NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Pasar He’an Ji dan Perempuan yang Tidak Bisa Ditahan”

Jia masih teringat bagaimana semua yang dulu menjadi miliknya-ayah, kamar, perhiasan, bahkan hak-hak kecil-perlahan berpindah tangan ke Lu Yuer. Semua itu dibungkus rapi dalam satu kalimat manis: "Kakak tak boleh egois." Milikmu adalah milik adikmu, begitu logika yang disisipkan oleh ibu tirinya. Tradisi yang terdengar lembut, tapi menyakitkan sampai ke tulang.

Mengingat itu, kulit kepala Jia terasa gatal, seolah ingin membenturkan kepalanya ke batok Lu Yuer, biar semua yang pernah menjadi haknya-termasuk rasa sakit itu-diambil sekalian.

"Ah... aku bahagia. Lihat, bibirku sampai kering karena selalu tersenyum. Bahkan saat melihat dedemit di kereta, aku tetap tersenyum," kata Lu Jia ringan, tangannya melingkar di lengan Su Hao yang berotot, berlagak manja seperti istri kecil. Su Hao tersenyum tipis; hatinya sudah menebak-Lu Jia hanya berpura-pura.

"Ehem... syukurlah, Kak. Aku ikut senang mendengarnya," ujar Lu Yuer sedikit kikuk. Ia tak menyangka kakak idiotnya menjawab dengan tenang. Lebih aneh lagi, Lu Jia justru memamerkan kemesraannya di depan mata. Padahal dulu perempuan itu membenci Su Hao, bahkan beberapa kali kabur dari rumah. Tapi hari ini, pemandangannya terbalik: Lu Jia menempel tanpa ragu pada lelaki pincang itu sejak mereka berjalan sampai naik grobak.

Bagus. Kalau mereka benar-benar akur, "sampah" di depannya tak akan mengotori nama keluarga Lu lagi. Lu Yuer menatap kakaknya dengan perpaduan meremehkan dan perhitungan.

Perlahan, ia menurunkan kipas, lalu sengaja menonjolkan kalung berliontin mawar di lehernya. Gerakannya jelas: memamerkan hadiah dari Shen Yucheng, barang yang dulu Lu Jia serahkan kepadanya. Padahal Yuer tahu betul Lu Jia saat itu sedang berhubungan dengan Shen, sementara dirinya mencintai lelaki itu seperti orang kehabisan akal.

Jia menatap liontin mawar itu sekilas.

Ingatan samar melintas. Lu Jia yang dulu pernah menjaga benda itu seperti harta karun. Kini kalung yang sama menggantung manis di leher Lu Yuer.

Anehnya, Jia tidak merasa marah.

Ia hanya merasa selera kedua orang itu memang cocok. Yang satu suka merebut, yang satu suka dijadikan hadiah.

Lu yuer memperbaiki posisi duduk, menyentuh kalung itu dengan jari seolah benda rapuh, lalu menunduk manis sambil bergumam, "Kak, aku bahkan belum sempat berterima kasih. Hadiah ini... cantik sekali. Aku sangat menyukainya. Shen juga pasti suka melihatku memakainya."

Jia hanya melirik kalung itu.

Ia tahu adiknya sedang mencoba menusuk ego lamanya, tetapi bagi Jia, barang begitu tak punya arti selain nilai rupiahnya. Lagi pula, itu milik "Lu Jia" yang dulu, bukan dirinya sekarang. "Memang cantik. Kalau kau suka, pakailah. Kau memang ditakdirkan memilikinya," jawabnya ringan. "Aku memberikannya karena aku tidak suka menyimpan kenangan mantan." Suaranya mantap, lalu pandangannya bergeser ke suaminya, mata memerah samar.

Su Hao, yang mendengar itu, merasakan dadanya menegang aneh. Apakah istri kecilnya benar-benar melupakan kekasih lamanya? Ada sebersit puas di wajahnya, tapi melihat istrinya seolah sedih, ia keliru menafsirkan. Mungkin Jia menginginkan kalung itu juga. Perempuan dan perhiasan, pikirnya kaku. Ia mengusap pipi Lu Jia dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku akan membelikanmu yang baru di pasar. Kau bisa memilih sendiri."

"Ha?" Jia bingung, tapi ia memilih damai. Ia menyandarkan tubuhnya malas di lengan suaminya, tidak peduli wajah Lu Yuer yang mulai menghitam. Melihat kedekatan keduanya, Yuer mendengus dalam hati. Cih. Miskin begitu, mana sanggup beli emas? Paling nanti yang dipilih Lu Jia cuma hiasan murahan.

Keheningan turun sejenak, bersamaan dengan roda grobak sapi yang melambat. Mereka sudah masuk ke gerbang pasar He'an Ji, tempat penjual, pembeli, dan pencopet bercampur jadi satu. Teriakan pedagang dan tangis anak-anak yang minta dibelikan mainan membuat pasar itu hidup sekaligus ribut.

Grobak berhenti tepat di belakang lapak penjual kain yang berdampingan dengan pedagang sayur. Su Hao turun lebih dulu, dan begitu kakinya menapak tanah, Lu Jia langsung melompat ke punggungnya. Karena kakinya pincang, Su Hao hampir kehilangan keseimbangan; mereka berdua nyaris jatuh. Saking gemasnya, ia mencubit pantat istrinya cukup keras, dibalas Jia dengan menarik rambutnya.

Penumpang lain geli melihat tingkah pasangan itu. Namun tidak dengan Lu Yuer. Bukan ini yang ia inginkan. Melihat Lu Jia tertawa bukan tujuannya. Ia ingin kakak tirinya tersiksa, menangis karena luka. Ia ingin pernikahannya dengan Su Hao menjadi racun yang membunuhnya perlahan-lahan, sampai kematian tragis menjemputnya. Dengan begitu, Lu Yuer bisa bersama Shen Yucheng tanpa bayang-bayang kakak sialannya itu.

Lu Yuer mengeluarkan 2 yuan dari sakunya, menyerahkannya pada pengemudi, lalu berlalu tanpa menghiraukan dua manusia sinting itu.

Su Hao berusaha memperbaiki posisi istrinya lalu mendekat dengan langkah tertatih, sementara Jia masih bergelantung di punggungnya seolah menganggap suaminya seekor kuda.

"Berapa?" tanyanya.

"Oh, karena kalian berdua, biayanya sekitar 4 yuan," jawab si pengemudi sambil mengikat sapi di pohon mangga.

Mendengar itu, Su Hao mengangguk, membuka tas kecilnya, dan mengeluarkan empat keping yuan. Ia hendak menyerahkannya pada si pengemudi disusul suara cempreng Jia, tiba-tiba meledak tepat di samping telinganya.

"TUNGGU! Badanku kecil! Empat kali potongan badan suamiku ini, kenapa bayar full? Sapimu juga tidak merasa lelah saat aku naik di keretanya!" protes Jia, merasa ketidakadilan menodong hidupnya lagi.

"........."

"Haha..." Tawa kecil lolos dari mulut Pak Sopir, pria bertubuh subur itu. Ia sempat ingin membalas ucapan Lu Jia, namun melihat wajah Su Hao yang mulai memerah, si pengemudi terpaksa hanya tertawa kikuk. Ia sangat takut pada pria didepannya, sama seperti seluruh penduduk Qingshan Cun. Su Hao, walaupun timpang, tenaga pria ini tidak main-main. Ia bahkan bisa menaklukkan banteng yang mengamuk, dan pernah membunuh dua ekor harimau di hutan hanya dengan sebilah pisau kecil. Penduduk sampai memberinya julukan "Tiě Guài" - Si Monster Besi.

"Anu... nona benar. Aku lupa... hehe." Suaranya pasrah; jelas tidak mau memperpanjang masalah.

Lu Jia mengangguk sombong, puas karena menang dan benar.

Su Hao mendengus, lalu menyodorkan koin. "Ambil ini. Aku tidak semiskin itu sampai tak bisa membayar ongkos istriku. Oh, maaf juga... mungkin karena dia pernah kecelakaan, otaknya jadi sedikit bengkok seperti tulang rusuknya."

Kata-katanya serius. Terlalu serius sampai Jia ingin menggigit mulut suaminya.

sebelum melangkah, Su Hao menurunkan Jia karena malu dilihat orang, membuat istrinya cemberut, tapi tetap tidak ia gubris. Lelaki itu hanya menggenggam tangannya agar tubuh mungil Jia tidak tersambar orang-orang yang memenuhi pasar hari itu.

"Kita beli daging sapi dulu, sebelum habis. Sepertinya hari ini pembeli banyak sekali," kata Su Hao sambil menunjuk deretan penjual daging: sapi, ayam, hingga babi yang sudah disembelih. Desa ini memang dihuni campuran muslim Hui dan warga Han, jadi lapak dagingnya beragam, meski tetap dipisah berjajar.

"Apa ada yang masih hidup? Aku mau lihat korban... maksudku qurban saat dibantai... anu, disembelih," tanya Jia penuh semangat melihat darah berceceran di atas daun pisang. Itu mengingatkannya pada pertarungan di ring, saat lawannya memuncratkan darah dari hidung dan daging wajah yang pecah.

"Ah... aroma parfum alami," batinnya puas.

Su Hao melirik istrinya. Pertanyaan Jia memang sering keluar dari jalur manusia normal, membuatnya sedikit waswas pada struktur otak wanita ini. Tapi tetap saja ia menjawab.

"Qurban masih lama. Dan kalau pemotongan, para pria tidak suka wanita mendekat. Jadi berhentilah bertanya aneh-aneh."

"Ih, tidak asyik." Jia menghentak kecil lalu berjalan duluan mendekati lapak penjual daging. Langkahnya terhenti ketika penjual babi di samping berteriak memanggilnya.

"Babi segar! Sekati dua yuan! Mau daging, mau lemak, tinggal tunjuk!"

"Ayo nona, tuan, mari merapat..."

"I'm sorry, I'm Muslim, you know!" potong Jia spontan, dengan suara sedikit keras.

Hening seketika.

Su Hao, yang merasa semakin tidak kenal dengan istrinya ini, hanya mendesah panjang. Tapi ada sedikit rasa kagum juga karena istrinya bisa berbahasa asing; terdengar unik di telinganya. Ia memutus kecanggungan itu dan maju.

"Maaf, kami Muslim. Kami hanya mau beli daging sapi."

"Oh iya, maaf, saya tidak tahu. Silakan ke samping," kata si penjual sambil menggaruk kepala, menunjuk lapak sebelah.

Su Hao mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjuk. Ia bergeser ke samping sambil memegang pinggang istrinya. Jia mengikuti langkah suaminya tanpa banyak suara.

"Berapa?" tanya Su Hao pada penjual yang sedang sibuk memotong tulang sapi.

"Cuma 1,5 yuan per kati. Kalau beli dua, kuberi harga 2,7 yuan," jawab si penjual sambil tersenyum ramah, menghentikan aktivitasnya.

"Berikan tiga kati," pinta Su Hao tanpa menawar. Ia mengeluarkan 4,2 yuan.

"Oke, oke. Untuk tiga kati, cukup bayar 4,1 yuan saja. Akan kutambahkan sedikit jeroan," kata penjual itu. Ia menimbang daging, memasukkannya ke daun pisang, lalu menyerahkannya. Su Hao menaruh paket itu ke dalam karung dan mengangkatnya; tangan satunya tidak lupa menggenggam lengan istrinya.

"Kenapa banyak sekali? Kita cuma berdua," tanya Jia, bingung.

"Kita akan membawanya besok ke keluarga Lu. Itu tradisi. Setelah sebulan menikah, pengantin harus mengunjungi keluarga pihak perempuan sebagai tanda syukur."

"Kenapa begitu? Mereka saja tidak suka pada kita. Ini sama saja merampok dengan alasan tradisi. Mereka tidak malu berharap pada menantu miskin?" protes Jia, tanpa sadar menusuk perasaan suaminya.

"Jia, aku masih bisa-"

Buug.

Seseorang menyenggol bahu Su Hao. Tidak keras, tapi cukup membuat tubuhnya condong.

"Maaf, tuan. Tak sengaja," ucap pria itu, lalu menghilang ke dalam kerumunan manusia yang lalu-lalang.

Su Hao langsung merapatkan tubuh Jia ke sisi dirinya, takut istrinya ikut tersenggol.

"Jia, kita ke toko emas dulu-"

"Tunggu aku di sini," potong Jia sambil tersenyum, sebelum berbalik dan pergi meninggalkan suaminya.

"Jia! Jangan macam-macam, kamu..." Su Hao mulai panik. Ia takut istrinya berniat kabur. Tangan besarnya berusaha menarik tangan Jia, namun perempuan itu gesit menghindar. Su Hao mengeram frustasi. Banyak orang di sini, membuatnya tak bisa bergerak bebas.

"Permisi, tuan. Jangan berdiri di situ, Anda menghalangi jalan," tegur seseorang yang hendak lewat.

Su Hao menepi... dan begitu ia mendongak lagi, sosok istrinya sudah lenyap ditelan kerumunan pasar.

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!