Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 JALAN JALAN
Malam di Jakarta
Setelah kembali ke kamarnya, Ali melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Saat matanya melirik ke jam dinding, ia terkejut.
"Hah? Udah jam setengah tujuh? Lama juga gue di sana," gumamnya.
Tubuhnya terasa lengket setelah seharian beraktivitas. Ia menghela napas, lalu bangkit.
"Lebih baik mandi dulu biar segar."
Setelah selesai mandi, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ali berjalan menuju balkon kamar hotel, membuka pintu kaca, dan membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia merogoh saku celananya, tapi ekspresinya berubah seketika.
"Ya ampun, rokok gue habis!" serunya kesal.
Tak ada pilihan lain, ia harus turun ke bawah untuk membeli rokok.
Mencari Rokok dan Jalan-Jalan Malam
Ali keluar dari hotel dan melihat sekeliling. Matanya tertuju pada mini market di seberang jalan.
"Yaudah, beli di sana aja," katanya sambil menyeberang dengan hati-hati.
Setelah berhasil mendapatkan rokoknya, ia berdiri di depan mini market dan menyalakan sebatang. Saat menghisap asap pertama, pikirannya melayang.
"Sekalian jalan-jalan aja, mumpung masih malam."
Ia membuka aplikasi transportasi online dan mulai memesan ojol.
"Oke, sudah dipesan. Tinggal nunggu aja," gumamnya sambil kembali menghisap rokok dan memperhatikan lalu lintas Jakarta yang padat.
Mobil dan motor melintas tanpa henti. Lampu jalan berpendar di permukaan aspal yang sedikit basah.
"Banyak banget kendaraan, sampai susah nyebrangnya," pikirnya.
Tak lama, motor ojol yang ia pesan tiba di depannya.
"Atas nama Mas Ali?" tanya sang pengemudi.
Ali segera membuang puntung rokoknya dan berdiri.
"Iya, Bang. Saya yang pesan," jawabnya.
"Silakan naik, Mas. Mau ke mana?"
Ali berpikir sejenak, lalu berkata, "Bang, ada rekomendasi kafe bagus di Jakarta Selatan? Saya nggak terlalu hafal daerah sini."
Pengemudi ojol tersenyum. "Ada, Mas. Di daerah Mampang ada kafe enak. Mau saya antar ke sana?"
"Boleh, Bang. Gas aja," kata Ali sambil naik ke motor.
Motor melaju menembus malam Jakarta yang sibuk.
Kafe di Mampang
Setelah beberapa menit berkendara, ojol akhirnya berhenti di depan sebuah kafe yang cukup besar dengan lampu-lampu temaram menghiasi fasadnya. Suasana terlihat ramai, banyak pengunjung duduk di teras sambil mengobrol.
"Wah, ini kafenya? Lumayan besar juga ya, Bang," kata Ali sambil menatap bangunan itu.
Pengemudi ojol mengangguk. "Iya, Mas. Ini salah satu yang terkenal di Mampang."
Ali tersenyum kecil. "Oke deh. Berapa ongkosnya, Bang?"
"Tunggu sebentar, Mas. Saya cek dulu di aplikasinya," kata pengemudi ojol sambil membuka ponselnya.
Sambil menunggu, Ali melirik ke dalam kafe. Dari kaca besar di depan, ia bisa melihat pengunjung yang duduk dengan santai, beberapa sibuk dengan laptop, sementara yang lain mengobrol sambil menikmati minuman mereka.
"Kayaknya seru juga nih," pikirnya.
Tak lama, pengemudi ojol berbicara lagi. "Totalnya 50 ribu, Mas."
Ali segera mengeluarkan uang dan menyerahkannya. "Ini, Bang. Makasih ya."
"Siap, Mas. Hati-hati ya," ujar pengemudi ojol sebelum berlalu.
Ali melangkah masuk ke dalam kafe. Ia memilih meja di sudut, duduk, lalu mengambil menu. Seorang pelayan datang mendekatinya.
"Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?"
Ali mengamati daftar menu sebentar, lalu menunjuk beberapa pilihan. "Saya pesan ini, ini, sama ini."
"Baik, Kak. Mohon ditunggu ya," kata sang pelayan sebelum pergi.
Sambil menunggu pesanannya, Ali menyalakan rokok dan menikmati suasana kafe yang nyaman.
Tak lama, seorang pelayan kembali dengan nampan berisi makanannya.
"Ini pesanannya, Kak. Silakan dinikmati," katanya dengan ramah.
"Makasih, Kak," ujar Ali sambil tersenyum.
Ali mulai menikmati makanannya, menikmati malam Jakarta yang terasa lebih hidup di tempat ini.
Perjalanan Kembali ke Hotel
Setelah puas bersantai, Ali melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Wah, udah jam 10! Gue harus balik ke hotel sekarang," katanya sambil buru-buru membuka aplikasi ojol dan memesan tumpangan.
Tak lama, motornya datang dan berhenti di depan kafe.
"Atas nama Mas Ali?" tanya pengemudi.
"Iya, Bang. Tolong antar saya ke Hotel The Westin," kata Ali sambil naik ke motor.
Motor melaju menyusuri jalanan Jakarta yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan menciptakan bayangan panjang di aspal.
Namun, di tengah perjalanan, sesuatu menarik perhatian Ali.
Di sebuah jalanan gelap, sebuah mobil tampak berhenti di pinggir jalan. Tidak ada lampu hazard yang menyala, dan suasana di sekitar terlihat mencurigakan.
Ali mengernyit. "Kenapa mobil itu berhenti di situ?" pikirnya.
Ia mencoba memperhatikan lebih jelas. Sekilas, ia melihat sosok seseorang berdiri di samping mobil itu, tetapi wajahnya tidak terlihat jelas karena minimnya pencahayaan.
"Ada yang aneh…" gumam Ali dalam hati.
Pengemudi ojol melirik ke arah mobil itu juga.
"Kok kayaknya mencurigakan ya, Mas?" ujar pengemudi dengan nada hati-hati.
Ali menatap lurus ke depan.
"Iya, Bang. Gue juga ngerasa ada yang nggak beres."
Perjalanan malam yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi sesuatu yang penuh misteri…
...terimakasih gais sudah membacanya...
...Silahkan like dan komen dan berikan dukungan ke author nya...
BELEUNG BELENG....