NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Mili menganggukkan kepalanya dan segera ke kamar mandi sambil membawa piyama yang sudah disiapkan oleh suaminya.

Ia melangkah masuk dengan ragu, menatap takjub pada sebuah bathtub porselen putih yang luas dan bersih.

Seketika, memori pahit kembali melintas. Dulu, hanya Gea yang boleh mandi di tempat mewah seperti ini, sementara ia hanya diizinkan membasuh diri dengan air keran yang dingin di sudut ruangan yang sempit.

Namun sekarang, segalanya telah berubah. Mili perlahan merendam tubuhnya, merasakan kehangatan air yang perlahan membasuh sisa-sisa keletihan dan kepedihan yang menempel pada kulitnya.

Sekarang, ia bisa mandi di sini, di tempat yang layak layaknya seorang manusia.

Mili sangat menikmati mandinya sampai lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka pelan.

Mili sudah mengganti pakaiannya dengan piyama berbahan sutra lembut, yang ternyata bermotif dan berwarna sama persis dengan yang sedang dipakai oleh David.

Rambut panjangnya yang hitam dan agak basah dibiarkan terurai bebas di bahu, membingkai wajah putih porselennya dengan begitu sempurna.

Penampilan polos namun luar biasa menawan itu seketika membuat jantung David berdetak kencang.

Ada debaran hebat yang belum pernah pria itu rasakan sebelumnya saat melihat kecantikan alami sang istri.

"D-david..." panggil Mili lirih, merasa agak canggung di bawah tatapan intens suaminya.

David tersentak, berusaha menguasai dirinya yang sempat terpaku.

"A-ayo Mili, kita makan dulu. Setelah itu kita tidur," jawab David, suaranya terdengar sedikit serak dan tergesa-gesa.

Mili menganggukkan kepalanya patuh, lalu berjalan mendekati meja kecil tempat pelayan telah menaruh hidangan malam mereka.

Setelah makan malam berlalu dalam keheningan yang sarat akan ketegangan emosional, gejolak di dalam dada David justru semakin tidak menentu.

David yang mulai tidak bisa mengontrol nafsunya yang membara—bercampur baur antara gairah dan insting posesif—langsung bangkit berdiri dari kursinya. Ia harus segera pergi sebelum akal sehatnya hilang.

"Lekas tidur, Mili..." ucap David dingin, tanpa berani menatap mata istrinya lagi, lalu melangkah cepat keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat.

Dengan langkah yang berat dan napas yang mulai memburu, David berjalan cepat menyusuri koridor sunyi, menuju ke kamar rahasia di ujung lorong di mana ia melarang Mili maupun semua orang di rumah itu untuk masuk.

David membuka pintu kayu ek tebal itu, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita dan kedap suara.

Begitu pintu tertutup, bau minyak pelumas, kulit (leather), dan besi dingin langsung menguar tajam menerpa indra penciumannya.

David menyalakan sakelar lampu temaram yang langsung memancarkan cahaya kemerahan yang redup.

Ruangan itu bukanlah kamar kosong biasa, melainkan sebuah ruang rahasia yang dipenuhi ornamen mengerikan.

Di dinding dan meja kayu panjang, berjajar rapi berbagai alat B**M—cambuk kulit tebal, rantai besi, belenggu logam, hingga topeng kulit hitam.

Ini adalah tempat tersembunyi di mana David selama ini melampiaskan sisi gelapnya sebagai pengidap kelainan seksualnya.

David berdiri kaku di tengah ruangan, menatap pantulan bayangan dirinya di cermin besar yang menempel di dinding.

Rahangnya mengeras kuat, dan urat-urat di lehernya menegang saat ingatan tentang Mili yang polos, rapuh, serta tubuhnya yang penuh luka lebam akibat disiksa keluarganya kembali berputar liar di kepalanya.

"Apa yang harus aku lakukan jika Mili ada di sisiku?" gumam David frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan hingga berantakan.

"Dia gadis yang terlalu lemah, sedangkan aku... aku hanyalah seorang monster," ucapnya dengan suara bergetar hebat, menahan gejolak nafsu gelap yang bertabrakan dengan rasa ingin melindungi yang begitu besar.

David sadar sesadar-sadarnya, jika ia menyentuh Mili dengan kelainan seksual yang ia miliki, ia tidak akan memberikan kebahagiaan, melainkan hanya akan menghancurkan jiwa gadis itu yang sudah terlanjur retak dan rapuh.

Untuk menekan gairah gelap dan hasrat nya yang kian memuncak akibat terbayang-bayang kecantikan Mili malam ini, David melangkah ke dinding dan mengambil sebuah cambuk kulit tebal.

Dengan napas yang memburu memotong keheningan ruangan dan mata yang memerah sempurna oleh siksaan batin, David berlutut di atas lantai marmer.

Tanpa ragu, ia mulai mengayunkan cambuk kulit itu ke punggungnya sendiri yang bidang.

Ctar!

Ctar!

Rasa sakit fisik yang luar biasa dan hawa panas menjalar seketika di kulitnya.

David sengaja menggunakan rasa sakit itu untuk mengalihkan hasrat liarnya yang menuntut pelepasan.

David terus mencambuk dirinya sendiri berulang kali demi "menghukum sang monster" di dalam tubuhnya agar tidak pernah menyakiti Mili.

Suara cambukan bergema pilu di ruangan kedap suara itu, hingga akhirnya tubuh David mati rasa, berdarah, dan ia tergeletak lemas tak berdaya di atas lantai dingin ruangan tersebut, menyisakan napasnya yang terengah-engah di tengah kegelapan dosanya sendiri.

Sementara itu, di tempat lain, ketegangan yang berbeda justru meledak di dalam mobil mewah yang membawa Gea pulang bersama Andrew dan Hermawan Kartajaya.

Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu dingin dan mencekik, berbanding terbalik dengan kemewahan yang membalut mereka.

Andrew duduk bersandar dengan menyilangkan kaki, menatap lurus ke depan tanpa sudi melirik Gea yang duduk di sebelahnya dengan wajah cemberut.

"Setelah menikah, kamu tinggal bersama Papa karena aku selalu di luar kota," ucap Andrew tiba-tiba, suaranya terdengar datar dan teramat acuh.

"Jangan banyak tanya aku kemana dan bersama siapa. Yang terpenting, nafkah bulanan tetap aku berikan."

Mendengar keputusan sepihak itu, ego Gea yang terbiasa dimanja langsung berontak.

Ia menoleh dengan mata membelalak tidak terima.

"Tidak bisa begitu, Andrew! Aku ini istrimu! Kamu harus membawaku bersamamu, bukan malah menaruhku bersama Papa!" tuntut Gea dengan nada tinggi yang melengking egois.

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Gea, meninggalkan bekas kemerahan yang instan.

Napas Andrew memburu, matanya memancarkan kilat kemarahan yang selama ini ia tahan di depan sang ayah.

"Ini pilihanmu sendiri karena meminta menikah sekarang!" desis Andrew tajam, menunjuk wajah Gea yang kini terpaku syok sambil memegangi pipinya yang terasa panas.

"Kamu yang memaksaku, jadi jangan harap bisa mengatur hidupku!"

Gea yang terkejut setengah mati langsung meneteskan air mata.

Rasa sakit di pipinya tidak seberapa dibandingkan hancurnya ekspektasi indah yang ia bayangkan tentang Andrew.

Ia mengira akan menjadi ratu yang paling bahagia malam ini, namun kenyataan justru menamparnya dengan begitu kejam.

Dari kursi depan, Hermawan Kartajaya melirik Gea melalui kaca spion tengah.

Tidak ada sedikit pun rasa iba di wajah pria paruh baya yang berkuasa itu.

Sudut bibirnya justru terangkat, membentuk senyuman sinis yang teramat dingin.

"Sudah, jangan menangis. Kamu istri Andrew sekarang, bukan anak manja lagi," sindir Hermawan tajam, mengingatkan Gea dengan telak bahwa di keluarga Kartajaya, tangisan manjanya sama sekali tidak memiliki kekuatan ataupun harga.

Sesampainya di rumah mewah berarsitektur klasik milik keluarga Kartajaya, Hermawan langsung melangkah ke ruang tengah tanpa memedulikan Gea yang masih terisak.

Ia membalikkan badan, menatap Andrew dan Gea dengan pandangan menuntut.

"Dua minggu lagi akan diadakan resepsi pernikahan kalian berdua," ujar Hermawan tegas.

Gea yang sedang mengusap air matanya sontak mendongak dengan binar harapan baru di matanya.

"David juga, Pa? Mereka juga bakal bikin resepsi bareng kita?"

"Papa tidak peduli dengan lelaki berandal itu!" potong Hermawan cepat, wajahnya menggelap penuh kebencian saat nama David disebut.

"Papa minta kalian membuat pesta yang sangat mewah. Jangan mempermalukan Papa lagi seperti kejadian malam ini! Buat David terpana dan sadar diri dengan kemegahan pernikahan kalian nanti!"

Mendengar itu, ego Gea yang sempat runtuh langsung bangkit kembali.

Bayangan untuk mengungguli Mili dan membuat kakaknya itu merasa rendah diri di pesta megah membuat senyum liciknya kembali terukir.

"Iya, Pa. Aku janji bakal bikin pesta yang paling megah," jawab Gea sambil menganggukkan kepalanya antusias.

Namun, rasa penasaran yang sedari tadi dipendamnya membuat Gea memberanikan diri.

"Tapi Pa... kenapa Papa kelihatan tidak suka sekali dengan David?"

"Bukan urusanmu!" bentak Andrew ketus, memotong sebelum ayahnya sempat menjawab.

Andrew menatap Gea dengan pandangan dingin yang sarat akan rasa jijik.

"Sekarang masuk ke kamar, ganti pakaianmu, dan buatkan aku kopi."

Gea terkesiap, matanya membelalak tidak percaya.

"Aku? Aku yang buat kopi?"

"Iya, kamu! Kamu sudah menjadi istriku sekarang. Dan ingat, di rumah ini semua pelayan hanya khusus melayani Papa, bukan melayani kebutuhan pribadimu," tekan Andrew tanpa perasaan.

Gea mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Dengan langkah terpaksa dan hentakan kaki yang berisik, ia berjalan menuju kamar mereka. Setelah mengganti gaun glamornya dengan pakaian rumah, Gea melangkah ke dapur dengan wajah ditekuk masam.

Di sinilah bencana dimulai. Seumur hidupnya, Gea selalu dilayani layaknya seorang putri oleh Ben dan Emilia; jangankan membuat kopi, menyalakan kompor saja ia tidak pernah tahu caranya.

Dengan tangan gemetar, ia asal memasukkan beberapa sendok bubuk kopi dan gula ke dalam cangkir, lalu menyiramnya dengan air yang bahkan belum sepenuhnya mendidih.

Saat Gea kembali ke kamar sambil membawa cangkir dengan nampan, kamar itu sudah kosong melompong.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan Andrew, kecuali aroma parfum pria itu yang tersisa di udara.

Andrew telah pergi, meninggalkannya sendirian di malam pertama pernikahan mereka tanpa sepatah kata pun, membiarkan Gea merenungi keputusannya di dalam keheningan kamar yang terasa asing dan dingin.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika David perlahan tersadar dari pingsannya.

Rasa sakit yang berdenyut di punggungnya akibat cambukan tadi terasa begitu kentara, menembus lapisan kesadarannya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia bangkit berdiri dari lantai marmer yang dingin.

Ia memakai kembali pakaiannya dengan gerakan perlahan agar tidak memperparah luka-luka yang baru saja ia torehkan sendiri.

David melangkah keluar, lalu mengunci rapat-rapat pintu kamar rahasia itu, mengubur kembali sisi monster di dalam dirinya ke dalam kegelapan.

Dengan langkah yang masih sedikit goyah, ia kembali menyusuri koridor dan masuk ke dalam kamar utama.

Namun, begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar langsung membuat keningnya mengernyit dalam.

Mili malah memilih tidur di atas sofa panjang, melingkarkan tubuhnya yang mungil dengan tas kain yang didekap erat sebagai pengganti bantal.

Rupanya ketakutan dan rasa rendah diri yang tertanam sejak kecil membuat gadis itu tetap tidak berani menyentuh ranjang mewah milik suaminya.

David berjalan mendekat, menatap wajah polos istrinya yang tampak begitu damai dalam lelapnya.

"Kenapa kamu tidak mau tidur di tempat tidur..." gumam David dengan suara yang teramat lirih, sarat akan rasa perih di dadanya melihat trauma Mili yang begitu mendalam.

Tanpa berniat membangunkan gadis itu, David merunduk.

Dengan sangat hati-hati agar tidak mengejutkannya, ia membopong tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan.

Mili sempat melenguh pelan dalam tidurnya, namun kehangatan tubuh David tampaknya memberikan rasa aman yang instan hingga ia kembali terlelap.

David merebahkan tubuh Mili dengan perlahan di atas ranjang king size yang empuk, lalu menarik selimut sutra tebal untuk menyelimutinya hingga sebatas dada.

Setelah memastikan istrinya nyaman, David kemudian menyusul tidur di samping Mili.

Ia memosisikan badannya dengan hati-hati agar punggungnya yang terluka tidak tertekan, lalu membiarkan dirinya terlelap di samping wanita yang kini menjadi poros baru dalam hidupnya.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!