NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jejak di Jalan Setapak

Tiga hari berjalan kaki dari Hutan Bisu menuju Sekte Langit Pedang.

Xiao Chen tidak terburu-buru. Setiap langkah yang ia ambil di atas tanah berdebu adalah latihan. Telapak kakinya yang telanjang—ia tidak pernah memiliki sepatu yang layak sebagai pelayan—kini merasakan setiap batu, setiap retakan, setiap akar pohon yang tersembunyi di bawah permukaan. Tulang punggungnya mengirimkan getaran-getaran kecil ke otaknya, menciptakan peta tiga dimensi dari dunia di bawah kakinya.

"Kau berjalan seperti orang tua," komentar Yue Que. Pedang patah itu kini terselip di balik jubah hitamnya, hanya gagangnya yang terlihat di atas bahu kanan.

"Aku sedang belajar," jawab Xiao Chen. "Leluhur Pertama bilang, Ras Dewa Patah tidak hanya bertarung dengan tangan. Kami bertarung dengan bumi di bawah kami."

"Benar. Tapi kau terlihat seperti petani yang baru belajar jalan setelah lumpuh."

"Hui tidak mengeluh."

Hui, yang berjalan di sampingnya, menoleh dan menggeram pelan—seolah setuju dengan Yue Que. Xiao Chen mendengus.

Mereka melanjutkan perjalanan. Jalan setapak ini dulunya sering ia lalui saat mengantar pesan antar paviliun. Tapi dulu, ia berjalan dengan kepala tertunduk, bahu membungkuk, mata hanya menatap tanah karena takut bertatapan dengan murid lain. Sekarang, ia berjalan dengan punggung tegak. Jubah hitamnya berkibar pelan. Matanya menatap ke depan, ke arah gunung tempat Sekte Langit Pedang berdiri.

Sore hari, mereka tiba di sebuah desa kecil di kaki gunung.

Desa Bambu Hijau. Tempat para petani yang menanam padi dan sayuran untuk memasok kebutuhan sekte. Xiao Chen ingat desa ini. Dulu, ia pernah diutus ke sini untuk mengambil beras. Saat itu, seorang anak desa melemparinya dengan batu, menertawakan jubah lusuhnya. Ia hanya diam dan berjalan pergi.

Sekarang, saat ia memasuki desa dengan jubah hitam dan serigala di sampingnya, orang-orang menyingkir. Bukan karena takut—tapi karena mereka tidak mengenalinya. Xiao Chen yang dulu adalah bayangan yang tidak dilihat siapa pun. Xiao Chen yang sekarang adalah sosok yang tidak bisa diabaikan.

Ia berhenti di depan sebuah warung teh kecil di pinggir desa. Seorang nenek tua—Nenek Lan—sedang menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir tanah liat. Ia mendongak, dan matanya yang keriput menyipit.

"Nak... kau dari mana? Wajahmu tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingatnya."

Xiao Chen duduk di bangku kayu. "Aku hanya pengelana, Nek. Boleh minta teh hangat?"

Nenek Lan mengangguk, menuangkan secangkir teh untuknya. Hui duduk di samping bangku, menatap nenek itu dengan mata merah yang tenang.

"Serigalamu jinak," komentar Nenek Lan.

"Dia bukan serigala biasa."

Nenek Lan tertawa kecil. "Di desa ini, tidak ada yang biasa. Semua orang hanya petani. Tapi kami hidup di bawah bayangan Sekte Langit Pedang. Itu sudah cukup membuat hidup kami tidak biasa." Ia meletakkan cangkir di depan Xiao Chen. "Kau mau ke sekte, Nak?"

Xiao Chen menyesap tehnya. Hangat. Pahit sedikit. Seperti kenangan. "Ya, Nek. Ada urusan."

"Hati-hati. Beberapa hari ini, suasana di sekte tidak enak. Murid-murid yang biasanya turun ke desa untuk membeli anggur, sekarang tidak muncul. Ada yang bilang, sekte sedang bersiap menghadapi sesuatu."

Xiao Chen meletakkan cangkirnya. "Menghadapi apa?"

Nenek Lan mencondongkan tubuhnya, berbisik. "Katanya, ada iblis dari Hutan Bisu yang akan menyerang. Tapi aku tidak percaya. Hutan Bisu sudah ada sejak aku kecil. Tidak pernah ada iblis di sana. Hanya pohon-pohon tua dan binatang buas." Ia menggeleng. "Tapi sekte butuh musuh. Mereka selalu butuh musuh. Kalau tidak ada musuh, bagaimana mereka membuktikan bahwa mereka kuat?"

Xiao Chen terdiam. Kata-kata nenek tua itu lebih tajam dari pedang.

"Terima kasih untuk tehnya, Nek." Ia bangkit, meletakkan sekeping koin tembaga di meja—sisa dari upah terakhirnya sebagai pelayan yang masih ia simpan.

"Nak," panggil Nenek Lan saat ia beranjak. "Wajahmu... aku ingat sekarang. Kau anak yang dulu datang mengambil beras. Yang dilempari batu oleh cucuku."

Xiao Chen berhenti.

"Cucuku sudah pergi. Dia diterima sebagai murid luar di sekte. Tapi dia tidak pernah pulang. Tidak pernah mengirim kabar." Suara Nenek Lan bergetar. "Kalau kau bertemu dia di sana... jangan sakiti dia. Dia hanya anak bodoh yang tidak tahu apa-apa."

Xiao Chen menoleh. "Siapa namanya?"

"Lin Er."

Xiao Chen tersentak. Lin Er. Anak pelayan yang membawakannya nasi dan dupa di tepi jurang. Satu-satunya orang di sekte yang peduli padanya.

"Dia bukan anak bodoh, Nek. Dia anak yang baik. Dan aku berjanji... aku tidak akan menyakitinya."

Nenek Lan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak mengerti kenapa pemuda berjubah hitam ini berbicara seolah mengenal cucunya. Tapi ia merasakan sesuatu dalam suara itu—ketulusan yang langka.

"Hati-hati di jalan, Nak."

Xiao Chen mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan.

---

Malam harinya, ia berkemah di lereng gunung. Api unggun kecil menyala, memantulkan bayangan menari-nari di wajahnya. Hui tidur melingkar di sampingnya. Yue Que tergeletak di pangkuannya.

"Lin Er," kata pedang itu. "Kau mengenalnya?"

"Dia satu-satunya yang menganggapku manusia saat aku menjadi pelayan. Saat semua orang memandangku seperti sampah, dia memanggilku 'Kakak Xiao Chen'."

"Dan kau akan membiarkannya hidup. Bahkan jika dia berdiri di pihak sekte."

"Dia tidak akan berdiri di pihak sekte. Dia hanya anak kecil yang terjebak di tempat yang salah."

"Kau mulai memikirkan orang lain. Itu bisa menjadi kelemahan."

"Atau kekuatan." Xiao Chen menatap api. "Leluhur Pertama bertarung sendirian melawan Surga dan kalah. Mungkin karena dia tidak punya siapa-siapa yang membantunya memikul beban."

Yue Que tidak menjawab.

Xiao Chen memejamkan mata, membiarkan Pernapasan Tulang bekerja dengan sendirinya. Retakan di punggungnya kini lebih stabil. Dua hari tanpa pertarungan memberinya waktu untuk beradaptasi. Energi Chaos mengalir lebih lancar, lebih terkendali.

Besok, ia akan tiba di gerbang sekte.

Dan segalanya akan berubah.

---

Di Sekte Langit Pedang, malam yang sama.

Zhao Ling'er berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan yang sama yang dilihat Xiao Chen. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin giok kecil—hadiah dari kakeknya saat ia masih kecil. Liontin itu berbentuk sepasang burung yang terbang berdampingan.

"Ling'er," suara kakeknya terngiang di ingatannya. "Aku menjodohkanmu dengan Xiao Chen bukan karena dia kuat atau kaya. Tapi karena aku melihat hatinya. Di dunia persilatan yang kejam, hati yang tulus adalah harta paling langka. Jangan sia-siakan dia."

Zhao Ling'er menggenggam liontin itu erat-erat.

"Aku sudah menyia-nyiakannya, Kakek," bisiknya pada angin malam. "Aku membuangnya ke jurang."

Air mata jatuh di atas giok hijau itu. Tapi tidak ada yang melihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!