NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kawan Baru

Dari arah pintu masuk, muncul serombongan orang berpakaian seragam selayaknya para prajurit. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah garang lengkap dengan kumis tebal nya datang bersama dengan si pemilik warung makan. Rupanya si pemilik warung makan lah yang memanggilnya ke tempat itu.

"Beraninya kalian mengacau di wilayah Watak Bagelen hah?! Tidak takut ku masukkan ke penjara?! ", lanjut lelaki berwajah sangar itu sambil mengedarkan pandangan nya ke dalam warung makan itu.

Saat mata nya menatap ke arah pemuda berpakaian bangsawan berkumis tipis itu, rona wajahnya segera berubah.

" Gu-gusti Wanapati???! ", ucap si lelaki bertampang sangar itu dengan terbata-bata.

Ya, sebagai seorang pimpinan prajurit Watak Bagelen, tentu saja Bekel Handaka si lelaki bertampang sangar itu, jelas tahu siapa saja kerabat dekat Istana Adipati Bhagawanta. Wanapati, si pemuda berpakaian bangsawan dengan kumis tipis itu, adalah putra sulung Senopati Wanaraja, pimpinan prajurit Kadipaten Bhagawanta yang juga merupakan adik ipar Dyah Saladu, Adipati Bhagawanta. Mengganggu orang ini jelas bisa berakibat buruk bagi Bekel Handaka.

"Iya ini aku, Bekel Handaka..

Kenapa? Apa ada masalah dengan keberadaan ku?", ucap Wanapati sambil meringis menahan sakit di dada nya.

" T-t-tentu tidak, Gusti Wanapati...

Tapi tapi bagaimana ceritanya Gusti Wanapati bisa sampai disini tanpa sepengetahuan kediaman Rakai Bagelen? Maaf jika hamba lancang.. ", tanya Bekel Handaka dengan penuh hormat.

" Itu bukan urusan mu, Bekel Handaka..

Yang jelas si bajingan itu sudah berani menyerang kerabat dekat Istana Kadipaten Bhagawanta. Dia berani mencoba untuk membunuh mu, Handaka! Kau tahu apa yang harus kau lakukan! ", nada bicara Wanapati terdengar meninggi sambil menunjuk ke arah Ki Benggol.

Bekel Handaka segera mengalihkan perhatian dari Wanapati ke Ki Benggol yang masih terduduk di lantai warung makan. Matanya pun seketika berubah menjadi garang kembali.

" Dasar semprul!! Kau sudah berulang kali membuat masalah aku masih bisa mengampuni dosa mu, tapi kali ini kau benar benar membuat kesalahan besar.

Prajurit, seret bajingan ini ke penjara! Biarkan dia membusuk disana!! ", perintah Bekel Handaka yang membuat para prajurit Watak Bagelen langsung meringkus lelaki berkepala plontos itu. Mereka langsung menyeret Ki Benggol dan para anak buah nya meninggalkan warung makan ini.

" Kalau sudah tidak ada masalah, hamba mohon undur diri Gusti. Permisi.. ", ucap Bekel Handaka sambil menghormat pada Wanapati sebelum bergegas menyusul anak buahnya.

Setelah Bekel Handaka pergi, Wanapati disertai oleh kawan nya yang tak lain adalah pengawal pribadi sekaligus kawan karib nya Gelarsena berjalan mendekati rombongan kecil Jenar Karana.

"Aku ucapkan terimakasih atas bantuan nya, Kisanak...

Andai Kisanak tidak turun tangan, mungkin nyawa ku ini sudah melayang di tangan penjahat itu", ujar Wanapati sambil tersenyum lebar.

" Hanya bantuan kecil, tak layak untuk disebutkan..", sahut Si Kundu yang membuat Limbu Jati geram setengah mati.

Tanpa menunggu lama, murid utama Padepokan Pesisir Selatan ini langsung menginjak kaki Si Kundu dengan keras hingga pemuda berperut buncit ini langsung mengaduh kesakitan.

"Waduh biyung...!!

Kenapa kau injak kaki ku, Kang Limbu? Sakit ini.. ", protes Si Kundu sambil melompat-lompat menahan rasa sakit di kakinya.

" Ada nyamuk disitu, aku membantu mu.. ", jawab Limbu Jati sekenanya. Andai tidak khawatir menyinggung perasaan si perut buncit itu, Jenar Karana maupun Wanapati pasti sudah tertawa terbahak-bahak karena alasan nyamuk itu sungguh tak masuk akal.

" Nyamuk?! Mana ada nya... "

Si Kundu tak jadi meneruskan omelan nya ketika melihat Limbu Jati melotot ke arah nya. Bagaimanapun juga, Limbu Jati memiliki ilmu kanuragan yang lebih tinggi daripada dia, jika memaksakan diri untuk berkelahi melawan nya hasilnya pasti ia sendiri yang bonyok. Dan Si Kundu memilih untuk mengalah.

"Tak perlu disebutkan bantuan kecil itu, Raden. Jika orang lain yang melihat nya pasti juga akan turun tangan", ucap Jenar Karana kemudian.

" Pendekar sungguh rendah hati...

Aku Wanapati, ini kawan ku Gelarsena. Kalau boleh tahu, siapa pendekar pendekar ini dan darimana berasal? ", tanya Wanapati dengan sopan.

" Saya Jenar Karana, ini kakak seperguruan saya Kakang Limbu Jati dan yang itu Si Kundu saudara seperguruan saya juga. Kami berasal dari Padepokan Pesisir Selatan, ingin ke Kota Kadipaten Bhagawanta karena diutus oleh guru kami sebagai bantuan pengawal putra adipati ke Galuh Pakuan ", jawab Jenar Karana dengan jujur.

Jawaban Jenar Karana membuat Wanapati dan Gelarsena saling pandang. Nama Padepokan Pesisir Selatan memang cukup terkenal di kalangan penduduk Kadipaten Bhagawanta. Apalagi seseorang yang ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi Dyah Rangga ke Galuh Pakuan, jelas memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Berteman baik dengan mereka jelas akan menguntungkan bagi Wanapati dan Gelarsena.

"Wah sungguh suatu kehormatan bagi saya untuk berkawan dengan pendekar pendekar Padepokan Pesisir Selatan.

Kami juga akan menuju ke arah Kota Kadipaten Bhagawanta. Bagaimana kalau kita berjalan bersama? Kita bisa saling menjaga selama perjalanan kesana bukan? "

Mendengar tawaran Wanapati, Jenar Karana tak langsung mengiyakan tetapi menoleh ke arah Limbu Jati. Melihat kakak seperguruan nya itu mengangguk pelan, Jenar Karana segera menoleh ke arah Wanapati dan Gelarsena sambil tersenyum tipis.

Setelah memberikan ganti rugi kepada pemilik warung makan untuk kerusakan yang ditimbulkan, Wanapati dan Gelarsena pun mengajak Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu meninggalkan Watak Bagelen menuju ke arah ibu kota Kadipaten Bhagawanta yang terletak di hulu sungai Bhagawanta.

Wanapati membeli tiga ekor kuda untuk Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu agar perjalanan mereka lebih cepat.

Menjelang senja, mereka tiba di ujung hutan yang terletak di selatan tapal batas Kota Kadipaten Bhagawanta. Karena sudah terlalu gelap dan tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan, mereka terpaksa beristirahat di tempat itu.

Malam itu langit sedikit mendung dengan beberapa bintang masih menghias angkasa yang kelam. Cahaya rembulan nampak malu-malu mengintip dari celah celah awan seolah-olah masih ingin menerangi malam walaupun terhalang oleh sesuatu.

Api unggun berkobar menghangatkan suasana dingin di ujung hutan kecil ini. Si Kundu nampak asyik mengunyah pisang bakar yang ia temukan saat tadi di pinggiran hutan. Sedangkan Limbu Jati sedang asyik menikmati arak yang selalu ia simpan di pinggangnya.

Jenar Karana yang sedang merebahkan tubuhnya di atas lembaran daun pisang yang digunakan sebagai alas tidur, tiba-tiba bangkit dari tempat nya. Ini mengejutkan semua orang termasuk Wanapati dan Gelarsena.

"Ada apa Pendekar? Sepertinya kau merasakan sesuatu.. ", tanya Gelarsena segera.

Ssssstttttttttt...!!!

Hanya itu yang terdengar dari mulut Jenar Karana yang meletakkan telunjuknya di depan mulut. Semua orang tahu ini adalah isyarat bagi mereka untuk diam.

Suasana pun seketika berubah tegang.

Jenar Karana dengan cepat memutar kedua tangan nya dan meletakkan dua jari jemari tangannya di kedua pelipis sambil memejamkan mata. Saat ia membuka mata, sekilas cahaya kuning keemasan menutupi manik mata nya.

Ini adalah Ajian Mata Rajawali, sebuah ilmu ajaran Maharesi Siwanata eyang gurunya yang membuat pemiliknya mampu menajamkan penglihatan dan pendengaran hingga jarak ratusan tombak jauhnya.

"Ada apa Jenar? Jangan membuat kami takut.. ", tanya Si Kundu segera.

" Kalian tetap disini, ada yang sedang bertarung di ujung hutan sana. Aku akan memastikan bahwa mereka tidak sampai di tempat ini.. "

Setelah berkata demikian, Jenar Karana melompat ke atas pucuk pepohonan dan sebentar kemudian ia sudah tidak terlihat lagi.

"Kundu, kau tetap disini. Aku akan membantu Jenar, bocah itu kadang suka gegabah dalam bertindak.. ", usai berkata seperti itu, Limbu Jati langsung melesat ke arah perginya Jenar Karana.

" Dasar tidak setia kawan! Main tinggal sembarangan...! Kalian harus cepat kembali.. ", teriak Si Kundu yang kesal dengan ulah kedua saudara seperguruan nya.

Di tepi hutan kecil itu, sekelompok orang berpakaian sangar sedang mengepung seorang lelaki tua dengan dua orang perempuan muda. Pertarungan tak seimbang ini berlangsung sengit saat Jenar Karana mendarat di pucuk pohon krombang, tak jauh dari tempat pertarungan ini.

Thhrrraaaaaaannnngggg...

Dhhaaaaasssss dhhaaaaasssss!!

Lelaki tua itu terhuyung-huyung ke belakang setelah dua kali beradu tapak tangan dengan lelaki paruh baya berpakaian hitam dengan wajah memiliki luka parut di wajah kirinya. Di bawah penerangan cahaya bulan purnama yang menelusup di antara mendung yang berarak di langit malam, terlihat lelaki berwajah buruk itu menyeringai kala melihat lelaki tua itu muntah darah segar.

Sambil memelintir ujung kumisnya, lelaki paruh baya berwajah sangar ini berteriak lantang,

"Pendeta Wratsangka..!!!

Sekarang apa kau masih ingin melawan ku hah?! "

1
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!