Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34: KEKAGUMAN YANG MANUSIAWI
“Ya Allah... ampuni hamba. Hamba tidak pantas mencintai siapapun sebelum mencintai-Mu sepenuhnya. Hamba tidak pantas merindukan siapapun sebelum merindukan surga-Mu. Hamba tidak pantas memikirkan siapapun sebelum memikirkan ridha-Mu."
—Muhammad Nero Vane Akbar.
---
03.00 WIB – Paviliun di Belakang Rumah Oma
Dingin desa menusuk hingga ke sumsum.
Nero membuka mata dalam kegelapan. Dari balik jendela paviliun, angin malam membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Suara jangkrik terdengar ritmis, seperti metronom alami yang mengatur irama malam.
Ia meraih ponsel di samping bantal.
03.00.
Tepat.
Di Yaman, ia terbiasa bangun jam segini. Tidak sulit. Bahkan ia rindu. Karena di jam-jam seperti inilah langit paling dekat dengan doa.
Nero duduk di tepi kasur. Paviliun kecil peninggalan kakek itu sederhana: dinding kayu, lantai semen, satu kipas angin tua yang berputar pelan. Tapi baginya, ini lebih mewah dari hotel bintang lima mana pun.
Ia melangkah ke kamar mandi.
Air dingin mengalir membasahi wajah, tangan, dan kaki. Ia berwudhu dengan perlahan. Bukan karena takut salah, tapi karena ingin meresapi setiap tetes.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Setelah wudhu, ia berdiri di atas sajadah.
Takbir.
Allahu Akbar.
Nero memulai shalat tahajjud. Dua rakaat, empat rakaat, lalu witir tiga rakaat. Ia bacakan surat-surat panjang Al-Waqi'ah, Al-Mulk, Ar-Rahman. Dengan tartil yang ia pelajari di Tarim.
Lantunannya mengalun pelan, tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan. Hanya cukup untuk didengar oleh dinding kayu dan malaikat yang mencatat.
Nero menikmati setiap ayat. Lidahnya fasih. Hatinya tenang.
Sampai...
Setelah shalat, Nero duduk bersila. Waktu menunjukkan pukul 03.45. Ia masih punya waktu satu jam sebelum subuh.
"Baiklah, ulang hafalan Al-Waqi'ah lagi," pikirnya.
Ia memejamkan mata.
“Bismillahirrahmanirrahim…”
“Idza waqa’atil waqi’ah…”
“Laisa liwaq’atiha kadzibah…”
“Khafidhatur rafi’ah…”
“Idza rujjatil ardhu rajja…”
Lalu... blank.
Nero mengernyit.
Ayat selanjutnya? "Wa bussatil jibalu bassa..."
Atau "Fa kaana habaa'an munbatsa..."?
Ia membuka mata. Menutup lagi. Mencoba fokus.
Tapi yang muncul di pelupuk matanya bukan deretan huruf hijaiyah.
Bukan baris demi baris ayat suci.
Bukan wajah gurunya di Tarim.
Melainkan senyum tipis Ainun.
Di depan masjid. Sore tadi.
Saat Oma bertanya, "Sudah pantas belum jadi imam?"
Saat Ainun tertunduk, pipinya merah, bibir bawahnya tergigit.
Saat Nero merasa dunia berhenti berputar.
Flashback.
Nero melihat bayangan itu dengan sangat jelas. Khimar cokelatnya yang tertiup angin. Tatapan teduhnya yang seperti sumur zamrud. Suaranya yang merdu saat mengucapkan, “Assalamu’alaikum, Mas Nero.”
Bahkan suaranya pun ia ingat.
Bahkan aroma anggreknya pun ia rasakan lagi.
Astagfirullah...
Nero mengusap wajahnya keras-keras.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim.
“Ya Allah,” bisiknya dalam kegelapan. “Hamba jauh-jauh ke Yaman buat bersihin hati. Belajar agama. Mengaji. Shalat. Puasa. Menahan diri. Tapi masa pulang-pulang... kalah sama bayangan satu perempuan?”
Ia menunduk. Dadanya naik turun.
“Ini ujian, Ro,” bisik hatinya. “Bukan kesalahan. Tapi ujian.”
Tapi tetap saja, Nero merasa bersalah.
Bukankah ia sudah berjanji pada Allah? Bukankah ia sudah bertekad untuk hijrah karena Allah, bukan karena makhluk? Bukankah ia sudah rela melepaskan Ainun... Benar-benar melepas dengan keyakinan bahwa kalau jodoh, tidak akan lari ke mana-mana?
Tapi kenapa hatinya masih bergelora seperti anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta?
“Karena kamu manusia, Ro,” sahut suara lain di kepalanya. “Dan manusia itu lemah.”
Nero menarik napas dalam. Ia merasa berdosa karena niatnya sempat goyah oleh kekaguman manusiawi. Menyadari egonya kembali "berasap", Nero segera berdiri lagi. Ia melaksanakan Shalat Taubat dua rakaat. Ia memohon agar hatinya tetap kokoh, agar cintanya pada Sang Pencipta tidak tergeser oleh makhluk-Nya, sekalipun makhluk itu seanggun Ainun.
...
Dan setelah itu, ia duduk.
Lagi.
Di sajadah yang sama.
Di paviliun yang dingin.
Di desa yang sunyi.
Tapi hatinya... hatinya terasa lebih ringan.
“Alhamdulillah,” bisiknya.