Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Alina
Bayi itu menggeliat kecil dengan genggaman tangan yang masih tidak melepaskan gelang Alina.
Alina memejamkan matanya, tangannya kembali terulur untuk melepaskan genggaman kecil itu. Ekspresi wajah bayi itu ikut bereaksi saat Alina mencoba melepaskan genggamannya.
"Ekhee..." hanya itu respon dari bayi kecil itu.
'Alina aku mohon.... tolong rawat Rosa, aku mohon padamu.' Suara permintaan Ed kembali menggema di telinga Alina. Matanya bertemu dengan manik manis dan kecil Rosa.
Alina mendekatkan wajahnya kembali. "Aku akan merawat mu, tapi tidak ada cinta dan kasih sayang yang akan kau dapatkan. Karena kau adalah duri dalam hidupku!" Jelas Alina, dia akan membawa bayi ini, tidak tau sampai kapan. Akankah bertahan lama?
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Deru mesin mobil terdengar mendekat ke gerbang langsung membuat bibi menuju pintu masuk. "Nona, akhirnya Nona pulang.... Bibi...." Wanita paruh baya itu terkejut melihat Alina datang dengan bayi dalam dekapannya.
"Nona ini bayi siapa?" Tanya bibi setelah kekhawatiran sedikit menghilang.
"Rawat dia bi! Setidaknya beberapa tahun, setelah itu aku akan menyingkirkan duri ini dari kehidupan ku." Alina mendekat dan menyerahkan bayi Rosa dengan kasar pada bibi. Dan setelah itu bergegas masuk meninggalkan bibi dengan menggendong bayi mungil itu.
Mata bibi melihat kepergian Alina yang marah, tapi tak lama.... Matanya melihat manik manis dan polos digendongan nya.
"Kau cantik sekali." Ujar bibi ketika melihatnya. Wajah mungil itu tersenyum kecil seolah tau dengan sosok yang menggendong nya memiliki hati yang baik.
"Apa kau putri Edward?" Gumam bibi melihat-lihat wajah mungil digendongan nya.
"Kau......Astaga!" Bibi langsung mengelus dadanya dengan tangan kirinya. Detak jantungnya langsung berdetak kencang bukan main. Seorang wanita dengan seragam putih tiba-tiba saja muncul di tengah malam.
"Maaf Bu, tapi saya datang mengantarkan ini. Ini dari ayah bayi itu, sebelum tiada ia menitipkan ini." Jelas wanita muda itu sambil membawa koper kecil dan menyerahkannya.
"Siapa?" Tanya bibi dengan penasaran dan detak jantung yang masih belum normal.
"Edward." Bibi membulatkan matanya mendengar nama itu yang keluar dari bibir suster itu.
"Kapan?" Tanya bibi kembali dengan suara pelan.
"Tadi sore. Dan sudah dimakamkan. Saya menyerahkan koper ini, mohon dijaga.... Dan begitu juga dengan si kecil ini. Baby Rosa, sekarang dia berada di tempat yang aman dan pastinya akan menjaganya. Sebelumnya, dia terus saja menangis dan sulit untuk minum susu. Tapi sekarang, saya bisa melihat dia berada di tempat yang tepat." jelas suster itu panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari baby Rosa.
"Rosa. Namanya sangat cantik seperti rupanya." Ujar bibi menatap baby Rosa.
"Ya, dia sangat cantik. Aku harap setelah kepergian ayahnya, dia tidak akan kehilangan kasih sayang lagi. Saya permisi. Sampai jumpa Rosa." Wanita muda itu pergi meninggalkan bibi dengan Rosa.
"Tapi sepertinya tidak begitu..... Tapi bibi akan menyayangi mu." Jelas bibi, dia mengecup kening baby Rosa dengan sayang. Bayi ini tidak bersalah, entah siapa ibunya, dan tidak menutup kemungkinan kalau Ed adalah ayahnya. Tapi apapun itu, bibi memutuskan kalau dia akan menjaga dan merawatnya Rosa. Meksipun, Alina tidak seperti itu.
"Baiklah Rosa, ayo kita masuk. Udara malam tidak baik untuk mu. Ok sayang!" Seolah mengerti, baby Rosa tersenyum kecil.
Belum sampai kamar, bibi terhenti di dapur. Matanya melihat Alina yang mengambil air sambil duduk di sofa.
"Bibi, Pastikan bayi itu tidak menganggu tidur ku!"
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.