NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

London tidak pernah benar-benar hangat, bahkan di musim semi sekalipun. Langitnya yang abu-abu selalu tampak seperti kanvas yang belum selesai dilukis, sangat kontras dengan kemilau Berlin yang tajam dan modern dalam ingatan Renata Brox.

Di sini, di jantung South Kensington, kehidupan Renata adalah sebuah simfoni kesibukan yang mekanis—sebuah pelarian yang tertata rapi.

Renata meluruskan apron hitamnya yang kaku di depan cermin kecil di ruang ganti karyawan The Gilded Oak. Restoran ini adalah salah satu yang paling prestisius di London, tempat para kolektor seni, politikus, dan mahasiswa kelas atas dari universitas-universitas seberang jalan berkumpul untuk menyesap Chateau Margaux seharga ribuan poundsterling.

Renata adalah anomali di sini. Di kampus yang terletak tepat di seberang jalan, ia adalah mahasiswi peraih beasiswa penuh di bidang Hukum—si jenius yang pendiam, yang selalu duduk di baris paling belakang dengan buku catatan usang. Namun, begitu jam kuliah usai, ia menyeberang jalan dan berubah menjadi bayangan yang bergerak gesit di antara meja-meja mahoni, membawakan pesanan dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.

"Meja nomor lima, Renata. English Breakfast Tea dan Scones. Cepat, mereka pelanggan tetap," tegur kepala pelayan dengan nada dingin.

Renata mengangguk singkat. Ia mengangkat nampan peraknya dengan keseimbangan yang sempurna. Namun, saat ia melangkah keluar menuju ruang makan utama, langkahnya tertahan sejenak.

Suara itu lagi.

Di sistem audio restoran yang canggih, melodi piano yang akrab mulai mengalun. Itu adalah "Ewig".

Suara Lucky Caleb memenuhi ruangan, serak dan penuh kerinduan, membalut atmosfer restoran yang kaku dengan emosi yang terlalu mentah.

Banyak orang bertanya-tanya, apakah Renata mendengar lagu-lagu Lucky? Jawabannya bukan sekadar mendengar. Lagu-lagu itu adalah latar belakang hidupnya.

Di kafe tempatnya bekerja, di radio bus saat ia berangkat kuliah, hingga di headphone mahasiswa di perpustakaan. Lucky Caleb ada di mana-mana. Pria itu telah menjadi udara yang dihirup dunia, dan bagi Renata, itu adalah oksigen yang sekaligus mencekik parunya.

Renata meletakkan cangkir porselen di meja nomor lima dengan tangan yang sangat stabil, meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup mengikuti tempo lagu itu.

"Du bist der klang..." suara Lucky meratap lewat speaker tersembunyi di langit-langit.

Renata tahu persis kapan Lucky mengambil napas dalam rekaman itu. Ia tahu karena ia ada di sana saat lirik itu pertama kali digoreskan di atas serbet kopi yang basah. Ia ingat bagaimana Lucky merengut frustrasi karena tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan selamanya, dan bagaimana Renata kemudian membisikkan kata Ewig di telinganya.

"Terima kasih, Renata," ucap pelanggan itu, seorang wanita tua anggun yang sering memberinya tip besar. "Lagu ini indah sekali, bukan? Penyanyinya masih sangat muda, tapi suaranya seperti sudah hidup seribu tahun."

Renata memaksakan senyum tipis. "Ya, Madam. Dia... berbakat."

Berbakat. Kata itu terasa terlalu hambar untuk mendeskripsikan pria yang pernah berbagi mimpi dengannya di sudut Kreuzberg.

Lucky bukan sekadar berbakat; dia adalah perwujudan dari ambisi yang keras dan hati yang rapuh.

Renata berjalan kembali ke bar, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap ke jalanan London. Meninggalkan Berlin tiga tahun lalu adalah keputusan paling berdarah yang pernah ia ambil. Ia pergi bukan karena ia berhenti mencintai Lucky, tapi karena ia menyadari bahwa di dunia Lucky yang baru, tidak ada ruang untuk "gadis dari jalanan".

Keluarga Caleb adalah dinasti, dan ia hanyalah sebuah catatan kaki yang bisa dihapus kapan saja demi reputasi sang diplomat senior.

Ia memilih menghilang sebelum ia benar-benar dihancurkan oleh mesin industri yang mulai melahap Lucky. Ia memilih London, memilih beasiswa, dan memilih identitas baru sebagai mahasiswi teladan yang tidak menonjolkan diri.

Namun, Lucky tidak membiarkannya pergi dengan mudah. Lewat musiknya, pria itu terus mengejarnya melintasi perbatasan negara.

Sambil mengelap gelas-gelas kristal, Renata mencuri pandang ke arah layar televisi di sudut bar yang menampilkan saluran berita hiburan tanpa suara.

Di sana, wajah Lucky terpampang besar. Ia sedang berdiri di sebuah balkon di Berlin, menatap kamera dengan pandangan yang kosong dan tajam. Headline di bawahnya tertulis dalam bahasa Inggris: "The Prince of Berlin: Lucky Caleb Breaks Global Records."

Renata memalingkan wajah. Perih itu masih ada, tajam dan segar seolah baru terjadi kemarin. Ia teringat foto mereka yang ia simpan di bagian paling dalam tas sekolahnya dulu. Foto dirinya yang tertawa di bawah pohon Linden. Ia yakin Lucky sudah membuang foto itu, atau mungkin ayahnya yang membuangnya ke tempat sampah perak di rumah mewah mereka.

"Renata, fokus!" suara manajer restoran membuyarkan lamunannya. "Ada meja baru di sudut. Mahasiswa dari kampusmu. Berikan mereka menu spesial."

Renata menarik napas panjang, menelan kembali gumpalan emosi yang menyesakkan tenggorokan. Ia mengambil daftar menu dan berjalan menuju meja di sudut.

Di sana, sekelompok mahasiswa sedang asyik berdiskusi. Di tengah meja, sebuah majalah Vogue edisi terbaru terbuka, menampilkan profil eksklusif Lucky Caleb. Salah satu mahasiswi, seorang gadis pirang yang tampak seperti anak bangsawan, menunjuk foto Lucky.

"Kalian tahu tidak? Rumornya lagu ini ditulis untuk seorang gadis yang hilang," kata gadis itu penuh semangat. "Seorang kekasih rahasia dari masa lalunya di Berlin. Bayangkan, betapa beruntungnya wanita itu."

Renata berhenti tepat di samping meja mereka. Ia menuangkan air putih ke gelas masing-masing dengan gerakan yang sangat sopan, hampir menyerupai robot.

"Silakan, ini menu untuk siang ini," ucap Renata lembut.

"Terima kasih," balas gadis pirang itu, lalu kembali ke majalahnya. "Tapi kurasa itu cuma taktik pemasaran. Mana mungkin pria sesempurna Lucky Caleb mengejar bayangan masa lalu? Dia punya segalanya."

Renata ingin berteriak. Ia ingin mengatakan bahwa "segalanya" yang dimiliki Lucky adalah sangkar emas yang dibangun dari kebohongan dan tekanan keluarga. Ia ingin mengatakan bahwa lagu itu bukan tentang keberuntungan, melainkan tentang penyesalan yang berdarah-darah.

Tapi Renata Brox hanya diam. Ia menyimpan semua kata itu di dalam kepalanya, sebagaimana ia menyimpan melodi-melodi baru yang ia tulis di sela-sela waktu kuliahnya—melodi yang tidak akan pernah ia publikasikan, karena ia tidak ingin lagi berurusan dengan dunia yang telah merenggut Lucky darinya.

Saat jam istirahat tiba, Renata keluar lewat pintu belakang restoran. Ia berdiri di gang sempit yang dingin, memeluk tubuhnya sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya, ragu sejenak, lalu membuka aplikasi musik.

Hanya ada satu daftar putar di sana. Berlin 17.

Ia menekan tombol play. Bukan lagu yang ada di radio, melainkan rekaman mentah dari ponsel lama yang ia simpan.

Suara petikan gitar yang sumbang dan suara tawa Lucky yang tulus, bukan suara studio yang sudah dipoles sedemikian rupa.

"Ren, jika suatu saat aku jadi bintang besar, aku akan membangun galeri sendiri untukmu," suara Lucky versi usia 17 tahun terdengar di telinganya. "Dan kau tidak perlu bekerja di tempat orang lain lagi."

Renata memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh dan membeku di pipinya.

"Kau berbohong, Lucky," bisiknya pada angin London yang dingin. "Kau menjadi bintang, dan aku justru semakin jauh bersembunyi."

Di seberang jalan, gedung universitasnya berdiri megah, melambangkan masa depan yang ia perjuangkan dengan susah payah. Namun, di dalam hatinya, Renata tahu ia masih terjebak di kafe tua di Berlin itu, menunggu seorang laki-laki yang kini namanya diteriakkan oleh seluruh dunia, namun tak lagi bisa ia sentuh.

Ia menghapus air matanya, menegakkan punggung, dan kembali masuk ke dalam restoran.

Tugasnya belum selesai. Di dalam, lagu Lucky masih diputar, seolah terus memanggil namanya di antara denting piring dan tawa kaum elit London.

Lucky Caleb mungkin sedang menatap fotonya di Berlin, tapi di London, Renata Brox sedang belajar untuk menjadi hantu yang paling bahagia di dunia. Atau setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri setiap hari.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!