NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Suasana di kabin kelas bisnis itu masih sangat sunyi, hanya deru mesin pesawat yang terdengar konstan seperti nina bobo. Lyra sudah hampir terlelap, kepalanya menyandar nyaman di bantal kursi dengan mata yang terpejam setengah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di baris belakangnya, situasi mulai berubah menjadi genting.

​Bocah laki-laki yang tadi tampak pucat itu kini terkulai lemas di kursinya. Kepalanya miring ke samping, tangannya jatuh menjuntai ke lantai kabin. Napasnya pendek-pendek dan dangkal, seolah paru-paru kecilnya sedang berjuang keras menarik sisa-sisa oksigen dari udara kabin yang kering. Ayahnya, pria yang tadi sibuk dengan berkas hukum, masih belum sadar karena tertidur pulas akibat kelelahan.

​Seorang pramugari yang sedang berjalan membawa botol air mineral mendadak berhenti tepat di samping kursi bocah itu. Matanya membelalak. Ia meletakkan botolnya di kursi kosong terdekat dan membungkuk, mencoba memanggil nama bocah itu sambil menepuk pelan pipinya.

​"Dek? Adik? Bisa dengar saya?" suara pramugari itu bergetar, mulai panik tapi berusaha tetap profesional.

​Tetap tidak ada respons. Wajah bocah itu kini sudah berubah warna dari pucat menjadi sedikit kebiruan di sekitar bibir. Pramugari tersebut segera menekan tombol darurat di atas kursi berkali-kali. Bunyi ting-ting-ting yang nyaring itu akhirnya menembus kesadaran Lyra.

​Lyra membuka matanya dengan sentakan kecil. Insting dokternya langsung aktif begitu mendengar bunyi sinyal darurat yang tidak biasa itu. Ia menoleh ke belakang dan melihat pramugari tersebut mulai panik, sementara beberapa penumpang lain mulai terbangun dan berbisik-bisik bingung.

​> Waduh, apa tuh? Bunyi darurat? Jangan bilang ada yang sesak napas di ketinggian 35 ribu kaki begini! Batin Lyra bergejolak, jantungnya mulai berdegup kencang. Tadi gue liat itu anak emang udah pucat banget. Duh, mana gue lagi pake piyama flanel pula di balik jaket!

​"Ada masalah?" tanya seorang penumpang pria di seberang lorong dengan nada cemas.

​Pramugari itu tidak menjawab, ia justru berlari ke arah interkom pesawat dengan wajah yang tegang. "Mohon perhatian, apakah ada tenaga medis di dalam penerbangan ini? Kami memiliki situasi darurat medis di kabin kelas bisnis. Ulangi, apakah ada dokter atau tenaga medis di atas pesawat?"

​Mendengar pengumuman itu, Lyra tidak menunggu sedetik pun. Ia segera melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan cepat, nyaris menendang sandaran kaki kursinya sendiri.

​> OKE, LYRA! Waktunya kerja! Lupain dulu soal Normeen Magnus atau Bos Delphi. Sekarang ada nyawa bocah yang harus lo selametin di tengah langit!

​Lyra beranjak dari kursinya, melangkah cepat menuju kerumunan kecil di baris belakang. Wajahnya yang tadi tampak mengantuk dan malas-malasan kini berubah total. Matanya tajam, gerakannya sigap, dan auranya berubah menjadi sangat otoriter aura seorang dokter spesialis anak yang sudah terbiasa menangani situasi antara hidup dan mati.

​"Minggir, tolong beri ruang!" perintah Lyra dengan suara yang tenang namun tegas, membuat pramugari dan beberapa penumpang otomatis memberikan jalan.

​Ia berlutut di samping kursi bocah itu, jemarinya langsung bergerak menuju nadi di leher sang bocah sementara telinganya didekatkan ke hidung pasien kecilnya.

​> Nadi lemah, napas dangkal, bibir sianosis... Fix, hipoksia! Lyra mengumpat dalam hati. Ini anak pasti punya riwayat asma atau kelainan jantung yang dipicu tekanan kabin. Sial, gue butuh oksigen sekarang juga!

​"Saya Dokter Lyra, spesialis anak," ucapnya singkat pada pramugari yang tampak lega sekaligus tegang. "Bawa tabung oksigen darurat sekarang! Dan ambilkan tas medis pesawat, saya butuh stetoskop dan epinephrine kalau ini reaksi anafilaktik. CEPAT!"

​Di tengah kepanikan itu, Lyra mulai memberikan pertolongan pertama, sementara seluruh mata penumpang di kabin tertuju padanya, menanti keajaiban dari tangan dokter muda asal Bandung tersebut sebelum mereka mendarat di London.Kabin yang tadinya tenang seperti perpustakaan kini berubah menjadi kekacauan total. Ayah sang bocah terbangun karena guncangan di kursinya dan langsung berteriak histeris begitu melihat anaknya terkulai biru.

​"TIMMY! TIMMY! Kamu kenapa?! Dokter, tolong anak saya!" pria itu menjerit, mencoba meraih tubuh anaknya yang justru menghalangi gerak Lyra.

​"Pak, mundur! Kasih saya ruang atau anak Bapak tidak bisa bernapas!" bentak Lyra tanpa menoleh. Suaranya menggelegar di antara kebisingan, membuat pria itu terdiam karena syok.

​Di baris belakang, penumpang lain mulai berdiri dari kursi mereka, mencoba mengintip apa yang terjadi. Beberapa orang mulai memotret, sementara yang lain sibuk bertanya-tangan dengan nada panik, menciptakan kebisingan yang membuat kepala Lyra mau pecah.

​> BERISIK BANGET SIH!! Ini kabin pesawat apa pasar kaget?! Mana oksigennya lama banget lagi, itu pramugarinya lari pakai gaya lambat apa gimana?!

​"Oksigennya, Dokter!" Pramugari itu datang terengah-engah, membawa tabung hijau kecil. Di belakangnya, purser pesawat mencoba menenangkan penumpang lain yang mulai protes karena jalan lorong tertutup.

​Lyra dengan tangkas memasang masker oksigen ke wajah kecil Timmy. Namun, situasi memburuk. Tiba-tiba tubuh Timmy mulai kejang kecil. Seizure.

​"Sial, ini bukan cuma kurang oksigen," desis Lyra. Jari-jarinya dengan cepat membuka kancing kemeja bocah itu untuk mendengarkan detak jantungnya menggunakan stetoskop dari tas medis pesawat.

​> DUH, DETAKNYA GAK BERATURAN! Jangan bilang ini aritmia karena tekanan udara? Mana peralatannya cuma seadanya begini! Kalau ini anak lewat di tangan gue sebelum nyampe London, bisa habis reputasi gue di depan Bos Delphi!

​"Dokter, bagaimana? Dia nggak bangun!" Ayah Timmy mulai terisak lagi, memegang tangan Lyra dengan gemetar.

​"Pak, saya butuh Bapak tenang sekarang!" Lyra menatap pria itu dengan tatapan tajam yang biasanya ia gunakan untuk mendiamkan koas yang lamban. "Pegang kaki anak Bapak, jaga supaya tidak jatuh dari kursi. Saya harus memasukkan cairan!"

​Lyra membuka tas medis dengan kasar, mencari jarum infus. Tangannya sangat stabil meskipun pesawat kembali bergoyang karena turbulensi. Penumpang di kursi sebelah mulai muntah karena panik dan guncangan, menambah bau tak sedap dan kegaduhan di dalam kabin.

​> OKE, FOKUS LYRA! Lupain bau muntah, lupain suara orang nangis. Bayangin lo lagi di bangsal anak RS Medika. Satu tusukan, harus dapet!

​Tepat saat Lyra akan menusukkan jarum, lampu tanda sabuk pengaman kembali menyala dengan bunyi denting yang keras. Pilot mengumumkan bahwa mereka akan melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat jika situasi tidak terkendali.

​"Dokter, kita harus segera mendarat!" teriak pramugari di tengah suara bising mesin dan tangisan penumpang.

​Lyra tidak menjawab. Ia berkonsentrasi penuh pada pembuluh darah kecil di tangan Timmy. Begitu darah terlihat di pangkal jarum, ia langsung menyambungkan cairan.

​> DAPET! Sekarang tinggal obatnya. Ayolah, Timmy... jangan nyerah di sini. Gue mau ke London buat belajar nyelamatin anak-anak kayak lo, jangan bikin gue gagal di awal jalan!

​Di tengah keributan yang makin menjadi tangisan, doa-doa yang diucapkan keras, dan instruksi kru kabin Lyra tetap berlutut di lantai pesawat yang dingin, matanya hanya terfokus pada pergerakan dada Timmy, mengabaikan segala kekacauan di sekelilingnya.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!