Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 Berandal Misterus
Lalu penembak itu Tidak mau menjawab pertanyaan Cahya tiba tiba ada kerikil langsung mengenai penembak itu dan langsung mati di tempat.
Cahya dan Megy pun mencari pelaku yang melempar kerikil itu, dan ternyata pelaku nya langsung lari. Kemudian Megy bersama Cahya langsung mengejar pelempar kerikil tapi sayang nya mereka ketinggalan jejak. dan Cahya pun langsung pergi dari sana bersama Megy secara berpisah. karena mereka tidak saling kenal satu sama lain, namun mereka merasakan kalau mereka terasa begitu sangat lama saling mengenal.
Tidak lama Megy dan Cahya pun pergi dari situ, lalu sosok misterius yang melempar kerikil itu tadi langsung keluar dari persembunyian nya dan tersenyum dingin, yang memberikan tanda tanya kalau permainan belum berakhir. dan dia pun langsung pergi dari situ.
Sementara Suasana jalanan terlihat sangat ramai pedagang dan penjual asongan ada di mana-mana.
"Yuk..cang..ci..men...cang...ci ..men.." teriak penjual asongan.
Lalu pedagang yang lain sibuk melayani pembeli. Sementara di jalanan terlihat Cahya yang sedang berjalan dalam keadaan ling lung, sejak Cahya kehilangan ingatan Cahya menjadi tidak tentu arah harus mau pergi ke mana. Kemudian Cahya merogoh sakunya untuk membeli makanan.
lalu Cahya, berkata." Waduuhhh...kok duit gue tinggal segini, ya? Mana cukup ini buat beli makanan, mana lapar lagi?"
Cahya yang sedang kebingungan akhirnya ingin mencari makanan yang cukup dengan uang tersisa padanya.
Sementara cahya sibuk berjalan kearah penjual makanan, ada 4 preman pasar sedang nongkrong disana memperhatikan Cahya yang sedang membeli makanan.
Lalu Baron, berkata." Bro...lu liat tuh cewek, baru datang ke daerah ini kayaknya.?
"Cewek yang mana?" Tanya Eki sembari celingukan.
Dengan kesal Baron memegang kepala eki lalu mengarahkan kepalanya ke sebuah warung makanan ringan dan Eki melotot melihat kearah Cahya.
"Aduh..duh...sakit!" Kata Eki. Yang kepalanya dipaksa muter oleh baron melihat kearah Cahya.
"Ssst.. diem, cengeng amat sih, Noh yang itu, lu liat nggak?" Ucap Baron sembari melepaskan tangannya dari kepala eki.
Kemudian Anil Tolares yang sejak tadi diam memperhatikan tiba-tiba nyeletuk.
"Kita samperin, yuk?" Kata Anil Tolares.
"Sssstt... Nanti dulu...santai...santai...woles men? Kita liat dulu dia abis ini kemana, baru kita bergerak?" Ucap Baron sembari menyeringai karena sudah memiliki rencana.
Cahya yang sedang membeli tidak tahu kalau dia sedang di awasi dengan santainya Cahya menghampiri penjual makanan.
"Bang...ini berapaan ya?" Kata Cahya memegang sosis sama menunjuk kentang yang belum digoreng.
Lalu penjual, berkata. "Kalau yang sosis ini tujuh ribuan pertiga tusuk! Nah kalau untuk yang kentang ini delapan ribuan, mbak? Mbak mau yang mana?"
Cahya bergumam di dalam hati, " buseeet mahal amat! Bisa kurang nggak ya?"
"Mbak...mbak... Ye malam bengong!" Kata penjual makanan.
"Eeeh iya bang, maaf, bisa kurang nggak ya, lima ribuan aja, jadi kalau bisa lima ribuan, saya mau sosis sama kentangnya lima ribuan, aja? Duit saya tinggal segini?" Ucap Cahya sembari mengeluarkan uang gocengan dua lembar.
"Mmmmm... Gimana ya?" Kata penjual makanan berpikir.
"Ada apaan Dul?" Tanya salah seorang yang baru saja selesai melayani pembeli menghampiri Bedul yang sedang berpikir untuk tawaran Cahya.
"Mmm... Ini...mbak ini mau minta sosis sama kentang, lima ribuan aja?" Kata Bedul menjelaskan.
"Ooh ya udah kasih aja?" Kata pemuda yang bernama Anton.
"Ya udah, kalau dimarahin bos, kang Anton tanggung jawab ya?" Ucap Bedul.
"Ya tenang aja! Kasih aja sesuai harga biasanya? nanti sisanya biar aku yang bayar!" Kata Anton sembari tersenyum.
"Tunggu sebentar ya,mbak?" Kata Bedul sembari menggoreng sosis, dan mengolah kentang untuk di goreng.
"Ya bang?" Ucap Cahya, lalu Cahya melihat ke arah Anton. Lalu melihat Anton ingin pergi Cahya menghampiri.
"Kak... Tunggu bentar?" Panggil Cahya.
"Ya.. ada yang bisa dibantu?" Tanya Anton dengan wajah dingin sembari mengerutkan alis.
"Hem... Ya gak ada apa-apa sih, cuma makasih karena udah nambahin uang aku yang kurang ya, kak! Nanti kalau ada uang,aku ganti uangnya?" Ucap Cahya menjanjikan.
"Aaaah..nggak usah mbak, saya ikhlas kok!" Jawab Anton dengan dingin lalu langsung berbalik pergi dari sana.
Sementara Cahya terdiam melihat kepergian Anton dengan kebaikannya. Anton adalah seseorang yang sangat di takuti oleh kelompok preman bahkan mafia. Karena dia adalah orang kaya dan menguasai berbagai bidang dalam keahlian.
Anton juga orangnya rendah hati, ramah, suka membantu orang walaupun orang itu belum dikenal olehnya sekali pun.
"Mbak....mbak...?" Panggil Bedul ke Cahya yang sedang terdiam mematung melihat kepergian Anton.
"Eh iya bang.. maaf.. udah selesai ya?" Kata Cahya yang terkejut dari lamunannya.
"Ya, ini mbak.." kata Bedul sembari memberikan pesanan Cahya.
"Iya bang, ini uangnya.?" Kata Cahya memberikan uangnya.
"Ooh nggak usah mbak,uangnya simpen aja? Semuanya nanti,kang anton yang bayar.!" Kata Bedul sembari mendorong tangan Cahya yang menyodorkan uang.
"Ya udah, makasih ya bang?" Ucap Cahya lalu memasukkan kembali uangnya dan langsung berjalan pergi sembari melihat ke arah perginya anton yang sudah tidak ada lagi.
Lalu Cahya berjalan kearah gang untuk menikmati makanan pesanannya karena semenjak Cahya di sekap oleh berandalan anak buah musuh ayah nya ketika itu dia belum mengisi perutnya sama sekali.
Kemudian Cahya mencari tempat duduk disebuah gang untuk menikmati makanan yang baru saja dia beli.
"Aaaah...enak juga, untung aja, ada orang baik?" Kata Cahya sembari menyunggingkan senyuman.
Rombongan baron serta teman-temannya yang sedang memperhatikan Cahya di pinggir jalan di dekat keramaian melihat Cahya yang menuju gang lalu melihat sekitar dan langsung berjalan dengan santai menuju gang sembari bersiul-siul.
Tidak berapa lama rombongan Baron dan teman-temannya sudah berada di gang kemudian langsung melihat ke arah Cahya yang sedang memakan yang di belinya tadi.
"Wiiih...ada cewek cantik nih,yang lagi sendirian?" Ucap Baron sembari nyengir berucap kepada teman-temannya.
Lalu Anil Tolares menjawab, kemudian berkata." Iya bener Ron, jarang-jarang ya ada cewek cantik di pasar ini, sendirian lagi?"
Cahya yang sedang makan mengerutkan alisnya, lalu melihat ke sekelilingnya tidak ada orang ia lihat, kecuali dirinya sendiri.
"Dasar, otak mesum!" Kata Cahya kemudian berdiri dan ingin pergi dari sana.
Cahya ingin berjalan pergi dari sana karena tidak ingin meladeni rombongan Baron. Tetapi rombongan Baron malah tidak terima mendengar ucapan Cahya sebelumnya hingga melenggang berjalan ke arah Cahya yang membelakangi para rombongan Baron lalu di tahan pundaknya.
"Tunggu! Apa maksud lu, hah?" Kata Baron yang memegang pundak cahya sembari menahan Cahya untuk tidak segera pergi.
"Lepas! Gue nggak ada urusan sama kalian?" Ujar Cahya dengan wajah dingin sembari terdiam membelakangi mereka dan tidak berbalik badan.
Lalu Eki yang diam tidak menanggapi dari tadi mendengar cahya kemudian, berkata. "Apa.! Setelah ngomongin kita mesum? Di bilang nggak ada urusan sama kita? Haaaahaahaha."
Cahya yang diam membelakangi mereka tidak takut atau gentar sama sekali lalu tangan Baron yang sedang memegang pundak Cahya langsung Cahya pegang kemudian ia pelintir lalu mendorong Baron hingga mundur terkena dinding tembok gang.
"Aaaaauuuuu... Aduuuuh! Buuuuuggghhh..." Ucap Baron yang kesakitan setelah terjatuh dari tembok karena di dorong Cahya.
Kemudian Cahya berdiri melihat ke arah Baron yang sedang terjatuh di bawah.
"Gue, udah bilang! Nggak ada urusan sama lu, semua?" Ucap Cahya yang sudah kesal karena merasa muak dengan wajah Baron dan teman-temannya.
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke