NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 6 - Penerimaan Setelah Sekian Lama

Secara langsung, kalimat Setya menyentil ego Maura yang sejak dulu di jaga mati-matian. Mengapa banyak pria yang seolah menganggap bahwa kebaikan dan kesopanan memiliki niat terselubung. Maura hanya bersikap profesional sebagaimana perwakilan universitas seharusnya.

Perempuan itu menyesap wine-nya pelan, membiarkan rasa asam manis itu mengalir di lidahnya, seolah mencari waktu untuk merangkai jawaban.

“Batasan itu penting, Pak. Terutama ketika saya berada di posisi yang seperti ini,” katanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari yang ia rencanakan.

Setya mengangkat alisnya, ekspresinya tetap tenang, tapi ada kilau baru di matanya.

“Seperti ini, bagaimana maksudmu, Maura?”

Maura meletakkan gelasnya dengan hati-hati, memperhatikan bagaimana pria itu begitu tenang menghadapi berbagai macam tegangan. Maura yakin, bagi pria itu dirinya hanyalah gangguan kecil yang mampu di sentil, tapi Maura harus menjelaskan garis yang terlihat agar tidak ada kesalahpahaman.

“Bapak adalah donor potensial universitas tempat saya bekerja. Bapak punya kuasa untuk mengatakan ya atau tidak atas undangan kami. Saya di sini untuk meyakinkan Bapak. Itu saja. Jadi, jika ada maksud lain, saya perlu tahu dari awal agar tidak salah langkah.”

Maura menatap Setya lurus, dadanya naik-turun pelan, tapi ia tidak menghindar. Ini bukan lagi tentang acara amal. Ini tentang dirinya dan tentang harga diri yang ia jaga bertahun-tahun.

Setya tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Maura lama, seolah sedang membaca setiap inci ekspresi wajahnya. Lalu, ia tersenyum kecil dan memahami betul akan ketakutan gadis muda di hadapannya.

“Baiklah. Kamu ingin kejujuran. Saya akan berikan,” katanya pelan.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke depan, siku bertumpu di meja, jari-jarinya saling bertaut. Jarak mereka kini lebih dekat, cukup hingga Maura bisa mencium aroma samar cologne-nya mahal dan maskulin.

“Saat kamu datang ke kantor minggu lalu,” lanjut Setya, suaranya rendah seperti rahasia, “saya memang berniat menolak undangan itu. Saya sudah terlalu banyak menerima permintaan serupa. Tapi kemudian kamu masuk dengan tatapan paling berani dan tidak hormat.”

Maura menegang. Tidak hormat? Sebagai seorang dosen yang begitu menjunjung rasa hormat, etika, jelas ini bertentangan dengan prinsipnya. Maura merasa sudah sangat hormat pada pria di hadapannya itu, bahkan sekalipun terdengar kalimat merendahkan dari mulut Setya.

“Kamu satu-satunya orang yang duduk di hadapan saya tanpa rasa ingin menyenangkan saya,” lanjut Setya.

Maura mengerjap. Tangannya yang semula tenang di atas meja menegang sesaat, lalu ia menahannya kembali.

“Itu karena memang bukan tugas saya untuk menyenangkan Bapak,” balasnya.

Setya mengangguk kecil. “Dan itu yang membuat saya kagum.”

“Kagum?” ulang Maura.

Setya memiringkan kepalanya, mengamati perempuan di hadapannya yang benar-benar menarik atensinya sejak awal. Senyum itu terbit, sama sekali tidak manis, lebih kepada membuat Maura merinding.

“Tidak banyak yang seperti itu. semua orang memandang saya seolah saya adalah pioner paling hebat dan orang paling suci yang harus dihormati. Saya menyukainya? Jelas, itu membuat saya memahami garis antara saya dengan mereka. Tapi, Maura,”

Setya berhenti, pria itu menegakkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dengan mata yang masih setia menganalisa Maura.

“Saya tidak tahu apa yang saya rasakan sekarang. Menyukai tatapan tidak hormat itu atau justru marah karena gadis muda sepertimu menatap seolah saya bukanlah siapa-siapa.”

Maura diam, kali ini perempuan itu tidak memiliki keberanian apa pun dalam menjawab. Aura Setya Pradana terlalu mendominasi ruangan yang barus Maura sadari hanya mereka berdua yang berada di sini.

Maura menarik napas perlahan, berusaha menata ulang denyut jantungnya yang sempat berkhianat. Ia tidak suka bagaimana pernyataan Setya mengguncang keseimbangannya dengan celah tipis yang mulai terbuka tanpa ia sengaja.

“Jika Bapak marah, maka seharusnya pertemuan ini sudah selesai sejak awal,” katanya akhirnya, nada suaranya tenang meski tenggorokannya terasa kering.

Setya terkekeh pelan. Bukan tawa yang hangat, melainkan tawa singkat yang lebih mirip reaksi refleks seseorang yang tidak terbiasa ditantang.

“Logis,” katanya.

Maura menyipitkan mata dengan respon singkat yang tidak dipahaminya. “Maksud Bapak?”

“Orang-orang seperti kamu,” Setya mencondongkan kepala sedikit, “selalu berpikir bahwa dunia berjalan sesuai garis lurus yang selalu tentang niat baik, tujuan jelas, hasil yang diharapkan. Padahal kenyataannya,” ia berhenti sejenak, menatap Maura lebih dalam, “selalu ada lapisan lain.”

“Dan Bapak menganggap saya tidak menyadarinya?” Maura menyela, kali ini lebih tegas.

Ada sesuatu dalam nada Setya yang terasa meremehkan, seolah pengalamannya secara otomatis menempatkannya beberapa tingkat di atas.

Setya tidak tersinggung akan respon itu, justru sudut bibirnya terangkat tipis dan jemarinya meraih gelasnya, menyesap sedikit wine sebelum melanjutkan.

“Saya tidak punya maksud tersembunyi yang perlu kamu waspadai malam ini. Tidak ada kesepakatan implisit, tidak ada harga yang harus kamu bayar selain profesionalisme yang memang sudah kamu bawa sejak awal.”

Maura mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Namun rasa lega itu tidak sepenuhnya utuh, karena pernyataan Setya barusan justru membuka pertanyaan lain.

“Lalu apa?” tanyanya.

Setya tersenyum tipis. “Rasa ingin tahu.”

Maura mengernyit. “Tentang saya?”

“Ya,” Setya tidak mengelak, “tentang seseorang yang berani menarik garis di hadapan saya tanpa gemetar, tapi tetap datang dengan kepala tegak. Itu jarang saya dapati.”

Maura menyandarkan punggungnya ke kursi, menjaga jarak yang entah mengapa membuatnya merasa sesak.

“Rasa ingin tahu bukan alasan yang cukup untuk membuat seseorang merasa terintimidasi, Pak.”

“Dan saya tidak berniat mengintimidasimu. Jika itu yang kamu rasakan, berarti saya keliru membaca batas yang kamu maksud,” balas Setya cepat.

Hening kembali menyapa keduanya dan Maura sebenarnya ingin bertanya, tapi mengurungkan. Lalu, sebelum Maura membuka mulutnya untuk berkata, Setya lebih dulu berucap.

“Undangan itu... saya menerimanya. Saya akan menghadiri acara amal universitas dengan syarat kamu yang harus menemani saya dari awal hingga akhir,” lanjut Setya, suaranya kembali datar.

Maura membeku sesaat. Menerima? Setelah banyaknya undangan yang ditolak, akhirnya pria dingin itu menerima undangan universitasnya? Maura masih tidak percaya.

“Maaf,” katanya akhirnya, nadanya tetap terkontrol, “saya perlu memastikan saya tidak salah dengar.”

Setya menatapnya, kali ini tanpa senyum.

“Kamu tidak salah dengar. Saya menerima undangan ini, Maura Preswari.”

Malam itu, berakhir dengan dentingan sendok dan garpu di restoran. Pun, saat pulang Maura ditawari oleh Setya yang tentu saja langsung ditolak lembut. Sudah terlalu lama berada di radius pria dingin itu membuat Maura kehabisan tenaga.

“Maura, Bu Maura,” panggilan heboh datang dari Bu Rina yang melihat Maura baru saja masuk ke dalam ruangan dosen.

“Ada apa, Bu?” tanya Maura.

Maura menyadari bahwa ruangan ini begitu hening dengan tatapan mengarah pada Maura. Belum memahami situasi, ruangan dibuka dan ternyata itu Pak Hamdani, rektor yang memintanya memberikan undangan pada pria gila itu.

“Terima kasih, Bu Maura.”

1
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!