Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari yang Mulai Biasa
Pagi berikutnya sebagai istri terasa sedikit lebih ringan bagi Raina.
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai jendela kamar kecil mereka. Raina terbangun dengan mata yang tidak lagi bengkak seperti hari-hari sebelumnya. Ia menoleh pelan ke sebelahnya. Gus Haris sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Kasurnya rapi, dan dari dapur kecil terdengar suara pelan sendok yang mengaduk sesuatu.
Raina duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya. Gamis rumah sederhana yang dipakainya terasa nyaman di tubuh. Ia melirik jaket hitam tebal pemberian Gus Haris yang masih terlipat rapi di ujung kasur. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
“Gue mulai gila ya… senyum-senyum sendiri,” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala.
Ia bangkit dan berjalan ke dapur. Gus Haris sedang menyiapkan nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi dan irisan timun. Aroma bawang goreng dan kecap manis langsung mengisi ruangan kecil itu.
“Pagi, Raina,” sapa Gus Haris tanpa menoleh, suaranya lembut dan tenang seperti biasa.
“Aku buat nasi goreng. Kamu suka pedas kan? Aku tambahin sambal sedikit.”
Raina berdiri di ambang pintu dapur, tangannya memegang ujung gamis. Ia merasa canggung, tapi kali ini tidak seberat kemarin.
“Pagi… lo masak lagi? Lo nggak capek bangun pagi terus?”
Gus Haris menoleh dan tersenyum tipis. Wajah tampannya terlihat segar, sorot matanya hangat.
“Biasa saja. Aku senang masak buat kamu. Duduk dulu, sebentar lagi matang.”
Mereka sarapan berdua di meja kecil seperti kemarin. Kali ini Raina makan lebih lahap. Nasi gorengnya pas di lidah, pedasnya pas, dan telur mata sapinya matang sempurna.
“Enak,” puji Raina pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Gus Haris tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali muncul tapi membuat Raina merasa hangat di dada.
“Syukurlah. Besok aku coba masak yang lain. Kamu ada makanan kesukaan yang mau dimasakin?”
Raina mengangkat bahu, tapi bibirnya sedikit melengkung.
“Gue suka mie goreng pedas… yang banyak cabe. Di Surabaya gue sering beli di pinggir jalan malam-malam.”
Gus Haris mengangguk.
“Besok aku cari resepnya. Kalau kamu mau, kita bisa masak bareng suatu hari.”
Raina menatap suaminya sebentar. Kata “kita” itu terdengar aneh tapi nyaman di telinganya.
Setelah sarapan, Gus Haris berangkat mengajar kelas santri laki-laki. Sebelum pergi, ia berhenti di depan pintu dan menoleh.
“Kalau kamu bosan di rumah, boleh ke asrama atau ke rumah kyai. Lila bilang dia mau ajak kamu jalan-jalan lagi.”
Raina mengangguk.
“Ya… nanti gue lihat.”
Begitu Gus Haris pergi, rumah kecil itu terasa sepi. Raina membersihkan meja dan mencuci piring dengan gerakan yang masih kaku. Ia bukan tipe yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah, tapi entah kenapa ia ingin mencoba.
Siang harinya, Lila datang lagi dengan keranjang kecil berisi buah dan camilan.
“Mbak Raina! Hari ini kita bantu Bu Nyai di dapur umum yuk. Ada yang bikin kue untuk santri. Mbak bisa bantu adon atau apa gitu.”
Raina ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk.
“Ya udah… gue ikut. Tapi gue nggak jago masak loh.”
Di dapur umum, suasana ramai tapi hangat. Beberapa santriwati sedang mengaduk adonan kue dan memanggang. Sinta juga ada di sana. Kali ini ia menyapa Raina dengan lebih ramah.
“Mbak Raina… mau bantu potong buah?”
Raina mengangguk. Ia duduk di sudut dan mulai memotong pepaya dan semangka dengan pisau yang agak goyah. Lila berdiri di sebelahnya, sesekali mengajari cara memotong yang rapi.
“Gimana malam pertamanya, Mbak?” tanya Lila pelan sambil tersenyum nakal.
Raina memerah. Ia mencubit lengan Lila kecil-kecilan.
“Diam lo. Kami cuma… tidur bareng di kasur yang sama. Tapi masih jauh. Dia nggak deket-deket.”
Lila tertawa kecil.
“Itu bagus kok, Mbak. Pelan-pelan. Gue lihat Gus Haris tiap hari kelihatan lebih bahagia sejak Mbak datang.”
Raina tidak menjawab, tapi hatinya terasa hangat lagi.
Sore harinya, hujan deras turun lagi. Raina kembali ke rumah kecil mereka dengan baju agak basah. Gus Haris sudah pulang lebih dulu dan sedang menyiapkan air hangat untuk mandi.
“Raina, mandi dulu biar nggak kedinginan,” katanya lembut sambil menyodorkan handuk bersih.
Raina menerima handuk itu tanpa banyak bicara. Saat ia keluar dari kamar mandi, Gus Haris sudah menyiapkan teh hangat dan sepiring gorengan tempe di meja.
Mereka duduk berdua di ruang tamu sambil mendengarkan suara hujan di atap.
“Haris…” panggil Raina pelan.
“Ya?”
Raina menatap gelas teh di tangannya.
“Gue… mulai biasa sama hari-hari ini. Sarapan bareng, lo masak, gue bantu di dapur umum. Rasanya… nggak seburuk yang gue bayangkan.”
Gus Haris tersenyum lembut, matanya penuh kehangatan.
“Aku senang mendengarnya. Kita akan terus belajar bersama.”
Malam harinya, mereka kembali tidur di kasur yang sama. Kali ini jaraknya semakin dekat. Raina tidak lagi memeluk bantal erat-erat. Ia berbaring menghadap dinding, tapi punggungnya hampir menyentuh lengan Gus Haris.
“Haris…” panggilnya lagi pelan di kegelapan.
“Ya, Raina?”
“Lo… boleh pegang tangan gue sebentar? Cuma pegang doang. Gue… pengen tahu rasanya.”
Gus Haris diam sejenak. Lalu ia mengulurkan tangannya pelan dan menyentuh tangan Raina dengan lembut. Jari-jarinya hangat dan penuh kasih sayang.
Raina merasa dadanya berdebar. Ia tidak menarik tangannya. Mereka berpegangan tangan dalam diam, hanya suara hujan yang mengisi malam.
“Terima kasih…” bisik Raina hampir tak terdengar.
Gus Haris mengusap punggung tangan Raina pelan dengan ibu jarinya.
“Sama-sama, istriku.”
Kata “istriku” itu lagi-lagi membuat Raina merasa aneh tapi nyaman.
Malam itu, Raina tidur dengan tangan masih digenggam suaminya. Hatinya yang dulu penuh pemberontakan mulai merasakan sesuatu yang baru.
Bukan cinta yang meledak-ledak.
Tapi kehangatan kecil yang perlahan, pelan-pelan, mulai mengisi ruang kosong di dadanya.
Dan di luar sana, hujan Pasuruan terus turun, seolah membersihkan segala keraguan yang masih tersisa di hati Raina.