Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Selamat pagi, Tuan Sony."
"Ini sarapan Anda, roti panggang dan kopi hitam tanpa gula."
Leo meletakkan nampan itu di atas meja kaca di depan Sony.
"Terima kasih, Leo."
"Bagaimana berita tentang Club Malam Obsidian pagi ini?"
Sony meletakkan dokumennya dan mengambil cangkir kopi panas tersebut.
Sruput.
"Semua stasiun televisi menayangkan penggerebekan itu secara langsung sejak semalam, Tuan."
"Polisi berhasil menyita puluhan kilogram narkoba dan ribuan senjata api ilegal dari ruang bawah tanah."
Leo melaporkan dengan nada suaranya yang selalu tenang dan profesional.
"Lalu bagaimana dengan nasib Viktor dan anak buahnya?"
Sony bertanya lagi untuk memastikan rencananya berjalan sempurna.
"Mereka semua ditangkap dalam keadaan babak belur parah."
"Pihak kepolisian bahkan harus memanggil lima ambulans untuk membawa mereka ke rumah sakit tahanan."
Leo memberikan informasi tambahan yang membuat Sony tersenyum puas.
"Kerja bagus."
"Mereka akan membusuk di penjara dengan tulang yang patah."
Sony meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.
Klek.
Pintu kamar sebelah terbuka dan Nadhira berjalan keluar dengan rambut yang sangat berantakan.
Dia mengenakan kemeja kebesaran berwarna putih dan memeluk sebuah laptop di dadanya.
Mata wanita itu terlihat merah karena kurang tidur semalaman.
"Aku menemukannya, Sony."
Nadhira langsung berjalan cepat menuju meja dan meletakkan laptopnya di sana.
"Aku begadang semalaman menyusuri berbagai forum rahasia di internet gelap."
"Dan aku menemukan beberapa petunjuk mengerikan tentang Sang Racun ini."
Nadhira berbicara dengan sangat cepat saking bersemangatnya.
Sony mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat layar laptop tersebut.
"Apa yang kau temukan, Nadhira?"
Nadhira menekan beberapa tombol di papan ketik hingga muncul sebuah artikel tua.
Klik klik.
"Lihat artikel berita dari lima tahun lalu ini."
"Ada seorang jaksa penuntut umum di distrik pusat yang mati mendadak saat sedang sarapan di rumahnya."
Nadhira menunjuk layar itu dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Dokter forensik menyatakan dia meninggal karena serangan jantung koroner biasa."
"Tapi aku meretas basis data rumah sakit itu dan menemukan laporan autopsi awal yang disembunyikan."
Nadhira membuka sebuah tab baru yang menampilkan dokumen medis penuh istilah rumit.
"Laporan awal menyebutkan ada pembengkakan tidak wajar di bagian batang otaknya."
"Gejala ini sama persis dengan apa yang dialami oleh ayahmu sebelum meninggal sepuluh tahun lalu, Sony."
Sony membaca barisan kalimat di layar itu dengan pandangan mata yang sangat tajam.
"Jadi Sang Racun ini juga menerima kontrak pembunuhan dari para pejabat tinggi."
"Dia menggunakan racun saraf yang bisa meniru gejala penyakit alami."
Sony menyimpulkan fakta mengerikan itu dengan suara yang berat.
"Benar sekali."
"Dan yang lebih gilanya lagi, aku menemukan pola kematian serupa pada lima orang penting lainnya dalam tiga tahun terakhir."
Nadhira menampilkan lima foto wajah berbeda di layar laptopnya.
"Ada politikus, pengusaha pesaing, dan bahkan seorang kepala polisi daerah."
"Semuanya mati mendadak dengan diagnosis serangan jantung atau stroke."
Nadhira menghela nafas panjang melihat hasil temuannya sendiri.
"Organisasi ini secara diam-diam telah membunuh banyak orang penting tanpa ketahuan hukum."
Sony menyandarkan punggungnya kembali ke sofa sambil berpikir keras.
"Jika ahli kimia ini terus memproduksi racun semacam itu, akan ada banyak keluarga yang hancur seperti keluargaku."
"Aku harus segera memotong kepala ular ini sebelum dia menyebarkan bisanya lebih jauh."
Sony mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kuat.
[Sistem Pemberitahuan: Informasi Tambahan Target Berhasil Diverifikasi]
[Petunjuk Baru: Cari koneksi antara kematian lima tokoh tersebut dengan proyek di distrik pusat]
Sony sedikit terkejut membaca instruksi baru dari layar biru yang tiba-tiba muncul.
"Sistem ini sepertinya tahu sesuatu yang lebih dalam dari sekadar balas dendam pribadi," batin Sony.
"Leo, siapkan kendaraan kita sekarang juga."
"Kita akan berangkat ke distrik pusat siang ini."
Sony langsung memberikan perintah dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Baik, Tuan."
"Semua koper Anda dan Nona Nadhira sudah saya siapkan di lobi bawah."
Leo membungkuk sopan dan segera berjalan keluar ruangan untuk mengurus keberangkatan mereka.
Nadhira menutup laptopnya dan menatap Sony dengan wajah cemas.
"Apakah kau yakin kita harus pergi ke sana secepat ini?"
"Markas pusat mereka pasti sudah mendengar kabar tentang jatuhnya Viktor malam ini."
"Mereka pasti sedang menunggu kedatanganmu dengan pasukan penuh."
Nadhira menyuarakan kekhawatirannya yang sangat beralasan.
Sony berdiri dari sofa dan merapikan kemeja kasualnya.
"Justru itu yang aku harapkan, Nadhira."
"Biarkan mereka bersiap dengan semua senjata yang mereka punya."
Sony berjalan ke arah jendela besar dan menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan.
"Aku akan menghancurkan setiap lapisan pertahanan mereka satu per satu dari depan."
"Sampai mereka sadar bahwa uang dan kekuasaan tidak bisa membeli keselamatan dari iblis yang mereka ciptakan sendiri."
Sony tersenyum dingin menyambut perang besar yang sudah menunggu di depan matanya.
Distrik pusat tidak akan pernah sama lagi setelah kakinya menginjak tanah di sana.
Di waktu yang bersamaan, di sebuah gedung pencakar langit megah di tengah distrik pusat.
Suasana di ruang rapat lantai lima puluh terasa sangat mencekam dan sunyi.
Seorang pria bertubuh kurus dengan kacamata berbingkai emas sedang berdiri di depan layar proyektor besar.
Dia adalah Tuan Hendra, tangan kanan dari ketua markas pusat Sindikat Bayangan.
Layar di belakangnya menampilkan foto-foto kehancuran Club Malam Obsidian dari udara.
"Ini adalah sebuah penghinaan besar bagi organisasi kita yang dihormati."
Hendra berbicara dengan suara yang sangat pelan namun terdengar penuh dengan ancaman mematikan.
Tiga orang pria berpakaian mahal duduk mengelilingi meja bundar mendengarkan laporan tersebut.
"Viktor bukan hanya kehilangan seluruh wilayah operasinya di daerah."
"Dia juga tertangkap hidup-hidup oleh kepolisian dan sekarang sedang diinterogasi."
Hendra menekan remot proyektor dan menampilkan wajah Sony yang terekam dari kamera jalanan.
"Dan pelakunya adalah pemuda berusia awal dua puluhan ini."
"Namanya Sony, mantan narapidana yang entah bagaimana memiliki kekuatan tempur luar biasa."
Salah satu pria yang duduk di meja itu mendengus kasar.
"Bagaimana mungkin Si Kembar Hitam bisa dikalahkan oleh bocah seperti itu?"
"Apakah mereka hanya makan gaji buta selama ini?"
Pria berwajah sangar itu memukul meja dengan kepalan tangannya yang besar.
Brak.
Hendra menatap pria itu dengan pandangan dingin dari balik kacamatanya.
"Jangan meremehkan musuh yang tidak kau mengerti kekuatannya, Tuan Bima."
"Kamera pengawas kami merekam bagaimana dia mematahkan tulang Si Kembar Hitam hanya dalam hitungan detik."
Hendra menjelaskan fakta itu membuat semua orang di meja rapat terdiam kaku.
"Anak ini bukan petarung jalanan biasa."
"Setiap gerakannya sangat presisi dan tahu persis di mana letak titik kelemahan lawannya."
Hendra mematikan layar proyektor dan menyalakan lampu ruangan kembali.
Klik.
"Ketua telah memberikan perintah langsung pagi ini."
"Kita harus melenyapkan anak ini sebelum dia mengendus keberadaan laboratorium milik Sang Racun."
Hendra membagikan tiga buah map merah ke atas meja bundar tersebut.
"Kalian bertiga adalah komandan elit dari divisi pemburu."
"Gunakan segala cara, kerahkan semua penembak jitu terbaik yang kalian miliki."
"Aku tidak mau melihat anak bernama Sony ini bernafas lebih dari dua hari sejak dia menginjakkan kaki di distrik pusat."
Tiga komandan itu langsung mengambil map tersebut dengan wajah yang sangat serius.
"Serahkan masalah ini padaku, Tuan Hendra."
"Aku akan membuat tubuhnya berlubang seperti saringan teh sebelum dia sempat turun dari mobilnya."
Bima tersenyum menyeringai memamerkan deretan giginya yang tidak rata.
Di luar gedung pencakar langit itu, langit mendadak mendung tertutup awan hitam.
Suara guntur terdengar menggelegar dari kejauhan menandakan badai besar akan segera datang.
Gluduk.
Pertemuan antara dua kekuatan mengerikan di kota ini tidak akan bisa dihindari lagi.