NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Udara pagi yang segar menyusup perlahan melalui celah jendela ruang praktik atas rumah Bahng, membawa aroma tanah basah pascahujan yang segar dan menyegarkan—kontras tajam dengan bau tajam larutan kimia yang mengisi setiap sudut ruangan.

Cahaya matahari yang masih muda dan lembut memantul dengan kilat pada permukaan gelas kimia yang bersih dan bening, menciptakan spektrum warna pelangi yang halus dan indah menari di dinding putih yang polos. Cahaya itu bergerak dengan lambat seiring dengan pergerakan matahari yang perlahan naik ke atas langit, memberikan sentuhan kehangatan yang sedikit mengurangi kesegaran udara pagi itu.

Axel tidak berada di laboratorium bawah tanah seperti biasanya pagi ini; ia sengaja memilih bekerja di ruang atas yang lebih terang dan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik, berharap bisa menyelesaikan satu tahap krusial dari percobaannya sebelum jadwal jemputannya ke bandara tiba tepat pukul sembilan pagi.

Ruang praktik atas ini dulunya adalah ruang tamu kedua yang jarang digunakan, namun Axel telah mengubahnya menjadi laboratorium kecil yang lebih aman dan terkontrol selama beberapa minggu terakhir.

Rak-rak baja yang ditempatkan di sepanjang dinding penuh dengan botol-botol kimia berlabel jelas, sedangkan meja kerja besar dari stainless steel di tengah ruangan dipenuhi dengan alat-alat analisis canggih seperti mikroskop digital, mesin pengaduk magnetik, dan deretan tabung reaksi yang berisi zat dengan warna-warni yang menarik.

Di hadapannya, tepat di bawah lensa mikroskop yang terhubung ke komputer layar lebar, sebuah tabung reaksi kaca berisi cairan berwarna kuning keemasan yang berpendar halus tampak sangat tenang. Permukaan cairan itu tidak menunjukkan sedikit pun getaran atau gangguan, seolah sedang menunggu sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Axel menahan napas sepenuhnya, matanya yang fokus terpaku pada layar komputer yang menampilkan gambar molekul yang diperbesar ribuan kali lipat. Jemarinya yang ramping dan terbungkus sarung tangan lateks putih menyesuaikan fokus mikroskop dengan hati-hati, membuat gambar yang muncul di layar semakin jelas dan tajam. Ia bisa melihat bagaimana setiap molekul bergerak dan berinteraksi satu sama lain dengan pola yang tidak terduga, berbeda dengan semua percobaan yang pernah ia lakukan sebelumnya.

"Strukturnya berubah dengan sendirinya. Ini bukan lagi sekadar zat penetral yang bekerja dengan cara memblokir efek toksin. Ini lebih agresif. Lebih... hidup."

Jantungnya berdegup kencang dan tidak teratur, suara denyut nadinya yang kuat bahkan bisa dirasakan melalui telapak tangannya yang menempel pada meja kerja. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda dengan racikannya kali ini—sesuatu yang tidak pernah ia duga akan muncul dari formula yang telah ia sesuaikan selama berbulan-bulan. Ada kekuatan laten yang seolah-olah berdenyut dengan irama sendiri di dalam cairan itu, sebuah anomali yang belum pernah ia temui dalam ratusan liter sampel yang telah ia buat sebelumnya.

Secara teknis dan ilmiah, ini adalah kegagalan total dari formula yang direncanakan—karena ia awalnya hanya ingin menciptakan penawar racun yang stabil dan aman. Namun secara insting yang dalam sebagai ilmuwan, Axel merasa telah menyentuh sesuatu yang luar biasa dan belum pernah ditemukan oleh manusia. Sebuah zat yang mampu memicu proses regenerasi seluler pada tingkat yang ekstrem—bahkan mungkin terlalu ekstrem untuk tubuh manusia yang normal.

Karena tenggorokannya terasa kering dan panas akibat konsentrasi yang memuncak serta kurangnya asupan cairan sejak pagi hari, Axel menarik tangan kanannya dengan perlahan dari mikroskop dan meraih gelas plastik besar yang ia letakkan di sisi kanan meja kerjanya.

Gelas itu berisi jus mangga segar yang ia buat sendiri sebelum mulai bekerja, warnanya oranye kemerahan yang cerah dan tampak sangat segar. Jus itu kental dan dingin saat menyentuh bibirnya yang kering, memberikan sensasi "manusia" yang sangat dibutuhkan di tengah hutan peralatan laboratorium yang dingin dan tidak bernyawa.

Ia menyesapnya sedikit dengan lambat, menikmati rasa manis dan segar yang menyebar di lidahnya, kemudian meletakkannya kembali di atas meja dengan hati-hati—tepat di sisi rak kecil yang menampung tabung reaksi yang sedang dalam pengamatan, yang sedikit bergetar karena getaran dari mesin pengaduk magnetik yang bekerja di bawahnya.

𝘋𝘳𝘳𝘵𝘵... 𝘥𝘳𝘳𝘵𝘵... 𝘥𝘳𝘳𝘵𝘵...

Suara getaran yang kuat dan terus-menerus terdengar dari saku jas lab putih yang dikenakan Axel, membuatnya terkejut dan hampir menjatuhkan gelas jus yang baru saja ia tarik dari bibirnya. Getaran itu sangat kuat hingga membuat jas labnya bergetar dengan jelas, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang mendesak yang membutuhkan perhatiannya segera.

Axel merogoh sakunya dengan gerakan tergesa-gesa, jemarinya sedikit gemetar karena khawatir akan kabar yang mungkin diterimanya. Layar ponselnya yang menyala menunjukkan nama kontak 'Samuel' dengan foto profil mereka berdua yang diambil saat wisuda kuliah.

"Halo, Sam?" Ucap Axel dengan cepat saat menekan tombol jawab, menyetel ponselnya ke mode speaker agar tetap bisa bekerja sambil berbicara. "Ada apa? Kau tahu kan aku sedang berada di tengah tahap krusial dari percobaan ini—jangan bilang kau sedang menggangguku hanya karena ingin ajak makan bubur ayam saja."

Suara Samuel di seberang sana terdengar sangat berbeda dari biasanya—panik namun juga penuh dengan antusiasme yang jelas, membuat seluruh tubuh Axel menjadi kaku dan merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres terjadi.

"𝘟𝘦𝘭, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬! 𝘑𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘤𝘶𝘵𝘪 𝘓𝘶𝘴𝘺 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢! 𝘗𝘦𝘴𝘢𝘸𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘐𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘢𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘐𝘯𝘤𝘩𝘦𝘰𝘯! 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘸𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪—𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵!"

"Apa?! Kenapa tidak ada kabar sebelumnya? Aku sudah siapkan segala sesuatu untuk menjemputnya!" Axel tersentak mendengarnya, tubuhnya melompat sedikit dari kursinya karena kejutan yang sangat besar. Ia melirik ke arah jam dinding yang terpasang di seberang ruangan—jarum jam menunjukkan pukul delapan tiga puluh lima pagi, artinya ia benar-benar terlambat setengah jam dari jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.

Dalam gerakannya yang serba terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, Axel mencoba melepas jas labnya dengan tangan yang gemetar dan mematikan semua peralatan yang sedang bekerja dengan cepat.

Namun dalam kesibukannya yang luar biasa itu, tangan kanannya tanpa sengaja menyenggol rak kecil yang menampung tabung reaksi berisi cairan kuning keemasan itu dengan kekuatan yang cukup besar. Tabung reaksi yang ringan itu terpelanting ke udara dengan cepat, berputar-putar di udara sebelum akhirnya mendarat kembali di atas meja kerja dengan suara dentuman yang tidak terlalu keras. Meskipun tidak pecah atau mengalami kerusakan fisik apa pun, sumbat karet yang menutupi mulut tabung itu terlepas sebagian akibat benturan yang terjadi, membuat isi cairan yang ada di dalamnya memercik kuat ke udara dengan kecepatan yang tinggi.

𝘊𝘪𝘴!

Suara kecil namun jelas terdengar saat cairan itu menyembur keluar dari tabung, dan waktu seolah-olah melambat secara dramatis di mata Axel. Ia melihat dengan jelas bagaimana butiran-butiran kecil cairan kimia berwarna kuning keemasan itu melayang perlahan di udara, berkilauan indah saat tertimpa sinar matahari yang masuk melalui jendela, sebelum akhirnya mendarat tepat di dalam gelas jus mangganya yang masih terbuka lebar dan menunggu di sisi meja.

Warna kuning keemasan yang khas dari racikannya segera menyatu dengan warna oranye kemerahan dari jus mangga yang kental, menyebar dengan cepat dan hilang tak berbekas dalam sekejap mata—seolah-olah tidak pernah ada sesuatu yang salah atau tidak biasa dalam gelas itu.

"Sialan!"

Ia menatap gelas jus itu dengan tatapan yang penuh rasa ngeri dan kekhawatiran yang luar biasa, tangan kirinya yang masih terbungkus sarung tangan lateks mencengkeram tepi meja kerja dengan sangat erat hingga buku jari-jarinya mulai memucat. Ia tahu betul bahwa racikan yang baru saja ia ciptakan itu belum pernah melalui uji coba apapun pada hewan percobaan, apalagi pada manusia. Itu adalah zat mentah yang belum stabil, sebuah produk sampingan dari kegagalan eksperimen yang memiliki potensi bahaya yang tidak bisa diukur dengan pasti.

Ia mengangkat tangan kanannya dengan cepat, berniat meraih gelas itu untuk segera membuang isinya ke wastafel yang terletak di sudut ruangan dan membersihkan semua bekasnya agar tidak meninggalkan jejak apapun. Namun sebelum jarinya bisa menyentuh permukaan gelas itu, suara bel pintu utama rumah yang kuat dan nyaring berbunyi dengan keras—dua kali berturut-turut, kemudian diikuti dengan yang ketiga hanya beberapa detik kemudian.

Detak jantungnya berdebar dengan sangat cepat seolah ingin melompat keluar dari dada, dan keringat dingin mulai menetes deras di dahinya meskipun ruangan itu cukup sejuk. Tidak ada keraguan lagi tentang siapa yang datang—itu pasti Lusy. Wanita yang telah ia nanti-nantikan selama berbulan-bulan itu sudah sampai di rumahnya dengan tidak terduga.

"Aku harus membuangnya nanti saja." Gumam Axel, menurunkan tangannya dengan lambat dan meletakkan kembali gelas jus itu ke sisi meja yang berseberangan dengan tempat kerjanya—sedikit menjauhkannya dari jangkauan peralatan lab agar tidak terlihat mencolok atau menarik perhatian jika Lusy secara tidak sengaja masuk ke ruangan itu. Ia dengan cepat membersihkan wajahnya dengan lengan bajunya yang sudah berkeringat, mencoba menenangkan diri dan menyembunyikan semua tanda-tanda kegelisahan yang ada padanya.

Dengan perasaan campur aduk yang sangat dalam antara euforia karena kedatangan sang kekasih dan kegelisahan akibat insiden kecil yang tidak disengaja tadi, Axel berlari keluar dari ruang praktik atas dengan langkah yang cepat. Ia menutup pintu ruangan dengan hati-hati dan mengunciinya dari luar menggunakan kunci kecil yang selalu ia bawa di kantong celananya.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!