Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin dalam Hati
Malam di Jakarta Pusat selalu terasa bising, namun di dalam kabin mobil sedan hitam yang dikendarai Denzel, keheningan terasa begitu pekat hingga suara napas pun terdengar seperti gangguan. Denzel mencengkeram kemudi dengan intensitas yang tidak biasa. Rahangnya masih mengeras, sisa dari konfrontasi di koridor kampus tadi siang. Amarahnya terhadap para penggosip itu belum sepenuhnya padam, dan itu terpancar dari cara dia mengoper gigi mobil—kasar dan penuh tekanan.
Di kursi penumpang, Seraphina hanya menatap keluar jendela. Pantulan lampu jalan yang menyambar kaca mobil menyinari wajahnya yang tampak muram. Ia memikirkan kejadian tadi siang. Ia melihat bagaimana Denzel membela Leah. Itu bukan sekadar tindakan seorang asisten yang menjaga martabat majikannya. Ada gairah yang gelap, ada protektivitas yang primitif, dan ada kilatan mata yang tidak pernah Denzel tunjukkan saat mereka sedang berkencan berdua.
"Kau masih marah, Denzel?" suara Seraphina memecah kesunyian, kecil dan ragu.
Denzel tidak menoleh. Fokusnya tetap pada jalanan di depannya. "Aku hanya tidak suka orang-orang yang merasa punya hak untuk menghancurkan hidup orang lain dengan lidah mereka, Sera."
"Aku tahu," Seraphina menarik napas panjang, mencoba mencari keberanian di balik jemarinya yang bertautan. "Tapi cara kau menatap mereka... cara kau berdiri di depan Leah... kau tampak seperti orang yang siap membunuh demi dia."
Mobil itu tiba-tiba melambat saat mendekati lampu merah. Denzel akhirnya menoleh. Ekspresinya kembali ke setelan pabriknya: dingin, datar, dan tidak terbaca. "Itu tugas saya, Sera. Tuan Zefan membayar saya untuk memastikan tidak ada rambut di kepala adiknya yang jatuh karena gangguan orang lain. Reputasi Leah adalah reputasi keluarga Ramiro. Jika Leah hancur, bisnis Tuan Zefan ikut terancam."
"Selalu tentang tugas," gumam Seraphina pahit. "Selalu tentang Tuan Zefan. Apa kau tidak punya perasaan sendiri, Denzel? Apa kau tidak merasa tegang karena kau memang... peduli padanya lebih dari sekadar kontrak?"
Denzel merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia adalah ahli dalam menekan reaksi fisiologis. Ia kembali memacu mobil saat lampu berubah hijau. "Apa yang kau coba katakan, Sera?"
"Kau tampak sangat cemas akhir-akhir ini," Seraphina kini sepenuhnya menghadap ke arah Denzel, matanya mulai berkaca-kaca. "Kau sering melamun. Kau sering memeriksa ponselmu seolah-olah sedang menunggu kabar buruk. Dan setiap kali Leah berada di ruangan yang sama, frekuensi napasmu berubah. Aku bukan gadis bodoh, Denzel. Aku bisa merasakannya."
Denzel terdiam. Ia merasa seperti sedang berjalan di dalam labirin yang ia buat sendiri, dan sekarang Seraphina sedang mencoba meruntuhkan dinding-dindingnya. Ia harus memberikan alasan. Ia harus memberikan sesuatu yang masuk akal agar Seraphina tidak menggali lebih dalam ke arah kebenaran yang mematikan.
"Maafkan aku jika aku membuatmu merasa terabaikan," ucap Denzel, suaranya melunak, sebuah taktik untuk menurunkan pertahanan Seraphina. "Tapi kau harus mengerti posisi Tuan Zefan sekarang. Proyek Kuda Troya dengan Jeff Chevalier itu seperti memegang bom waktu. Zefan sedang terdesak secara finansial, dan Jeff menggunakan kekuatan uangnya untuk mendikte hidup Leah. Aku cemas karena jika Jeff melampaui batas, aku adalah orang pertama yang harus menghadapi konsekuensinya. Aku tegang karena beban pekerjaan ini sedang di puncaknya."
"Hanya karena pekerjaan?" kejar Seraphina.
"Hanya itu, Sera," Denzel berbohong tanpa berkedip. "Tuan Zefan mengandalkanku sepenuhnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa dipercaya untuk memantau pergerakan Jeff dari dalam. Aku harus bersiaga dua puluh empat jam. Itulah alasan kenapa aku sering tampak tidak fokus saat bersamamu. Pikiranku terbagi antara melindungimu dan menjaga stabilitas di rumah itu."
Seraphina terdiam sejenak, mencerna penjelasan itu. Penjelasan Denzel sangat logis. Logika itu adalah perisai terkuat Denzel. Siapa yang tidak akan stres jika harus berhadapan dengan pria sekuat dan seberbahaya Jeff Chevalier? Siapa yang tidak akan tegang jika masa depan sebuah dinasti bisnis ada di pundaknya?
Namun, hati Seraphina tetap merasa ada yang janggal. "Lalu kenapa kau tidak pernah bercerita padaku? Kenapa kau selalu menyimpan semuanya sendiri?"
"Karena aku ingin kau tetap menjadi tempat pelarianku dari semua kegelapan itu, Sera," Denzel meraih tangan Seraphina di lampu merah berikutnya. Ia mencium punggung tangan gadis itu, sebuah gestur yang biasanya berhasil menenangkan Seraphina. "Aku tidak ingin mengotori duniamu yang cerah dengan masalah-masalah kotor keluarga Ramiro. Kau adalah satu-satunya hal yang 'normal' dalam hidupku saat ini."
Seraphina memejamkan mata, merasakan sentuhan bibir Denzel di kulitnya. Kata-kata itu begitu manis, begitu sempurna—seperti skrip film romantis. Dan itulah masalahnya. Segala sesuatu tentang Denzel terasa seperti skrip yang terlalu rapi.
"Aku hanya takut, Denzel," bisik Seraphina. "Aku takut jika suatu saat nanti kau harus memilih antara tugasmu untuk Leah dan masa depan kita... kau akan memilih dia tanpa ragu."
Denzel merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia tahu jika ia berjanji terlalu banyak, ia akan semakin terjebak dalam kebohongan. "Aku di sini sekarang, bersamamu. Bukankah itu yang terpenting?"
"Aku harap begitu," jawab Seraphina lirih.
Mereka sampai di depan rumah Seraphina. Sebelum turun, Seraphina menatap Denzel sekali lagi. "Istirahatlah, Denzel. Jangan terlalu banyak memikirkan Leah atau Zefan malam ini. Pikirkanlah dirimu sendiri sesekali."
"Akan kulakukan. Selamat malam, Sera."
Setelah pintu mobil tertutup dan sosok Seraphina menghilang di balik gerbang rumahnya, topeng Denzel seketika luruh. Ia memukul kemudi mobil dengan kepalan tangannya, sekali, dua kali, hingga tangannya terasa kebas. Napasnya memburu. Ia merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia baru saja menggunakan ketulusan Seraphina untuk menutupi obsesinya pada Leah. Ia telah memanipulasi perasaan gadis itu agar ia bisa terus menjalankan perannya.
"Kau benar-benar monster, Denzel," bisiknya pada bayangannya di spion.
Ia menyalakan mesin dan memacu mobilnya kembali ke kediaman Ramiro, namun ia tidak langsung masuk ke paviliun. Ia memarkir mobil di sisi jalan yang gelap, menatap ke arah rumah utama. Pikirannya kembali ke labirin di dalam hatinya. Di pusat labirin itu, tidak ada Seraphina. Tidak ada tugas. Tidak ada Zefan. Hanya ada Leah—Leah dengan gaun peraknya, Leah dengan mata yang terluka, Leah yang sedang diperebutkan oleh dua pria yang sama-sama menghancurkannya dengan cara yang berbeda.
Denzel merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah koin kecil—koin keberuntungan yang pernah diberikan Leah padanya bertahun-tahun lalu saat ia pertama kali bekerja di sana. Ia memutar-mutar koin itu di jemarinya.
Ia menyadari bahwa penjelasannya kepada Seraphina tadi hanyalah penundaan dari sebuah ledakan yang tak terelakkan. Seraphina mulai curiga, Jeff mulai agresif, dan Leah mulai hancur. Denzel merasa seperti sedang mencoba menambal bendungan yang retak dengan tangan kosong.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Zefan: "Denzel, kemari sekarang. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan tentang jadwal Seraphina besok."
Denzel mengernyit. Jadwal Seraphina? Kenapa Zefan mengurusi jadwal kekasih asistennya?
Ia segera melajukan mobil masuk ke gerbang. Sesampainya di dalam, ia melihat Zefan sedang berdiri di balkon, menatap ke arah taman. Di bawah sana, di bangku taman yang diterangi lampu temaram, Denzel melihat pemandangan yang aneh.
Seraphina sedang duduk di sana.
Tunggu, bukankah ia baru saja mengantarnya pulang? Denzel menyipitkan mata. Bukan, itu bukan Seraphina. Itu adalah bayangan seseorang yang sangat mirip. Denzel menyadari bahwa ia baru saja mengalami halusinasi sesaat karena kelelahannya. Namun, saat ia melangkah lebih dekat ke arah kantor Zefan, ia melihat Seraphina yang asli memang ada di sana—di dalam foto yang dipegang Zefan.
Denzel masuk ke ruang kerja Zefan. "Ada apa, Tuan?"
Zefan membalikkan foto itu. Itu adalah foto Seraphina saat sedang menunggu Denzel di lobi kantor kemarin. "Gadis ini... dia sering datang ke sini belakangan ini, ya? Menunggumu."
"Benar, Tuan. Maaf jika kehadirannya mengganggu."
"Tidak mengganggu sama sekali," Zefan tersenyum kecil, namun matanya tampak jauh. "Dia mengingatkanku pada mendiang istriku. Cara dia duduk, cara dia menatap jendela... sangat tenang. Besok, saat kau bertugas mengantar Leah bertemu Jeff, aku ingin Seraphina tetap di sini. Aku ingin mengobrol dengannya. Aku merasa... dunianya yang segar mungkin bisa membantuku berpikir lebih jernih tentang masalah perusahaan."
Denzel terpaku. Labirin di hatinya baru saja bertambah satu lorong gelap yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Zefan Ramiro, pria yang dingin dan gila kerja, mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa pada kehadiran Seraphina.
"Tentu, Tuan. Jika Nona Seraphina bersedia," jawab Denzel, suaranya tetap tenang meski di dalamnya badai baru sedang terbentuk.
Malam itu, Denzel menyadari bahwa kebohongan yang ia bangun bukan lagi sekadar untuk melindungi Leah. Sekarang, jaring-jaring itu mulai menjerat semua orang di sekitarnya. Seraphina yang curiga, Zefan yang kesepian, dan Leah yang terasing. Dan di tengah semua itu, Denzel Shaquille berdiri sebagai arsitek dari sebuah kehancuran yang ia beri nama "keselamatan".
Ia menutup matanya, namun yang ia lihat hanyalah lorong-lorong labirin yang semakin panjang, tanpa ada tanda-tanda jalan keluar.