NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Kantong belanjaan kain yang dibawa Alya terasa jauh lebih berat sore itu, tetapi anehnya, langkah kakinya justru terasa paling ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Setelah menyelesaikan perburuan bahan baku berkualitas di toko langganan bersama Adel dan Jesica, ketiganya akhirnya berpisah di persimpangan jalan utama kota untuk kembali ke rumah masing-masing. Lambaian tangan antusias dan seruan penyemangat dari kedua sahabatnya masih terngiang hangat di telinga Alya, menjadi bahan bakar tambahan bagi energinya yang sempat terkuras.

Begitu angkutan umum menurunkannya di mulut gang, Alya berjalan cepat menyusuri lorong sempit menuju rumah papan bernuansa biru pudar miliknya. Lemayung senja yang mulai meredup mengiringi langkahnya masuk ke dalam rumah yang masih sunyi. Ayah dan ibunya rupanya belum kembali dari kegiatan mereka masing-masing.

Alya meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur, lalu berjalan ke kamar untuk mengambil lembar kertas kecil yang diletakkannya di atas meja belajar. Ia menyalakan lampu bolam yang temaram, membiarkan cahayanya menerangi guratan pulpen yang mencatat daftar pesanan kue untuk besok pagi.

Jemari Alya bergerak menelusuri nama demi nama yang tertera di sana. Mulai dari Adel, Jesica, Tiara, teman-teman sekelas lainnya, beberapa guru yang menitip pesan melalui Adel, hingga pesanan dalam jumlah besar dari Devan Narendra. Alya mengambil kalkulator jadulnya, mulai menjumlahkan uang muka yang sudah ia terima hari ini dengan sisa pelunasan yang akan ia dapatkan besok pagi setelah kue-kue itu diantarkan.

Saat angka total akhir muncul di layar kalkulator, pertahanan Alya runtuh. Namun, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat.

Angka itu sudah lebih dari cukup. Uang yang terkumpul besok tidak hanya mampu melunasi seluruh biaya kegiatan *study tour* wajib ke museum arkeologi nasional, tetapi juga menyisakan sedikit modal tambahan untuk ditabungkan kembali ke kas ibunya. Air mata yang sejak kemarin ia tahan mati-matian akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang lelah. Alya menyatukan kedua tangannya di depan dada, menundukkan kepala sedalam-dalamnya dalam doa yang penuh dengan untaian rasa syukur yang tak terhingga kepada Tuhan. Perjuangannya, peluhnya, dan keputusannya untuk tegak berdiri di atas kaki sendiri tanpa merepotkan orang lain akhirnya membuahkan hasil yang manis. Rasa cemas yang sempat mencekik dadanya menguap tanpa sisa, berganti dengan keyakinan baru yang kokoh.

Malam harinya, setelah menyelesaikan gelombang pertama proses mengukus kue lumpur kentang yang wangi, Alya duduk sejenak di tepi tempat tidur untuk meluruskan kakinya yang pegal. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi atap seng rumahnya, menciptakan irama yang menenangkan.

*Denting.*

Ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah pesan masuk dari akun Instagram Devan Narendra memecah keheningan malam di kamarnya.

*Devan Narendra: "Gua lupa nanya. Total harga buat dua kotak bolu gulung sama dua kotak kue lumpur pesenan gua berapa? Biar besok tinggal gua pas-in uangnya."*

Alya segera mengetik balasan, merinci nominal harga yang sudah ia sesuaikan dengan harga standar per paket, tanpa menaikkan sepeser pun meski ia tahu Devan adalah anak seorang konglomerat.

*"Totalnya semua delapan puluh ribu rupiah, Devan. Besok pas jam istirahat pertama langsung aku antar ke meja kamu,"*

balas Alya formal.

Di seberang sana, di dalam kamarnya yang luas dan mewah, Devan yang sedang berbaring langsung menegakkan duduknya begitu melihat balasan dari Alya. Ia menatap layar ponselnya dengan senyum tipis yang tertahan. Sejujurnya, masalah harga adalah hal terakhir yang Devan pikirkan. Pertanyaan itu hanyalah pintu masuk yang sengaja ia buat agar memiliki alasan untuk memulai percakapan malam ini.

Devan mengetuk-ngetuk jemarinya di atas lutut, otaknya yang biasa cerdas dalam urusan strategi mendadak bekerja keras memikirkan taktik berikutnya. Ia tidak bisa membiarkan interaksi mereka berhenti sampai di sini saja. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Devan memberanikan diri untuk melancarkan rencana utamanya—sebuah modus yang sudah ia siapkan dengan matang sejak sore tadi.

*Devan Narendra: "Oke. Eh, sekalian gua boleh minta nomor WhatsApp lo? Biar kalau ke depannya gua atau anak-anak geng gua mau pesen kue lagi, gak perlu repot-repot buka DM Instagram. Kadang notifikasinya gak masuk kalau gua lagi di luar."*

Alya menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut tipis. Ia terdiam beberapa saat, menimbang permintaan tersebut. Sisi defensifnya sempat berbisik agar ia menolak, khawatir jika ini adalah cara Devan untuk mengusik privasinya. Namun, di sisi lain, alasan yang dilontarkan Devan terdengar sangat logis dan profesional dari sudut pandang bisnis. Sebagai pemilik "Dapur Saras" yang baru merintis usaha, memiliki akses komunikasi yang cepat dengan pelanggan potensial seperti Devan dan teman-temannya tentu akan sangat menguntungkan di masa depan.

Tanpa menaruh curiga pada maksud tersembunyi cowok itu, Alya akhirnya mengetikkan deretan angka nomor ponselnya dan mengirimkannya.

*"Ini nomor WhatsApp aku, Devan. Terima kasih atas pengertiannya."*

Devan yang melihat pesan itu langsung mengepalkan tangannya ke udara dengan wajah kemenangan yang tertahan. Siapa yang menyangka bahwa seorang Devan Narendra, yang biasanya mengabaikan ratusan pesan dari gadis-gadis modis, bisa merasa sebahagia ini hanya karena mendapatkan nomor ponsel seorang gadis penjual kue.

Tanpa membuang waktu, Devan langsung menyalin nomor tersebut ke kontak teleponnya, menyimpannya dengan nama sederhana yang entah mengapa membuat dadanya berdesir: **Alya**.

Hanya berselang kurang dari satu menit, aplikasi WhatsApp di ponsel Alya bergetar. Sebuah pesan dari nomor baru tanpa foto profil masuk.

*+6281xxxxxxxxx: "Ini gua, Devan. Simpan nomor gua ya, Al. Biar besok kalau kuenya udah siap atau lo kesusahan bawa box-nya ke kelas gua, lo tinggal kabari gua lewat sini."*

Alya membaca pesan itu dengan tatapan datar namun ada sedikit rasa aneh yang menggelitik hatinya saat membaca panggilan "Al" yang ditulis oleh Devan. Ia menghembuskan napas pelan, lalu mengetik balasan singkat,

*"Baik, sudah aku simpan. Terima kasih, Devan."* setelah itu ia menyimpan nomor tersebut dengan nama **Devan Narendra*.

Di balik kesunyian malam dan rintik hujan yang kian menderu, Alya kembali meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk kembali ke dapur menyelesaikan sisa adonan kue brownies cokelat mini yang belum dikukus.

Malam itu, di dua tempat yang bertolak belakang—sebuah rumah kayu sederhana di ujung gang sempit dan sebuah kamar megah di kawasan elit—dua remaja terhubung oleh jaringan digital kecil yang tanpa mereka sadari, baru saja meletakkan batu pertama bagi sebuah kisah baru yang akan mengubah hari-hari mereka di sekolah esok hari. Alya fokus pada impian dan beasiswanya, sementara Devan mulai menyusun pelindung tak kasat mata untuk memastikan gadis yang dikaguminya itu tidak akan pernah lagi berjalan dengan punggung yang membungkuk karena beban hidup.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!