NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Destinasi 3

...BEKAS PABRIK TUA BERDARAH...

...----------------...

Roda-roda raksasa Armada 000 akhirnya berhenti bergulir, melindas genangan air berbau karat di area pelataran kosong.

Di luar jendela bus yang tertutup kabut tebal, membentang sebuah kompleks bangunan terbengkalai dengan dinding-dinding seng berkarat yang melengkung dihantam zaman.

Bekas pabrik pengolahan daging bernama "Sinar Maju", sebuah lokasi kelam di pinggiran kota yang puluhan tahun lalu menjadi saksi bisu pembantaian berantai secara terorganisir.

Suasana di dalam bus mendadak merosot ke titik beku. Bau busuk daging busuk dan amis darah manusia fana yang seolah kembali menguar dari tanah pabrik merembes masuk menembus dinding Armada 000.

"Destinasi Ketiga," ucap Madam Helga memecah keheningan yang tegang, dingin dan tanpa ampun.

Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengibaskan syal bulu hitamnya seraya menatap seluruh penumpang.

"Lokasi ini adalah tempat di mana jasad fana kalian dieksekusi dan dibuang tanpa kehormatan. Turun sekarang. Lakukan napak tilas untuk memutus ikatan trauma tanah ini, atau jiwa kalian akan terus membusuk bersama reruntuhan itu."

Para penumpang hantu mulai berdiri satu per satu. Wujud mereka bergetar hebat. Rasa amarah yang tadi sempat ditenangkan Damar kini berganti menjadi rasa takut yang intens dan histeris. Kenangan detik-detik sebelum nyawa mereka dihabisi seolah diputar kembali dengan kejam.

Damar berdiri di pintu bus, memegang clipboard dan lampu senter gaib.

"Harap turun secara teratur, Rekan-Rekan!" seru Damar dengan suara tenang yang dikontrol ketat.

"Jaga jarak aman, tetap bersama dalam rombongan, dan jangan memisahkan diri!"

Satu per satu arwah melayang turun menembus pintu bus yang terbuka. Namun, saat barisan penumpang hampir habis, mata Damar menangkap sosok yang masih tertinggal di barisan kursi paling belakang.

Sesosok hantu wanita muda bernama Marlina, salah satu korban pembunuhan berantai pabrik tersebut, duduk meringkuk di sudut kursi. Wujudnya yang transparan memancarkan pendar kebiruan yang sangat redup dan bergetar hebat.

Kedua tangannya yang pucat menutup telinga erat-erat, sementara dadanya kembang-kempis memancarkan hawa dingin yang sanggup membekukan lantai beludru di sekitarnya.

"Nggak, saya nggak mau turun!" kata Marlina dengan suara melengking penuh ketakutan. "Di sana gelap, dia masih ada di sana. Pisau itu ... darahnya banyak banget."

Damar menurunkan clipboard-nya, melangkah pelan mendekati barisan belakang.

"Mbak Marlina?"

"Jangan mendekat!" jerit Marlina histeris. Aura hitam trauma meledak dari tubuhnya, membuat kaca-kaca jendela di sekitarnya meretak halus. "Saya nggak mau masuk ke tempat itu lagi! Tolong, biarkan saya di sini!"

Madam Helga melangkah menghampiri dengan wajah tanpa ekspresi. Jemari lentiknya yang dipoles kuku merah menyala terangkat ke udara, memancarkan pendar sihir keemasan yang tajam.

"Gadis penakut," cetus Madam Helga dingin, menatap Marlina dari atas ke bawah. "Kamu mendaftar untuk tur ini demi memutus rantai penyesalanmu. Jika kamu menolak turun di lokasi napak tilas, berarti kamu melanggar pasal tiga kontrak perjalanan. Mau kupaksa turun menggunakan sihir eksekusi, atau aku memusnahkan jiwamu di sini agar tidak mengacaukan jadwal rombongan? Pilihlah!"

Ujung jari Madam Helga menyalakan percikan api gaib yang siap menghantam Marlina. Hantu wanita itu menjerit ketakutan, meringkuk semakin dalam di bawah kursi.

"Cukup, Madam!"

Sebuah tangan manusia memotong di antara jari Madam Helga dan Marlina. Damar berdiri pasang badan, menutupi wujud Marlina dengan tubuhnya sendiri. Tangannya yang memegang tiang mikrofon gemetaran, namun matanya menatap lurus ke arah mata tajam Madam Helga tanpa ada rasa gentar.

Madam Helga tersentak pelan. Alisnya terangkat tinggi, terkejut oleh keberanian stafnya yang mendadak melampaui batas.

"Apa yang kamu lakukan, Damar?" tanya Madam Helga dengan suara pelan yang sangat berbahaya. "Kamu membantah instruksi atasanmu? Demi seekor arwah yang histeris?"

"Dia bukan 'seekor arwah'! Dia manusia yang mati secara tragis dan punya trauma hebat!" tegas Damar, suaranya lantang membelah interior bus. "Madam gak bisa maksa orang yang kena serangan panik buat jalan ke tempat pembantaiannya begitu aja! Itu bukan pemulihan jiwa, itu penyiksaan namanya!"

"Ini adalah prosedur standar Last Trip Express!" balas Madam Helga, pendar keemasan di jarinya semakin menyala terang. "Jika dia tidak menghadapi tanah eksekusinya malam ini, jiwanya akan menjadi Arwah Anarki yang membusuk selamanya! Aku tidak punya waktu untuk melayani rengekan dramatis seperti ini!"

"Kalau begitu biar saya yang urus!" bentak Damar, tidak mundur satu milimeter pun. "Gaji saya boleh dipotong, saya boleh dihukum klausul kontrak ... tapi selama saya jadi pemandu tur di bus ini, saya gak akan biarkan peserta tur saya dipaksa masuk ke neraka trauma mereka tanpa kesiapan mental!"

Keheningan yang mencekat mendadak melingkupi mereka berdua. Madam Helga menatap Damar dengan pandangan intens. Untuk pertama kalinya sejak pemuda itu bekerja di kantornya, Damar tidak lagi tampak seperti pemuda introvert penakut yang memohon-mohon keselamatan. Di hadapannya berdiri sosok pemandu tur sejati yang berani mempertaruhkan segalanya demi keselamatan jiwanya.

Pendar sihir keemasan di jemari Madam Helga perlahan-lahan meredup dan padam.

Wanita anggun itu menutup kipas sutranya dengan suara ceklek yang tajam.

"Kamu punya waktu sepuluh menit, Damar," kata Madam Helga dingin seraya berbalik membelakangi mereka. "Jika dalam sepuluh menit kamu tidak bisa membawanya keluar dari bus ini dengan sukarela ... aku sendiri yang akan melempar kalian berdua ke dalam pabrik itu."

Madam Helga melangkah turun dari bus, meninggalkan Damar dan Marlina di dalam keheningan armada.

Damar menghela napas panjang, mengusap keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang, kaget atas keberaniannya sendiri membantah wanita yang bisa membunuhnya dengan sekali jentikan jari.

Namun, melihat Marlina yang masih bergetar ketakutan di bawah kursi, Damar tahu keputusannya tidak salah.

Damar berlutut perlahan di lantai bus, menyamakan tingginya dengan Marlina. Ia mematikan lampu senter gaibnya agar tidak menyilaukan mata sang hantu.

"Mbak Marlina," panggil Damar dengan suara yang sangat lembut, dipenuhi kehangatan tulus. "Liat saya, Mbak. Ini saya Damar. Mbak aman di sini."

Marlina perlahan mengintip dari balik tangannya yang pucat. Matanya yang kebiruan menatap Damar dengan kebingungan dan rasa takut.

"Kenapa ... kenapa Mas belain saya? Nenek sihir tadi bisa aja bikin Mas mati."

Damar tersenyum tipis, terkekeh pelan.

"Ya ... jujur saya juga agak gemetaran nih, Mbak. Tapi tugas saya di sini kan memandu kalian. Mana mungkin saya biarin peserta tur saya ditarik-tarik dalam keadaan panik begitu."

Damar merogoh saku kemejanya, mengeluarkan jam saku perak Chrono-Compass hadiah dari Helga. Jam itu memancarkan pendar keemasan yang lembut dan menenangkan, bukan aura merah darurat, melainkan denyut energi pelindung.

"Mbak Marlina gak harus jalan sendirian ke dalam sana," kata Damar pelan, mengulurkan tangannya yang hangat ke arah Marlina. "Pabrik itu memang tempat yang buruk. Tapi malam ini, tempat itu gak punya kuasa lagi atas Mbak. Mbak udah gak sendirian lagi. Ada saya, ada rombongan lain, dan kita di sini buat ngambil kembali kedamaian Mbak yang dicuri."

Marlina menatap uluran tangan Damar. Telapak tangan manusia itu memancarkan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak malam kematiannya yang kelam. Ragu-ragu, jemari pucat Marlina terangkat dan menyentuh tangan Damar.

Sensasi hangat merayap dari kulit Damar menuju jiwa Marlina, meredakan aura trauma hitam yang membungkus dadanya. Getaran di tubuh Marlina perlahan-lahan mereda.

"Mas beneran bakal nemenin saya di sebelah saya?" bisik Marlina dengan mata berkaca-kaca.

"benar seratus persen," jawab Damar yakin, menggenggam jemari pucat itu dengan hangat. "Saya bakal berdiri tepat di samping Mbak. Kalau ada apa-apa, Mbak bisa pegang tangan saya."

Marlina menarik napas gaib yang dalam, lalu perlahan-lahan berdiri dari lantai bus. Aura kebiruannya kini memancar stabil dan terang.

Damar berdiri, merapikan kemejanya, lalu menuntun Marlina melangkah turun dari pintu Armada 000.

Di luar bus, di bawah naungan dinding pabrik berkarat yang gelap, Madam Helga berdiri melayang santai seraya mengapit kipas sutranya. Saat melihat Damar keluar sambil menuntun Marlina yang kini tampak jauh lebih tenang, sudut mata Madam Helga memercikkan kilatan terkejut yang sangat tipis.

Namun dengan cepat, wanita itu memasang kembali topeng keangkuhannya.

"Delapan menit empat puluh detik," kata Madam Helga seraya melirik jam tangannya yang tak berjarum. "Hampir saja aku membakar kemeja murahanmu itu, Damar."

Damar menyengir tipis, membetulkan letak mikrofonnya.

"Satu detik pun gak akan sia-sia, Madam."

Madam Helga mengibaskan syalnya, berbalik menghadap ke arah pintu masuk pabrik yang gelap gulita bagaikan mulut monster.

"Rombongan sudah berkumpul di halaman dalam. Persiapkan diri kalian. Napak tilas Pabrik Sinar Maju ... dimulai."

Damar menggenggam jam saku peraknya erat-erat, menuntun Marlina melangkah memasuki kegelapan pabrik tua tersebut. Langkah pertamanya terasa mantap. Konflik dengan Madam Helga mungkin baru saja dimulai, namun rasa percaya di antara mereka, dan keberanian di dalam dada Damar kini telah menempa sang pemandu tur menjadi sosok yang baru.

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!