Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Di sinilah Diandra berdiri. Di depan bangunan megah yang menjulang tinggi. Tak kalah dengan perusahaan ayahnya. Ia seperti bermimpi bisa bekerja di tempat sebesar ini. Diandra merasa beruntung bisa mengabdikan diri di perusahaan ini.
Ia masih belum paham jika Andrea's Group adalah perusahaan milik Kevin. Pria yang beberapa hari yang lalu bersitegang dengannya. Hanya gara-gara Diandra tidak ingin Kanaya terus diganggunya.
Diandra menatap takjub bangunan itu. Langkahnya perlahan memasuki perkantoran itu dengan penuh percaya diri. Ia sudah siap bekerja di tempat ini. Diandra akan dengan bangga memamerkan keberhasilannya itu pada ayahnya nanti.
"Selamat pagi. Saya Diandra, calon karyawan baru di sini," ucap Diandra pada seorang wanita yang menjadi resepsionis itu.
"Selamat pagi nona. Silakan menuju ke lantai lima, sudah ditunggu oleh HRD kami," balas resepsionis tersebut dengan ramah. Diandra mengangguk dan segera menuju lantai lima.
Sesampainya di sana, ternyata bukan hanya Diandra yang diterima di perusahaan tersebut. Ada sekitar sembilan orang yang berkumpul di ruangan itu. Diandra segera masuk ke dalam dan bergabung dengan mereka.
"Hari ini presdir sendiri yang akan mengatur posisi kerja kalian. Saya harap, apapun itu jika tidak sesuai dengan posisi yang kalian inginkan tolong diterima. Jika tidak bersedia bisa meninggalkan perusahaan ini sebelum kalian menanda tangani kontrak kerja," ujar pak Irwan dengan tegas.
"Baik pak," jawab karyawan baru tersebut dengan kompak.
***
"Mark, apakah mereka sudah berkumpul?" tanya Kevin. Ia baru saja datang ke kantornya. Bersiap untuk melihat secara langsung karyawan barunya dan membagi sendiri ke devisi mana mereka akan bekerja.
"Sudah tuan," balas Mark. Kevin mengangguk. Sebenarnya ini pertama kalinya Kevin turun langsung dalam perekrutan karyawan baru. Ini karena Kevin ingin mempersulit Diandra. Ia ingin balas dendam dengan apa yang Diandra telah lakukan padanya beberapa waktu lalu.
Kevin menuju ke tempat di mana para karyawan baru itu berkumpul. Ia sudah tidak sabar untuk mempersulit Diandra. Apalagi sebelumnya Diandra melamar menjadi sekretaris pribadinya.
"Selamat pagi tuan," ucap pak Irwan dengan sopan. Kevin hanya mengangguk tipis. Karyawan baru tersebut langsung berdiri untuk menyambut Kevin.
"Kenapa bisa pria itu?" gumam Diandra yang terkejut melihat kedatangan Kevin. Ia tak menyangka laki-laki yang ia usir waktu itu adalah pemilik perusahaan Andrea's Group.
"Baiklah, langsung saja saya akan membagi tempat kerja kalian. Sebelum itu, saya akan bertanya satu hal pada kalian. Apakah kalian bersedia bekerja jika pekerjaan yang kalian jalani tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan?" tanya Kevin dengan tegas. Semuanya menjawab bersedia dengan serentak. Menurut mereka, bisa bekerja di Andrea's Group adalah sebuah keberuntungan.
"Apa sih maksudnya?" gumam Diandra.
Kevin mulai membagi penempatan kerja untuk karyawan baru. Bahkan itu tak berubah sama sekali dengan pekerjaan yang mereka lamar sebelumnya.
"Kamu, setelah ini silakan ke ruangan saya," ucap Kevin sambil menunjuk Diandra.
"Semuanya bisa mulai bekerja hari ini. Selamat bergabung di perusahaan kami," ucap Kevin lalu pergi begitu saja. Bahkan Diandra belum tahu ia bekerja sebagai apa. Meski ia melamar menjadi sekretaris, tetapi Kevin belum menyebutkan namanya.
Tanpa pikir panjang, Diandra mengikuti langkah Kevin dan Mark hingga masuk ke ruangan. Ia tak paham apa yang diinginkan pria itu. Kevin duduk di kursi kerjanya. Ia membuka berkas yang berisi data diri Diandra.
"Diandra Anindya Sanjaya, putri bungsu dari Raka Sanjaya. Apa alasan kamu datang bekerja ke sini?" ucap Kevin sambil menatap Diandra yang tengah berdiri di depannya. Diandra masih menunduk. Bukan ia tak berani menatap Kevin, namun ia harus bersikap sopan pada calon bosnya itu.
"Saya hanya ingin bekerja saja pak. Tidak ada tujuan lain," jawab Diandra dengan tenang. Kevin tersenyum sinis. Ia seperti tak percaya dengan jawaban Diandra.
"Benarkah?" Tatapan Kevin semakin tajam.
"Iya," jawab Diandra.
"Mark, bawa surat kontrak itu agar dia menanda tanganinya," suruh Kevin. Mark mengeluarkan surat kontrak tersebut dan menyerahkannya pada Diandra. Dengan hati-hati, Diandra mulai membaca dan memahami isi dari kontrak itu. Ia tak ingin ada masalah nantinya. Merasa tak ada yang dicurigai dari kontrak tersebut, Diandra segera menandatanganinya. Lalu ia menyerahkan kembali surat kontrak tersebut kepada Kevin.
"Aku punya syarat agar kamu layak menjadi sekretaris pribadiku," ucap Kevin dengan santai sambil memainkan bolpoin yang ada ditangannya. Diandra mengerutkan dahinya.
"Mau apa lagi dia? Jangan bilang syarat yang dimaksud adalah membantunya mendekati Kanaya?" gumam Diandra sambil terus menatap Kevin tanpa berkedip.
"Aku mau kamu menjadi Office Girl selama masa training ini," ujar Kevin. Membuat Diandra membelalakkan matanya.
"Apa pak? Office Girl?" Diandra mengulanginya lagi berharap ia salah dengar.
"Ya. Tiga bulan. Setelah kamu berhasil melewatinya, aku akan mengembalikan posisi sekretaris itu kepadamu," ucap Kevin.
"Tapi kenapa? Kenapa harus Office Girl?" ucap Diandra merasa tidak terima dengan keputusan itu.
"Suka-suka saya," balas Kevin. Membuat Diandra semakin geram. Ia mengira kali ini Kevin akan bersikap profesional, tapi nyatanya tidak.
"Oke, kalau begitu saya mengundurkan diri sekarang juga. Terima kasih!" tekan Diandra. Ia lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
"Tunggu! Kau sudah menandatangani kontrak itu. Jadi, sebagai karyawan yang profesional kamu harus bertanggung jawab." Ucapan tersebut berhasil menghentikan langkah Diandra. Diandra membalikkan tubuhnya. Menatap Kevin yang masih duduk di kursi kerjanya. Diandra menghela napasnya pelan seraya meredam amarahnya yang sudah ia tahan sejak tadi.
"Tapi pak."
"Mark, berikan seragam ini padanya dan pastikan dia mulai bekerja hari ini juga," perintah Kevin. Secara khusus Kevin menyiapkan seragam itu untuk Diandra.
Mark mengambil seragam tersebut dan memberikannya pada Diandra. Diandra sangat ingin mengungkapkan keberatannya yang dianggap tak masuk akal ini. Tetapi ia tidak bisa bicara seenaknya di perusahaan orang lain. Dengan sangat terpaksa, Diandra menerima seragam tersebut lalu segera keluar dari ruangan itu.
"Sabar Diandra..." gumam Diandra sambil mengusap dadanya. Biarlah ia menerima syarat konyol ini.
Selesai berganti dengan seragamnya, Diandra segera bergabung dengan beberapa karyawan yang berprofesi sama seperti dirinya. Siska, wanita yang ditugaskan oleh Kevin untuk mengantar dan menjelaskan tugas Diandra. Berat memang, namun ia juga terpaksa melakukannya. Apalagi ia belum pernah bekerja seperti ini.
***
"Tuan muda, kenapa Anda meminta nona Diandra menjadi Office Girl?" tanya Mark penasaran. Ia sempat senang karena ia pikir Kevin tertarik pada Diandra. Namun nyatanya tidak sama sekali. Kevin tersenyum tipis. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju jendela. Menatap betapa luasnya pemandangan dari ruangannya.
"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini?" tanya Kevin sambil mengernyitkan dahinya. Mark mengangguk dengan ragu. Tak penting juga ia tahu alasannya atau tidak. Entah mengapa ia hanya merasa kasihan pada Diandra.
"Dia sahabat Naya kan? Jika dia bercerita bahwa bekerja di sini dan menjadi Office Girl, dengan sifat Naya seperti itu. Apa yang akan dilakukannya Mark?" tanya Kevin. Mark mencerna setiap kata yang dilontarkan Kevin.
"Naya pasti akan memohon padaku. Pada saat itulah, aku akan gunakan kesempatan ini untuk mendapatkannya kembali," ujar Kevin sambil menatap arah luar jendela. Mark mengangguk pelan. Apapun tindakan yang akan Kevin lakukan, Mark akan mendukungnya.