NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06 Sesi Curhat

Kafe minimalis di salah satu sudut kota sore itu, tampak ramai namun cukup tenang.

Alunan musik jazz beradu dengan obrolan samar dari meja-meja pengunjung.

Tamara duduk di dekat jendela besar—setelan kerja formal masih melekat elegan di tubuhnya, meski wajahnya terlihat kusut.

Pandangannya jatuh pada es kopi, tangannya sibuk memainkan sedotan.

Di seberang meja, dua orang sahabatnya, masih tergelak ringan setelah beberapa saat yang lalu mendengarkan curhatannya.

"Ya ampun! Tamara Hadinata, si CEO cantik dan super galak, dikadalin sama cowok kayak Andra?" Meliza—si cantik dengan penampilan modis, melotot tak percaya, setengah meledek.

Di sebelahnya, Tyas—si perempuan supel, turut berkomentar. "Udah bener langsung diputusin, masih banyak cowok lain."

"Makanya, Ta. Udah aku bilang, punya cowok tuh jangan satu aja." Meliza menyeletuk ringan, lalu menyendok cheesecake miliknya.

Tamara melepaskan sedotan di tangannya. "Bukan itu masalahnya. Ini... lebih gawat."

Ia menarik napas singkat. "Papa aku tahu semuanya, dan langsung mutusin buat jodohin aku," suaranya melemah.

Kedua perempuan sebayanya itu kompak mencondongkan badan ke arahnya.

"Serius?" tanya keduanya bersamaan, dengan mata membulat.

Tamara memijat pelipisnya. "Papa aku nggak pernah bercanda kalau udah mutusin sesuatu."

"Oh My God!" Meliza langsung heboh, hampir menjatuhkan sendok.

Alisnya terangkat dramatis, khas aktris profesional yang sudah terlalu sering membintangi sinetron dan film.

"Tamara... Si paling takut nikah, beneran dijodohin? Sama siapa?" tanyanya, menahan tawa.

Tamara belum menjawab.

Sedangkan Tyas sudah memegang dagu dengan jari, wajahnya serius seperti pemikir ulung—gaya khas pemilik kafe tersebut.

"Karena ini pilihan papanya. Aku yakin dia bukan cowok kayak mantan-mantannya Tamara," tebaknya jitu.

Tamara menegakkan tubuh, tangannya merogoh saku blazer dan mengeluarkan kartu nama yang sempat diberikan Arvin kepadanya.

Lalu meletakkan benda itu di atas meja. Meliza dengan cepat mengambilnya, Tyas ikut mendekat.

Keduanya hampir tak berkedip, saat meneliti detail yang tertera pada kartu:

Prof. Dr. Arvin Wicaksono, S.Psi., M.Sc., Psikolog

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Dan Kerjasama

Fakultas Psikologi,

Universitas Bina Bangsa

Dilengkapi beberapa informasi lain: nomor telepon, email, serta alamat kantor.

Sementara Tamara sambil menceritakan sedikit, tentang proses singkat perkenalan mereka.

Meliza menatapnya penuh selidik, setengah tak percaya. "Beneran masih muda? Gimana orangnya? Cakep nggak?"

Tamara mengangkat bahu singkat. "Muda, cakep sih. Orangnya kalem... tapi terlalu kaku buatku."

...dan parahnya, dia cowok yang bisa bikin aku lebih banyak diam, batinnya.

Meliza tergelak, jemarinya memukul meja pelan. "Sumpah ya, Ta. Hidup kamu sat set banget. Dari putus dramatis sama Andra, sekarang tiba-tiba udah mau dinikahin aja."

Tamara memutar bola mata. "Males banget tau nggak. Hidup aku pasti akan ngebosenin banget kalau nikah."

Tyas menatapnya sebentar. "Emang salahnya dimana, Ta? Latar belakangnya jelas... yang pasti, dia standar pilihan Papa kamu."

"Aku sama dia tuh, beda. Udah kayak dua dunia yang nggak seharusnya ketemu," ujar Tamara spontan.

Meliza mengangguk sepakat.

"Tamara itu kayak badai, terlalu ribut untuk ukuran manusia kalem dan pemikir kayak gitu," ujarnya sambil menunjuk tulisan nama dan rentetan gelar Arvin.

"Aku kok nggak mikir gitu, ya," kata Tyas.

Pikirannya sibuk mengumpulkan analisa berdasarkan pemaparan singkat Tamara tentang sosok Arvin.

Matanya menyipit melihat kartu nama itu. "Entah kenapa aku mikirnya, kali ini Tamara yang justru takut nggak bisa menaklukkan orang ini."

Pandangannya berpindah ke arah Tamara. "Dia mungkin aja tipe yang nggak bisa dikontrol dengan mudah kayak mantan-mantan kamu," imbuhnya.

Sebagai salah satu orang terdekat, Tyas cukup tahu jika sahabatnya itu memang memiliki kebiasaan bersikap dominan, termasuk urusan laki-laki.

Tamara tidak akan bisa dikendalikan dengan mudah, justru dia lah pemegang kendali. Ia terbiasa dengan laki-laki yang patuh, kagum, dan bergantung padanya.

Ia paling menghindari laki-laki seperti Arvin yang tenang, tidak terlihat ingin mengambil alih kendali, tapi juga tidak tunduk—dan itu mematahkan sisi dominannya.

Tamara terdiam, memikirkan asumsi Tyas memang ada benarnya, walau ia sulit mengakuinya.

Hingga Meliza bersuara, memecah keheningan singkat yang sempat tercipta. "Yas... kayak nggak tahu Tamara aja, sih. Mau gimana pun tipe cowoknya, Ibu CEO ini mana pernah mau serius menjalin hubungan."

"Apalagi sampai nikah." Tamara menyambung perkataan sahabatnya. "Aku nggak bisa, terikat dengan hubungan yang penuh aturan."

"Itu karena kamu belum ketemu yang tepat aja, Ta." Tyas menyahut.

"Coba kalau kamu ketemunya sama cowok baik-baik. Aku yakin, kamu mungkin mulai memikirkan untuk menikah," tambahnya.

Ia menggeleng heran. "Kalian berdua tuh ya. Segitu takutnya nikah?" omelnya sambil meraih gelas, meneguk kopinya tanpa tergesa.

Meliza dengan percaya diri, menjawab, "Gini ya, Yas. Kita berdua tuh, belajar dari pengalaman kamu. Amit-amit deh ketemu cowok modelan kayak mantan suami kamu. Padahal kalian itu jelas nikahnya dulu karena sama-sama cinta, kan? Nyatanya apa?"

Tyas terdiam sejenak, sama sekali tidak tersinggung. Ia meletakkan kembali gelas kopi di atas meja.

"Dengerin ya... Heri memang satu dari sekian banyak cowok brengsek yang pernah ada," katanya, mengingat tentang mantan suaminya dulu.

Lalu melanjutkan, "Tapi nggak semua cowok kayak dia. Masih banyak kok cowok yang benar-benar tulus."

Meliza menyandarkan punggung, mengibas pelan rambutnya dengan anggun.

"Aku sih masih skeptis ya soal pernikahan. Aku mending sibuk syuting tiap hari, daripada terikat sama hubungan yang penuh aturan, dan ujung-ujungnya bikin mental ambruk."

Ia melirik Tamara yang kembali mengaduk-aduk es kopi. Sudut bibirnya langsung terangkat nakal, dengan sorot mata menyipit, setengah menggoda.

"Tapi kalau Tamara mau nikah duluan, sih. Nggak apa-apa. Seenggaknya... sainganku berkurang satu," ujarnya, disusul cengiran khasnya.

Tamara mendengus sebal, tangannya langsung mengambil kartu nama Arvin di atas meja, menyimpannya kembali.

Sementara Tyas duduk tegak, kedua tangan terlipat di meja, menatap Tamara dan Meliza bergantian.

"Menikah itu nggak menakutkan, kok. Asal... nikahnya sama orang yang bener." Ia meyakinkan, seolah lupa pernah punya pengalaman pahit akibat perceraian.

"Nah itu dia!" seru Meliza spontan menjentikkan jari.

"Nyari cowok yang bener, yang bisa klop sama kita... kayak nyari jarum di tengah tumpukan jerami tau nggak. Susah," katanya asal ceplos.

"Nggak gitu juga, Memel. Kamunya aja yang kebiasaan suka pilih-pilih," cibir Tyas.

Meliza mendebatnya, "Pilih-pilih itu bukan hanya jadi kebiasaan, Yas. Tapi wajib."

Belum sempat ia meneruskan perkataannya, layar ponselnya menya dengan getar lama. Meliza memeriksanya, senyumnya langsung merekah penuh rahasia kecil.

Ia langsung berdiri. "Aku tinggal dulu ya, bentar," katanya. Perempuan itu segera menjauh, mencari tempat untuk menerima telepon.

Tyas memandangi punggung Meliza sekilas. "Pasti dari cowok barunya," duganya.

Lalu kembali menatap Tamara. "Emang siapa sih? Bisa-bisanya tuh anak masih main rahasia-rahasiaan," bisiknya.

Tamara terkekeh pelan. "Memel kan emang suka begitu... Kalau tiba-tiba ada plot twist dalam hidupnya, baru dia akan cerita sendiri."

Tyas ikut terkekeh, mereka sudah hafal tabiat sahabat mereka yang satu itu.

"Jadinya, kamu gimana?" tanya Tyas, kembali fokus pada persoalan Tamara.

Tamara menarik napas pendek. "Nggak tau, deh. Ini berat banget buatku. Masalahnya kalau Papa yang minta, susah banget nolaknya," jawabnya, setengah putus asa.

"Gini ya, Ta. Kalau selama ini kamu selalu percaya sama papa kamu. Berarti kamu juga bisa dong, kali ini percaya urusan jodoh yang sudah dipilihkan papa kamu," kata Tyas, menyarankan.

Tamara terdiam, pandangannya melayang ke arah jendela.

Alunan musik kafe masih terdengar lembut, namun lebih dari itu, pikirannya sibuk menimbang saran sahabatnya.

Hingga ponselnya berbunyi singkat. Tamara memeriksanya, jemarinya dengan cepat mengusap layar.

Matanya terbelalak membaca satu pesan dari papanya. Sedetik berikutnya, otot wajahnya mendadak tegang.

Tyas mengernyit. "Kenapa, Ta?"

Tamara memasukkan ponsel ke dalam tas dengan perasaan gusar. "Aku pulang dulu, Yas."

Belum sempat Tyas bertanya lebih lanjut, langkah Tamara bergegas meninggalkan kafe.

BERSAMBUNG...

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iyaa.. keterlaluan banget.. kalau Arvin itu cowok gak sabaran, udah dtinggalin kamu🙄
Lonafx: marahin aja kak😂😝
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
wahh keren nih dua sohibnya.. pandai menasihati meski dgn cara ngomel dan menghakimi wkwk tp biasnaya manjur, karna mereka orang terdekatnya
Lonafx: cuma mereka yg berani mengomeli ceo galak😂
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iya bener.. jangan sampai nyesel loh
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
ya ampunn.. Arvin jadi cowok sabar banget...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
dia terbiasa keras sama dirinya sendiri.. gak heran tumbuh jadi perempuan dominan yg suka mengontrol,
Lonafx: menempa wehh, typo😫
total 2 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
lahh, Papa sakit serius ternyata, pantes pengen banget putrinya cepet nikah
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
kira2 Arvin bakal ilfeel gak ya🤣
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
Tata lagi ngedrama, apa pasang skin menggatal/Sly/ tapi sama suami sendiri juga sih gapapa😄
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
definisi senggol di bales senggol/Facepalm//Facepalm/
Cahaya Tulip
penasaran bakal ada besok🤭

arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
Cahaya Tulip
kucing kali takut aer🤣
Cahaya Tulip
emang iya tata.. 🤣
Cahaya Tulip
kurang bahan nggak tuh? apanya yang ditutupin? 🤣
Cahaya Tulip
wah, ada apa besok? 😗
Cahaya Tulip
wah.. ada apa ini? 😗
Muna Junaidi
Sesuai dengan undangan mareee kita berhalu ria mumpung lagi sendirian🤣🤣🤣mas tolong anaknya dibawa dulu dolanan istri tercintamu mau main sama othor🤭🤭
Lonafx: wahhh siap kakak😝🥰 terima kasih 🙏
total 1 replies
Cahaya Tulip
🥺 kalimat yang diharapkan semua perempuan setelah menikah.. rasa aman tempat pulang perlindungan
. yg lagi mahal sekarang🥺
Cahaya Tulip
Papa Rudi.. sekrang jadi sendirian ya🥺
Cahaya Tulip
untung badai nya tata lagi mode off😂
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk fiturnya nambah habis kepalanya kebentur😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!