Bagi Raka, menikah dengan Aluna itu bencana, seperti Gempa dengan kekuatan 10 SR. Dan sialnya, dia tidak bisa mengelak karena perjodohan konyol orang tuanya.
Dan, bagi Aluna, menikah dengan Raka adalah ajang balas dendam, karena Raka yang selalu menghukumnya di sekolah.
Tapi ternyata, ada satu hal yang mereka lupa, bahwa waktu bisa merubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Selatan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Ajang balas dendam
Aku sudah sampai di kontrakan jam sebelas malam, dan Raka sudah menungguku sambil duduk di sofa, dengan raut wajah galaknya, rambut acak-acakannya, dan matanya yang tajam, membuat siapa aja rasanya bergidik, beda jauh sama di sekolah yang rambutnya rapih, wajahnya kalem, bibirnya selalu senyum, kecuali sama aku. Tapi pokoknya dia ini bermuka dua sumpah.
"Dari mana lo?" tanya nya ketus
"Main." jawabku sekenanya.
Aku melewatinya sambil menjinjing tas ranselku, dan saat itu juga dia berdiri lalu segera menarik tanganku agar ikut duduk di sampingnya.
"Ish, apaan sih lo." kataku sebal
"Gue tanya, lo dari mana!" dia memegangi pergelangan tanganku agak sedikit kencang.
"Ya gue kan udah jawab, gue habis main." ujarku.
"Main? Jam segini baru pulang? LO MAIN APA JUAL DIRI!"
Aku mentap matanya, lalu aku menampar mulut menyebalkan nya itu dengan tangan kananku yang bebas.
Raka yang kutampar hanya diam saja, masih menatapku dengan tatapan yang sama, dan masih memegangi pergelangan tangan kiriku, kini dia tampak seolah mencengkeram pergelanganku.
Aku buru-buru menarik tangan kiriku yang di cengkeramnya. "Sa.. Kiit." ucapku tertatih
Dia yang mendengar itu segera melepaskan cengkeramannya dan menatap pergelangan tanganku yang memerah.
"Maaf." ujarnya tulus.
"Lo nggak bisa main sampai selarut ini, Aluna... " katanya, dia menatap ku dengan tatapan redup
"Lo ini Perempuan, gue mohon jangan buat tanggung jawab gue makin berat karena sikap lo yang kayak gini." sambungnya
"Gue kira dengan kita hidup bareng kayak gini, gue bisa ngontrol lo dua puluh empat jam. Gue kira dengan lo di ajak mandiri dengan naik angkutan umum sendiri lo akan belajar artinya bersyukur. Tapi ternyata lo nggak bisa di giniin, lo nggak bisa di baikin, dan lo malah ngelunjak kalau di kasarin." dia menatap mataku sendu.
"Bilang sama gue, cara gue bimbing lo itu gimana?"
"Lo nggak usah susah-susah bimbing gue. Karena gue pun nggak mau di bimbing sama lo. Dan lo nggak perlu ngerasa gue ini beban lo, gue ini tanggung jawab lo. Toh, nanti suatu hari nanti gue mau kita cerai." kataku, sambil menekan kata cerai.
Raka hanya diam, cukup lama, kami hanya di selimuti dengan keheningan. Lalu Raka menatapku dengan tatapan redupnya lagi.
"Aluna, kamu memang bukan tipe aku, kamu juga bukan salah satu yang aku impikan ada di masa depanku, aku juga memang tidak menyukai perjodohan ini. Tapi, Luna. Aku nggak pernah punya niatan untuk bercerai." tutur Raka.
Aku menatap matanya, ini si galak kenapa mendadak pake ngomong aku-kamu sih, akukan jadi salting gini. parah.
"Gitu yah? Liat aja nanti, lo bisa bertahan apa nggak sama gue." gumamku seraya meninggalkannya.
*CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA*
Setelah Insiden semalam, Raka tidak terlihat pagi ini. Dia lebih dulu ke sekolah dan hanya meninggalkanku uang dua puluh ribuan di depan pintu kamar. Dasar Raka memang bodoh, nyebelin.
Aku keluar dari angkot, lalu berjalan beberapa meter menuju gerbang sekolah.
Ini sudah jam setengah delapan, sudah terlambat dua puluh menit, kulihat Bu Sinting sedang menunggu siswa yang telat, seperti aku. Dari jarak sepuluh langkah Bu Sinting terus menatapku tajam, tak kalah tajam seperti matanya si galak Raka.
"ALUNA!" suara Bu Sinting merambat di gendang telingaku, lalu aku terkekeh melihatnya.
"Sudah berapa kali Ibu bilang kalau datang itu tidak boleh terlambat!" suara Bu Sinting melengking nyaring, lalu membukakan gerbang sekolah sambil menjewer telingaku sekaligus menyeretku masuk ke sekolah.
"Wuaaaah!" aku berteriak kelas, aku rasa telingaku ini sudah sangat merah. Nggak bu sinting nggak si galak, sama-sama hobi jewer kuping orang, menyebalkan.
"Ikut saya kelapangan." umpat Bu Sintung.
Bu Sinting ini adalah guru BK guru kesayangan anak osis yang suka menghukum anak-anak anti Mainstream.
"Berdiri di sini dan beri hormat pada bendera." tutur Bu Sinting.