Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 - Serangan di Pesta
...LORETHA ROMANOV...
Aku tidak tahu apa yang terjadi beberapa jam terakhir ini. Dunia rasanya terbalik, dan semua gara-gara pernikahan ini. Aku tidak menyangka menikahkan putraku dengan Fiorella Ferraz akan menimbulkan kekacauan sebesar ini.
Argo sedang kesal, kurasa banyak masalah yang harus dia urus, dan Jared tidak membantu. Andai putraku lebih serius memikirkan kepentingan keluarga. Argo sering mengeluh soal Jared dan aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin suamiku benar dalam segala hal. Menikahkan Jared akan membuatnya tenang dan menjalankan bisnis dengan tanggung jawab. Adalberto Ferraz tampaknya berhasil mendidik anak-anaknya. Jonah pemuda baik yang membantu bisnis ayahnya dengan terhormat, putrinya tampak lembut dan penyayang. Keduanya kehilangan ibu sejak kecil, tapi Adalberto tetap sanggup membesarkan mereka. Aku jadi bertanya-tanya di mana salahku pada Jared.
Aku kembali ke aula pesta dan mencarinya. Aku takut dia berbuat ulah dan ayahnya melihat. Tahun lalu, Argo nyaris mengirim putra kami ke sekolah berasrama.
Saat melihat Jared dan Fiorella duduk di sebuah meja di sudut, hatiku tenang. Mereka tampak akur. Gadis itu memang sangat cantik, kecantikan yang jarang kulihat, menarik semua mata ke arahnya.
Setelah memastikan putraku bersikap semestinya dan berusaha memikat calon istrinya, aku pergi ke taman mencari udara segar. Pesta memang melelahkan. Kedua mempelai masih harus bertukar cincin dan...
"Halo, Nyonya Romanov." Aku kaget mendengar suara laki-laki di belakangku. "Boleh duduk?" Dia bertanya, tapi langsung duduk di sampingku tanpa menunggu izin.
"Halo! Jonah Ferraz. Kamu menikmati pesta pertunangan adikmu?"
"Pestanya indah. Nyonya juga... maksud saya, sangat anggun." Aku menganggapnya lancang, duduk di sampingku tanpa menunggu jawaban. Tidak pantas seorang pemuda memuji perempuan bersuami, apalagi di tempat sepi, jauh dari semua orang. Aku tidak menanggapi pujiannya, dan jelas aku merasa tidak nyaman. "Maaf, Nyonya Loretha. Saya sama sekali tidak bermaksud membuat Nyonya canggung. Itu cuma pujian tulus." Pemuda ini dididik baik oleh ayahnya, meski lancang.
"Aku dengar kamu mengurus sebagian besar bisnis Adalberto." Jonah tersenyum saat aku bertanya. Dia pemuda tampan, janggutnya belum dicukur, matanya hijau seperti mata adiknya, rambutnya terang. Kedekatan kami membuatku risih, sudah bertahun-tahun tidak ada pemuda semuda dan seberani dia yang memandangku seperti itu.
"Papa percaya pada saya. Saya memang selalu suka dan tertarik pada bisnis ini. Saya rasa saya cukup becus, orang tua itu tampak puas."
"Aku rela memberi apa saja supaya Jared setidaknya sepersepuluh dari dirimu." Jonah tersenyum lebar mendengar pujianku. "Nah, putraku dan adikmu masih harus bertukar cincin pertunangan." Aku berdiri hendak pergi, tapi Jonah memegang tanganku. Aku mengaku, aku sangat takut ada yang melihat adegan ini.
"Jared masih muda. Waktu seumur dia, saya juga tidak terlalu peduli pada bisnis ayah saya."
"Bicaramu seperti orang tua saja, Jonah. Kamu masih anak-anak."
Dia berdiri di sampingku. Jonah sangat tinggi, aku harus mendongak untuk menatap matanya.
"Saya 25 tahun dan punya banyak tanggung jawab, Nyonya Loretha." Aku tersentak saat merasakan tangannya meremas tanganku.
"Permisi, Jonah Ferraz."
...FIORELLA FERRAZ...
Jared mengusap wajahku dan membanjiriku dengan pujian, sementara aku melihat tatapan penuh amarah ayahnya pada kami. Aku mulai ingin membalas tatapannya dan melawan. Paling-paling dia membunuhku. Pistol ada di pinggangnya, itu mudah baginya, dan dia malah menolongku, karena aku lebih baik mati daripada jadi tawanan keluarga Romanov. Argo bicara dengan beberapa pria bertampang seram lalu menghilang di tengah keramaian.
"Jared, aku harus ke toilet, sebentar lagi kembali." Aku pergi tanpa menunggu jawabannya.
Aku sedang menggali kuburku sendiri. Tapi aku harus tahu apa masalahnya denganku. Dan aku juga harus mengerti apa yang terjadi padaku. Kenapa aku begitu tertarik padanya, tapi di saat yang sama hatiku dipenuhi kebencian.
"Ke sini." Loretha memegang lenganku, dia tampak aneh. "Kalian harus bertukar cincin." Wajah Loretha merah, pipinya bersemu.
Aku frustrasi, tadinya aku mau mengikuti Argo. Loretha menarikku naik ke panggung dan memanggil putranya yang juga segera menyusul naik. Mataku mencari sosok Romanov itu, tapi tidak kutemukan.
"Jared, sampaikan beberapa patah kata." Loretha agak gugup, menyerahkan mikrofon kepada putranya.
"Saya mau bilang, saya dulu menentang pernikahan ini."
"Anak ini!" bisik ibunya di sampingnya.
"Tapi begitu melihat gadis ini, Fiorella, saya tahu dia istimewa." Aku ingin membenamkan mukaku ke lantai. "Saya harap tunangan saya memberi saya kesempatan untuk memenangkan hatinya, dia kelihatannya sangat sulit didekati." Semua orang menertawakan Jared, kecuali aku, aku tidak merasa lucu. "Beri aku kesempatan untuk memikatmu?" Jared bertanya padaku.
Di kejauhan kulihat beberapa pria gelisah. Seorang pemuda berjas hitam dan bertopi memegang senapan serbu M13B. Aku tahu soal senjata karena Jonah tergila-gila dan aku ikut belajar. Yang lain menggenggam pistol otomatis. Ada sesuatu yang terjadi. Jared berlari turun dari panggung dan menghilang di tengah kerumunan. Di atap kulihat beberapa orang bersenjata juga, berbicara lewat radio portabel, walkie-talkie.
Aku tidak suka ini, dan baru sadar sudah lama tidak melihat Papa. Aku turun dan mencoba lari ke dalam, mencarinya.
"Batuhan mengancam organisasi, beberapa orang melihat kelompoknya berkeliaran di sekitar tempat ini." Aku mendengar beberapa pria berbicara saat lewat di dekat mereka.
Mengancam? Berkeliaran di sekitar sini? Ini buruk!
Aku mempercepat langkah dan masuk mencari Papa. Kubuka semua pintu dan tidak ada siapa-siapa. Kakakku juga hilang. Aku masuk ke sebuah ruangan besar, dan di dalamnya ada dua pria bersenjata. Begitu melihatku, mereka berseru:
"Keluar dari sini, Nona kecil!"
"Kurasa kita akan diserang," kataku.
"Di luar kamu aman, tidak ada yang bisa masuk ke aula."
Pasti ada orang penting di dalam, mustahil mereka menjaga ruangan kosong.
"Kalian tahu siapa aku?" Aku mendekati keduanya dan bertanya.
"Sudah kubilang keluar!" salah satunya membentak. Kudengar suara Argo di ruangan itu, bicara dengan seseorang. Aku mencoba masuk, tapi kedua pria itu memegang lenganku dan mendorongku ke belakang. "Kamu tuli? Keluar!" teriak salah satunya.
"Aku mau bicara dengan calon mertuaku." Salah satunya mendekat mencoba menangkapku. Aku menyelinap lewat bawah lengannya dan membuka pintu dengan sekali dorong. Gocekan yang luar biasa.
"Kenapa kamu di sini?" Argo menempelkan ponsel di telinga, memandangku dengan wajah paling masam sedunia, lalu mendengus.
"Bos, gadis ini..."
"Bagaimana bisa kalian berdua membiarkan anak kecil masuk ke sini?"
Dia bilang aku anak kecil? Dasar bajingan! Salah satu pria itu mencoba memegang lenganku, tapi aku lari masuk ke ruangan, mendekati si pitbull galak.
"Kalian tidak berguna. Menahan satu bocah nakal saja tidak bisa. KELUAR!" teriaknya, dan kedua pria itu cepat-cepat keluar. "Aku telepon lagi nanti." Argo mematikan ponsel dan memandangku. "Kamu mau apa di sini?"
"Aku cari Papaku."
"Aku kelihatan seperti ayahmu? Kamu lihat dia di sini?"
"Dia nggak ada di luar, kukira ada di dalam sini."
"Dosa apa aku sampai begini?" Dia menggebrak meja dan berdiri. "Dengar, diam saja, jangan buka mulut."
"Ada apa sebenarnya? Mereka mau menyerang tempat ini?"
"Ah, sial! Sudah kubilang diam, kan?"
"Dengar ya!" teriakku. "Apa salahku padamu? Kamu bikin hidupku seperti neraka di negara ini."
Dia bangkit dari meja dengan murka dan mencengkeram leherku.
"Kamu membuatku kehilangan kesabaran, bocah. Aku bukan ayahmu, kubunuh kamu kalau sekali lagi berani meninggikan suara padaku. Saat itu baru kamu kenal neraka."
Kupegang lengannya dan kulepaskan dari leherku. Cengkeramannya kuat sampai aku tak bisa bernapas beberapa detik.
"Aku mau tahu apa yang terjadi," kataku sambil mengatur napas.
"Bos." Seorang penjaga membuka pintu. "Ayo, kita harus pergi dari sini sekarang!"
"Bagaimana dengan para tamu?"
"Tempat ini sudah dikosongkan."
Argo menarik pistol dari pinggangnya, menyambar pergelangan tanganku dan menyeretku tanpa menjelaskan apa-apa.
"Mana Papaku dan Jonah?"
Argo Romanov tidak menjawab dan menyeretku ke pintu keluar. Aula kosong, semua orang sudah pergi. Dia memegang lenganku kuat-kuat, membuka pintu mobil, menyuruhku masuk, lalu duduk di sampingku. Sebuah ledakan terjadi di dalam gedung.
"Bajingan." Argo menggeram, sopir menginjak gas dan kami melesat pergi dengan ban berdecit.
"Kita tidak bisa ke rumah Bos, mereka mungkin mengikuti kita."
"Mereka tahu harus ke mana, aku tidak mau mengambil risiko menyerahkan rumah keluargaku pada dia." Argo menatap mereka. "Kalian tahu harus diapakan Georgio dan Stefano?"
"Bos? Maksud Bos seperti yang kami pikirkan?"
"Aku mau urusannya beres sebelum besok. Serangga-serangga itu tidak becus menahan satu gadis kurang ajar."
"Kalian mau membunuh mereka?" tanyaku ketakutan.
"Ini salahmu, senang-senanglah."
"Mau bunuh mereka berdua cuma karena aku masuk ke ruangan itu? Dasar orang Australia sialan!"
"Ada lakban?"
"Ada, Bos." Pria di kursi sopir menyerahkan sebuah lakban abu-abu lebar kepada Argo. Dia menariknya dalam sekali sentakan.
"Mau apa kamu?" tanyaku. Dia melilitkan lakban dua kali di lenganku. Lalu dia memotong sepotong dengan giginya dan menempelkannya di mulutku.
"Begini lebih baik." Para pria itu terbahak-bahak. "Ini supaya kamu tidak melepas lakbannya. Kalau kamu menendang jok mobil, kakimu juga kulakban."
"Hmmm." Aku protes dan mencoba berteriak. Mereka mengabaikanku sepenuhnya.
Mobil terus melaju, menyalip beberapa mobil lain. Aku tidak kenal negara ini, jadi tak tahu ke mana kami pergi.
"Mereka mengikuti kita."
"Di tikungan berikutnya, hentikan mobil di tengah jalan, miring ke kanan. Tembak terus, aku mau lihat mobil itu jadi saringan."
Aku memandang mereka ketakutan, memutar badan ke belakang, dan melihat sebuah mobil mengejar kami.
"Boneka, kalau aku bilang menunduk, kamu menunduk, dengar?"
"Apa?" Aku mencoba bertanya, tapi lakban menghalangi.
Mobil berhenti mendadak, melintang di jalan. Argo dan kedua pria itu turun dan mulai menembak tanpa henti.
"MENUNDUK!" Aku berbaring di jok seperti yang dia suruh.
Tolong! Aku menjerit dalam hati ketika melihat sebutir peluru menembus kaca mobil tempatku berada. Mereka terus menembaki mobil musuh.