Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Pagi itu terasa berbeda bagi Aira. Udara yang masuk dari jendela kamarnya seharusnya segar, tapi justru terasa menyesakkan. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponselnya yang masih menampilkan riwayat panggilan terakhir dengan ibunya.
Keinginan untuk kembali bekerja di perusahaan itu sudah ia bulatkan. Bukan tanpa alasan. Di sana ada Ayunda, Desi… dan juga Bima.
Namun, semua itu langsung runtuh saat ibunya mengetahui niat tersebut.
“Ibu tidak salah dengar, kan?” suara ibunya terdengar tegas di ujung telepon tadi. “Kamu ingin kembali ke perusahaan itu?”
Aira sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan, “Iya, Bu…”
Hening sesaat. Lalu tiba-tiba layar ponselnya berubah menjadi panggilan video.
Aira terkejut, tapi tetap menerimanya.
Wajah ibunya langsung muncul di layar. Tatapan wanita itu tajam, penuh kekhawatiran yang tidak disembunyikan sedikit pun.
“Kamu serius?” tanya ibunya lagi, suaranya lebih dalam, lebih menekan. “Kamu ingin kembali ke tempat yang sudah menghina kamu? Tempat yang membuat kamu hampir kehilangan nyawa?”
Aira menunduk. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata yang keluar.
Ibunya menghela napas panjang, seolah mencoba menahan emosi yang mulai meluap.
“Ibu tidak mau melihat kamu terluka lagi, Aira.”
Nada suaranya kali ini lebih lembut, tapi justru terasa lebih menyakitkan.
Aira menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, semua yang dikatakan ibunya benar. Tidak ada yang salah. Tapi entah kenapa, hatinya tetap menolak.
“Ibu bisa bantu kamu cari pekerjaan lain,” lanjut ibunya. “Ibu punya kenalan. Banyak. Kamu tidak perlu kembali ke tempat itu.”
Aira mengangkat wajahnya sedikit, menatap layar. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ragu.
“Bu… aku…” suaranya pelan.
Ibunya langsung menyela, “Kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Serahkan ke Ibu.”
Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Tapi justru membuat dada Aira semakin sesak.
Ia tidak ingin pekerjaan lain.
Ia ingin kembali ke sana.
“Aku…” Aira menarik napas. “Aku ingin tetap di perusahaan itu, Bu.”
Tatapan ibunya langsung berubah. Lebih tajam dari sebelumnya.
“Kenapa?” tanya ibunya singkat.
Aira terdiam lagi. Ia tidak mungkin mengatakan semuanya. Tidak mungkin mengatakan bahwa alasan terbesarnya adalah Bima.
Tapi ia juga tidak bisa berbohong sepenuhnya.
“Ada Ayunda… sama Desi…” jawabnya akhirnya.
Ibunya masih menatapnya, seolah mencari sesuatu yang disembunyikan.
“Cuma itu?”
Aira ragu.
“…dan…” ia menelan ludah. “Bima juga di sana.”
Nama itu langsung membuat suasana berubah.
Ekspresi ibunya mengeras.
“Ibu sudah tahu,” katanya pelan, tapi jelas. “Dia direktur di perusahaan itu.”
Aira menunduk lagi.
“Ibu tidak mau kamu berurusan lagi dengan dia.”
Nada suara itu tidak memberi ruang untuk dibantah.
“Tapi Bu—”
“Tidak, Aira.” Kali ini ibunya memotong dengan tegas. “Cukup.”
Aira mengepalkan tangannya. Ia ingin melawan. Ingin menjelaskan. Ingin memohon lebih keras.
Tapi kata-kata ibunya seperti tembok yang tidak bisa ditembus.
“Kamu akan menerima bantuan Ibu,” lanjut ibunya. “Ibu akan carikan kamu pekerjaan yang lebih baik. Tempat yang tidak akan menyakiti kamu.”
Aira menutup matanya sejenak.
Ia tahu, jika ia terus memaksa sekarang, hasilnya tidak akan berubah. Mungkin justru akan memperburuk keadaan.
Akhirnya, dengan berat hati, ia mengangguk.
“Iya, Bu…”
Wajah ibunya sedikit melunak.
“Bagus,” katanya. “Ibu akan hubungi beberapa orang hari ini.”
Aira hanya bisa tersenyum tipis, meski hatinya terasa kosong.
“Ibu harus masuk kelas sekarang,” lanjut ibunya. “Nanti Ibu kabari lagi.”
“Iya, Bu… hati-hati.”
Panggilan itu berakhir.
Dan ruangan itu kembali sunyi.
Aira menatap layar ponselnya yang kini gelap. Refleksi wajahnya terlihat samar di sana. Wajah yang tampak kehilangan arah.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Kenapa jadi begini…” gumamnya pelan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Pikirannya kacau.
Ia tidak bisa kembali ke perusahaan itu.
Tidak bisa bertemu Ayunda setiap hari.
Tidak bisa bercanda dengan Desi.
Dan… tidak bisa melihat Bima.
Nama itu kembali muncul di kepalanya.
Tanpa sadar, Aira meraih ponselnya lagi.
Ia membuka kontak Ayunda.
Jempolnya sempat berhenti di layar.
Haruskah ia meminta nomor Bima?
Ia ingin menjelaskan. Ingin memberi tahu bahwa ia tidak bisa kembali karena ibunya tidak mengizinkan.
Tapi…
Aira teringat sesuatu.
Ucapan Bima semalam.
“Aku tidak akan menyerah untuk balikan sama kamu.”
Kalimat itu terngiang jelas.
Entah kenapa, justru membuat dadanya terasa hangat.
Aira menatap langit-langit kamarnya.
“Kalau dia saja tidak menyerah…” bisiknya.
Ia duduk perlahan.
“Aku juga tidak boleh menyerah.”
Ada tekad kecil yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Ia belum selesai.
Ia masih bisa mencoba lagi.
“Siang nanti…” gumamnya. “Aku akan bicara lagi sama Ibu.”
Tapi setelah itu, ekspresinya kembali ragu.
“Caranya gimana…”
Aira menghela napas panjang.
Seharian itu ia habiskan dengan berpikir.
Mencari alasan.
Menyusun kata-kata.
Membayangkan berbagai kemungkinan.
Tapi tidak ada satu pun yang terasa cukup kuat untuk meluluhkan hati ibunya.
Waktu berjalan cepat.
Tanpa terasa, sore pun tiba.
—
Di tempat lain, suasana berbeda terlihat di sebuah restoran mewah di pusat kota.
Bima duduk di salah satu meja, berhadapan dengan seorang wanita berpenampilan elegan.
Julia.
Seorang model yang cukup dikenal.
Ia sedang berbicara panjang lebar, tangannya sesekali bergerak untuk menekankan ceritanya.
“…dan kemarin itu benar-benar kacau, kamu tidak akan percaya…” ujar Julia dengan antusias.
Sementara itu, Bima hanya duduk diam.
Tatapannya kosong, pikirannya jelas tidak berada di tempat itu.
Ia mendengar suara Julia, tapi tidak benar-benar mendengarkan.
Pikirannya dipenuhi oleh satu hal.
Aira.
Bagaimana kondisi Aira sekarang?
Apakah ia baik-baik saja?
Apakah ia sudah memutuskan untuk kembali?
Bima menghela napas pelan.
Ia tahu satu hal.
Ia tidak bisa terus seperti ini.
Perjodohan ini…
Harus diakhiri.
Ia tidak memiliki perasaan apa pun untuk Julia.
Dan ia tidak ingin terus menjalani hubungan yang tidak ia inginkan.
Ia ingin memperkenalkan Aira pada ibunya.
Ia ingin semuanya jelas.
Ia ingin…
“Bima.”
Suara itu tiba-tiba memotong lamunannya.
Tepukan ringan di tangannya membuatnya tersadar.
Bima langsung menoleh.
“Maaf,” katanya singkat. “Aku lagi kepikiran sesuatu.”
Julia tersenyum tipis.
“Kamu dari tadi diam saja,” katanya. “Ada masalah?”
Bima berpikir sejenak.
Lalu mengangguk.
“Sedikit urusan kantor.”
Julia tampak memahami.
“Oh… ya sudah,” katanya santai. “Kalau mau cerita, aku dengar kok.”
Bima menatapnya beberapa detik.
Lalu, tanpa banyak berpikir, ia mulai berbicara.
“Jadi… sekarang perusahaan lagi fokus ke pengembangan produk baru,” ujarnya.
Julia berkedip.
“Hmm…”
“Dan ada beberapa kendala di operasional. Terutama di bagian distribusi dan efisiensi biaya.”
Julia tetap diam.
Bima melanjutkan, seolah benar-benar sedang presentasi.
“Kita juga lagi evaluasi sistem kerja tim. Supaya lebih efektif dan tidak ada pemborosan sumber daya.”
Beberapa detik berlalu.
Julia masih diam.
Tatapannya mulai kosong.
“…dan kemungkinan kita akan melakukan restrukturisasi kecil di beberapa divisi,” lanjut Bima tanpa sadar.
Akhirnya, Julia mengangkat tangan sedikit.
“Tunggu.”
Bima berhenti.
Julia menatapnya dengan ekspresi datar.
“Aku tidak mengerti apa pun dari yang kamu bilang.”
Hening.
Bima berkedip.
Lalu menyadari sesuatu.
“…oh.”
Julia menghela napas pelan.
“Aku kira kamu mau cerita masalah pribadi.”
Bima terdiam sejenak.
Masalah pribadi.
Ya, sebenarnya itu yang ada di pikirannya.
Tapi entah kenapa, yang keluar justru laporan perusahaan.
“Maaf,” katanya singkat.
Julia tersenyum tipis, meski terlihat sedikit canggung.
“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Setidaknya sekarang aku tahu kamu benar-benar sibuk.”
Bima hanya mengangguk.
Percakapan itu kembali hening.
Tapi kali ini, keheningan itu terasa lebih jelas.
Lebih nyata.
Dan di dalam pikirannya, satu nama tetap mendominasi.
Aira.
Sementara di tempat lain, gadis itu masih duduk di kamarnya, menatap ponsel dengan penuh keraguan.
Dua orang.
Dua tempat.
Dengan satu pikiran yang sama.
Belum ada yang menyerah.
Dan cerita mereka jelas belum selesai.