NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membiasakan diri

  Hari-hari telah berlalu, sejak lamarannya ditolak dan ditinggal menikah oleh Nesa. Meski terasa berat dan sulit, Abi mulai membiasakan diri tanpa kabar darinya.

  "Bi, apa kamu nggak punya pandangan gadis lain, buat penganti Nesa?" tanya bu Elis ketika mereka sedang bersarapan.

  "Belum, bu." Jawab Abi, singkat.

  "Ibu yakin, diluar sana masih banyak gadis yang mau sama anak ibu." Ucap bu Elis, memberi semangat untuk anaknya, "patah bukan berarti musnah kan, Bi?" Ucap bu Elis yang membuat Abi jadi tertawa.

  "Kata-kata ibu kayak anak muda aja."

 "Emang ibu masih muda, selama belum punya cucu masih bisa dibilang muda kan, Bi?" Kata bu Elis.

  "Iya, Abi percaya kalau ibu masih muda." Kata Abi sambil tertawa.

  Bu Elis menghela napas, "ibu yakin keluarga pak Wili bakal menyesal, menolak anak ibu." Katanya, "udah sholeh, ganteng, cukup mapan lagi." Puji sang ibu.

  "Jangan berlebihan, bu. Nyatanya Nesa nggak mau sama Abi."

  "Jangan berkecil hati, ya? Ibu akan selalu berdoa, semoga kamu segera mendapat jodoh yang seimbang, yang setara, yang selalu mengerti akan perasaan mu." Doa bu Elis, yang langsung diaminkan oleh Abi.

  "Aamiin."

  "Bi, kalau kamu tiba-tiba nemu yang kamu rasa seperti yang ibu sebutkan tadi, nggak usah lama-lama, ya? Biar nggak keburu dipathok ayam. Ya, nggak harus yang seperti itu, mendekati atau mirip-mirip, nggak apalah."

  "Kok dipathok ayam sih, bu?" kata Abi merasa lucu. "Ibu kira jagung?"

  "Itu perumpamaan, Abi. Nggak beneran dipathok ayam. Contohnya Nesa, kamu kelamaan jaga dia, eh nggak tahunya malah jodoh orang." Kata bu Elis yang dibenarkan oleh Abi.

  "Iya, ibu benar, aku memang kelamaan, jadi keduluan ayam deh!" Kata Abi sambil bercanda.

  "Ya sudah, berangkat gih, nanti kesiangan keburu macet." Kata bu Elis yang kembali dibalas gurauan oleh Abi.

  "Nggak apa macet, asal jangan kepathok ayam aja." Kata Abi, yang membuat ibunya merasa gemas pada anak bujangnya itu.

  Dicubitnya kedua pipi Abi, "iihhh, anak gantengnya ibu."

  "Aduh sakit, ibu." Katanya sambil memegangi kedua pipinya yang terasa panas.

  "Maaf, ibu kebablasan, ya? Oh ya, ibu lupa mau tanya sama kamu, Bi."

  "Tanya apa, bu?"

  "Uang, perhiasan, dan alat sholat yang sebelumnya kita rencanakan buat mahar, di mana?" tanya bu Elis.

  "Masih ada, bu. Rencana mau aku sumbangkan ke panti saja, siapa tahu bermanfaat di sana." Kata Abi.

  "Kamu yakin?" tanya bu Elis yang dijawab anggukan mantap dari Abi. "Ya sudah, kalau begitu berangkatlah. Kerja yang lebih giat lagi, kumpulin duit buat ngelamar gadis yang lebih baik dari Nesa, ya?"

  Abi tersenyum, "Insya Allah, bu." Ucapnya, lalu berpamitan pada ibunya.

   * *

  Begitupun dengan Hanum. Sejak mendengar pengakuan dari Reza, Hanum tak lagi berharap hubungannya akan berlanjut.

  "Num, kamu kenapa akhir-akhir ini perginya selalu pagi?" Tanya bu Risa, saat melihat Hanum selalu pergi pagi, jauh dari jam mengajarnya.

  "Aku nambah jam ngajarnya, bu. Biar ada kegiatan, soalnya aku bosan kebanyakan di rumah." Alasan Hanum.

  "Di mana?" Tanya ibunya yang membuat Hanum bingung menjawab.

  "Eemm, ya ada. Aku, aku lupa namanya."

  Bu Risa menggelengkan kepalanya, merasa aneh pada anak sulungnya. "Masak lupa sama tempat kerja sendiri sih, Num? Aneh-aneh saja, kamu."

  "Yang penting nanti malam jam sembilan kamu harus siap, Num." Saut pak Haris dari dalam.

  "Siap? Siap untuk apa, ayah?"

  "Malam ini pak Karto dan anak laki-lakinya mau datang ke rumah, buat lamar kamu. Mungkin agak terlambat, soalnya rumahnya lumayan jauh, dan nunggu anaknya pulang kerja dulu, baru bisa ke sini."

  "Ta—tapi, ayah." Hanum merasa belum siap, namun ayahnya kembali mengingatkan.

  "Kamu sudah janji sama ayah, kan? Lagi pula anaknya pak Karto itu pengusaha muda yang cukup sukses, dia memiliki pengaruh besar di perusahaan tempat ayah bekerja. Kamu bakal enak, kalau hidup bersamanya." Kata pak Haris, yang membuat Hanum tidak bisa berkata-kata.

  "Bagaimana, Num? Kamu siap, kan?" tanya ibunya.

  "Siap nggak siap harus siap, Risa!" Tegas pak Haris dengan napas yang memburu, "anak ini sudah berjanji pada kita, apapun keadaannya akan menerima lamaran berikutnya. Aku nggak mau mendengar alasan darinya lagi!"

  "Insya Allah aku siap, bu." Jawab Hanum tanpa berani menatap ayahnya, "aku pergi dulu." Ucapnya, sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya, lalu keluar dari rumahnya.

  Entah pria seperti apa yang akan datang ke rumah nanti malam. Meski sebenarnya tidak yakin dengan pria yang ayahnya katakan, namun Hanum akan berusaha ikhlas menerimanya, sesuai dengan janji yang ia ucapkan sendiri.

    * *

    "Ya Allah, anugerahkan lah aku jodoh yang baik, yang bertakwa, dan yang membawa kebaikan bagi hidupku." Hanum mengulang doanya hingga tiga kali sambil menyebrangi jalan, lalu diakhiri kata Aamiin setelahnya.

   "Aaaaaaa!!" Teriak Hanum sambil berjongkok, dan menutup matanya.

  Lagi-lagi Hanum hampir terserempet mobil Abi, kali ini Hanum yang salah. Ia menyebrangi jalan sembari melamun, saat lampu hijau menyala.

  Abi menghentikan mobilnya tepat di hadapan Hanum, lalu membuka kaca mobilnya sambil tertawa. "Num, buka matamu!" katanya.

  Hanum membuka mata, "Abi? Kamu lagi?"

  "Masuk dulu, nanti kamu tertabrak mobil lain." Titah Abi sambil tertawa lucu.

  Mereka yang sudah saling mengenal sejak masih sekolah, membuat Hanum tak menolak perintah Abi.

 Abi menjalankan mobilnya pelan sambil ngobrol santai dengan Hanum. Ia menoleh, menatap wajah Hanum yang terlihat pucat akibat insiden yang baru saja terjadi.

  "Kamu belum sarapan ya, num?" gurau Abi. "Wajahmu pucat banget?"

  Hanum berusaha mengatur napasnya, "aku masih syok, tahu." Katanya.

  "Makanya jangan melamun di jalan, kalau mau nyebrang kamu harus cari dukun dulu, biar aman." Gurau Abi lagi.

  Ucapan Abi membuat Hanum membulatkan matanya, "hah, dukun? Serem amat kata-kata mu, Bi?"

  "Ya nggak semua dukun serem. Contohnya dukun beranak, nggak serem kan? Dukun baik dia, suka nolong ibu dan bayinya." Kata Abi yang membuat Hanum tertawa.

  "Jadi kalau mau nyebrang jalan aku minta tolongnya sama dia?"

  "Ya bukanlah, kecuali kalau kamu mau melahirkan di tempat penyebrangan, baru panggil dukun beranak." Kata Abi yang membuat Hanum merasa gemas padanya.

  Tak hentinya Hanum tertawa dibuatnya, "terus dukun apa, Abi...?"

  "Dukun zebra cross lah, emang apa lagi?"

 Keduanya jadi terbahak, hingga tanpa sadar Abi telah membawa Hanum memutari jalan yang sama hingga tiga kali.

   "Ya Allah, Bi. Kita berapa kali muter-muter di sini? Kamu nggak telat?" Kata Hanum.

  "Telat nggak masalah, Num. Siapa yang berani marah sama bos?" Gurau Abi lagi, "kamu mau ke mana, biar aku antar dulu?"

  "Mana ada bos yang antar karyawannya?" gurau balik Hanum. "Aku berhenti di depan aja, Bi. Aku ada janji sama teman." Katanya.

  Sejenak Abi terdiam menatap Hanum, entah apa yang dia pikirkan pada saat itu, rasanya sulit untuk diartikan.

  Hanum merasa ditatap oleh Abi, "Bi, buka pintunya."

  Ucapan Hanum membuyarkan lamunannya, "ah, iya." Katanya, sambil membuka kunci pintu mobilnya, "Num." Panggilnya, saat Hanum hampir turun.

  "Iya?"

  Abi tampak sedang mengatur napas, lalu berkata, "nanti malam aku ke rumahmu, ya?"

  Tanpa bertanya maksud dari Abi, Hanum langsung mengiyakan pertanyaan Abi. "Oke, datanglah kapanpun kamu mau," katanya yang membuat Abi mengukir tawa lembut.

  "Oke. Jam delapan, ya?" katanya, lalu dijawab senyum dan anggukan dari Hanum.

  Keduanya melambaikan tangan sambil mengukir senyum, setelah Hanum berdiri di trotoar. Seperti sungai yang mengalir pelan, semua terjadi begitu saja.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!