NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / One Piece
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI KEDUA NERAKA

Pagi berikutnya, Ace terbangun dengan seluruh tubuh terasa seperti ditabrak kapal. Setiap gerakan kecil memicu rasa sakit dari luka kemarin.

"Aduh..."

Di sebelahnya, Sabo juga terbangun dengan erangan yang sama.

"Rasanya seperti dihantam Kaizerr lagi..."

"Lebih buruk. Setidaknya Kaizerr cuma beberapa jam. Ini akan berlangsung tiga bulan."

Mereka mencoba duduk dengan sangat hati-hati. Perban di beberapa tempat sudah ternoda darah yang merembes.

Pintu terbuka. Yamamoto masuk dengan nampan berisi makanan dan obat.

"Bangun sudah? Bagus. Makan ini, minum obatnya, lalu kita lanjut latihan."

"Lanjut? Hari ini juga?" Sabo menatap tidak percaya.

"Tentu. Kalian pikir dapat istirahat seminggu? Justru saat tubuh masih sakit ini yang paling efektif untuk latihan—tubuh akan dipaksa adapt lebih cepat."

Yamamoto taruh nampan di meja kecil.

"Tapi hari ini bukan latihan fisik. Kalian tidak akan sanggup dalam kondisi seperti ini. Hari ini latihan Haki murni—meditasi dan kontrol energi spiritual."

"Latihan duduk?" Ace bertanya dengan nada lega.

"Jangan senang dulu. Latihan ini secara mental jauh lebih menyiksa dari kemarin. Kalian akan duduk diam selama delapan jam nonstop sambil maintain Haki Pelindung dan Haki Pengamatan bersamaan."

"Delapan jam?"

"Ya. Tanpa gerak. Tanpa istirahat. Tanpa tidur. Kalau kalian tidur atau kehilangan fokus—aku akan kejutkan dengan serangan mendadak."

Sabo meringis. "Itu penyiksaan..."

"Itu latihan. Sekarang makan dan minum obat. Kita mulai dalam tiga puluh menit."

Yamamoto keluar, meninggalkan mereka dengan makanan yang tiba-tiba terasa tidak menarik lagi.

"Aku mulai menyesal pilih latihan neraka ini," Sabo bergumam sambil makan pelan.

"Terlambat untuk menyesal. Kita sudah mulai, harus selesaikan."

Mereka makan dalam diam, masing-masing mempersiapkan mental untuk delapan jam siksaan yang menanti.

Tiga puluh menit kemudian, mereka duduk bersila di area terbuka belakang gubuk. Yamamoto duduk di depan mereka dengan tongkat bambu di tangan.

"Aturannya sederhana. Duduk dengan postur sempurna. Aktifkan Haki Pelindung di seluruh tubuh dan Haki Pengamatan radius maksimal. Maintain keduanya bersamaan selama delapan jam."

"Kalau postur kalian rusak, aku pukul dengan ini." Dia angkat tongkat bambu. "Kalau Haki kalian lemah atau terputus, aku pukul. Kalau kalian tidur, aku pukul dua kali."

"Mengerti?"

"Mengerti..."

"Bagus. Mulai sekarang."

Ace menutup mata. Mengambil napas dalam dan mulai alirkan energi spiritual ke seluruh tubuh.

Haki Pelindung aktif—warna hitam melapisi kulit. Tidak terlalu pekat karena harus hemat energi untuk delapan jam.

Bersamaan, Haki Pengamatan menyebar—merasakan semua keberadaan dalam radius seratus meter. Burung di pohon, serangga di tanah, Yamamoto di depan, Sabo di samping, Dadan dan Luffy di dalam gubuk.

Mempertahankan dua Haki sekaligus sangat berat. Seperti menggunakan dua otot yang berbeda secara bersamaan dengan kontrol penuh.

Sepuluh menit pertama masih oke. Dua puluh menit mulai terasa berat. Tiga puluh menit—konsentrasi mulai goyah.

PLAK!

Tongkat bambu menghantam bahu Ace.

"Haki Pelindungmu melemah di sisi kiri. Fokus!"

Ace menggigit bibir—rasa sakit dari pukulan di atas luka kemarin sangat menyiksa. Tapi dia perbaiki aliran Haki segera.

Lima menit kemudian—

PLAK!

Kali ini Sabo yang kena.

"Posturmu membungkuk. Luruskan punggung!"

Sabo meluruskan dengan susah payah. Rusuk yang retak kemarin protes keras saat dipaksa tegak.

Satu jam berlalu dengan perlahan. Keduanya sudah kena pukulan masing-masing lima kali.

Dua jam—pukulan meningkat jadi sepuluh kali masing-masing.

Tiga jam—konsentrasi mulai pecah total. Ace sempat tertidur dua detik dan langsung dapat dua pukulan keras di punggung yang membuatnya terbangun dengan jeritan tertahan.

"Kalau kalian tidur lagi, aku akan pakai Haki di tongkat ini," Yamamoto memperingatkan dengan nada dingin.

Mereka tidak berani tidur lagi setelah ancaman itu.

Empat jam—tubuh mulai mati rasa. Kaki kesemutan parah tapi tidak boleh gerak. Punggung sakit luar biasa tapi harus tetap tegak.

Lima jam—halusinasi mulai muncul. Ace melihat bayangan bergerak di sudut pandang meski tahu itu tidak nyata. Harus fokus keras untuk bedakan realita dan halusinasi.

Enam jam—

"Ace... aku tidak kuat lagi..." Sabo berbisik lemah.

"Bertahan... tinggal dua jam..."

"Aku... serius... kepalaku rasanya mau pecah..."

"Bertahan!"

PLAK! PLAK!

"Tidak ada ngobrol! Fokus pada Haki kalian!"

Tujuh jam—detik-detik terasa seperti jam. Setiap napas adalah perjuangan. Setiap detik mempertahankan Haki terasa seperti mengangkat gunung.

Tujuh jam tiga puluh menit—

Sabo kolaps. Tubuhnya jatuh ke samping—pingsan total dari kelelahan mental.

"Sabo gagal. Tapi tujuh setengah jam sudah impresif untuk hari pertama latihan ini," Yamamoto berkomentar sambil taruh selimut di tubuh Sabo.

"Ace, kau lanjut sampai delapan jam penuh atau mau ikut berhenti?"

Ace ingin berhenti. Sangat ingin. Tubuh berteriak untuk istirahat. Mental sudah di ambang kehancuran.

Tapi—

"Aku... lanjut... sampai... delapan jam..."

Suaranya hampir tidak terdengar tapi tekad jelas terasa.

"Bagus. Tiga puluh menit lagi."

Tiga puluh menit yang paling panjang dalam hidup Ace.

Setiap detik adalah siksaan. Setiap napas adalah perjuangan.

Tapi dia bertahan.

Entah bagaimana, dengan kemauan yang bahkan dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya—dia bertahan.

Detik-detik terakhir—

"WAKTU HABIS! DELAPAN JAM SELESAI!"

Ace langsung kolaps. Tidak pingsan tapi tidak bisa bergerak sama sekali. Berbaring di tanah sambil terengah-engah seperti habis lari maraton.

"Kau berhasil. Delapan jam penuh. Bahkan aku dulu cuma sanggup enam jam di latihan pertama," Yamamoto berkata dengan nada yang jarang terdengar—bangga.

Dia bantu Ace duduk dan kasih air.

"Minum pelan-pelan. Lalu istirahat sampai besok. Besok latihan akan berbeda lagi."

Ace minum dengan tangan gemetar. Air terasa seperti minuman terenak di dunia setelah delapan jam tanpa minum.

"Yamamoto-sensei... ini... benar-benar akan bikin kami sekuat Laksamana?"

"Kalau kalian bertahan tiga bulan latihan seperti ini dengan variasi berbeda setiap hari? Ya. Kalian akan mencapai tingkat itu. Mungkin bahkan lebih tinggi."

Yamamoto menatap mereka berdua—Sabo yang masih pingsan dan Ace yang hampir pingsan.

"Kalian punya potensi luar biasa. Lebih dari yang kubayangkan. Sekarang tinggal asah potensi itu dengan latihan brutal sampai jadi berlian sungguhan."

Dia bantu membawa Sabo ke gubuk. Ace jalan sendiri meski sempoyongan.

Di gubuk, Dadan sudah siapkan makan malam besar dan air hangat untuk mandi.

"Kalian benar-benar serius dengan latihan gila ini ya..." dia bergumam sambil lihat kondisi mereka.

"Tidak ada pilihan lain, Dadan-san. Kalau kami tidak jadi sekuat mungkin, musuh yang akan datang nanti akan bunuh kami dan mungkin kalian juga."

Dadan terdiam. Dia tahu Ace benar.

Luffy yang melihat kakak-kakaknya dalam kondisi buruk lagi mendekat dengan wajah khawatir.

"Ace-nii... Luffy boleh bantu?"

"Bantu dengan cara jadi kuat juga. Latihan dengan Yamamoto-san setiap hari. Itu bantuan terbesar untuk kami."

"Oke! Luffy akan latihan super keras!"

Setelah makan dan mandi, Ace dan Sabo langsung tidur. Terlalu lelah untuk ngobrol atau bahkan berpikir.

Hari kedua neraka selesai.

Masih ada delapan puluh delapan hari lagi.

Masih sangat panjang.

Tapi mereka sudah membuktikan bisa bertahan dua hari.

Berarti bisa bertahan delapan puluh delapan hari lagi.

Mungkin.

Semoga.

1
Salman Al Farisi
lanjut thor 👍👍👍👍👍
Pi Xi
bagus
Tiara Fani
Thor bikin novel dimana karakter kanae kocho reinkarnasi di one piece
Wahyu🐊: nanti
total 2 replies
deepey
tak kira jadi Luffy, ternyata jadi ace. ubah takdir ace ya Thor. jangan mpe meninggoy duluan.
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!