Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Sama
Drtt ... drttt ... drttt ...
Ponsel Arsen tiba-tiba bergetar sehingga ia buyar dari pikiran kotornya. Arsen berjalan meninggalkan Amey yang tengah membuka gaunnya dan segera melihat siapa yang menghubunginya.
"George?" menyunggingkan bibir.
Arsen segera menjawab telepon setelah membaca nama kontak yang menghubunginya. "Helo Mr. George? What's up?"
"Halo Tuan Winston," sapa George dengan sopan dari balik telepon. "Maaf mengganggu waktu Anda. Bisakah saya meminjam waktu Anda tidak lebih dari tiga puluh menit?" tuturnya lagi.
"Of Course George."
"Thank's Mr. Winston. Baiklah, mari kita bertemu di restoran hotel."
"Baik." ucap Arsen sembari menutup panggilannya.
Dengan segera Arsen mengganti pakaiannya. Matanya memancarkan binar. Tentu saja karena ia akan bertemu presdir dari Diamond Group. Ini merupakan kesempatan emas baginya untuk bekerja sama dengan perusahaan George.
"Tanpa di minta pun, dia sudah menawarinya sendiri! Good job Arsen!" gumam Arsen seraya mengganti kemejanya.
"Sayang? Kau mau ke mana?" tanya Amey mengernyitkan dahi.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Tunggulah di sini."
"Tidak boleh!" ketus Amey tiba-tiba. "Kau tidak boleh pergi ke mana-mana! Arka, ini merupakan malam pengantin kita. Kenapa kau harus pergi meninggalkanku?"
"Diamlah! Jangan mengatur hidupku." tukas Arsen.
Amey yang menerima ucapan tajam Arsen pun melonjak. Ia segera mengambil handuk berwarna putih dan melilitkan handuk itu di badan ramping miliknya. "Arka! Kau baru saja membentakku!" teriak Amey merasa sakit hati.
Aku bukan Arka! Aku Arsen.
Arsen tidak menggubris. Ia membalas tatapan Amey yang nanar dengan sinis. Arsen melewati Amey begitu saja dan menyenggol tubuh Amey sehingga wanita itu bergeming dari posisinya.
"Dasar murahan!" gumam Arsen pelan.
Untunglah Amey tidak mendengar cerca Arsen. Amey yang terkesan wanita yang tidak dapat dijajah pun mengepalkan tangannya. Meski hatinya terasa sakit mendengar ucapan pedas Arsen tapi ia bertekad untuk tidak mengeluarkan air mata kepedihan di hari spesialnya.
Sabar Amey. Mungkin Arka sedang menguji kesabaranmu sebagai istri. Dia bukanlah tipe orang yang kasar seperti itu. ucap Amey dalam hati.
Amey segera membersihkan badannya di kamar mandi. Pikirannya masih tenggalam dengan sifat dingin suaminya hari ini. Semenjak Arsen memasuki altar, Amey mulai merasakan ada yang lain dengan sikap Arsen yang disangka Arka. Aura dingin Arsen menusuk pori-pori halus Amey.
Amey adalah wanita kuat dan tidak mudah goyah. Ia wanita yang memiliki mental sekuat baja. Amey tidak seperti wanita lain yang jika dibentak sedikit langsung mengeluarkan jurus andalannya, menangis. Justru ia sedang memikirkan cara bagaimana membalas orang yang melukai perasaannya, meski itu adalah suaminya sendiri.
Sementara di sebuah tempat mewah yang terletak di lantai sembilan hotel itu, terdapat dua orang bule yang sementara bertegur sapa. "Maaf membuatmu menunggu," ucap Arsen sembari menunduk.
"Tidak Tuan Arka. Saya justru bertrima kasih karena kau telah menyempatkan waktumu untuk bertemu dengan saya. Sekali lagi maaf karena telah mencuri waktu malam pertamamu," tutur George tak enak hati.
"No problem George!"
"Haha," terkekeh. "Sebenarnya saya sangat tertarik dengan cara kerja Manajer Umum hotel ini."
Manajer Umum? Who? batin Arsen.
"Beberapa waktu yang lalu, kemajuan pesat terjadi di perusahaan WS Group. Dan itu semua berkat Istrimu, Tuan Winston."
"Istriku? Who?" tanya Arsen kikuk.
"Hmm, Nyonya Amey Winston. Ia sempat bersitegang dengan Alganda Group demi membela WS Group. Dan itu nenarik perhatian dan komentar positif dari publik. Berkatnya, saham WS Group melonjak naik dengan pesat. Saya turut senang atas peristiwa itu."
Arsen semakin bingung dengan ucapan George. Tentu saja ia tidak tahu menahu permasalahan apa yang menimpa WS Group cabang Indonesia. Secara karena Ia memegang perusahaan induk WS Group yang terletak di Amerika Serikat, kota New York.
"Di situ saya perhatikan, bahwa karyawan Anda merupakan orang-orang yang memiliki integritas kerja yang maksimal, disipilin, teliti dan tentunya cerdas. Maka dari itu saya akan menawari Anda kontrak kerja sama dengan Diamond Group. Jika Tuan Winston tidak keberatan." jelas George tanpa berbasa-basi.
Brilliant! Tanpa dicari, berkat sudah mampir. ucap Arsen dalam hati. "Tentu saja George, aku sangat antusias mendengar tawaran kontrak darimu."
"Thank you Mr. Winston."
Dengan senang hati Arsen menerima tawaran kontrak dari Diamond Group. Bagaimana tidak, proyek baru yang diluncurkan perusahaan George marak di dunia perindustrian. Pasalnya banyak sekali perusahaan ternama yang memperebutkan kerja sama dengan perusahaan kedua terbesar di dunia bisnis itu.
Arsen berhasil berkolaborasi dengan George. Perusahaan berlian terbesar itu akan mendatangkan pundi-pundi ekstra bagi WS Group. Dan ini merupakan suatu keuntungan yang besar bagi Arsen.
"Mari kita bertemu di kantor besok untuk menandatangani kontrak kerja sama antara Diamond Group dan WS Group," ujar George.
"Baik."
Perasaan senang Arsen bukan kepalang. Meski wajahnya selalu datar dan tidak pernah memasang senyuman kepada orang asing, tapi kali ini hatinya begitu berbunga-bunga. Bukan karena malam pertama atau karena telah menikah. Tetapi karena suatu proyek yang sangat besar antara dua perusahaan terkuat, ternama dan terbesar di dunia perbisnisan telah bersatu.
"Tuan Winston. Bisakah kau mengajak istri Anda untuk ke kantor saya besok? Tapi kau jangan salah paham. Saya hanya ingin melihat Anda di dampingi oleh Manajer Umum hotel ini yang sangat cekatan."
Oh rupanya pria ini tertarik dengan cara kerja pacar Arka. No! Istriku. Dia istriku sekarang. Meski hanya bersandiwara. Hmmm, bole juga dia. Jadi penasaran dengan otaknya!
Melihat Arsen yang hanya berdiam membuat George tak enak hati. "Maaf Tuan Winston. Jika anda tidak mengijikankannya juga tidak apa-apa. Saya bisa mengerti itu," tutur George.
"Bukan begitu, George. Aku dengan senang hati akan membawa istriku besok. Ohya apakah kau akan kembali ke Paris besok?"
"Trima kasih Tuan Winston." ucap George menunduk kepala. "Ya benar. Saya akan kembali pukul enam sore. Saya harus mengadakan rapat dengan beberapa kolega saya di sana. Tapi kau tenang saja, besok pagi saya masih berada di Indonesia."
"Baiklah kalau begitu," ucap Arsen.
"Oh maaf saya melupakan sesuatu. Bagaimana dengan hadiah yang saya berikan? Apa Anda tertarik?"
"Tentu saja. Waktu dekat ini aku akan ke sana, berbulan madu dengan istriku. Semoga apa yang kau katakan tadi di pesta, mengenai kualitasnya sesuai dengan kondisi resormu, Mr. George," sindir Asen.
"Haha. Don't wory, Mr. Winston!"
Jika bukan karena perjanjian kontrak proyek besar ini, maka Arsen tidak akan bersikap manis dan ramah pada rekan bisnisnya. Tapi begitulah Arsen, manis jika ada maunya. Meski wajahnya sama sekali tidak memasang raut menjilat, tapi sebenarnya hati kecil Arsen sangat antusias mendapatkan apa yang ia inginkan.
***
Suite Room Pengantin Baru
Arsen menggelengkan kepala saat melihat Amey yang tertidur menelungkup layaknya cicak. Sengaja wanita itu tidur dengan posisi seperti itu supaya suaminya tidak kebagian tempat.
"Hey! Minggir ini tempat tidurku!" ketus Arsen.
"Enak saja! Kau tidur di luar sana, sama setan!" tukas Amey yang ternyata belum tertidur.
What! Beraninya wanita ini mengusir seorang Arsen Winston! Tenang Ars, jangan emosi. Kau baru saja mendapatkan keuntungan berkat wanita ini. Tahan emosimu hanya untuk malam ini.
Arsen menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Seumur hidupnya, tidak ada satu wanita pun yang membentaknya atau bertutur kasar padanya. Yang ada, ialah yang seringkali berlaku kasar dengan menusukkan ucapan tajam pada seorang wanita.
"Kau lolos kali ini! Aku tidak ingin merusak malam bahagiaku!" gumam Arsen sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
"Ehh dia benaran pergi. Cihh, kau kira aku perduli! Maaf ya, Amey tidak bisa diperlakukan semena-mena! Dasar aneh!" tegas Amey.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘