NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Baru Diasrama Barat

Episode 7

Suara lonceng perunggu bergema jauh di kejauhan, menandakan fajar telah menyingsing di atas Kota Hijau. Reno terbangun di atas kasur jerami asramanya. Ia tidak langsung melompat berdiri. Sebaliknya, ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari balok kayu tua selama beberapa saat.

Ingatannya melayang kembali ke masa lalunya sebagai Arka. Di sana, setiap pagi ia akan terbangun oleh aroma parfum mahal dari istri-istri yang berebut perhatian. Di sini, yang ia hirup hanyalah bau debu, bau lapuk kayu, dan aroma samar dari ramuan binatang yang tercium dari jendela.

Aneh, batin Reno sambil tersenyum tipis. Kasur ini keras, kamarnya sempit, tapi aku tidur lebih nyenyak daripada saat aku tidur di atas kasur sutra seharga ratusan juta dulu.

"Manusia, kau sudah bangun? Cepat beri aku makan! Energi dari daging sapi kemarin sudah habis terserap!" Suara Nidhogg yang serak dan sombong langsung memenuhi kepalanya.

Reno menghela napas. Ia merogoh kantong bajunya yang diletakkan di samping bantal. "Kau ini benar-benar tidak punya sopan santun. Setidaknya katakan selamat pagi atau apa."

"Selamat pagi adalah untuk makhluk lemah yang takut tidak melihat hari esok. Aku adalah naga abadi, waktu bagiku hanyalah debu!" Nidhogg merayap keluar, warna merah di tubuhnya kini terlihat lebih cerah setelah menyerap energi Reno semalaman.

Reno bangkit dan mulai melakukan beberapa gerakan peregangan. Ia menyadari bahwa tubuh remajanya sekarang jauh lebih padat. Setiap kali ia menggerakkan lengan, otot ototnya terasa kenyal dan berisi. Ini adalah efek dari Meditasi Inti yang diajarkan Nidhogg.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Seorang pemuda bertubuh agak gempal dengan kacamata tebal masuk membawa nampan berisi dua mangkuk bubur encer. Dia adalah Dito, teman sekamar Reno yang baru ia temui tadi malam saat ia sudah hampir terlelap.

"Oh, Reno! Kau sudah bangun?" sapa Dito dengan ramah, meski tangannya sedikit gemetar memegang nampan. "Aku... aku sengaja mengambilkan sarapan untuk kita. Di kantin sangat ramai, orang-orang masih membicarakan mu."

Reno menerima satu mangkuk bubur itu. "Terima kasih, Dito. Kau tidak perlu repot-repot."

Dito duduk di tempat tidurnya yang berada di seberang Reno. Ia menatap Nidhogg yang sedang melingkar di bahu Reno dengan tatapan ngeri sekaligus kagum. "Jadi... itu binatang kontrakmu? Cacing yang menghancurkan batu obsidian itu?"

"Iya. Namanya Nidhogg," jawab Reno santai sambil menyuap bubur. Rasanya hambar, tapi cukup untuk mengisi perut.

"Luar biasa..." Dito mendekat sedikit, menyesuaikan kacamatanya. "Aku mendaftar dengan Kelinci Pengendus. Dia hanya bisa mencari jamur di hutan, tidak bisa bertarung sama sekali. Aku hampir tidak lulus kalau saja nilai energi mentalku tidak pas-pasan di batas bawah."

Reno memperhatikan Dito. Pemuda ini tampak jujur dan tidak punya niat jahat. Di tempat seperti akademi ini, memiliki teman yang bisa dipercaya sangatlah penting.

"Jangan berkecil hati, Dito. Di dunia penjinak, tidak semua hal tentang bertarung. Kelinci pengendus bisa sangat berguna untuk mencari bahan obat langka. Itu adalah bisnis yang sangat besar," ucap Reno, menggunakan logikanya sebagai mantan pengusaha.

Mata Dito berbinar. "Benarkah kau berpikir begitu? Semua orang di desaku menertawakan ku karena aku laki-laki tapi menjinakkan kelinci."

"Abaikan mereka. Yang penting adalah bagaimana kau mengembangkan potensinya," Reno menepuk bahu Dito.

"Hmph, kelinci? Itu hanya camilan satu kali suap bagiku," Nidhogg berkomentar pedas di pikiran Reno. Reno hanya membalasnya dengan tatapan tajam agar cacing itu diam.

Setelah sarapan, mereka berdua segera bersiap menuju aula utama untuk mengikuti kelas pertama. Reno mengenakan seragam magang akademi yang baru dibagikan semalam, jubah hijau pucat dengan lambang elang kecil di lengan kiri.

Sepanjang perjalanan menuju aula, Reno kembali menjadi pusat perhatian. Siswa-siswa lain berbisik-bisik saat ia lewat.

"Lihat, itu si Penjinak Cacing."

"Jangan dekat-dekat, kudengar cacingnya punya racun yang bisa menghancurkan batu."

"Tampang desa, tapi sombong sekali."

Reno mengabaikan semua itu. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah rombongan menghalangi jalan mereka di koridor utama. Itu adalah Bagas dan tiga orang pengikutnya. Bagas tampak lebih rapi dengan jubah yang disesuaikan khusus, menunjukkan kekayaannya.

"Minggir, Reno. Orang desa seharusnya lewat pintu belakang, bukan koridor utama asrama," ucap salah satu pengikut Bagas, seorang pemuda kurus bernama Rian.

Dito gemetar di samping Reno, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maaf, permisi... kami mau lewat..."

Reno tidak menunduk. Ia menatap Bagas tepat di matanya. "Koridor ini dibangun untuk semua murid akademi. Jika kau merasa koridor ini terlalu sempit untukmu, mungkin kau harus berjalan di atas atap."

Wajah Bagas mengeras. "Kau masih berani bermulut besar setelah kemarin hanya mengandalkan keberuntungan? Hari ini adalah kelas Energi Mental. Instruktur Raka sangat tegas. Dia tidak peduli seberapa keras kulit binatang mu. Jika jiwamu lemah, kau akan didepak dari kelasnya di jam pertama."

"Kita lihat saja nanti," jawab Reno pendek. Ia menarik lengan Dito dan berjalan menabrak bahu Rian, terus melaju menuju aula tanpa menoleh lagi.

Aula kelas pertama sangat luas, berbentuk seperti stadion kecil dengan kursi penonton yang melingkar. Di tengah-tengah terdapat sebuah panggung pasir.

Seorang pria bertubuh kurus dengan rambut perak dan tatapan mata yang sangat dingin berdiri di tengah panggung. Dialah Instruktur Raka, seorang ahli penjinak yang dikenal karena metodenya yang kejam dalam melatih kekuatan mental muridnya.

"Duduk!" perintah Raka. Suaranya tidak keras, tapi mengandung getaran energi yang membuat semua orang merasa sesak napas selama sesaat.

Setelah semua siswa duduk dengan rapi, Raka mulai menjelaskan. "Di dunia ini, fisik binatang kontrakmu hanyalah lima puluh persen dari kekuatanmu. Lima puluh persen sisanya adalah Energi Mentalmu. Kenapa? Karena tanpa mental yang kuat, kau tidak akan bisa memerintah binatang mu saat mereka berada dalam tekanan atau amarah. Binatang mu akan berbalik memakan mu jika jiwamu lemah!"

Raka mengangkat tangan kanannya. Di atas telapak tangannya, muncul sebuah bola cahaya biru yang berputar putar.

"Hari ini, kita akan melakukan Tekanan Jiwa. Saya akan melepaskan aura mental saya ke seluruh ruangan. Tugas kalian sederhana, tetaplah duduk tegak dan jangan biarkan binatang kontrak kalian mengamuk atau ketakutan. Siapa yang pingsan atau binatangnya lari, silakan keluar dari kelas saya dan jangan kembali lagi."

Suasana kelas mendadak mencekam. Beberapa siswa mulai berkeringat dingin. Menghadapi tekanan mental dari seorang ahli adalah siksaan yang luar biasa bagi pemula.

"Mulai!"

BOOM!

Sebuah gelombang energi yang tak terlihat namun terasa sangat berat menghantam seluruh ruangan. Reno merasa seperti ada sebuah gunung tak kasat mata yang diletakkan di atas bahunya. Oksigen di sekitarnya terasa menipis.

Di sampingnya, Dito langsung pucat pasi. Kelinci di dalam pelukan Dito mulai meronta-ronta ketakutan, mencoba melompat keluar.

"Tahan, Dito! Fokus pada napas mu!" bisik Reno.

Reno sendiri merasa tekanan ini sangat familiar. Tekanan mental ini mirip dengan stres yang ia alami saat perusahaannya dulu di ambang kebangkrutan, atau saat sepuluh istrinya berteriak menuntut harta secara bersamaan. Secara tidak sadar, jiwa Arka yang sudah terlatih menghadapi tekanan hidup yang berat mulai bereaksi.

"Hah? Hanya ini?" Nidhogg merayap naik ke kepala Reno, berdiri tegak menghadapi aura Instruktur Raka. "Manusia ini mencoba menekan naga kuno dengan aura murahan seperti ini? Benar-benar penghinaan!"

"Nidhogg, jangan melawan balik! Tetaplah diam atau dia akan curiga!" perintah Reno dalam hati.

Nidhogg mendengus, namun ia tetap diam. Meski begitu, kehadiran Nidhogg di tubuh Reno justru menjadi perisai alami. Sebagian besar tekanan mental yang ditujukan pada Reno justru dimakan oleh Nidhogg sebagai camilan ringan.

Satu per satu siswa mulai tumbang.

"Aaaakh!" seorang siswa berteriak dan jatuh pingsan dari kursinya.

"Tidak! Kembali!" siswa lain berteriak saat kucing kontraknya lari tunggang langgang menabrak dinding aula.

Instruktur Raka terus meningkatkan tekanannya. Matanya menyapu ruangan, mencari siapa saja yang masih bertahan. Ia terhenti saat melihat Reno. Pemuda desa itu duduk tegak dengan ekspresi datar, seolah olah tekanan itu hanyalah angin sepoi-sepoi.

Menarik. Anak ini tidak hanya punya binatang kontrak yang aneh, tapi jiwanya sangat stabil, batin Raka.

Di sisi lain, Bagas tampak kesulitan. Serigala di sampingnya terus menggeram rendah dan gemetar. Bagas harus mencengkeram leher serigalanya agar tetap diam. Keringat membanjiri wajah Bagas, matanya memerah menahan beban.

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, Raka menurunkan tangannya. Tekanan itu hilang seketika.

Hampir setengah dari murid di kelas itu sudah tergeletak di lantai atau pingsan. Dito masih bertahan, meski ia terengah-engah seperti baru saja berlari maraton.

"Cukup," ucap Raka dingin. "Kalian yang masih bisa duduk tegak, kalian lulus tes pertama. Kalian yang gagal, silakan angkut binatang kalian dan keluar."

Bagas mengatur napasnya, menatap Reno dengan penuh ketidakpercayaan. Bagaimana bisa Reno terlihat begitu santai sementara ia sendiri hampir pingsan?

"Reno... kau... kau benar-benar monster," bisik Dito sambil mengusap keringat di kacamatanya.

Reno hanya tersenyum tipis. "Aku hanya terbiasa menghadapi tekanan, Dito. Itu saja."

Pelajaran dilanjutkan dengan teori tentang bagaimana cara menyatukan energi mental dengan binatang kontrak melalui mediator bernama Batu Fokus. Raka membagikan batu-batu kecil berwarna abu-abu kepada setiap siswa.

"Pegang batu ini. Cobalah alirkan energi pikiran kalian ke binatang kalian melalui batu ini. Rasakan apa yang mereka rasakan. Jika kalian berhasil, batu ini akan berubah warna sesuai dengan elemen binatang kalian."

Reno memegang batu itu. Ia memejamkan mata dan mencoba masuk ke dalam pikiran Nidhogg.

BZZZT!

Begitu pikiran Reno bersentuhan dengan jiwa Nidhogg, Reno merasa seperti ditarik ke dalam sebuah ruang hampa yang gelap gulita. Di sana, ia melihat sepasang mata merah raksasa yang menatapnya dengan penuh nafsu memangsa. Itu adalah bentuk asli jiwa Nidhogg yang terperangkap.

"Kau ingin masuk ke pikiranku, Manusia? Kau belum siap melihat kegelapan yang sesungguhnya!" suara Nidhogg menggelegar di ruang bawah sadarnya.

Reno tidak gentar. "Aku tidak ingin menguasai mu, Nidhogg. Aku ingin bekerjasama. Sekarang, beri aku sedikit warna yang aman untuk batu ini!"

Setelah pergulatan mental sejenak, Nidhogg akhirnya memberikan sedikit energi gelap yang sudah dilemahkan.

Batu di tangan Reno perlahan berubah warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan sedikit asap dingin.

Instruktur Raka berjalan mendekat, melihat batu Reno. "Hitam? Elemen kegelapan atau penghancur? Sangat langka untuk binatang tingkat rendah seperti cacing."

"Mungkin karena dia tinggal di bawah tanah yang gelap, Tuan," Reno memberikan alasan klise.

Raka tidak menjawab, namun ia mencatat sesuatu di bukunya. Pelajaran berakhir sore itu, meninggalkan Reno dengan banyak informasi baru tentang potensi dunia ini.

Saat Reno dan Dito berjalan keluar aula, Reno menyadari satu hal. Dunia penjinak binatang ini jauh lebih rumit dari sekadar pertarungan otot. Ini adalah tentang penyatuan jiwa. Dan ia memiliki jiwa naga kuno di sisinya.

"Dito, besok kita harus pergi ke perpustakaan akademi," ucap Reno tiba-tiba.

"Perpustakaan? Untuk apa?" tanya Dito bingung.

"Aku perlu mencari tahu lebih banyak tentang jenis-jenis cacing di dunia ini. Aku perlu membuat 'sampul' yang lebih meyakinkan untuk Nidhogg sebelum orang-orang seperti Raka mulai menggali lebih dalam."

Reno menatap matahari yang mulai tenggelam. Hidupnya di akademi baru saja dimulai, dan ia sudah berada di bawah radar para guru. Ia harus bergerak sangat hati-hati, karena selangkah saja salah, rahasia reinkarnasinya dan keberadaan naga pemusnah bisa membawa malapetaka bagi dirinya dan orang tuanya di desa.

Satu per satu, bidak catur mulai bergerak. Dan Reno, sang mantan miliarder yang lelah, kini mulai menikmati permainan hidup dan mati yang baru ini.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!