu membisikkan sandi terakhir yang sebenarnya bukan untuk kotak musik, melainkan untuk sebuah brankas di bank Swiss yang tidak pernah diketahui Ayah.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. KAMAR TIDUR ANYA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana sangat sunyi. IBU ANYA (Melati) duduk di tepi tempat tidur Anya yang sedang pura-pura tidur. Melati terlihat sangat pucat, tangannya gemetar saat ia memegang sebuah kalung dengan liontin kunci kecil.

​IBU ANYA

(Berbisik, air mata menetes ke pipi Anya)

"Anya, sayang... jika suatu hari nanti Ibu tidak ada lagi, dan Ayah memberikanmu obat yang aneh... ingatlah lagu ini. Dan ingatlah angka di balik foto pernikahan Ibu di ruang tamu. 0-7-1-2. Itu adalah tanggal di mana kau pertama kali tersenyum, bukan tanggal di mana mereka ingin kau lupa."

​Melati mengecup kening Anya dengan sangat lama, seolah-olah itu adalah kecupan terakhirnya.

​IBU ANYA (CONT'D)

"Jadilah wanita yang bebas, Anya. Jangan biarkan mereka mengubah suaramu menjadi sunyi."

​Anya kecil membuka matanya sedikit, melihat Ibunya berjalan keluar kamar menuju gudang belakang dengan wajah yang penuh determinasi.

​ANYA (V.O)

"Malam itu, Ibu tidak sedang menyerah. Dia sedang menyiapkan serangan balasan yang akan memakan waktu sepuluh tahun untuk meledak. Dan angka itu... 0-7-1-2... adalah kunci untuk menghancurkan seluruh ekosistem Dirgantara selamanya."

​Layar perlahan memudar menjadi warna putih bersih, diiringi suara sirene pemadam kebakaran yang perlahan mulai memudar, digantikan oleh suara napas Devan yang teratur di sampingku.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!