Remake dari karya berjudul Emas yang belum lama di rilis dan karya teman penguasa berlengan satu yang sudah di drop.
Kisah seorang pria yang selalu di hina akibat dia hanya memiliki satu lengan. Dia di khianati istri yang sewaktu smp di tolongnya sampai mengorbankan lengannya. Mertua dan iparnya menganggap dia sampah karena dia sering di pecat karena kondisi nya.
Dia sempat berpikir mengakhiri hidupnya dan di tolong, dia mendapat lengan bionik karena kebetulan dan sempat mau di bunuh oleh selingkuhan istrinya, namun di saat kondisinya sudah kritis, lengan bionik nya malah menolongnya dan memberinya kekuatan untuk mengubah nasib. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup baru nya ?
Genre : Fiksi, fantasi, drama, komedi, supranatural, psikologi, menantu terhina, urban.
100 % fiksi, murni karangan author. mohon like dan komen nya ya kalau berkenan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Tiga minggu kemudian, malam hari, selagi Marlon masih di rumah sakit, di rumah kontrakan kumuh tempat tinggal Marlon,
“Prang,”
Sebuah piring melayang ke dinding dan pecah, terlihat Vania yang memakai lingerie terengah engah, dia melihat lagi layar smartphone yang di pegangnya dan menekan nomor telepon tujuannya, dia menaruh smartphone nya di telinga, namun yang terdengar adalah,
“Mohon maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa di hubungi, silahkan coba beberapa saat nanti,”
Ucapan jujur operator otomatis dari layanan telepon seluler, membuat Vania semakin meradang kesal, dia mengangkat tangannya yang memegang smartphone seakan akan ingin melemparkan smartphone nya, tapi tangan sebelahnya malah mengambil cangkir milik Marlon di meja,
“Prang,”
Vania kembali melemparkan cangkir ke dinding dan langsung pecah menambah timbunan pecahan beling yang berada di lantai.
“Kemana sih orang itu, tiga minggu belom pulang dan tidak ada kabar, dia udah dapat kerjaan belum, benar benar keterlaluan, aku harus bayar pesanan baju ku nih, ga mungkin kan pinjam mama lagi,” gumam Vania dalam hati.
“Dring,” tiba tiba smartphone nya berbunyi, wajahnya berubah menjadi riang sedikit namun ketika melihat layar smartphone, wajahnya kembali berubah menjadi suram seperti semula, “plip,” dia mengangkat nya,
“Ada apa kak, ngapain telepon malam malam,” ujar Vania.
“Wuih, kamu lagi kenapa ? kok galak banget ?” tanya sang kakak.
“Lagi sebel, si buntung itu belom pulang pulang sudah tiga minggu, biasanya kalau kita berantem, paling sorenya dia pulang minta maaf, huh,” jawab Vania geram.
“Dah ku bilang, ceraikan saja laki laki ga berguna itu, dah langsung saja ke inti poin nya, kamu mau uang ga ?” tanya sang kakak.
Mendadak telinga Vania seperti di hembus oleh nafas seorang dewa yang membawa berita gembira ketika dia mendengar kata “uang,” walau dia tahu pasti kakak nya akan memintanya melakukan sesuatu yang aneh.
“Jelas mau dong kak Teddy, aku di suruh ngapain lagi ?” tanya Vania.
“Wah memang adik yang baik, langsung nanya pekerjaannya, aku mau kamu sekarang ke hotel kita yang di pusat bisnis, di sana sedang ada tamu dari luar negeri, namanya Alberto Malini, kamu tanya aja ke resepsionis dia di kamar berapa, trus kamu layani dia dan korek korek info soal bisnisnya di sini, aku akan kasih kamu 50 juta sekarang, begitu selesai 100 juta lagi, mau kan,” jawab Teddy.
“Sip mau, pakai baju apa ?” tanya Vania.
“Apa aja, yang penting seksi,” jawab Teddy.
“Ok transfer dulu, masuk duit baru ku kerjakan,” balas Vania.
“Dasar kamu ya, ya udah, abis ini aku transfer,” balas Teddy.
“Sip, makasih kakak ku ganteng,” balas Vania ceria.
“Dadah adik ku yang cantik...ckluk...tut...tut.”
Telepon pun di tutup, tidak sampai lima menit, “dling” sebuah pesan masuk ke dalam smartphone Vania, Teddy mengirimkan bukti transfer sebesar 50 juta sebagai uang muka yang dua janjikan. Langsung saja Vania membayar tagihan pesanan nya dengan ceria dan berjalan ke kamarnya dengan ceria untuk bersiap siap melaksanakan tugasnya.
Namun setelah mengenakan gaun seksi yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya yang bagai gitar spanyol dan keluar dari rumah. Selagi menunggu jemputan di depan kontrakan, Vania sekali lagi melihat layar smartphone nya, dia menelpon sekali lagi dan “ck,” dia berdecak kemudian mematikan smartphone nya,
“Dah lah, nanti juga pulang mohon mohon balik sama aku, biarin aja yang penting sekarang seneng seneng dulu,” ujarnya dalam hati.
******
Seminggu pun berlalu, setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan penyelarasan terakhir, Marlon yang sudah mendapat bayaran, berniat menemui Richard di kantornya untuk mengucapkan terima kasih. Tapi ketika dia melangkah masuk ke dalam ruangan lapis pertama, Kate sang sekertaris langsung menghampirinya,
“Maaf pak Marlon, pak Richard sekarang sedang meeting dan tidak bisa di ganggu, apa ada pesan yang nanti bisa saya sampaikan ke beliau ?” tanya Kate sopan.
“Oh...saya hanya ingin berterima kasih sama beliau yang sudah menolong saya, mungkin bisa di sampaikan kalau saya meninggalkan nomor telepon dan berharap bisa menghubungi dia suatu hari nanti,” jawab Marlon.
“Baiklah, mari ke meja saya,” balas Kate.
Marlon duduk di depan meja Kate, langsung saja Kate menyodorkan selembar kertas kepada Marlon agar Marlon menuliskan nomornya, tapi tiba tiba “dring,” sebuah smartphone di meja berdering, Kate langsung mengangkat nya,
“Mohon maaf pak, tapi pak Richard sedang meeting (jeda sebentar) iya benar, ini smartphone milik pak Richard (jeda sebentar lagi) saya sekretarisnya, nama saya Kate (jeda sebentar) baik pak, nanti saya sampaikan, selamat siang,”
Kate menutup teleponnya, melihat Kate menaruh kembali smartphone nya dan setelah mendengar pembicaraan barusan, Marlon bertanya kepada Kate,
“Um bu, apa tidak bisa langsung di add saja nomor saya di smartphone beliau ?” tanya Marlon.
“Maaf pak Marlon, tugas saya hanya menjawab jika ada telepon masuk ke smartphone bapak karena bapak sedang meeting, saya tidak berani membuka smartphone bapak, saya akan sampaikan nomor anda pada bapak setelah selesai meeting, sekali lagi mohon maaf,” ujar Kate.
“Oh baiklah, saya mengerti,” balas Marlon.
Selesai menulis nomornya dan menulis ucapan terima kasih kepada Richard di kertas, Marlon memberikan kertasnya kepada Kate, kemudian dia berdiri dan pamit,
“Ah maaf pak, apa uangnya sudah masuk ?” tanya Kate.
“Oh...saya belum cek, tapi saya sudah terima bukti transfernya melalui pesan dan hard copy nya, jadi saya rasa tidak masalah,” jawab Marlon.
“Baiklah pak kalau begitu, terima kasih atas kerja samanya ya pak,” ujar Kate tersenyum sambil berdiri dan menjulurkan tangannya.
“Sama sama bu Kate, saya permisi dulu, selamat siang,” balas Marlon sambil menjabat tangan Kate.
“Selamat siang pak Marlon,” balas Kate.
Marlon berjalan ke lift pribadi Richard di antar oleh Kate, setelah turun ke bawah, Marlon berjalan melintasi lobi menuju ke pintu keluar, dia berhenti dan menoleh sekali lagi untuk melihat rumah sakit yang sudah merawatnya selama sebulan terakhir ini. Dia juga melihat lengan bionik nya yang di lapisi kemejanya sehingga lengan kemejanya tidak nampak kosong lagi.
Setelah itu, dia berbalik dan berjalan keluar dari lobi untuk menuju ke tepi jalan, dia berniat mencari tempat tinggal untuk dirinya sekarang karena dia tidak mungkin pulang ke rumahnya. Selagi berjalan di trotoar dan sudah sedikit jauh dari rumah sakit, tiba tiba “ckiiit,” sebuah mobil van hitam berhenti tepat di sebelahnya. “Sreeg,” pintu di buka dengan di geser, beberapa orang pria bertubuh besar keluar dari pintu belakang menghampiri dirinya.
“Hei...apa ini,” teriak Marlon.
“Slep,” tiba tiba pandangannya menjadi gelap karena kepalanya di tutup oleh karung. Marlon di giring memasuki mobil dan para pria itu masuk kembali ke dalam, kemudian mobil van melaju kencang. Marlon menjadi ketakutan, dia tidak tahu dirinya akan di bawa kemana dan dia tidak bisa melihat apa apa.
“A – apa yang akan terjadi kepada ku ?” tanya nya dalam hati.