Menikah mungkin di inginkan bagi semua orang.
Tapi tidak dengan gadis ini, yang tiba-tiba di seret oleh seorang laki-laki tampan. di paksa menikah dengannya. karena perjanjian dari ibunya secara diam-diam menginginkan jika anaknya segera menikah, untuk menyambung hidup lebih baik.
di statusnya yang masih sekolah. dengan terpaksa ia menikah dengan tuan muda tampan dari pemilik perusahaan terkenal Morgan Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Gustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura
Tak butuh waktu lama sampai di rumah Devid yang sangat megah, bak istana dalam negeri dongeng. Devid menghentikan langkahnya. Melihat ada salah satu keluarganya, keluar dari rumah itu, mamasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.
Devid menarik tangan Salsa keluar dari mobilnya. "Sakit tahu" ucap Salsa.
"Jangan banyak bicara!" ucap Devid lirih.
"Kenapa, lagian kamu berani kasar dengan cewek" ucap Salsa kesal, ia menepis tangan Devid dari tangannya.
"Sudah sekarang peluk tanganku dan tunjukan pada mereka jika kita saling mencintai" bisik lelaki itu. "Ingat jangan menolak, jika kamu gak mau ibumu kenapa-napa" Bukannya membuat Salsa takut suara berat yang berhembus dengan napasnya membuat Salsa geli.
Tak pikir panjang Salsa memeluk erat tangan Devid berjalan ringan menuju ke dalam rumah. Sepupu Devid yabg berada di luar rumahnya, hanya menatap mereka seolah hubungan mereka baik-baik saja. Namun tidak dengan Alan yang melihat mereka di balik Balkon kamarnya. Seperti lakon sandiwara akan segera di mulai.
Ia tahu jika kakaknya hanya pura-pura pada perempuan itu. Dia bahkan tahu Devid tidak benar-benar serius menikahinya. Tetapi itu bukan urusan dia. Alan tak mau ikut campur semua urusan kakaknya seolah ia tidak perduli dengan semua urusannya. Dan Ia seolah acuh dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
Devid melirik ke atas balkon melihat Alan sedang senyum semringai menatapnya. " Anak itu.." Gumamnya lirih menatap tajam pada adiknya. Hentakan Kaki mereka serempak berjalan masuk menuju ruang makan yang memang sudah di persiapkan berbagai makanan untuk semua keluarga.
Salsa melotot seketika ketika melihat apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana tidak ia melihat banyaknya makanan mahal tersaji di sana. Ia belum pernah meraskan enaknya makanan itu. Bahkan mencicipi saja ia tidak pernah.
Tak mau di bilang rakus ia hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali hingga melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
" Cepat duduk! Ingat jika kamu berada di sini kamu harus tahu bagaimana cara keluarga Morgan menyantap makanan" ucap Devid dengan duduk tegap melirik sekilas ke arah Salsa di sampingnya.
Seorang pelayan memberikan celemek kecil di atas paha Salsa. membuatnya menatap bingung apa yang di lakukan para pelayan itu.
Tak lama semua keluarga yang lainnya turun menuju meja makan yang sudah tersedia berbagai banyak makanan di atasnya.
"Kalian sudah di sini ternyata" Pungkas ayah Devid sambil duduk di kursi. Dan kini mamanya tak ada di sana menyantap makanan bersama.
Hanya sebuah senyuman melayang di depan para keluarga dari bibir Manis Salsa. Hingga nampak lesung pipi kirinya. Devian terus menatapnya membalas sebuah senyuman manis padanya.
" Lelaki itu sangat tampan!" Gumam Salsa lirih. Ia terdiam membayangkan saat bersamanya mungkin serasa jantungnya mau copot. Ia tak bisa menahan matanya untuk merayap menatap anugrah indah di depannya. Tak hanya tampan dia juga sepertinya orang baik di bandingkan semua keluarga di rumah itu yang nampak sangat dingin padanya.
" Aww..." Salsa meringis kesakitan mencoba memegang kakinya ia menatap semua keluarganya dengan senyum terpaksa merekah di bibirnya.
" Jangan coba-coba curi pandang dengan kakakku" Bisik Alan yang memang duduk di sampingnya tepat.
" Emang kamu siapa ngelarang aku segala" Gumam Salsa melotot menatap Alan di sampingnya. Tatapan mereka terkunci seakan ada aliran listrik di antara mata mereka mejalar sangat tajam.
Devid meneguk minumannya melirik sekilas ke arah calon istrinya itu. Seakan dia bertingkah sangat lucu bersama dengan Alan. namun lucu karena pertengkaran mereka yang sepertinya berawal dari tak suka antara Alan dan Devid. Tetapi Devid tak perdulikan itu ini akan menjadi hal bagus pikirnya. Bisa membuat mereka terus berseteru dalam keluarganya.
Namun keluarga lainnya tak menyadari obrolan tajam mereka berdua. Mereka sibuk menyantap hidangan di meja makan yang menjulang panjang hingga cukup untuk semua keluarga morgan. Semua keluarga mereka nampak saling bertatap dingin.
Salsa memandang satu persatu dari wajah mereka. Terlihat di keluarga itu tidak ada yang akur. Sepertinya memang ada yang di sembunyikan dari keluarga itu.
Tak mau menggubris Alan terus-terusan ia memalingkan pandangannya menuju makanan yang sudah menantinya untuk di makan habis olehnya. Dengan sigap ia mengambil makanan yang ada tanpa rasa malu pada keluarga morgan yang menatap ke arahnya dengan tatapan seolah jijik dengan sifat kerakusannya.
" Plakkk..." Devid memukul tangan salsa, agar ia tahu batas untuk mengambil makanan. Lagian piringnya sudah penuh dengan makanan yang ada mulai dari berbagai lauk yang tersedia di meja sudah ia ambil.
Devid menatapnya tajam." Jangan lakukan itu" Bisiknya dengan tatapan mengarah pada semua keluarganya.
Wanita itu menunduk malu seketika. Kita ia tahu semua memandangnya. Tak jadi makan dia beranjak berdiri meninggalkan meja makan itu menuju kamarnya. Tanpa permisi sedikitpun pada semua keluarga morgan yang berkumpul di sana.
Devid berjalan ringan mengikuti setiap langkahnya pergi. Ia tidak marah jika bertingkah tak permisi pada keluarganya. Namun setidaknya ia berharap wanita itu makan terlebih dahulu. Karena pernikahannya akan di laksanakan besok maka dia harus siap dan badanya harus terlihat sehat dan bugar. Karena awak media pasti banyak yang akan datang nantinya untuk memulai wawancara khusus dengannya.
" kamu mau kemana?" Pungkas Devid menarik tangan Salsa membalikkan badannya agar mentap dirinya di belakang.
" Aku mau pulang?" Pungkas Salsa menundukkan wajahnya.
" Pulang katamu?. Jangan mimpi dulu kamu bisa pulang dengan mudah. Apa kamu lupa perjanjian kita dari awal" jawab Devid berjalan maju perlahan hingga Salsa terpojok ke tembok putih di belakangnya.
" setidaknya bawa aku pergi dari rumah ini jika kita menikah nanti" pungkas Salsa menundukkan kepalanya sebenarnya ia takut berbicara seperti itu pada Devid yang hanya akan jadi suami sementaranya.
"Tak masalah bagiku. Besok setelah menikah kemuan tinggal di rumahku" Jawab Devid dengan tatapan jorok memandang tubuh mungil Salsa yang di balut kaos putih tipis yang menutupi tubuhnya.
Salsa menyadari tatapan kotor Devid padanya.
" Apa yang kamu lihat?" bentak Salsa dengan segera mencoba sebisa mungkin menutupi tubuhnya dengan ke dua tangan.
Ia menarik kerah Devid mendekatkan tubuhnya ke arahnya. "Apa yang akan kamu lakukan?" bisik Salsa.
Devid hanya diam, ia menarik tangan Salsa, masuk ke dalam kamarnya.
"Brukkk"
Devid melemparkan tubuh salsa di atas ranjang. "Aku ingin beramin sejenak dengan kamu" ucap Devid, yang mulai merangkak ke atas ranjangnya.
"kalau kamu berani mendekat, aku akan menendangmu" Ancam Salsa.
"Sebentar" gumam Devid.
"Gak ya gak" bentak Salsa.
"Tok.. Tok.. Tok"
"Apa kalian di dalam?" tanya mama Devid.
"Iya, ada apa?" ucap Devid.
Merasa sangat lama di buka pintunya, Mama Devid membuka pintunya tanpa seijin Devid.
"DEVID!" panggil Mamanya lagi, yang mulai membuka matanya. Melihat Salsa seranjang berdua dengan Devid berbalut selimut tebal.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya mamanya dengan nada marahnya.
"Mama kenapa masuk?" tanya Devid.
"Dasar wanita ******, dan kamu Devid belum juga menikah kamu sudah berbuat seperti ini?" ucap mamanya dengan nada semakin tinggi.
"Maa cepat keluar, apa yang mama lakukan di sini"ucap Devian, yang baru masuk ke kemar Devid, ia segera menarik tangan mamanya segera keluar dari kamar Devid. Dan tidak mengganggu apa yang di lakukan Devid di dalam.
"Mama kaluar dari sini" ucap Devid dengan nada tingginya.
Merasa kesal, mama Devid beranjak keluar dari kamar itu.
"Hah.. lega juga" gumam Devid.
"Sa bangun dan pergi dari sampingku"ucap Devid.
Merasa tidak ada jawaban, ia menatap ke arah Salsa, yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Kenapa dia harus tidur di sini?" Gumam Devid.