Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dorongan dan Hati yang Sakit
Malam kembali menyelimuti Jakarta dengan kelembapan yang menyesakkan. Setelah makan siang yang canggung dengan Seraphina, suasana di dalam mobil menuju rumah terasa seperti ruang hampa udara. Leah duduk di kursi belakang, menatap bayangan lampu jalan yang melesat di kaca jendela, sementara Denzel fokus pada kemudi dengan kekakuan yang belum pernah Leah lihat sebelumnya. Punggung pria itu tampak seperti dinding beton yang tak tertembus.
Leah tahu ia telah melewati batas, namun rasa bersalahnya—rasa ingin "membebaskan" Denzel—jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan kemarahan pria itu. Ia melihat bagaimana Jeff Chevalier memperlakukan Denzel seperti pelayan rendahan tadi pagi di depan gerbang kampus, dan pemandangan itu terus menghantuinya.
"Denzel," panggil Leah, suaranya memecah kesunyian yang tajam.
"Iya, Nona Leah?" sahut Denzel. Panggilan "Nona" itu terdengar lebih formal dan berjarak dari biasanya.
"Tentang Sera tadi... kenapa kau begitu keras kepala? Dia gadis yang sangat baik. Dia tulus menyukaimu."
Denzel tidak segera menjawab. Ia membelokkan mobil memasuki area perumahan elit yang sepi. "Saya sudah memberikan jawaban saya di kafe tadi, Leah. Hidup saya bukan untuk diatur dalam urusan asmara oleh siapa pun."
"Aku tidak mengaturnya! Aku mencoba membantumu!" Leah mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya mencengkeram sandaran kursi Denzel. "Lihat dirimu, Denzel. Kau terjepit di antara kakakku yang sedang hancur dan Jeff yang gila kekuasaan. Kau menghabiskan seluruh waktumu untuk menjagaku, tapi siapa yang menjagamu? Siapa yang peduli kalau kau lelah atau kau ingin pulang ke rumah yang hangat?"
Denzel menginjak rem perlahan saat mobil sampai di depan gerbang rumah utama. Ia mematikan mesin, namun tidak segera turun. Ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu rumah yang megah namun terasa dingin.
"Saya tidak butuh dijaga, Leah," ucap Denzel, suaranya rendah dan sarat akan luka yang tertahan.
"Semua orang butuh seseorang, Denzel! Dan Sera adalah orang yang tepat. Dia tidak punya beban. Bersamanya, kau bisa menjadi pria biasa, bukan asisten yang selalu disuruh-suruh," Leah terus mendesak, suaranya bergetar karena emosi. "Cobalah berkencan dengannya. Hanya sekali. Berikan dirimu kesempatan untuk keluar dari bayang-bayang keluargaku. Ini ide yang bagus, Denzel. Aku yakin ini akan membuatmu lebih bahagia."
Denzel perlahan memutar tubuhnya, menatap Leah yang berada di kursi belakang. Dalam keremangan lampu kabin, mata Denzel tampak berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang membuat jantung Leah seolah berhenti berdetak. Pria yang selalu tampak seperti batu karang itu kini terlihat rapuh, seolah-olah satu sentuhan lagi akan membuatnya hancur berkeping-keping.
"Kenapa Anda begitu ingin saya pergi, Leah?" tanya Denzel. Suaranya pecah, hampir menyerupai bisikan yang menyakitkan.
"Aku tidak ingin kau pergi! Aku ingin kau... aku ingin kau bebas," Leah membela diri, meski hatinya mulai meragu.
"Bebas?" Denzel tertawa pahit, sebuah suara kering yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Anda menyarankan saya berkencan dengan sahabat Anda seolah-olah itu adalah resep obat untuk penyakit saya. Anda bicara tentang kebahagiaan saya, tapi tahukah Anda apa yang sebenarnya Anda lakukan?"
Leah terdiam, terpaku oleh intensitas tatapan Denzel.
"Anda sedang mendorong saya menjauh agar Anda tidak perlu merasa terbebani oleh keberadaan saya," lanjut Denzel. "Anda merasa bersalah karena Jeff menghina saya, jadi Anda ingin 'membuang' saya ke tangan Nona Seraphina agar Anda bisa merasa telah melakukan tugas Anda sebagai majikan yang baik. Anda melakukan ini untuk ketenangan pikiran Anda sendiri, bukan untuk saya."
"Itu tidak benar, Denzel! Aku memikirkanmu!"
"Jika Anda memikirkan saya, Anda akan tahu bahwa berdiri di belakang Anda adalah satu-satunya tempat di mana saya merasa hidup!" Denzel meledak, suaranya memenuhi kabin mobil yang sempit. Ia segera tersadar dan memalingkan muka, napasnya memburu. "Maafkan ketidaksopanan saya, Nona."
Hening kembali turun, namun kali ini jauh lebih berat. Leah merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan. Ia menyadari bahwa dorongannya selama ini bukan hanya melukai Denzel, tapi juga menghina kesetiaan pria itu. Namun, di saat yang sama, ia melihat Jeff Chevalier yang semakin hari semakin posesif. Ia tahu bahwa jika Denzel tetap "kosong", Jeff akan terus menjadikannya sasaran empuk.
"Denzel," Leah bicara lagi, kali ini lebih lembut, hampir memohon. "Mungkin kau benar, sebagian dari diriku ingin merasa tenang. Tapi aku bersumpah, aku melakukan ini karena aku takut. Aku takut melihatmu hancur karena aku. Jeff tidak akan berhenti merendahkanmu selama kau tidak punya 'kehidupan' sendiri. Jika kau bersama Sera, setidaknya kau punya perlindungan sosial. Kau akan punya alasan untuk menjauh saat suasana di rumah ini terlalu beracun."
Leah mengulurkan tangannya, ragu-ragu menyentuh bahu Denzel. "Cobalah, Denzel. Bukan sebagai asisten, tapi sebagai pria. Lakukan ini demi keamananku juga. Jika kau terlihat bahagia dengan Sera, Jeff mungkin akan melupakanmu sebentar. Tolong... lakukan ini sebagai permintaan terakhirku agar aku bisa bernapas lega."
Denzel merasakan sentuhan tangan Leah di bahunya. Sentuhan yang ia dambakan setiap malam, namun kini datang membawa pesan pengusiran. Ia merasakan hatinya sakit, sebuah rasa sakit yang murni dan tajam, lebih parah dari luka fisik mana pun yang pernah ia alami. Leah sedang memaksanya untuk mencintai orang lain demi "keamanan". Leah sedang menjadikannya tameng dalam bentuk yang paling tragis.
Denzel memejamkan matanya rapat-rapat. Ia membayangkan Seraphina—gadis manis yang tidak tahu apa-apa. Ia membayangkan kencan-kencan palsu yang harus ia jalani. Ia membayangkan bagaimana ia harus tersenyum pada orang lain sementara matanya akan selalu mencari Leah di setiap sudut ruangan.
Kau memintaku untuk mematahkan hatiku sendiri agar kau tidak merasa bersalah, Leah, batin Denzel.
"Jadi," suara Denzel terdengar kosong, seolah jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya, "Anda benar-benar ingin saya mencoba berkencan dengan Nona Seraphina? Anda percaya itu ide yang bagus?"
Leah menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat. "Iya. Itu ide yang sangat bagus, Denzel. Untuk semua orang."
Denzel mengangguk pelan, sebuah gerakan mekanis yang menandakan kepatuhan mutlak yang terakhir. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil tanpa kata lagi. Ia membukakan pintu untuk Leah, namun ia tidak menatap mata gadis itu. Ia hanya berdiri mematung, menatap kegelapan di balik pagar rumah.
Leah keluar dari mobil dengan perasaan yang berkecamuk. Ia merasa telah menang, namun kemenangan itu terasa seperti abu di mulutnya. Ia berjalan menuju rumah, namun langkahnya terasa berat. Ia ingin menoleh kembali pada Denzel, ingin membatalkan semua kata-katanya, tapi ia tetap berjalan lurus.
Denzel tetap berdiri di samping mobil yang masih hangat. Ia menatap jejak langkah Leah yang menghilang di balik pintu besar rumah utama. Ia menyadari bahwa mulai besok, hidupnya akan menjadi sebuah sandiwara besar. Ia akan menjadi kekasih Seraphina, ia akan melakukan semua hal yang diinginkan Leah, dan ia akan memastikan Leah "aman" dari rasa bersalahnya.
Namun, di dalam kegelapan lobi yang sunyi, Denzel Shaquille tahu bahwa hatinya baru saja menerima luka yang paling dalam. Leah tidak hanya mendorongnya ke pelukan orang lain; Leah baru saja merobek satu-satunya harapan yang membuat Denzel tetap berdiri tegak selama sepuluh tahun ini.
Denzel menarik napas dalam, menghirup udara malam yang dingin. Ia harus menyiapkan diri. Ia harus menghubungi Seraphina. Ia harus melakukan peran barunya dengan sempurna. Karena jika itu adalah cara Leah untuk tetap bisa bernapas, maka Denzel akan memberikan nyawanya—beserta seluruh perasaannya—untuk memastikan itu terjadi.
Malam itu, dorongan Leah telah membuahkan hasil, namun harga yang harus dibayar adalah hati yang sekarat di dalam diam.