Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: SETELAH KEHANCURAN
Ledakan hening itu telah berlalu. Gelombang kejut energi yang membasuh seluruh penjuru alam semesta telah mereda, meninggalkan jejak kehangatan yang perlahan menghilang di udara.
Langit Elarion kembali utuh.
Gradasi warna ungu dan biru safir yang megah kembali menghiasi cakrawala, seolah-olah tidak pernah ada luka robek yang mengancam keberadaannya. Awan-awan putih yang sempat lenyap kini kembali bergulung lembut, membentang luas menjadi karpet yang empuk dan indah. Angin kosmik berhembus tenang, membawa aroma kesegaran yang baru.
Secara fisik, segalanya telah kembali seperti semula. Bahkan mungkin lebih baik, lebih kuat, dan lebih stabil setelah mengalami proses penyembuhan yang dahsyat.
Namun… ada sesuatu yang hilang.
Sesuatu yang tidak kasat mata, namun terasa begitu nyata dan menyakitkan, bagaikan sebuah ruang kosong yang besar di tengah hati mereka semua.
Di balkon kristal Istana Celestia, kebisuan memerintah. Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada sorak-sorai sukacita. Yang ada hanyalah deru napas yang tertahan dan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Elyndra berlutut di lantai yang dingin itu. Lututnya lemas, seolah seluruh tulang dan ototnya telah dikeluarkan dari tubuhnya. Tangannya gemetar hebat, menggenggam udara kosong di depannya, seolah masih berusaha meraih sosok yang baru saja lenyap di hadapan matanya sendiri.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya, jatuh menetes ke lantai kristal dan memantul menjadi butiran-butiran cahaya kecil.
“Dia…” suaranya pecah, tercekat oleh rasa sakit yang luar biasa. “Dia benar-benar…”
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Mengucapkannya berarti mengakui kenyataan pahit itu. Mengakui bahwa sahabatnya, saudara perempuannya, sosok yang selalu membawa kehangatan dan senyuman, benar-benar tidak ada lagi.
“Lenyap,” jawab Seraphel pelan.
Suara sang penjaga waktu terdengar berat dan serak. Ia berdiri tegak memandang langit yang kini bersih, namun matanya tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat hanyalah kekosongan. Sebagai makhluk yang menguasai waktu, ia tahu betul bahwa tidak ada mantra, tidak ada kekuatan, yang bisa memutar kembali detik-detik terakhir itu. Myrrha telah melepaskan seluruh eksistensinya. Tidak ada sisa. Tidak ada jenazah. Tidak ada arwah yang bisa dipanggil.
Ia telah menjadi bagian dari penutup itu sendiri.
Altharion menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rambut peraknya menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kesedihan yang tak terkira. Ia adalah pemimpin mereka, ia harus kuat, namun saat ini ia merasa begitu rapuh. Kemenangan yang mereka raih hari ini adalah kemenangan yang paling pahit dalam sejarah keberadaan mereka. Mereka menyelamatkan dunia, namun harga yang dibayar adalah nyawa salah satu dari mereka sendiri.
Di sudut lain ruangan, berdiri sosok yang berbeda.
Nyxarion.
Ia tidak berlutut. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri mematung, menatap titik di langit tempat cahaya emas itu terakhir kali bersinar sebelum menghilang.
Wajahnya yang biasanya datar, dingin, dan penuh perhitungan, kini menampakkan sesuatu yang asing. Sesuatu yang jarang sekali, atau bahkan tidak pernah, terlihat dari dirinya.
Matanya yang gelap dan tajam kini tampak kosong, namun di dalamnya terselip sebuah getaran halus. Sebuah keraguan. Sebuah rasa… sesal.
Ia yang menginginkan perubahan. Ia yang menginginkan pembersihan. Ia yang membuka jalan bagi kehancuran karena ia percaya bahwa dari kehancuran akan lahir sesuatu yang lebih sempurna.
Namun ia tidak pernah memperhitungkan ini.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa pengorbanan itu akan seindah dan sebesar ini. Ia mengira Nihilum akan menelan segalanya, menghapus yang lemah dan meninggalkan yang kuat. Ia tidak pernah menyangka bahwa ada satu sosok yang rela berdiri di hadapan kehampaan itu bukan dengan pedang, melainkan dengan pelukan.
“Aku tidak memperhitungkan itu…” bisik Nyxarion.
Suaranya sangat pelan, hampir tak terdengar, hilang terbawa angin. Namun kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya, sebuah pengakuan yang tulus dari kedalaman jiwanya. Rencananya, logikanya, ambisinya… semuanya runtuh di hadapan satu tindakan murni yang penuh kasih sayang.
Ia merasa kecil. Ia merasa bodoh. Selama ini ia berpikir bahwa kekuatan ada pada kehancuran, pada ketegasan, pada hukum besi yang dingin. Namun hari ini, ia disadarkan oleh kenyataan bahwa kekuatan yang paling dahsyat di alam semesta justru terletak pada kerelaan untuk memberi dan melepaskan.
Cahaya Myrrha tidak hanya menutup retakan di langit. Cahaya itu juga menembus masuk ke dalam kegelapan ter darkest yang ada di dalam hati Nyxarion sendiri.
“Dia mengalahkanmu, bukan dengan kekuatan,” kata Altharion tiba-tiba, suaranya memecahkan kebisuan. Ia menatap Nyxarion dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan, kekecewaan, namun juga pengampunan yang masih rapuh. “Dia mengalahkanmu dengan pengorbanan. Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti sepenuhnya, Nyxarion.”
Nyxarion tidak menjawab. Ia hanya menundukkan pandangannya, membiarkan kata-kata itu menancap seperti duri di dalam hatinya.
Di luar sana, langit benar-benar telah tenang. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, berkelap-kelip indah di atas kanvas ungu kebiruan. Dunia di bawah sana aman. Kehidupan akan terus berjalan. Pohon akan terus tumbuh, anak-anak akan terus tertawa, dan waktu akan terus berputar.
Itu semua adalah hadiah dari Myrrha.
Namun bagi para Seraph yang berdiri di sana, dunia tidak akan pernah sama lagi. Ada satu warna yang hilang dari pelangi mereka. Ada satu nada yang hilang dari simfoni kehidupan.
Mereka telah selamat dari kehancuran total. Mereka telah memenangkan pertempuran melawan Nihilum.
Namun harga yang harus dibayar… selamanya akan terukir di dalam hati mereka sebagai luka yang tidak akan pernah sembuh total, namun akan selalu menjadi pengingat akan arti cinta yang sesungguhnya.