Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekar Tombak Angin
"Sudahlah, aku tidak peduli terhadap ancamanmu," balas Huang Xuan acuh tak acuh memejamkan matanya setelah mendapatkan tempat yang menurutnya nyaman.
Kapal berjalan dengan tenang menyusuri sungai Yinshe. Luo Qingyao tak memperpanjang masalah mencoba berdamai setelah tak merasakan niat jahat dari Huang Xuan. Perjalanan begitu tenang terasa ketika angin lembut menerpa membawa udara sejuk alami. Tiba-tiba Huang Xuan membuka kedua matanya mengerutkan kening seakan merasakan sesuatu. Hal yang sama dirasakan oleh Luo Qingyao yang tiba-tiba ke luar dari dalam kapal disusul oleh Luo Qingyin.
"Apa yang membuatmu berekspresii buruk?" tanya Luo Qingyin penasaran.
"Seseorang mencegat kita di depan dan dia kuat memiliki kualifikasi untuk bertarung denganku,"jawab Luo Qingyao membuat Luo Qingyin mengerutkan keningnya bingung.
"Lebih baik kau masuk ke dalam jangan ke luar, biarkan sepupu mu yang melawannya. Karena dia ahli dalam elemen angin melatihnya hingga ke titik ekstrem," ucap Huang Xuan kepada Luo Qingyin.
"Senior tahu siapa orang yang mencegat di depan?"
"Tidak. Akan tetapi dia membawa tombak kayu hitam dengan ujung tombak runjing tajam berkilauan serta memiliki luka sayatan di sekujur tubuhnya," jawab Huang Xuan.
Keduanya terdiam berpikir mencoba menebak sosok yang telah dideskripsikan oleh Huang Xuan hingga angin kencang tiba-tiba menerpa membuat mereka tersadar akan satu sosok nama.
"Salah satu dari 12 pilar Kekaisaran Xia yang terkenal," ucap mereka serempak.
"Siapa?" tanya Huang Xuan.
Keduanya saling memandang satu sama lain menganggukkan kepalanya mencapai satu kesepakatan memberitahukan nama tersebut. Di dalam kapal, Tang Shuyun mendengus dingin begitu merasakan angin aneh menerpa tubuhnya.
"Tuan Lu Feng," ucapnya tersenyum senang.
Luo Qingyao berdiri tegap memandang ke arah depan memegang seruling giok miliknya erat-erat. Tiba-tiba pepohonan di sekitar sungai tumbang tatkala angin kencang menerjang ke arah kapal. Ia mengayunkankan seruling miliknya membelah angin tersebut mencegahnya menerjang kapal.
"Senior Lu Feng, Anda begitu berani mencegat ku di sungai Yinshe yang merupakan wilayah Yinluo,"ucapnya dengan suara mengglegar di tengah heningnya suasana.
"Di dunia ini tidak ada Yinluo. Seluruh daratan dan perairan milik Xia maka aku berhak menginjakkan kaki ku dimanapun berada," ucapnya disertai tawa.
Air sungai Yinshe begerojak seakan ombak di laut lepas membuat kapal berguncang. Ombak begitu tinggi terbentuk berada di depan mereka dengan seseorang berdiri di atasnya yang merupakan Lu Feng sang pendekar tombak angin salah satu dari 12 praktisi terkenal kekaisaran Xia.
"Serahkan Tang Shuyun maka aku akan pergi," ucapnya dengan nada mengintimidasi.
"Tidak. Dia telah menjadi tawanan kerajaan Yinluo, jika kau berani datanglah ke istana untuk membawanya pergi jika bukan nyawamu yang akan pergi meninggalkan dunia ini," balas Luo Qingyao dengan nada ketus.
"Hmph!! Kau bocah kecil berani melawanku. Nama mu memang terkenal akan tetapi dihadapanku kau hanyalah anak kecil nakal," ucap Lu Feng mengusap tombak miliknya meledakkan energi spiritualnya bersiap untuk bertarung.
Keduanya melesat secara bersamaan bertarung dengan sengit di udara disertai suara dentuman dan gejolak air sungai. Huang Xuan berjalan masuk ke dalam kapal menoleh ke samping melihat Luo Qingyin tengah melihat pertarungan dari celah kecil.
"Gadis kecil, apakah kau memiliki alat musik?" tanya Huang Xuan tiba-tiba.
Luo Qingyao terkejut karena Huang Xuan tiba-tiba menginginkan alat musik. Ia terdiam sebentar kemudian teringat sesuatu berjalan menuju salah satu ruangan kemudian ke luar membawa kotak panjang menyerahkannya kepada Huang Xuan.
"Ibunda memberikannya kepadaku. Akan tetapi aku tak terbiasa menggunakannya dan memilih untuk menyimpannya," ucap Luo Qingyin yang kemudian diangguki oleh Huang Xuan.
Ia berjalan sembari membawa kotak kayu tersebut kemudian duduk membukanya seketika aura aneh menguar dari dalamnya dan seutas senyuman muncul seakab-akan telah menemukan sesuatu hal yang menyenangkan.
"Duduklah dan lihat apa yang akan aku lakukan," ucap Huang Xuan.
Luo Qingyin dengan patuh menurutinya duduk di depan Huang Xuan yang mengeluarkan guqin dari dalam kotak kayu meletakkannya di atas meja. Kilauan indah dari giok hitam misterius yang berikilauan dan motif percikan emas dibeberapa bagian membuat siapapun terpesona. Huang Xuan memfokuskan dirinya menyentuh senar guqin menarik salah satunya menyebabkan gelombang energi spiritual menyebar luas.
"Senjata tidak hanya berwujud tajam salah satunya musik yang menjadi andalan sepupu mu itu. Suara seruling miliknya bisa membunuh melalui perantara angin dan qi yang menjadi satu. Namun, aku akan menunjukkan kepadamu dengan menggunakan qi tanpa perantara apapun membuat dampak serangan menjadi lebih luas, dalam bahkan mematikan," ucap Huang Xuan memetik senar guqin untuk kedua kalinya seketika ledakan qi kuat meledak membuka paksa pintu kapal hingga mengejutkan Luo Qingyin.
Tak lama kemudian alunan guqin terdengar indah mengalun-alun membawa energi kehidupan yang begitu kuat membuat riak air yang tercipta dari pertempuran keduanya menjadi tenang. Luo Qingyao mengerutkan keningnya bingung merasakan dalamnya qi dari setiap nada yang dimainkan menenangkan gelombak amukan energi yang meledak-ledak.
"Siapa!"ucap Lu Feng menyipitkan kedua matanya menatap tajam ke arah kapal.
"Aku tak merasakan keberadaan seseorang hingga suara alunan guqin ini," batinnya merasakan kebingungan.
"Apakah dia?" batin Luo Qingyao merujuk kepada Huang Xuan.
Suara riak air terdengar begitupun gelombang kecil yang dipengaruhi oleh derasnya air. Lu Feng melompat ke udara tak lagi berpijak pada air seakan-akan air sungai Yinshe tak lagi bisa dikendalikan olehnya. Suara alunana guqin kian merdu mengalun indah diikuti oleh gejolak air sungai Yinshe yang seakan mengikuti alunan nada begitu bersemangat. Dari dalam dasar sungai terdengar suara bergemuruh dan sepasang mata menyala muncul kemudian melesat ke luar dari air meraung keras.
"Penjaga sungai Yinshe?" ucap Lu Feng mengerutkan keningnya heran.
Naga air meliuk-liuk kan tubuhnya menciptakan badai angin hingga membuat gejolak air sungai Yinshe bagaikan gelombang ombak di laut. Raungan kerasnya membuat keduanya mundur. Lu Feng yang sadar bahwa sang naga air mengincar dirinya membuatnya melesat di udara mengayunkan tombaknya beberapa kali. Gerakan sang naga kian brutal mengukuti nada guqin yang semakin keras terdengar.
"Bukan penjaga sungai Yinshe. Ini dikendalikan oleh seseorang," ucap Lu Feng menyunkan tombaknya menciptakan badai tornado dahsyat.
Luo Qingyao menoleh ke arah kapal termenung sebelum meniup seruling giok miliknya mengimbangi alunan nada guqin.
"Bocah nakal ingin merebut kendaliku. Kau tak akan bisa melakukan semudah itu,"ucap Huang Xuan tersenyum misterius yang secara tiba-tiba menghentikan petikan senarnya.
"Jika aku membunuhnya, apa respon pihak Xia?"
Luo Qingyin terdiam kemudian memberikan jawaban.
"Meskipun Tuan Lu Feng adalah salah satu pilar Kekaisaran, akan tetapi dia merupakan orang dari dunia beladiri tak memiliki pengaruh apapun selain kekuatan dalam menggunakan tombak angin miliknya,"jawabnya menjelaskan secara singkat.
"Baiklah. Dia berasal dari dunia persilatan maka akan sangat bagus jika menikmati masa tua nya," balas Huang Xuan.
Satu petikannya menggema secara tipis melesat ke arah Lu Feng membuat jiwanya bergetar hingga linglung. Naga air berhasil menerobos badai melesat menelannya.
Pyarrrr!!!
Hati Dao miliknya hancur jiwanya menjadi cacat terpental jauh bersamaan dengan hilangnya naga air yang kembali menyatu dengan air sungai Yinshe. Lu Feng terkapar tertatih-tatih menatap tak percaya ketika tombak kesayangannya hancur dihadapannya. Ia memandang ke arah kapal dengan wajah yang tidak berdaya.
"Siapakah senior hingga hanya dengan satu petikan guqin menghancurkan hati Dao dan membuat jiwa cacat,"ucapnya dengan nada merendah.
"Siapa bilang satu petikan. Sembilan petikan guqin menggema menghancurkan hati Dao milikmu. Pak Tua, lebih baik kau menikmati usia tua mu dengan tenang," ucap Huang Xuan disertai tawa ringan.
"Junior mengerti," balas Lu Feng menundukkan kepalanya lantas pergi.